cara parenting ibu Kenkulus (Chika):
- cemilan buatan sendiri,
- tidak kenal jajan sembarangan
- jam 8 malam sudah tidur, bangun jam 3.30 pagi karena hormon pertumbuhan terbesar saat malam
- kenalkan buku sejak lahir, latih 7 sistem sensori
- libatkan Ken di kegiatan sehari-hari
- Tidak langsung benarkan jawaban anak
- biarkan berimajinasi dulu, baru arahkan
- Kenalkan kegagalan sejak dini
- sengaja buat kompetisi kecil & biarkan kalah
- fokus bukan pada kepintaran akademis
- tapi bangun fondasi karakter, empati,
Ibox indonesia ga kenal privasi ya?? So galery dibuka buka, entah dalamnya ada vidio ataupun yang sensitif ga boleh dilihat bahaya loh..
@iBoxIndonesia please reach postingan ini, karyawan lu buat nama ibox di indonesia jatuh
Dulu aku mengira side hustle itu soal mencari uang tambahan.
Semakin lama, aku sadar ada yang lebih penting.
💡 Side hustle terbaik bukan yang paling cepat menghasilkan uang.
Melainkan yang membuat skill dan penghasilan bertumbuh bersamaan.
Ada 5 cerita org sukses #kaburAjaDulu gw denger lately. Semoga jadi inspirasi.
1. Satu orang dulunya kerja jadi head of design di toko ijo, mulai Maret kemarin jadi Director of Product design di perusahaan tempat gw kerja dulu di Berlin.
InnaaliLlahi wa innaa ilaiHi rajiun. Turut berdukacita mendalam atas wafatnya Prof Dr Hamim Ilyas, MAg. Semoga Allah karuniakan husnul khatimah, menerima semua dakwah, perjuangan dan pemikiran tajdidnya diterima Allah sebagai ibadah. اللهم اجرنا في مصيبتنا و اخلفنا خيرا منه. امين
LIST OF 40 WEBSITES TO FIND REMOTE JOBS
1. Linkedin. com
2. Indeed. com
3. Glassdoor. com
4. FlexJobs. com
5. weworkremotely. com
6. Remote. com
7. Upwork. com
8. Freelancer. com
9. Fiverr. com
10. Guru. com
11. Toptal. com
12. AngelList. com
13. Hubstafftalent. com
14. Simplyhired. com
15. Remotive. com
16. Virtualvocations. com
17. workingnomads. com
18. Hired. com
19. cloudpeeps. com
20. taskrabbit. com
21. talent. com
22. Remote OK - remoteok. io
23. DRemote - dremote. io
24. Jooble - jooble. org
25. stackoverflow. com/jobs
26. jobspresso. com
27. onlinejobs. ph
28. simplyhired. com
29. themuse. com
30. skipthedrive. com
31. zirtual. com
32. justremote. com
33. hireable. com
34. remoteworkhub. com
35. jobbatical. com
36. freelancewritinggigs. com
37. contentwritingjobs. com
38. problogger. com/jobs
39. behance. net
40. designhill. com
Don't forget to follow @NextShopiaAi to get more insightful Ai related tools and update.
Guys, gue mau ceritain kisah seseorang yang kalau lo baca di novel pun lo bakal bilang "ini terlalu tidak realistis."
Seorang sopir angkot rute Singkawang-Pontianak. Lulusan SMP.
Tidak punya modal.
Tidak punya koneksi.
Sekarang dia adalah orang terkaya nomor satu di Indonesia dan nomor satu di Asia Tenggara.
Kekayaannya lebih dari Rp800 triliun.
Forbes mencatatnya masuk peringkat 27 terkaya di dunia dan masuk top 10 kenaikan kekayaan tertinggi dalam 5 tahun terakhir satu daftar bersama Mark Zuckerberg dan Jeff Bezos.
Namanya Prayogo Pangestu.
Dan perjalanannya dari angkot ke Rp800 triliun bukan kisah keberuntungan.
