Di jakarta ada komunitas buzzer dan anggaran nya dari program pemerintah pusat loh. Yg bikin geleng geleng kepala. Banyak lulusan S3-S2 dalam negeri dan luar negeri disitu.
Istilah yang sering di dengar di jakarta, "kita adalah mitra strategis pemerintah".
Dari partai ke partai semua nya sama. Cape juga ga ada yang berbeda.
Teror pocong di berbagai daerah secara moment yang sama dan mati listik di berbagai daerah. Belum lagi bio solar yang susah ditemui di pom.
Moment yang sama = skenario yang sudah disiapkan. Entah menekan stabilitas negara atau emang pengalihan isu publik.
Yang bilang hari raya idul fitri selain pemerintah haram, perlu di audit lebih jauh. Menurut saya stament Wakil Ketua MUI KH. Cholil Nafis itu perlu dibuktikan.
Pertama, audit MUI terutama wakil ketua KH. Cholil Nafis
Kedua, buktikan secara global indikator dari haram nya.
Ternyata problem sosial di jakarta itu lengkap yah, tapi belum ada hasil survey lengkap karena masih berjalan riset. Hanya data awal dari satu titik dalam satu keluruhan.
Jadi sekarang gua mengakui kalo jawa timur yang katanya hama, itu the best dan worth it banget. Udalah itu fakta.
Lu mau nongkrong, mau muncak, mantai, mau balap liar, sound horeg dll. Semua ada dan damai sejahtera.
Bukannya membandingkan, mencari warkop murah full wifi di jakarta itu susah sekali, bukan nya tidak ada. Tapi aku akui surabaya dan malang lebih worth it soal perkopian.
Bisa di survey kok warkop seperti STK surabaya yang full music dan wifi, dijakarta ada apa engga?
Sepertinya masa cair ini kurang memahami sirklus. (1) perusakan fasilitas umum, (2) penjarahan (3) nilai rupiah turun 16k.
Surat printah represif itu nyata. Kemudian seperti 98 yaitu kembali pada UU 45.
Ini strategi yang dimainkan oleh kelompok. Tapi baiknya HARUS REVOLUSI
Simpul dari gerakan ini kurang jelas sikapnya. Kalo mau revolusi siapkan narasi yang pas framing yang jelas. Bentuk secepatnya tentang landasan Negara yang terbaru.
Harapannya dibalik kericuhan ini dibalik ketidakjelasan pemerintah ini bisa membawa ke titik revolusi
Perspektif DPR RI dengan mengatakan tolol kepada rakyat terlebih membenarkan diri atas dasar suatu ungakapan senangnya "Gaji Naik". Merupakan jenis komunikasi yang buruk. Sudah jelas ada komunikasi politik dan bahasa birokratis.
Tapi ini agak laen, secara teori gak masuk akal
Pas lagi di jakarta kan bahasa nya lu gua. Pernah kemarin ga sengaja bilang ke coffe shop itu. "Mas piro iki mas"
Asli gua diliatin semua orang dong wkwkkwwk