Ternyata benar, menemukan seorang pendengar yang tepat itu berarti banget. Karena orang tua pun tak cukup berperan dalam hal itu. Mencari yang baik itu mudah, tapi nyari seseorang yang nerima, paham dan ngerti kita itu sulit. Apalagi yang memahami soal mental health sulit banget.
Ketika kita benar-benar mempertanyakan diri kita sendiri, kita akan mengetahui bahwa sebenarnya kita itu siapa. Bukan sebagai manusia yang menjalankan aktivitas sekolah/kerja, tetapi kita sebagai manusia yang dapat berpikir, manusia yang dapat bergumul.
Perlu kau tahu, aku bukan si serba tau, untuk kamu yang tidak tahu menahu.
Tentang siapa aku? itu tergantung pada kamu.
Angin apa yang kau titipkan padaku?
"Bunda, titip doa lewat what's up mu ke Tuhan kita ya". Maafnya kapan-kapan saja.
Tapi Abang mau bilang maaf nya sekarang. Takut tahun depan Abang hilang.
Ku lihat arloji, hening sejenak, lalu aku angkat tangan, meminta maaf diam diam.
Tersentak sesaat,aku terbangun. Mengenang kembali mimpi-mimpi masa lalu.oh angin, kau sangat kemayu.Bertingkah tanpa mau sedikit layu.Dulu, hanya bocah kecil yang lugu.Kini, semuanya ingin dilengkapi mau.Namun semesta penuh rambu.Memerintah masing-masing dari kita untuk meramu.
Aku memang bukan siapa-siapa pada daftar orang yang kamu kenal, tapi siapa si yang ga bersyukur. Cukup dengan dilihat saja, itu dapat berubah menjadi sedikit tetesan anugerah pada lintasan kasih yang masih kamu anggap lumrah.
Jangan berbicara sebelum memahami
Jangan melabeli sebelum menyadari
Haha, ada kalanya yang datang itu menjauh dan pergi karena perihal sirik dan benci.
Bisa dibilang pergi bukan untuk menghilang, namun untuk menyingkirkan perasaan pada hati yang tak pernah diberi ruang. Egois memang, kentaranya setiap insan butuh merevisi dirinya sendiri.
Dipersimpangan jalan aku dan temanku menaiki papan yang terbuat kayu usang pemberian tukang rongsokan. Memasang wajah bercahaya meski tak nampak sedang dilanda awan mendung. Saling menggelitik, walaupun sama-sama sendu.