SBY 1 — 0 Jokowi + Prabowo
Dulu, jaman Presiden SBY, jika akan ada kenaikan BBM, mereka selalu kasih pengumuman ke publik soal kapan naiknya, berapa naiknya, kenapa harus dinaikkan harganya.
Tapi semenjak jaman Presiden Jokowi, pengumuman naik harga tengah malam, tanpa pengumuman publik, tanpa kasih kejelasan kenapa musti naik. Dan gaya itu terus dipakai sampai sekarang jaman Presiden Prabowo.
Sama rakyat sendiri aja kalian main sembunyi2 perihal hajat hidup orang banyak. Keterlaluan kalian!
Tahukan kalian kalau ini termasuk perbuatan zalim?
Semoga kelak hisabmu lama, Pak!! 😭
SD di Singapura dan Hongkong
SMP di Malaysia dan Swiss
SMA di Inggris
Tapi 10+6=17
1 sama 7 delapan.
Dan para hadirinpun tepuk tangan.
Apes bener ini negara.
Guys, ada diskusi yang menurut gue paling jujur dan paling berani tentang satu pertanyaan yang banyak orang pikirkan tapi jarang dibahas secara serius.
Kenapa Prabowo yang dulu kita kenal dan Prabowo yang sekarang memimpin terasa seperti dua orang yang berbeda?
Felix Siauw dan Gian membahas ini dari sudut pandang yang tidak biasa kepemimpinan dalam Islam, batas kritik dan kepatuhan, dan fenomena kekuasaan yang mengubah orang.
Pertama tentang pola pidato yang paling disorot:
Felix mengamati ada pola yang konsisten dalam pidato-pidato Prabowo: sambat dan curhat.
Curhat tentang pernah direndahkan.
Curhat tentang pernah dihina.
Curhat tentang perjuangan panjang yang tidak dihargai.
Felix tidak mengatakan ini salah secara manusia.
Tapi sebagai pemimpin ini bermasalah.
Karena pemimpin yang terlalu sering menunjukkan kelemahan emosional di depan publik tidak memberi ketenangan kepada rakyatnya.
Yang terjadi justru sebaliknya:
rakyat yang harusnya tenang malah ikut cemas.
"Kalau aku sebagai pemimpin curhat terus
yang dengar mau ngapain?"
Felix juga menyoroti bahwa trik vulnerability itu efektif untuk influencer yang sedang membangun audiens bukan untuk presiden yang sedang memimpin negara. Konteksnya berbeda total.
Dan ini yang paling mengejutkan soal pernyataan dolar tidak mempengaruhi orang desa:
Felix tidak percaya Prabowo tidak tahu bahwa pernyataan itu salah.
Karena Prabowo sendiri pernah berkali-kali berpidato tentang betapa pentingnya mata uang
bahkan mengutip kalimat terkenal tentang cara menghancurkan negara adalah dengan menghancurkan mata uangnya terlebih dahulu.
Jadi kalau bukan karena tidak tahu kenapa bisa ngomong seperti itu?
Felix menyimpulkan: meremehkan.
Bukan tidak paham.
Tapi merasa bahwa apapun yang diomongkan akan diterima begitu saja.
Tidak ada lagi rasa bahwa ada konsekuensi dari kata-kata yang keluar.
Dan itu lebih mengkhawatirkan dari sekadar kekeliruan faktual.
Dan ini tentang batas kritik dalam Islam yang paling menarik:
Felix menjelaskan dengan sangat clear.
Dalam Islam taat kepada pemimpin itu wajib.
Tapi ada syaratnya:
selama pemimpin itu taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
Dan yang lebih penting lagi Al-Qur'an tidak menulis "taatilah Allah, taatilah Rasul, dan taatilah pemimpin kalian."
Yang tertulis adalah "taatilah Allah, taatilah Rasul, dan pemimpin di antara kalian."
Konstruksi kalimat ini penting.
Ketaatan kepada pemimpin terikat pada ketaatan pemimpin itu sendiri kepada yang lebih tinggi.
Bukan ketaatan buta tanpa syarat.
Dan dalam Islam menasihati adalah tanda peduli.
Bukan tanda pembangkangan.
Analogi yang Felix pakai sangat tepat:
bayangkan kamu naik mobil dan suami yang menyetir sambil main HP.
Kamu akan tegur karena dia yang pegang setir keselamatan semua orang ada di tangannya.
Kalau dia duduk di belakang tidak ada yang akan repot menasihatinya.
"Kita banyak nasihati pemimpin karena dia yang megang setir.
Karena keselamatan kita semua tergantung dia."
Dan ini yang paling menohok soal diam sebagai hukuman terberat:
Felix mengatakan sesuatu yang menurut gue sangat dalam.
