@RealShahriqKhan When you understand that the Quran was narrated by an illiterate third-worlder whose only exposure to Christianity and Judaism was third-hand information gleaned through misrepresentative tales, a lot of things make sense.
I used to think Christians were naive. I thought faith in God was just an emotional crutch for people who could not handle reality.
Now I think the opposite.
The more seriously I looked at life, history, suffering, conscience, beauty, evil, and the limits of human reason, the less convincing atheism became.
Because everyone has faith. Everyone. The only real question is where that faith is placed.
In God, or in man.
I was taught that intelligence means distance from God. But what is so intelligent about believing that matter somehow produced mind, that chaos somehow produced order, that chemistry somehow produced conscience, and that human beings can ground morality by themselves while constantly contradicting even their own standards?
If we are only matter, then human dignity is just a useful story. Love is chemistry. Evil is preference. Sacrifice is irrational. Meaning is self invented. But almost no one actually lives that way. We all live as if truth matters, as if cruelty is really wrong, as if beauty means something, as if love is more than a chemical reaction, and as if justice should exist even when it costs us.
That is not nothing. That points beyond survival.
The Bible understood this long before modern people started pretending they had outgrown it.
Genesis grounds human dignity in the image of God. That means people are not valuable because they are productive, attractive, healthy, or useful. They are valuable because they bear His image.
John 1 does not begin with chaos. It begins with the Logos. Reason, order, meaning. Reality is not random noise. It is intelligible because it comes from a mind greater than ours.
Ecclesiastes says that pleasure, work, success, and achievement collapse into vanity when cut off from God. Anyone who has chased status, money, sex, or recognition long enough knows how true that is.
Romans 1 says creation points beyond itself. And it does. The order of the world, the mathematical beauty of reality, the existence of consciousness, the hunger for meaning, the presence of moral knowledge, these are not small things.
And history teaches the same lesson. The bloodiest experiments of the last century did not come from too much faith in God. They came from man trying to replace God with ideology, state, race, class, or power. When God is removed, something else always takes His place. Usually something crueler.
Christianity also does not begin with a vague spiritual feeling. It makes a historical claim. That Christ entered history, was crucified, and rose again. You can reject that claim, but it is not the same as saying faith is just blind comfort. Christianity stands or falls on what it says actually happened.
So no, I no longer think faith in God is stupid.
I think one of the most shallow ideas modern people were ever sold is that disbelief is automatically intelligent.
Sometimes disbelief is not depth. Sometimes it is pride.
And sometimes faith is not an escape from reality. It is what remains when you look at reality honestly enough and realize that man is not enough, matter is not enough, and this world cannot explain itself.
I used to think Christians were foolish.
Now I think many of them simply saw earlier what I was too proud to see.
Bodoh sekali.
Abraham punya dua anak: Ismael (dari Hagar) dan Ishak (dari Sarah).
Saat Tuhan perintahkan pengorbanan, Ishak adalah satu-satunya anak yang lahir dari perjanjian Tuhan dengan Abraham (Kejadian 17 & 21). Ismael sudah diusir.
Jadi “only son” di sini artinya anak satu-satunya dari perjanjian, bukan anak tunggal secara harfiah. Lo main-main dengan terjemahan tapi nggak paham konteksnya.
“Ayat PB tentang penyaliban itu karangan manusia. Tentang arah kiblat dll itu Progress Revelation.”
Munafik.
Lo tolak penyaliban Yesus (yang sudah dicatat oleh saksi mata, sejarawan Romawi, dan Yahudi) sebagai “karangan manusia”.
Tapi lo percaya begitu saja Muhammad yang datang 600 tahun kemudian mengubah:
Cerita pengorbanan Abraham (Ishak jadi Ismael)
Arah kiblat (dari Yerusalem ke Mekah)
Status Yesus (dari disalib jadi diangkat ke surga)
Semua itu lo sebut “Progress Revelation” (wahyu yang berkembang).
Tapi kalau Kristen yang baca kitab Yahudi dan menggenapi nubuatnya dengan Yesus, lo bilang “ngacak-ngacak”.
Standar ganda tingkat tinggi. Hahahahahahhaha...
Logika lu ga jalan.
Muhammad yang datang belakangan, tanpa saksi, tanpa bukti sejarah, seenaknya ubah-ubah cerita Abraham, Musa, dan Yesus.