Ini adalah masterclass dalam politik bisnis yang paling brutal dan paling cerdas yang pernah ada di Indonesia.
Mulai dari titik paling bawah yang bisa dibayangkan:
Prayogo lahir 1944 di Bengkayang, Kalimantan Barat. Orang tuanya penyadap karet kecil.
Pendidikan hanya sampai SMP dan untuk bisa lulus SMP saja dia harus kerja paruh waktu sambil membantu ayahnya.
Setelah lulus, dia nekat ke Jakarta.
Tidak dapat kerja.
Coba usaha bersama saudara gagal. Balik ke Kalimantan dan akhirnya jadi sopir angkot.
Sambil nyopir, dia jualan bumbu dapur dan ikan asin untuk tambah penghasilan.
Ini bukan dramatisasi.
Ini titik awal yang sesungguhnya dari orang yang sekarang menguasai lebih dari 20% nilai kapitalisasi seluruh saham di Bursa Efek Indonesia.
Pertemuan yang mengubah segalanya:
Sembilan tahun jadi sopir angkot Prayogo bertemu seorang pengusaha kayu asal Malaysia bernama Burhan Uray.
Burhan melihat sesuatu di Prayogo dan mengajaknya bekerja di perusahaannya PT Jayanti, mengurus Hak Pengusahaan Hutan.
Yang membuat Prayogo berbeda dari karyawan biasa adalah cara dia memperlakukan pekerjaan itu.
Dia tidak hanya mengerjakan tugasnya dia mempelajari seluruh cara kerja perusahaan.
Manajemen.
Tata kelola.
Aturan bisnis.
Semua diserap seperti spons.
Hasilnya: dalam 7 tahun dia sudah jadi General Manager anak perusahaan Burhan di Gresik, Jawa Timur.
Di titik itu, kebanyakan orang akan puas.
Gaji besar.
Jabatan tinggi.
Bisa pensiun dengan nyaman.
Prayogo keluar.
Setelah hanya satu tahun menikmati posisi itu dia mengundurkan diri dan memulai bisnis sendiri.
Akuisisi pertama dan pola yang akan berulang seumur hidupnya:
Tahun 1978.
Prayogo melihat perusahaan kayu bernama CP Lumberoy yang sedang sekarat karena masalah keuangan.
Dia pinjam uang dari bank, beli perusahaan itu, dan dalam waktu singkat sudah melunasi pinjamannya.
Pola ini yang akan menjadi DNA bisnis Prayogo sepanjang kariernya:
beli perusahaan bermasalah dengan harga murah, perbaiki dari dalam, dan jadikan mesin penghasil uang.
Perusahaan itu berkembang, berganti nama beberapa kali, dan akhirnya menjadi Barito Pasifik yang IPO di Bursa Efek Indonesia pada 1993 dengan kode BRPT.
Hari pertama IPO: saham ditawarkan Rp7.200 ditutup di Rp11.000.
Dalam satu hari.
Prayogo meraup lebih dari Rp270 miliar dari IPO itu. Dari sopir angkot ke konglomerat dalam satu sesi perdagangan saham.
Krisis 1998 dan di sinilah Prayogo menunjukkan kelasnya yang sesungguhnya:
Krisis moneter 1998 menghancurkan hampir semua pengusaha besar Indonesia.
Bisnis kayu Prayogo yang bernilai 5 miliar dolar anjlok menjadi hanya 3 juta dolar.
Turun 99,94%.
Kebanyakan orang di posisi itu akan menyerah. Prayogo justru mulai berburu.
Di tengah krisis, dia menemukan perusahaan petrokimia raksasa bernama PT Chandra Asri yang merupakan proyek Presiden Soeharto dan dipegang oleh lingkaran dalam Cendana: Peter Sondakh, Bambang Trihatmodjo, Rosano Barack, dan Hendri Pribadi.
Harga yang dia bayar untuk seluruh saham Chandra Asri: Rp1.000.
Seribu rupiah.
