Yi Jeong memperhatikan sekitar yang terdengar makin riuh sebab banyak anak yang telah menyelesaikan apapun yang mereka gores di atas buku gambar.
“Lanjutkan lah, aku akan menyapa yang lain dulu.” Sambung lelaki itu kepada si gadis.
[ @berkelebat ]
Yi Jeong menyempatkan diri untuk menghadiri perayaan ulang tahun Ya Sori di tempat mereka pernah tumbuh besar bersama. Pesta tersebut terlihat sederhana, namun dipenuhi suka cita dari anak-anak penghuni panti.
Setelah menyapa para pengurus terlebih dahulu, barulah lelaki itu —
Salah satu kegiatan mereka hari ini adalah mewarnai, dan beberapa di antaranya memberikan hasil karya mereka sebagai hadiah ulang tahun untukku. Gemas sekali.
dengan buku jarinya.
Untuk koreksi terhadap nama kopi yang baru saja disebutkan Sori, lelaki itu membalasnya dengan raut wajah yang seolah paham. Anggap saja begitu.
“Baiklah, akan kukabari kapan aku akan ke kafe mu,” balasnya. —
“Kau bisa memeriksanya terlebih dahulu.” Lanjutnya, lalu ia berdiri membelakangi lelaki tersebut, membiarkan sang juru masak menyelesaikan tahap transaksi selanjutnya.
[ @HYUN__GI ]
melakukan transaksi—hanya diawasi oleh satu orang. Namun itu bukan satu yang akan diudarakannya. Ia memilih untuk menelan bulat-bulat keingintahuannya dan melanjutkan untuk memindahkan boks-boks lain.
“Itu yang terakhir,” ujar Yi Jeong setelah beberapa kali bolak balik. —
untuk begitu hingga seterusnya.
Dengan satu gerakan, pemuda Yi meraih salah satu boks yang berada paling dekat dengannya. Untungnya, ukuran boks tersebut tidak terlalu besar, sehingga ia dapat mengangkatnya dengan hati-hati dengan kedua tangan tanpa kesulitan. —
𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘠𝘢 𝘚𝘰𝘳𝘪?
Pada akhirnya, Yi Jeong memutuskan untuk mendekat. “Kau kenapa?” Itu adalah sebuah bentuk sapaan bagi yang lebih muda.
[ @berkelebat ]
Setelah apa yang terjadi kemarin, sebenarnya Yi Jeong tidak berniat untuk bertemu lagi dengan Ya Sori.
Namun, gerak-gerik gadis kecil tersebut membuat si anak lelaki enggan untuk beranjak pergi. Tatapannya tak kunjung beralih darinya. —