Dalam Islam diam itu lebih berat dari marah.
Diam artinya sudah tidak peduli.
Diam artinya sudah menganggap eksistensi yang satu tidak ada lagi.
Kalau rakyat masih teriak itu tandanya masih peduli.
Masih merasa bahwa pemimpinnya bisa berubah.
Masih merasa bahwa suaranya mungkin didengar.
"Kalau anak-anak masih ngomong itu masih bagus. Kalau anak-anak sudah diam berarti mereka cerita ke orang lain.
Cari perhatian di tempat lain."
Dan itu jauh lebih berbahaya bagi pemimpin manapun.
Dan ini tentang fenomena yang paling konsisten dalam sejarah politik Indonesia:
Felix membuat observasi yang sangat sederhana tapi sangat akurat.
Orang yang di luar kekuasaan akan mengkritik habis-habisan.
Orang yang sudah masuk kekuasaan akan mempertahankan posisinya habis-habisan.
Prabowo dulu mengkritik keras soal perjalanan luar negeri yang terlalu sering.
Sekarang dia adalah presiden yang paling sering ke luar negeri.
Prabowo dulu mengkritik keras soal utang luar negeri.
Sekarang utang terus berjalan.
Prabowo dulu pidato tentang pentingnya menjaga nilai mata uang.
Sekarang rupiah di Rp17.800 dan beliau berkata dolar tidak mempengaruhi orang desa.
Ini bukan hanya soal Prabowo.
Ini adalah pola yang terjadi pada hampir semua pemimpin yang masuk ke dalam sistem tanpa mengubah sistemnya terlebih dahulu.
Dan Felix menyimpulkan ini dengan kalimat yang menurut gue paling penting dalam seluruh diskusi:
"Sistem kepemimpinan itu jauh lebih penting daripada siapa yang memimpin.
Karena terbukti siapapun yang memimpin ujungnya begitu saja.
Selama sistemnya tidak berubah."
Kursi mengubah orang.
Ini bukan teori ini fakta sejarah yang berulang.
Power tends to corrupt.
Absolute power corrupts absolutely.
Itulah kenapa dalam sistem yang sehat check and balance itu bukan pilihan. Itu keharusan.
Agar tidak ada satu orang pun yang merasa bahwa apapun yang dia katakan pasti diterima.
Agar tidak ada ruang di mana pemimpin bisa lupa bahwa kata-katanya punya konsekuensi.
Dalam Islam pemimpin yang baik bukan yang tidak pernah salah. Tapi yang ketika salah dia dengar.
Seperti imam salat yang lupa rakaat ketika makmumnya bilang subhanallah, dia berhenti, dia koreksi, dia lanjutkan dengan benar.
Bukan yang ketika diingatkan langsung membantah: "MBG bermanfaat atau tidak? Tidak.
lansung jawab dengan lantang
MBG sangat bermanfaat."
TEDDY BERBOHONG !!!
KLAIM INVESTASI Rp 2.430 TRILIUN MASUK ERA PRABOWO ITU KELIRU !!
MALAH LEBIH BESAR INVESTASI DARI DALAM NEGERI !!!
Viral klaim bahwa total investasi asing masuk ke Indonesia mencapai Rp 2.430 triliun sejak Prabowo menjabat presiden.
Mari kita cek datanya satu per satu secara jujur dan lengkap.
Angka Rp 2.430 triliun adalah penjumlahan dari dua periode:
- Realisasi investasi sepanjang 2025 (Januari–Desember): Rp 1.931,2 triliun
- Realisasi investasi Triwulan I 2026 (Januari–Maret): Rp 498,8 triliun
- Total: Rp 2.430 triliun
Sumber data ini resmi dari BKPM dan diumumkan langsung oleh Menteri Investasi Rosan Perkasa Roeslani.
TAPI TUNGGU DULU, INI BUKAN SEMUANYA INVESTASI ASING
Ini poin krusial yang sering dilewatkan.
Angka Rp 2.430 triliun adalah TOTAL investasi, gabungan antara PMA (Penanaman Modal Asing) dan PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri / uang investor lokal Indonesia sendiri).
Rincian investasi asing (PMA) yang sebenarnya:
- PMA 2025: Rp 900,9 triliun (hanya 46,6% dari total)
- PMA TW I 2026: Rp 250 triliun (50,1% dari total triwulan)
- Total PMA sekitar 1,5 tahun: sekitar Rp 1.150,9 triliun
Sisanya, sekitar Rp 1.279 triliun, adalah PMDN, alias uang pengusaha dan investor Indonesia sendiri.
Jadi klaim "investasi asing Rp 2.430 T" ADALAH PEMBODOHAN.