Kristen yang pegang kitab yang sudah ada ratusan tahun sebelum Muhammad lahir, lo tuduh “ngacak-ngacak”.
Lo yang paling seenaknya ngacak-ngacak, bro.
Ironi banget. Yang paling seenaknya ngacak-ngacak, ubah-ubah, dan klaim “semua salah” justru Islam.
Ajaran Islam yang jelas bertentangan dengan ajaran Yahudi:
Kisah pengorbanan Abraham
Yahudi: Ishak yang diperintahkan dikorbankan (Kejadian 22).
Islam: Ismael yang dikorbankan (QS As-Saffat 37:100-107).
-> Islam mengubah tokoh utama cerita tersebut.
Status Yesus
Yahudi: Yesus bukan Mesias, bukan nabi, dan bukan anak Tuhan.
Islam: Yesus adalah nabi besar, tapi bukan disalib (QS An-Nisa 4:157).
-> Islam mengubah sejarah penyaliban yang sudah diyakini Yahudi dan Kristen.
Arah kiblat
Awalnya Muhammad sholat menghadap Yerusalem (seperti Yahudi). Kemudian diubah ke Mekah (QS Al-Baqarah 2:144).
->Bahkan arah sholat diubah seenaknya.
Hukum makanan
Yahudi punya aturan kosher yang sangat ketat.
Islam punya aturan halal yang berbeda (misalnya boleh makan unta, yang haram bagi Yahudi).
Poligami
Yahudi membatasi poligami dan hampir tidak dipraktikkan lagi.
Islam secara eksplisit izinkan sampai 4 istri (QS An-Nisa 4:3).
Warisan
Dalam Taurat, anak laki-laki dan perempuan punya aturan warisan yang berbeda.
Islam: perempuan dapat setengah dari bagian laki-laki (QS An-Nisa 4:11).
Konsep penebusan dosa
Yahudi: dosa diampuni melalui taubat + korban binatang.
Islam: dosa diampuni melalui amal + syahadat, tapi tetap ada konsep “beban dosa” yang berbeda.
Kristen: Yesus yang menebus dosa secara sempurna.
Intinya:
Muhammad datang 2600 tahun setelah Abraham dan 600 tahun setelah Yesus, lalu seenaknya mengubah cerita, hukum, arah kiblat, dan status nabi-nabi sebelumnya. Lalu lo berani tuduh Kristen yang “ngacak-ngacak” kitab Yahudi?
Lo sangat lucu dan menggemaskan.
Justru itu poinnya.
Di Perjanjian Lama memang belum ada penebusan dosa yang sempurna dengan korban manusia. Yang ada hanya korban binatang (domba, kambing, dll) yang harus diulang-ulang setiap tahun. Itu cuma bayangan (shadow) dari yang akan datang.
Yesus datang sebagai Mesias yang menjadi korban penebusan sempurna sekali untuk selamanya. Itu yang dimaksud “menggenapi” hukum Taurat (Matius 5:17).
Orang Yahudi zaman itu memang menolak Yesus karena ekspektasi mereka salah. Mereka mengharapkan Mesias sebagai raja politik yang akan hancurkan Romawi dan angkat Israel jadi superpower. Mereka nggak expect Mesias datang sebagai hamba yang menderita dan mati di kayu salib untuk tebus dosa dunia (Yesaya 53 sudah nubuatkan ini, tapi mereka abaikan).
Makanya mereka tolak dan salibkan Dia.
Tapi itu bukan berarti Yesus salah. Justru itu bukti bahwa manusia (termasuk orang Yahudi) butuh Juruselamat, karena hati mereka sudah rusak oleh dosa.
Lo pakai “kitab Yahudi nggak ada korban manusia” buat serang Kristen. Padahal itu justru bukti kenapa Yesus harus datang, untuk menyelesaikan apa yang Taurat nggak bisa selesaikan.
No. Muslims do not love Jesus. They love a version they invented. And their view of the real Jesus is not admiration, it’s rejection dressed up as respect.
1.They didn’t even keep his name. From Yeshu (Jesus) to “Issa” for no clear linguistic reason.
2.They strip him of his identity. No divinity, just another man.
3.They rewrite his mission. Not Savior of the world, just a warm-up act for Muhammad.
