Baru kali ini ngedenger anak buahnya presiden ngomong jujur. So, para pegiat dunia gizi dan nutrisionis, here it is.
Embege sama sekali gak bertujuan untuk atasi stunting atau memperbaiki gizi anak-anak.
U don’t need 100% of ur brain capacity, or even 50%, to understand this.
buat yang bingung atau penasaran gimana sih sebenernya rasanya jadi WNI, liat aja cuplikan video lomba cerdas cermat kemaren
juri adalah gambaran nyata kebanyakan pejabat kita, MC sebagai buzzer pemerintah, siswa SMAN 1 Sambas sebagai rakyat yang nggiatheli memanfaatkan kesusahan sesama rakyat demi keuntungan pribadi, siswa SMAN 1 Sanggau sebagai WNI yang cari aman dan adek² peserta lomba terutama dari SMAN 1 Pontianak adalah rakyat dengan status WNI yang terdzolimi
Disitu terlihat jelas kalo pejabat kita yang salah namun secara terang²an nyalahin org lain karena mereka ngerasa dirinya berkuasa, dan mereka semakin besar kepala karena bisa berkelit didukung oleh para buzzer yang mau gimanapun salahnya si pejabat ini mereka tetep dukung karena udah dibayar sama si pejabat
terus rakyatnya gimana? Yaa cuman bisa nerima dengan terpaksa karena ketika mereka protes pun malah di gaslighting & diserang sama buzzer peliharaan pemerintah ini
sementara sesama rakyat lain pun sebagian ada yg diam takut dijadiin sasaran, namun juga ada yang bukannya bantu sesama rakyat malah manfaatin moment demi keuntungan pribadi, hahahaha
miris...
Kalau emang belum siap merekrut orang tuh ga usah merekrut sekalian. Sering loh model gini udah interview, kandidat diminta tes segala macem, di-ghosting, terus ketika didesak, jawabannya: oh maaf untuk posisi kami hold sampe waktu tidak ditentukan.
Giliran tes dibikin mepet, tapi jawaban aja lama dan ditunda-tunda.
Orang kan melampiaskan energi, waktu, bahkan uang buat ikutin proses, kok gak bisa memperhatikan ini sih. Memang dunia berputar di perusahaan situ saja?
Bisa jadi kandidat menolak kesempatan lain demi menunggu jawaban dan offering. Sering kayak gini, dan tetep aja dari perusahaan ghosting dan ghosting.
Terus kalau kekesalan ini dimunculkan, dari pihak yang hobi ghosting bilang: loh kita tuh banyak kandidat lain yang mesti diproses. Ya, bukan berarti ghosting tongki. Ketika udah proses wawancara, tanggung jawab tuh gak cuma ke atasan atau perusahaan, tapi juga ke kandidat karena posisi kandidat masih orang asing. Gak bisa gitu punya template buat kasih kabar?
Bahkan ga ada catatan sejarah tokoh perjuangan kemerdekaan yang disiram air keras, dibuat cacat permanen oleh kolonial. Tindakan paling jauh ya diasingkan. Lah ini dibuat cacat. Dan bentar lagi bakal ada mobilisasi buzzer yang ngebunuh karakter korban. Literally iblis!
Pendananaan penelitian, pengamatan, jurnalisme, atau bikin film itu informasi yang relatif terbuka. Donornya pun mensyaratkan ada audit.
Yang GELAP GULITA itu justru siapa pendana pilpresmu, Gerindra, atau Gibran.
Atau pendana operasi-operasi intelijen di luar jalur resmi APBN.
Karyawan yang resign sebelum mendapatkan pekerjaan pengganti, menurut gue itu rapor merah bagi perusahaan. Bayangin aja karyawan itu lebih takut tekanan di kantor dari pada takut kemiskinan
Kepikiran bikin cerita fiksi.
----
Premis:
Seorang bapak, kepala keluarga, tiap malam nongkrong di panggung dangdut kampung. Nyawer.
Awalnya receh.
Lama-lama jutaan.
Sampai ngutang koperasi.
Di rumah:
Anak 4 orang
SPP nunggak
Istri gali lubang tutup lubang
Utang warung menumpuk
Tapi dia merasa dirinya benar.
Konflik:
Istri menegur.