Yang asing hanya sekitar Rp 1.150 triliun, dan yang dalam negeri bahkan lebih besar.
SIAPA SAJA NEGARA INVESTOR ASING TERBESAR?
Tahun 2025 (PMA Rp 900,9 triliun):
1. Singapura: USD 17,4 miliar (terbesar, konsisten nomor 1)
2. Hong Kong: posisi 2
3. Tiongkok (RRC): posisi 3
4. Malaysia: posisi 4
5. Jepang: posisi 5
Triwulan I 2026 (PMA Rp 250 triliun):
1. Singapura: USD 4,6 miliar
2. Hong Kong (Tiongkok): USD 2,7 miliar
3. Tiongkok: USD 2,2 miliar
4. Amerika Serikat: USD 1,3 miliar
5. Jepang: USD 1 miliar
Catatan penting: Singapura yang di posisi pertama bukan murni modal Singapura, karena banyak konglomerat Asia dan global memakai Singapura sebagai pintu masuk investasi ke Indonesia.
SEKTOR MANA YANG PALING BANYAK DAPAT INVESTASI?
2025:
- Industri Logam Dasar dan Barang Logam: Rp 262 triliun (terbesar)
- Transportasi dan Telekomunikasi: posisi 2
- Pertambangan: posisi 3
- Hilirisasi secara keseluruhan naik 43,3% sepanjang 2025
TW I 2026:
- Industri Logam Dasar: Rp 69,4 triliun
- Jasa Lainnya: Rp 64,2 triliun
- Pertambangan: Rp 51,9 triliun
- Perumahan dan Kawasan Industri: Rp 48 triliun
- Transportasi dan Telekomunikasi: Rp 45,4 triliun
APAKAH ANGKA INI BAGUS ATAU BIASA SAJA?
Mari kita bandingkan secara jujur:
- 2024 (era Jokowi + awal Prabowo): total investasi Rp 1.714,2 triliun, tumbuh 20,8%
- 2025 (era Prabowo penuh): total investasi Rp 1.931,2 triliun, tumbuh 12,7%
- TW I 2026: tumbuh 7,2% year-on-year, melambat dibanding periode sama 2025 yang tumbuh 15,9%
Artinya: angka investasi memang naik dan capai target, tapi pertumbuhannya justru melambat dibanding era akhir Jokowi.
Dari 20,8% turun ke 12,7%,
lalu ke 7,2%.
APA YANG TIDAK DICERITAKAN?
Pertama, porsi terbesar investasi masuk ke sektor logam dan pertambangan, bukan ke industri padat karya yang langsung serap banyak tenaga kerja.
Kedua, meski investasi naik, lapangan kerja yang terserap per rupiah investasi relatif kecil dibanding industri manufaktur ringan.
Ketiga, PMA dari Tiongkok terus membesar. Pada TW III 2025 saja PMA Tiongkok masuk di sektor industri logam dasar senilai USD 3,5 miliar, mayoritas di Sulawesi Tengah dan Maluku Utara untuk proyek nikel. Ini memunculkan pertanyaan soal siapa yang benar-benar diuntungkan dari investasi tersebut: pekerja lokal atau tenaga kerja asing.
Keempat, pertumbuhan investasi yang melambat (dari 20,8% ke 7,2%) di tengah kondisi ekonomi global yang memang penuh tekanan tarif AS dan ketidakpastian geopolitik perlu dicermati.
Jadi sebelum bangga, tanya dulu:
investasinya masuk ke mana dan siapa yang paling merasakan manfaatnya?
JANGAN-JANGAN ANTEK ANTEK DIA JUGA !!!
MIKIR !
Sumber: BKPM resmi, Antara News, Jawa Pos, PajakOnline
Beliau ini mungkin memorinya stuck di tahun 90-an ke bawah, berasa kita masih berperang ngelawan penjajah.
Omongan beliau di setiap pidato nya kayak omongan orang2 orde lama yang suka nakut2in buat patuh ke pemerintah.
Jadi berasa dia jadi presiden di masa orde lama, dimana penuh rakyat miskin yang baru kelar berjuang melawan penjajahan.
Seperti pas pidato tentang orang desa gak pake dollar. Langsung dicounter sama ketua DPR, bapak presiden ingin menenangkan rakyat makanya keluar kata-kata itu supaya rakyat gak ketakutan.
Lha dikira kita cuma nonton TVRI doang, jaman digital gini fakta bisa dicari dimana-mana.
Beda pas jaman dulu, informasi susah buat didapatkan, makanya rakyat gampang dikibulin pemerintah.
Dan ditambah ini, tiba2 teriak merdeka, vibesnya berasa lagi di jaman bawa2 bambu runcing 😅