Satu lembar uang kertas.
Tapi tentu saja ada tanggungannya utang perusahaan kepada Marubeni Jepang senilai 70 juta dolar dan kepada negara senilai Rp1,2 triliun.
Semua orang terdekat Prayogo bilang dia gila. Utangnya jauh melebihi asetnya.
Ini bisa menghabiskan seluruh hartanya.
Tapi Prayogo punya rencana yang sama sekali tidak ada di pikiran orang lain.
Gerakan jenius yang tidak pernah terpikirkan orang lain:
Alih-alih membayar utang Chandra Asri dengan uang tunai Prayogo menegosiasikan konversi utang menjadi saham.
Utang Marubeni senilai 100 juta dolar?
Dikonversi menjadi 20% kepemilikan saham Chandra Asri.
Utang kepada negara?
Proses serupa.
Prayogo tidak mengeluarkan uang pribadinya.
Dia menggunakan struktur utang perusahaan itu sendiri untuk membayar utangnya sambil mempertahankan kendali mayoritas.
Dan bonus yang tidak ada yang antisipasi: dalam paket akuisisi Chandra Asri, ada klausul yang menyatakan jika utang berhasil dilunasi, Prayogo berhak mendapatkan PT Tripolyta Indonesia Tbk perusahaan Indonesia pertama yang listing di New York Stock Exchange.
Dari satu transaksi Rp1.000 dia mendapatkan dua perusahaan raksasa sekaligus.
Kedua perusahaan itu kemudian digabungkan menjadi PT Chandra Asri Petrochemical Tbk perusahaan petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia.
Listed di BEI tahun 2011 dengan kode TPIA.
Babak final dan ini yang membuat analis saham menyerah mencari penjelasan:
Tahun 2023-2024, Prayogo membawa dua perusahaan baru ke bursa: Petrindo Jaya dengan kode CUAN dan Star Energy Geothermal dengan kode BREN.
Apa yang terjadi setelahnya tidak masuk akal bahkan untuk standar pasar saham manapun di dunia.
CUAN naik lebih dari 5.000% dalam waktu singkat. Kalau lo invest Rp10 juta di IPO CUAN nilai investasi lo sekarang Rp590 juta.
Dalam 8 bulan.
BREN naik terus dan tidak bisa dihentikan dari Rp700 hingga mencapai nilai kapitalisasi lebih dari Rp1.040 triliun.
Melewati BCA, BRI, Telkom, dan Astra yang semuanya butuh puluhan tahun untuk mencapai nilai itu. BREN mencapainya dalam beberapa bulan.
Aturan bursa tentang saham pemantauan khusus? Tidak mampu menghentikannya.
Bahkan bursa yang akhirnya mengubah aturannya sendiri bukan BREN yang tumbang.
Dan semua saham yang terafiliasi Prayogo kompak ikut naik.
TPIA yang sedang rugi pun naik lebih dari 230% hanya dalam beberapa minggu.
Para analis berhenti mencoba menjelaskan pergerakan saham-saham PP.
Tidak ada framework yang cukup untuk menganalisisnya.
Tiga pelajaran yang paling berharga dari perjalanan ini:
Pertama, Prayogo tidak pernah melihat krisis sebagai akhir tapi selalu sebagai kesempatan yang muncul sekali dalam satu generasi.
Ketika semua orang panik di 1998, dia berburu perusahaan terbaik dengan harga terendah.
Kedua, kemampuan negosiasi dan restrukturisasi jauh lebih powerful dari modal tunai.
Dia membangun kerajaan senilai Rp800 triliun bukan dengan memiliki uang tapi dengan kemampuan mengubah struktur kepemilikan dan utang menjadi aset.
Ketiga, dia tidak pernah berhenti di zona nyaman. Dari sopir angkot ke karyawan, dari karyawan ke pengusaha kayu, dari pengusaha kayu ke petrokimia, dari petrokimia ke energi terbarukan. Setiap kali dia menemukan level baru dia tidak diam di sana.