4. In their narrative, he fails. His message gets corrupted, he escapes death, and accomplishes nothing decisive.
5.They deny the crucifixion. Instead of dying for others, he supposedly avoids it and someone else takes his place. What kind of leader is that?
6. No crucifixion means no resurrection. The very cornerstone of Christianity is erased.
7.His return? Not to affirm his message, but to come back as a Muslim and break the cross. In other words, to dismantle what he stood for.
8.Even then, he doesn’t lead. He follows the Mahdi, lives, and dies as a Muslim.
So what exactly is left of Jesus in this picture?
Saying “we love Jesus” while rejecting everything essential about him is like holding a cheap Chinese imitation of Swiss watches and claiming you love Swiss watches.
@badai_al_aqsa@ER_YEEE90@kresbung Sama saja.
Yetzer Hara sudah ada sejak lahir menurut Yudaisme. Kej 8:21 bilang pikiran manusia jahat sejak kecil. Mazmur 51:5 bilang manusia berdosa sejak dalam kandungan.
Itu akibat dosa Adam di Kej 3. Paulus cuma jelaskan lebih terang.
Lo cuma bermain kata2.
Sotoy. Dalam Yudaisme ada konsep yetzer hara (kecenderungan jahat) yang sudah ada sejak manusia lahir. Kitab Kejadian 8:21 bilang: “Pikiran hati manusia itu jahat sejak kecilnya.” Mazmur 51:5 juga bilang manusia sudah berdosa sejak dalam kandungan. Jadi ide “manusia lahir suci dan bersih” itu bukan ajaran Yudaisme, itu lebih mirip ajaran Islam.
Paulus di Roma 5:12 cuma menjelaskan lebih jelas apa yang sudah dimulai sejak Kejadian 3: dosa Adam membawa maut dan kodrat berdosa ke seluruh manusia.
Lo kutip 1 Korintus 9:20 (Paulus jadi seperti orang Yahudi untuk menangkan orang Yahudi, itu strategi misi, bukan soal dosa asal. Lo lagi ngacak-ngacak ayat supaya kelihatan pintar.
Intinya:
Lo tolak dosa asal karena “nggak ada di Yudaisme”, padahal Yudaisme sendiri mengakui manusia lahir dengan kecenderungan jahat.
Lo percaya Muhammad yang datang 600 tahun kemudian, nggak punya saksi, nggak punya bukti, tapi seenaknya bilang agama sebelumnya salah. Standar ganda.
Dosa asal bukan ciptaan Paulus. Akarnya sudah ada di Kejadian 3: Adam dan Hawa berdosa -> maut masuk ke dunia, kodrat berdosa diturunkan ke seluruh keturunan manusia. Daud sendiri mengaku di Mazmur 51:5: “Aku sudah berdosa sejak dilahirkan, berdosa sejak dalam kandungan ibuku.”
Paulus di Roma 5:12 hanya menjelaskan lebih jelas apa yang sudah dimulai sejak Kejadian. Bukan dia yang mengada-ada.
Sekarang lo yang percaya Muhammad:
Datang 600 tahun setelah Yesus
Nggak pernah ketemu Yesus
Nggak pernah ketemu Abraham
Nggak punya saksi mata
Cuma klaim “wahyu di gua” doang
Lalu seenaknya bilang agama sebelumnya salah, Yesus nggak disalib, dan dia yang benar.
Siapa yang “klaim sepihak” dan “menyesatkan manusia”?
Lo tolak Paulus yang ajarannya disetujui rasul-rasul lain, tapi lo percaya begitu saja klaim Muhammad yang datang ratusan tahun kemudian tanpa bukti apa pun.
Standar ganda tingkat dewa.
Hancurnya Majapahit oleh Demak (1527)
Kerajaan Demak (Islam pertama di Jawa) menyerang dan menghancurkan ibu kota Majapahit (Hindu-Buddha). Catatan sejarah menunjukkan penaklukan dengan kekerasan, pembakaran candi, dan paksaan konversi. Banyak kerajaan Hindu di pantai utara Jawa jatuh karena serangan militer Demak dan sekutunya.
Penaklukan Banten atas Pajajaran (kerajaan Hindu Sunda)
Banten (Islam) menaklukkan Pajajaran dengan kekerasan militer. Penguasa Hindu-nya tewas dalam pertempuran.