“Itu uang buat sekolah anak, Pak.”
Dia marah.
Merasa tidak dihargai.
Merasa dizalimi.
Lalu dia bikin status di Facebook:
“Saya dituduh menghamburkan uang buat nyawer. Padahal itu uang hasil penghematan dari jajan anak dan belanja makan.”
Netizen terbelah:
Ada yang simpati
Ada yang menghujat
Rasionalisasi:
“Kalau uangnya saya kasih ke rumah, nanti juga habis dikorupsi keluarga saya. Mending saya sawer. Jelas transparan. Saya lihat langsung hasilnya. Penyanyinya senang.”
----
Menurut kalian, ending yang paling realistis buat cerita ini apa ya?
Emang bisa ya bikin Es gabus pake spons? Kocak juga nih oknum. Spons itu gak bisa dimasak/rebus.
Nih Resep es gabus :
- Tepung Hankwe 120gr
- santan satu kotak segitiga
- air 500ml
- gula sesuai selera aja (gue pake 5 sdm)
- garam
- Optional bisa pke Vanilla essence
Cc/threads : geraldytan
Sebenarnya semua pekerja lebih pentingkan:
• Gaji yang setimpal
• Leadership yang bagus
• Appreciation
• Work-Life balance
• Flexibility
• Boleh grow
• Kepercayaan
• Bonus
Dari:
• Office yang fancy
• Free snacks
• Family day
Setuju tak?
#intinyadeh di pledoinya, Laras Faizati cerita diperlakukan kyk udh bersalah, dibentak2, bahkan diledek penyidik pas nangis dgr kabar ibunya sakit:
"Salah siapa lo di sini? Sakit kan tuh nyokap lo, rasain,”
Dia jg blg dikasih obat yg udh basi & sulit akses fasilitas kesehatan.
Siapa yang menciptakan lapangan kerja?
Spoiler: Bukan pemerintah!!
Lapangan kerja muncul dari dua sumber utama:
- Pengusaha lama yang memperluas usaha/ ekspansi.
- Investor baru yang bawa modal buka usaha
Tanpa dua ini, lowongan kerja tidak akan tumbuh. Pemerintah tidak bisa menyulap pekerjaan dari ruang kosong
Apa peran pemerintah?
Bukan menciptakan kerja langsung, tapi:
- Menyediakan infrastruktur
- Menjamin kepastian hukum
- Menjaga stabilitas politik & sosial
- Menciptakan iklim investasi yang sehat
=> Itu semua fondasi agar pengusaha & investor merasa aman untuk bawa modal buka usaha
Bayangkan, misalnya kita punya uang mau investasi di satu negara, namun :
- Aturan berubah-ubah.
- Ada ketidakpuasan -> pengusaha ditekan demo.
- Politik gaduh -> elite saling jegal.
- Polarisasi luas di masyarakat.
Maukah kita bawa uang buka usaha di lingkungan tersebut?
Iklim investasi itu seperti tanah.
Kalau tanahnya subur (stabil, aman, jelas), benih usaha akan tumbuh.
Kalau tanahnya rusak (gaduh, tak pasti), benih pun mati sebelum tumbuh.
=> Lapangan kerja tumbuh dari benih yang ditanam dan dirawat bersama, bukan dari janji-janji politisi.
Kesimpulan:
Pemerintah bukan pencipta kerja, tapi pencipta iklim
Yang menciptakan kerja adalah pengusaha dan investor yang merasa aman untuk membawa modal memperluas usaha disini
kuncinya :
- Stabilitas politik
- Ketertiban sosial
- Kepastian hukum
Appalling. Komunitas pesantren bisa bikin org dipecat, ancem pidana, kampanye masif di sosmed sampai turun ke jalan utk sebuah kritik sosial. Energi yg sama hampir ga pernah dikerahkan utk isu2 krusial yg merugikan rakyat, bahkan ketika santri sendiri yg menjadi korban.
Aduh kontrasnya kerasa banget ini. While Anwar takes the political risk of standing shoulder to shoulder with Palestine, Prabowo sibuk playing safe, building his image in Washington & trying to avoid upsetting Tel Aviv.
Anwar shows Sumud, Prabowo shows Submission.
FreePalestine