Prayogo Pangestu adalah bukti hidup bahwa titik awal tidak menentukan titik akhir. Tapi dia juga bukti bahwa kekayaan ekstrem tidak dibangun hanya dengan kerja keras tapi dengan kombinasi kerja keras,
keberanian mengambil risiko asimetris, kemampuan politik bisnis yang luar biasa, dan ketepatan membaca peluang di saat semua orang terlalu takut untuk melihat.
Dari angkot ke Rp800 triliun. Dari ikan asin ke petrokimia. Dari SMP ke Forbes Top 30.
Tidak ada cerita yang lebih Indonesia dari ini.
HR: "Boleh minta slip gaji terakhir?"
Ini pertanyaan JEBAKAN.
Sekali lo kasih slip gaji rendah, lo STUCK di situ selamanya.
Company baru biasanya cuma akan offer 10-20% di atas gaji lama.
Padahal market rate bisa 50% lebih tinggi.
Apalagi kalo gaji di company lama cuma UMR. Lo bisa STUCK SELAMANYA di situ
Jadi stop kasih slip gaji. Ini cara ngeles yang LEGAL:
@worksfess Assalamualaikum Kak, perkenalkan saya Muhammad Aulia. Izin menawarkan jasa les akuntansi bisa online/offline. Untuk pertemuan 1x gratis, selanjutnya 50rb/jam. Jika berminat bisa wa saya 0856 9140 9338, dan saya lampirkan superproof saya
https://t.co/RTK38o4UVw
Terimakasih🙏
Contoh profesi yang kita kira "sepele", tapi ternyata duitnya gede:
1. Sedot WC → Gak ada pesaing karena gak ada yang mau. Monopoli alami.
2. Tukang las / pagar → Satu project Rp 3-15 juta, modal bahan
3. Laundry kiloan → Jual waktu orang. Repeat order tiap minggu.
4. Servis AC → Semua orang punya AC, semua AC pasti rusak
5. Catering harian → Jual "males masak" ke anak kos + kantoran
6. Tukang cukur → Repeat customer tiap 2-3 minggu. Seumur hidup.
7. Jual galon + gas → Delivery ke rumah, order mingguan.
8. Fotocopy deket kampus → Mahasiswa PASTI butuh
9. Cuci motor/mobil → Modal kecil, balik modal 1 bulan
10. Jual gorengan → 1 tahu isi Rp 500, dijual Rp 2.000
11. Jahit / permak → Tukang jahit makin dikit, demand makin banyak
12. Konter HP + aksesoris → Jual casing 50rb, modalnya 8rb
13. Sedot debu / cleaning service → Orang kaya bayar 500rb buat 3 jam kerja
14. Tukang parkir liar → No comment.
Ada lagi?
Wahh bagus nih, konten gini harus diramein sih 😁
Karena realitanya klo mau edukasi di Indo, kadang harus flexing dulu buat hook biar orang mau baca wkww
Ikutan ahhhh:
Sebagai orang yang baru 2 tahun kerja, umur 26, udah dapet ~34 jt gapok per bulan belum komisi padahal masih staff doang, gue setuju banget.
Sumbernya? Harvard + 3 tahun pengalaman kerja di headhunter/recruitment agency, jadi tau kerjaan apa aja demand apa aja di industri yg bikin orang gajinya gede gede ya pdhl pegawai 😁.
Gue mau elaborasi dikit 3 poin ini:
Cari yang market butuhkan,
Do what you need to do, not what you want
Don’t be cheap (re invest yg bisa bikin nambah gacor wkwk)
Gas baca 👇👇👇
guys, ada cerita dari Jahja Setiaatmadja Presiden Komisaris BCA yang menurut gue adalah salah satu yang paling menampar soal ekspektasi anak muda zaman sekarang.
Bukan karena dia ceramah soal kerja keras.
Tapi karena perjalanannya benar-benar tidak ada jalan pintasnya sama sekali.