Serangan Mataram Islam ke Blambangan (1767–1773)
Kerajaan Mataram Islam menyerang Blambangan (kerajaan Hindu terakhir di Jawa Timur). Ribuan orang dibunuh, candi dihancurkan, dan konversi paksa terjadi. Ini salah satu contoh paling jelas kekerasan Islam di Jawa.
Perang Padri di Sumatera (1821–1838)
Kelompok Muslim radikal (Padri, terpengaruh Wahhabi) perang saudara dengan sesama Muslim Minangkabau yang masih memegang adat. Banyak desa dibakar, ulama dan pemimpin adat dibunuh.
Ekspansi Aceh
Kesultanan Aceh sering melakukan ekspansi militer ke wilayah tetangga sambil memaksakan syariat, termasuk hukuman mati.
Ini semua tercatat dalam babad Jawa, kronik lokal, dan catatan sejarawan (termasuk yang ditulis setelahnya oleh Belanda dan sejarawan Indonesia).
Persia (Iran): Setelah ditaklukkan Arab (abad 7), Zoroastrian dari mayoritas menjadi minoritas kecil karena tekanan pajak jizya, diskriminasi, dan kekerasan sporadis. Banyak yang melarikan diri ke India (jadi komunitas Parsi).
Mesir: Kristen Koptik dari ~90% menjadi ~10% selama berabad-abad karena jizya berat, diskriminasi dhimmi, dan pogrom sesekali.
India: Banyak kuil Hindu dihancurkan oleh penguasa Muslim (Delhi Sultanate, Mughal, termasuk Aurangzeb). Ribuan candi rusak, termasuk Kashi Vishwanath dan Somnath.
Islam masuk ke Indonesia dengan kekerasan.
Kerajaan Demak (Islam) hancurkan Majapahit (1527) dengan perang brutal, bakar candi Hindu-Buddha, paksa konversi massal.
Banten taklukkan Pajajaran (kerajaan Hindu Sunda) dengan kekerasan.
Mataram Islam serang Blambangan (kerajaan Hindu terakhir di Jawa Timur) tahun 1767–1773, bunuh ribuan orang, hancurkan candi.
Aceh ekspansi militer ke wilayah tetangga sambil paksa syariat.
Perang Padri di Sumatera: Muslim radikal bunuh sesama Muslim Minangkabau yang tidak mau ikut Wahhabi.
https://t.co/fitqmIENiM
BBC: “Islam means peace… Muslims are the victims of Islamophobia.”
Meanwhile, Muslim community leaders across the West openly declare:
“Christians and Jews must die for Allah’s sake.”
The gap between what the media tells you and what they actually preach couldn’t be wider.
One side lies to protect the image.
The other side says the quiet part out loud.
Which one are you going to believe?
They say that God is almighty but limit His power by denying the incarnation.
Funny how they mock the Trinity while blindly believing a man who came 600 years after Jesus, claimed “Jesus was never crucified”, said he’s the final prophet, and declared previous religions wrong… with zero historical evidence, zero eyewitnesses, and zero miracles that can be verified outside his own claims.
He said he received revelation in a cave. Who was the witness? Nobody. What independent historical document supports his version? None.
Meanwhile, the New Testament was written by people who lived in the same generation as Jesus. Many of the writers and their sources were eyewitnesses. Even non-Christian historians (Tacitus, Josephus, Pliny the Younger) confirm Jesus existed, was crucified, and that His followers believed He rose from the dead.
You reject the Trinity because “it wasn’t explicitly said by early church fathers exactly like today”, but you accept Muhammad’s claims without any external proof?
God can do whatever He wants. Your brain doesn’t get to limit Him.
Paulus memang bukan salah satu dari 12 murid Yesus yang awal. Tapi Paulus adalah orang yang bertemu Yesus secara langsung di jalan menuju Damsyik (Kisah Para Rasul 9). Yesus sendiri yang panggil dia. Dan ajaran Paulus disetujui oleh rasul-rasul lain (lihat Galatia 2 & Kisah Para Rasul 15).
Lo tolak Paulus cuma karena dia nggak cocok sama narasi lo.
Padahal lo sendiri percaya Muhammad yang
Datang 600 tahun setelah Yesus
Nggak pernah ketemu Yesus
Nggak pernah ketemu Abraham
Nggak punya saksi mata
Cuma klaim “wahyu” doang
Tapi lo berani bilang Paulus palsu?