Mulai dari latar belakang yang paling bawah:
Ayahnya bekerja di Bank Indonesia selama 33 tahun. Kedengarannya keren tapi bukan sebagai pejabat. Sebagai kasir.
Gaji pas-pasan.
Tidak lebih.
Jahja SD dan SMP jalan kaki ke sekolah.
Sementara teman-temannya naik sepeda atau diantar mobil.
Dia jalan kaki.
SMA pindah rumah lebih jauh.
Sekarang bergelantungan di bus.
Tidak ada privilege.
Tidak ada koneksi.
Tidak ada modal apapun selain mau bekerja keras.
Soal cita-cita yang tidak kesampaian dan ini yang paling relate:
Jahja ingin jadi dokter gigi waktu SMA.
Tapi keluarga tidak sanggup bayar kuliah kedokteran gigi.
Coba teknik juga mahal.
Akhirnya pilihan jatuh ke Ekonomi UI karena itulah yang terjangkau.
Bukan pilihan pertama. Bukan impian awal. Tapi dari situlah semuanya dimulai.
Pekerjaan pertama dan ini yang bikin banyak orang tidak siap:
Setelah lulus dari UI dan diterima di Price Waterhouse kantor akuntan asing yang bergengsi pekerjaan hariannya di hari-hari pertama adalah fotokopi.
Karena office boy-nya terbatas, junior seperti Jahja yang kena.
Lulus dari universitas terbaik.
Kerja di kantor akuntan internasional.
Tugas pertamanya: fotokopi.
Gaji bulan pertama: Rp60.000.
Dia tidak keluar.
Dia tidak ngeluh.
Dia kerjakan sebaik mungkin.
Titik balik yang tidak direncanakan jualan betamax door to door:
Karena gaji Rp60.000 tidak cukup Jahja cari penghasilan sampingan. Dia keliling naik motor menjajakan kaset video betamax sewaan ke teman-teman dan kenalan.
Suatu hari dia ketemu seorang langganan yang ternyata direktur di Kalbe Farma.
"Gaji lu berapa?" "Kira-kira Rp60.000, Pak." "Ikut gua. Langsung Rp150.000."
Dua setengah kali lipat. Dari jualan betamax keliling.
Karir di Kalbe Farma dan ini yang menunjukkan konsistensinya:
Di Kalbe Farma dia naik pangkat setiap dua tahun. Konsisten. Sampai di usia 33 tahun dia sudah menjabat sebagai Direktur Keuangan Kalbe Farma salah satu perusahaan farmasi terbesar Indonesia.
Kemudian pindah ke Indomobil Group juga sebagai Direktur Keuangan direkrut oleh headhunter dari Singapura.
Momen yang paling mengejutkan downgrade dari direktur jadi wakil kepala divisi:
Ketika Andre Halim memintanya pindah ke BCA Jahja siap. Tapi ada syaratnya:
"Kamu kan direktur keuangan di Indomobil. Di BCA company-nya lebih luas. Sorry, kamu enggak bisa sebagai direktur. Cukup general manager dengan jabatan wakil kepala divisi."
Turun dua level. Dari direktur menjadi wakil kepala divisi.
Tapi ada janji: dalam setahun akan jadi kepala divisi.
Jahja terima.
Dan janji itu tidak ditepati selama lima tahun:
Tahun pertama tidak ada kenaikan. Tahun kedua sama saja. Tahun ketiga, keempat, kelima tidak ada perubahan.
"Sami mawon," kata Jahja. Bahasa Jawa untuk: sama saja. Tidak ada yang terjadi.
Baru di Januari 1996 lima tahun kemudian surat keputusan pengangkatan kepala divisi itu datang.
Dan inilah refleksinya yang paling dalam:
"Sesudah saya diangkat menjadi kepala divisi, saya baru sadar kalau pada tahun 91 saya dijadikan kepala divisi, saya jadi bos tapi enggak punya fondasi. 5 tahun itu memberikan waktu kepada saya untuk bisa belajar, belajar, mendalami."