Standar ganda tingkat dewa.
Dosa asal itu ajaran Alkitab yang konsisten dari Kejadian sampai Roma.
Di Kejadian 3, Adam dan Hawa berdosa -->maut masuk ke dunia, hubungan dengan Tuhan rusak, dan dampaknya menjalar ke seluruh ciptaan. Seluruh keturunan mereka lahir dengan kodrat berdosa.
Itu sebabnya Daud bilang di Mazmur 51:5:
“Sesungguhnya aku sudah berdosa sejak dilahirkan, berdosa sejak dalam kandungan ibuku.”
Paulus di Roma 5:12 hanya menjelaskan lebih jelas apa yang sudah dimulai di Kejadian:
“Karena itu, sama seperti dosa masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut masuk, dan demikianlah maut menjalar kepada semua orang karena semua orang telah berdosa.”
Dosa asal itu bukan cerita dongeng. Itu ajaran Alkitab yang jelas:
“Karena itu, sama seperti dosa masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut masuk, dan demikianlah maut menjalar kepada semua orang karena semua orang telah berdosa.” (Roma 5:12)
Semua manusia lahir dengan kodrat berdosa. Bukan karena bayi sudah “berbuat dosa”, tapi karena seluruh umat manusia sudah jatuh bersama Adam. Itu sebabnya semua orang butuh pengampunan.
Sekarang soal Amalek (1 Samuel 15:3):
Amalek bukan “bangsa biasa”. Mereka selalu menyerang Israel dari belakang saat lemah (Keluaran 17).
Punya ritual korban manusia, termasuk anak kecil.
Musuh abadi Israel selama ratusan tahun.
Tuhan perintahkan Israel musnahkan mereka total karena itu penghakiman Tuhan atas bangsa yang sudah terlalu jahat. Bukan karena Tuhan “kejam”, tapi karena Tuhan pemegang moral absolut. Dialah penentu apa yang benar dan salah. Sama seperti dia menentukan kenapa ada bencana alam di sini dan tidak disana, dan mati hidupnya manusia. Kalau Lo percaya Tuhan, harusnya Lo paham ini. Dia berhak menentukan kapan sebuah bangsa sudah cukup jahat untuk dihakimi.
Lo bilang itu kejam?
Tapi lo diam aja soal ayat-ayat perang di Islam yang masih berlaku sampai sekarang:
Surah 9:5 “Bunuhlah orang-orang musyrik di mana saja kamu jumpai mereka.”
Surah 9:29 Perang melawan orang Yahudi dan Kristen sampai mereka bayar jizya dengan hina.
Islam nggak punya “kasihilah musuhmu”.
Islam nggak punya “kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri” yang dinaikkan levelnya.
Islam masih stuck di level “bunuh kalau untuk agama”.
Jadi jangan sok suci nanya “mosok bayi masuk neraka”.
Lo bela agama yang ajarannya sampai sekarang masih bikin orang bunuh-bunuh atas nama tuhan, tapi lo ribut soal perintah Tuhan di zaman Perjanjian Lama yang sudah selesai 3000 tahun lalu.
Yang terjadi di Banda Neira tahun 1621 itu kekejaman kolonial Belanda (VOC), bukan ajaran Yesus. Yesus nggak pernah suruh bunuh orang buat jajah tanah. Yesus malah ajarin “kasihilah musuhmu” dan “balaslah kejahatan dengan kebaikan”.
Tapi lo sok lupa sejarah Islam:
Islam masuk Indonesia bukan dengan “damai total”. Setelah kuat, Demak hancurkan Majapahit (1527), bakar candi Hindu-Buddha, paksa konversi massal.
Mataram Islam serang Blambangan (kerajaan Hindu terakhir di Jawa Timur) 1767–1773, bunuh ribuan.
Di India: ribuan kuil Hindu dihancurkan oleh Mughal dan Delhi Sultanate.
Di Persia: Zoroastrian dari mayoritas jadi minoritas kecil gara-gara tekanan + pembantaian.
Di mana-mana Islam masuk dengan pedang, bukan dengan “kasih”.