Dia tidak menyesali lima tahun penantian itu. Dia mensyukurinya.
Karena kalau dipromosikan terlalu cepat dia akan jadi bos tanpa fondasi. Dan itu jauh lebih berbahaya daripada menunggu lama.
Soal networking yang lebih penting dari gelar:
Jahja bilang sesuatu yang menurut gue perlu digarisbawahi:
"70% kalau saya boleh kata adalah karena networking, karena relationship."
Dia lulusan akuntansi. Ilmu akuntansi 30-40 tahun lalu sama saja dengan sekarang tidak ada yang luar biasa. Tapi networkingnya yang membawa dia ke posisi Presiden Direktur BCA selama 14 tahun.
Cara dia membangun networking yang konkret:
Setiap kepala divisi dan kepala wilayah yang berada di bawahnya 58 kepala divisi dan 12 kepala wilayah mendapat bunga dan kue kecil di hari ulang tahunnya. Dari Jahja pribadi.
Ada seorang kepala divisi dari Tapanuli yang meneleponnya sambil terharu:
"Pak, ini pertama kali dalam hidup saya pada waktu ulang tahun saya dapat bunga."
Dan cara dia ke cabang BCA? Tidak nanya soal kerjaan. Ngobrol. Selfie bareng teller dan customer service. Tertawa bersama.
"Kalau kita datang ke cabang cuma nanya kerjaan, jangan heran mereka juga akan begitu ke bawahannya."
Prinsip kepemimpinan yang paling konkret:
Satu — kredit ke yang berhak. Kalau anak buah yang usulkan ide bagus sebut namanya. Jangan di-take over. Mereka akan bangga dan makin loyal.
Dua — tanggung jawab kesalahan sendiri. Kalau keputusan ternyata salah jangan cari kambing hitam. Tanggung jawab.
Tiga — beri kepercayaan bertahap. Beri wewenang dulu. Lihat hasilnya. Kalau 80% benar lepas dia jalan sendiri. Kalau 50% masih salah bimbing lagi.
Kalimat penutup yang paling sederhana dan paling dalam:
"Jika selalu kita berbuat baik dan berniat baik maka setiap saat adalah saat yang baik. Dan setiap hari adalah hari yang baik."
Tapi dia tambahkan:
"Niat aja kalau enggak dikerjakan percuma. Niat baik dan berbuat baik."
Jahja Setiaatmadja bukan orang yang terlahir dengan privilege. Tidak ada koneksi keluarga. Tidak ada modal besar. Ayahnya kasir selama 33 tahun.
Yang dia punya: mau belajar dari bawah. Mau tunggu lima tahun tanpa mengeluh. Mau jualan betamax keliling naik motor waktu gaji tidak cukup. Mau turun jabatan dua level demi kesempatan belajar di tempat yang lebih besar.
Dan dari titik-titik itu dia menjadi Presiden Direktur BCA selama 14 tahun. Bank dengan market cap terbesar di Indonesia.
Bukan karena beruntung. Tapi karena dia konsisten mengerjakan hal yang benar bahkan ketika tidak ada yang melihat dan tidak ada yang menghargai.
Gue umur 30 dengan gaji 30jt++ dan tabungan bbrp ratus juta. 2023 gaji gue 40jt++ bahkan sebelum pindah tempat kerja.
Tapi ini bukan konten flexing.
Gue sengaja naro flexing di depan dan pasang foto di bwh biar dapet hooknya, buat kalian yg minat baca dan punya reading comprehension yg bagus, gue mau kasitau hal2 yg bikin gue di posisi skrg, follow kalau suka konten2 gini, gue bahas banyak hal dari marketing psikologis, data, finansial, sampe hal2 random lainnya.
Ke bawah buat baca
1. Dont do what you love, do what you need
Gue lulusan sastra, gue hrs belajar extra dan banting tulang lebih keras biar bisa paham sama data analytics, mulai dr excel ke power bi, tableau, AWS, DOMO, dll
Gue gasuka belajar, tapi demand buat org2 yg menguasai tools2 yg gue sebut tadi itu gede dan gajinya pun jg gede ((btw promo dikit kalau kalian mau belajar tools2 data cek aja link di profile))
Jd semuanya gue telen trs gue just do it, tanpa mikir passion
2. Master what the market needs
Market tuh butuh apa sih? Di dunia yg serba cepat ini, techbros2 itu sangat dibutuhkan, tapi bisa teknis aja tu ga cukup.
Kita tu harus nguasain fundamental dr critical thinking, jangan telen mentah2. Selain teknis, kita jg hrs bisa kasih added value, apa sih yg buat org tuh mau bayar kalian mahal.
If you are good at something dont do it for free
Banyak orang2 indonesia punya skill teknis tp gapunya skill jualan, padhal kt hrs bisa jual diri.
3. Dont be cheap
Kalian tuh kan ada duit ya bisa lah sisihin uang rokok or ngopi or belanjanya buat bayar org ngajarin kalian. Gue tau di negara kita banyak yg aneh2, tapi yg legit jg banyak kok, makanya kritislah dan cek track record.
Jangan pelit2 sama diri sendiri, apalagi buat isi kepala, kalau hrs bayar buat belajar why not?
Sampe sini dulu soalnya mager mau lanjut, kalau kalian baca sampe sini congrats ya kalian da oke lah reading comprehensionnya, cheers!
RULES HIDUP DI DUNIA KERJA
1. jangan pernah jadi pahlawan.
2. datang tepat waktu, pulang wajar.
3. jangan terlalu jujur di tempat kerja.
4. kantor itu kerja bukan keluarga.
5. email, chat, dan omongan itu bukti.
6. jangan pamer dan jangan mengeluh.
7. upgrade skillmu biar susah diganti.
8. atasan gak selalu benar, tapi penentu.
9. kerja secukupnya, hidup sepenuhnya.
bapak sangat menyarankan bagi yg mau memulai side hustle affiliate ini..
ini kerjaan halal, bisa dipelajari, yg penting mau berusaha, mau konsisten, diseriusin, yg paling penting ga perlu modal~
ini dalam hari ini aja bapak dapat segini, lebih dari cukup buat kebutuhan belanja sehari-hari🙏
Ini Ibam, bicara sendiri agar Ririe terlindungi.
Betul, ketika belum jadi tersangka, saya dapat ancaman: buat pernyataan "mengarah ke atas" kalau tidak kasusnya "akan diperluas".
Saya tolak, ngga mau bohong & zalim.
Tiga minggu kemudian, saya jadi tersangka.
Saya tolak bukan untuk lindungi Nadiem, tapi karena memang ngga pernah ada arahan dari Nadiem ke saya agar pengadaannya jadi Chromebook semua.
Seperti yang terungkap dari 22x sidang, tidak ada sama sekali arahan dari atas seperti itu. Saya hanya diminta memberi masukan netral dan objektif sebagai konsultan.
Artinya, ketika menerima ancaman tersebut saya dihadapkan ke dua pilihan:
Berbohong mengarang cerita menuduh orang lain untuk menyelamatkan diri sendiri.
Atau, berpegang kepada integritas, kejujuran, dan kebenaran yang saya yakini, dan menolak untuk berbohong.
Dengan shalat istikharah dan kesadaran penuh akan risikonya, saya memilih jalan yang kedua: kejujuran.
Insya Allah selalu berpegang pada kejujuran akan berujung pada kebaikan untuk saya, Ririe, dan keluarga kecil kami. Kalau tidak di dunia, maka di akhirat kelak.
Lalu jawabannya apa ketika saya menolak untuk berbohong? "Oke, kami perluas.”
Saya tidak berdaya. Ya Allah, apa lagi yang bisa kami lakukan ketika dihadapkan pada pilihan seperti itu? Pegangan kami hanya prinsip integritas dan kejujuran.