Sekarang bandingkan hasilnya:
Negara-negara mayoritas Islam hari ini:
Penuh perang saudara, terorisme, kemiskinan, korupsi.
HDI rendah (kecuali negara kaya minyak yang cuma modal duit, bukan modal peradaban).
Minoritas (Kristen, Yahudi, Hindu, dll) terus ditekan atau dibunuh.
Negara-negara mayoritas Kristen (meski sekarang banyak sekuler):
Memberi dunia ilmu pengetahuan, hak asasi manusia, penghapusan perbudakan, demokrasi, rumah sakit, sekolah.
Bahkan di Indonesia, gereja-gereja yang lo bilang “kejam” justru bikin sekolah dan rumah sakit yang dipakai semua orang, termasuk Muslim.
@Indouncensored Lah itu dia bilang "mati atau mematikan" orang itu syahid. Mematikan orang? Sejak kapan ada ajaran Kristen mematikan orang itu sebagai tindakan terpuji? Membenci saja dianggap sama dengan membunuh.
Lucu. Lo lagi nunjukin betapa dangkalnya pemahaman lo.
Semua manusia memang berdosa. Alkitab sendiri bilang:
“Tidak ada seorang pun yang benar, tidak ada satu pun.” (Roma 3:10)
Termasuk Paulus, termasuk saya, termasuk kamu.
Tapi itu justru poinnya.
Yesus datang bukan buat orang yang sudah “baik”, tapi buat orang berdosa. Dia kasih standar moral yang jauh lebih tinggi dari Perjanjian Lama: bukan lagi “mata ganti mata”, tapi “kasihilah musuhmu, berbuat baik kepada orang yang membenci kamu” (Matius 5:44).
Itu nilai yang lebih tinggi. Bukan karena manusia Kristen langsung jadi sempurna (kami tetap berdosa), tapi karena dosa kami diampuni oleh pengorbanan Yesus.
Pengampunan itu bukan “performance based” seperti agama lain (harus sholat 5x, puasa, haji, dll supaya masuk surga). Di Kristen, pengampunan itu karena kasih karunia Tuhan.
Sekarang bandingkan dengan Islam:
Islam punya ayat perang yang jelas (misalnya Surah 9:5, 9:29).
Tidak ada ayat yang bilang “kasihilah musuhmu”.
Tidak ada ajaran “kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri” yang dinaikkan levelnya.
Jadi ketika lo kasih orang ajaran “boleh bunuh kalau untuk membela diri atau agama”, hasilnya ya seperti yang kita lihat di mana-mana: kekerasan atas nama agama.
Kalau orang Kristen bunuh orang, itu melanggar ajaran Yesus.
Kalau orang Islam bunuh orang bom bunuh diri, sering kali itu sesuai ayat.
Itu bedanya.
Lo boleh muak sama Paulus atau orang Kristen yang nggak sempurna. Tapi jangan pura-pura ajaran Yesus sama dengan ajaran yang lo pegang. Satu naikkan moral, satu masih stuck di level perang suci dan harem surga.
Perjanjian Lama = Perjanjian antara Tuhan dengan bangsa Israel (melalui Musa).
Perjanjian Baru = Perjanjian antara Tuhan dengan seluruh umat manusia melalui Yesus Kristus.
Bukan “direvisi” seperti lo edit dokumen Word. Tapi digenapi (disempurnakan). Yesus sendiri bilang di Matius 5:17: “Jangan kamu kira Aku datang untuk menghapus hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk menghapus, melainkan untuk menggenapi.”
Jadi Perjanjian Lama tetap ada sebagai sejarah dan nubuat, tapi standar moralnya dinaikkan oleh Yesus: dari “mata ganti mata” jadi “kasihilah musuhmu”.
Sekarang lo bandingkan dengan Islam:
Muhammad datang 600 tahun setelah Yesus. Dia bilang agama sebelumnya salah, Perjanjian Baru sudah “dirusak”, dan dia yang bener. Tanpa bukti, tanpa saksi, tanpa naskah kuno yang mendukung versinya.
Lo percaya begitu aja klaim Muhammad, tapi lo ribut soal Perjanjian Lama & Baru yang punya rantai sejarah jauh lebih kuat.
Itu standar ganda.
Perjanjian Lama bukan “direvisi” seenaknya. Itu bagian dari satu cerita besar yang puncaknya di Yesus.