Ketika konsekuensinya beberapa minggu kemudian saya dinyatakan tersangka, kami hanya bisa memperbanyak istighfar dan ikhtiar.
Kami jalani dan hormati proses hukum yang ada dengan tabah, kami berniat jelaskan di persidangan fakta-fakta yang membuat terang, kami masih percaya dengan hukum Indonesia.
Mungkin ngga banyak yang tahu, tapi Ririe istri saya adalah seorang sarjana dan magister hukum. Di Belanda dulu kami banting tulang nabung dan berhemat banyak, supaya bisa bayar uang kuliah S2 Ririe.
Dari Ririe, saya belajar banyak tentang hukum Indonesia, apa saja yang mungkin terjadi, dan bagaimana hukum kita tetap memungkinkan pembelaan yang efektif.
Baik, mari berjuang di persidangan, luruskan seluruh tuduhan. Satu persatu fakta di persidangan muncul dengan terang benderang, satu persatu tuduhan bisa kami bantah.
Sampai akhir rangkaian sidang, 57 orang saksi dihadirkan, tidak ada bukti saya menerima keuntungan dari perkara ini, tidak ada bukti masukan saya karena konflik kepentingan, tidak ada bukti saya mengarahkan.
Yang terungkap malah saya sebagai konsultan sudah menyarankan Chromebook diuji dulu, pejabat menolak pengujian dan memutus Chromebook, nama saya dicatut di SK, masukan saya dipelintir.
Kami merasa pembelaan hukum kami sudah maksimal, kebenaran sudah terungkap, tinggal menumpu harapan pada keadilan dan kebijaksanaan dari majelis hakim yang mulia, yang kami merasa sudah sangat objektif dan penuh kearifan sepanjang persidangan.
Namun, ketika JPU menyebutkan tuntutan 15 tahun penjara, denda Rp1 miliar, uang pengganti Rp16,9 miliar subsider 7,5 tahun penjara tambahan...
Ini titik kezaliman yang sangat terang benderang, tekanan kepentingan yang sangat kentara, saya memutuskan pembelaan saya tidak lagi bisa hanya di persidangan.
Besok saya akan sidang pembelaan (pleidoi) dan kami bersurat kepada Presiden @prabowo Subianto serta @KomisiIII DPR, untuk memohon perlindungan hukum dari kriminalisasi, ketidakadilan, intimidasi, serta pengkambinghitaman yang sudah sekentara ini.
Kami takut untuk bicara? Takut ada intimidasi lain? Itu risiko yang jelas, tapi kami tidak gentar. Tuntutan 22,5 tahun dan belasan miliar yang tidak mampu kami bayar mungkin dianggap akan membuat kami terdiam, tapi kami malah semakin berani untuk melawan kriminalisasi ini.
Mohon bantuan, dukungan, dan perlindungannya dari masyarakat Indonesia, dari pekerja kreatif dan pekerja pengetahuan, serta dari semua yang ingin bantu negara atau takut dizalimi negara.
Kami berjuang bukan untuk kami sendiri, tapi agar tidak ada lagi kriminalisasi dan ketakutan bagi mereka yang tulus mau bantu Indonesia. Kami masih percaya Indonesia bisa menjaga dan menghadirkan keadilan dalam kasus kami.
Tadi malam habis ngobrol dg mentee (yg lagi kuliah S2 sustainable management di Australia), dia bekerja di perusahaan energi milik BUMN pengembangan renewable energy project.
Kalau kerjaan di konsultan dan analyst keuangan kyknya overrated di Indonesia (jam kerja gila2an gaji gak gede2 amat), gimana dengan green jobs?
Dia bilang gaji mah tetep tergantung company dan standar negaranya. Cuma kalau ada kesempatan buat tambah lapangan pekerjaan, at least buat yg saat ini belum beruntung bekerja sesuai passion atau make impact, bisa dicobain.
Pertumbuhan kerjaan ini memang makin besar katanya, tapi perlu skill dan strategi buat bisa masuk dan bekerja di industri ini
A thread