kebanyakan pikiran manusia
menyukai kerumitan,
rasionalitas menguras banyak energi
tanpa sadar itu bisa melukai daya nalar
mereka mengira
bahwa kesederhanaan dalam berfikir
adalah kedangkalan
sampai lupa bahwa
akal tercipta untuk di gunakan
bukan di Tuhan kan
Yang membuat hubungan itu tidak nyaman karena tidak sama-sama.
Yang satu ingin komunikasi, yang satu lagi sering menghilang.
Yang satu ingin dipedulikan dan diperhatikan, yang satu lagi cuek.
Yang satu menunggu, yang satu tidak tampak butuh.
Sehingga hubungan terasa begitu jauh.
Makin kesini makin sadar, kalo diam itu lebih baik, karena emang nggak semua hal itu harus ditanggepin, tapi cuma perlu didiemin, atau pun sekedar di iyain.
Aku tidak mencari pria yang mempunyai segalanya, hanya butuh seseorang yang memegang dan membuktikan omongannya, aku juga butuh dihargai keberadaanku tidak disepelekan dalam setiap hal, dan satu lagi aku juga butuh seseorang yang membuat aku jadi satu-satunya bukan salah satunya.
Kita di dunia ini terlahir untuk menjadi diri sendiri. Setelah kita mengetahui apa itu cinta.
Kita menjadi mendambakan sekali dengan yang namanya cinta. Berkali-kali disakiti dan dikhianati, tetap saja kita mencari-cari yang namanya cinta tanpa ada rasa trauma.
Tidak menyerah bukan berarti dia kuat, mungkin karena ada suatu alasan yang memutuskan seseorang untuk tidak menyerah. Hanya dia dan sahabat sejati yang tau alasan mereka tidak menyerah. Sahabat sejati adalah sahabat yang selalu ada disaat kita jatuh atau bangun.
Ketika aku mencoba untuk melupakanmu, ada saja alasan untuk tiba-tiba teringat kamu yang kini telah benar-benar pergi dari hidupku. Aku berharap agar kau tidak kembali. Lelah menerima kehadiranmu, jika pada akhirnya aku tersakiti lagi karenamu.
Hanya karena kamu gagal sekali, tidak berarti kamu akan gagal dalam segala hal. Terus berusaha, bertahan, dan selalu percaya pada diri sendiri. Karena jika kamu tidak, lalu siapa yang akan melakukannya?
Disetiap malam aku berdoa untuk kebahagiaan dan keselatanmu. Iya beginilah aku, yang hanya bisa menyukaimu melalui perantara doa dan hanya bisa memandangmu dari jauh sana. Walaupun kutahu, kebahagiaanmu bukan bersamaku.
Ibarat kata, kamu dikasih bangkai tanpa berpikir kalau yang kamu cerna itu busuk. Kebayang gak sama orang yang membenci seseorang berdasarkan cerita orang lain?
Aku pernah terlalu dalam
ikut menyembuhkan lukanya, sampai luka itu terbagi denganku. Setelah dia sembuh, kukira akan ikut menyembuhkan juga. Ternyata hanya menambah luka yang baru.
Setiap orang pasti pernah berjuang, punya hasrat untuk melangkah dengan caranya masing-masing. Terjatuh, terpuruk, terlelap pun bertahan. Sejatinya definisi manusia merdeka itu cukup sederhana; tersenyum sebagaimana mereka bisa menikmati apa yang telah menjadi pilihannya.
Apa tidak pernah terlintas di pikirmu bagaimana bisa sabarku selalu ada untuk salah-salahmu? Apa tidak pernah terpikir di lamunanmu bagaimana bisa maafku selalu ada untuk kecewa-kecewaku?
Kamu memang keterlaluan, tetapi aku sudah nyaman.
Bertahan itu pilihan untuk bahagia / untuk menetap dalam kesedihan. Ada yang jelas-jelas tak terlihat keseriusannya tetapi masih ada juga yang memilih untuk bertahan, dengan alasan tak mudah untuk melepaskan. Coba tanyakan ke hati sendiri, kamu lebih sayang dia atau diri sendiri?
Jangan takut, Allah sudah membuat rencana yabg indah untuk semua makhluk-Nya, termasuk aku dan kamu. Jika Allah berkehendak, pasti kita akan dipertemukan dan dipersatukan kembali dalam ikatan yang halal.
Mungkin, menjauh itu jalan yang terbaik untuk kita. Dengan kata lain, menjaga jarak. Menjauh bukan berarti memutuskan tali silaturahmi tetapi menjauhkan diri dari apa yang dilarang Allah. Tak apa untuk saat ini kita menjauh.
Kau tahu aku mencintaimu? Lantas mengapa kau diam saja? Memilih untuk tidak membalasnya.
Ah, tidak penting, mau kau balas atau tidak perasaanku tetap sama tidak bisa berubah.
Bahkan ketika kau dengan yang lain, aku masih mencintaimu, itu di luar kuasaku.
Bukan janji yang menemanimu.
Namun, aku di sini tetap menyemai luka, menurutmu begitu.
Bak rancu yang tak bisa diterka, bagai langit mendung di waktu malam. Di antara kita; ada sekat yang menghalau genggaman.
Bukan lagi bersama, tetapi kita sama-sama memberi jarak.
Kau tau, apa yang paling menyakitkan dari kisah kita?
Bukan luka yang ada, bukan pula rasa yang tersisa, bukan kenangan, maupun memori yang begitu indah.
Yang paling menyakitkan adalah saat kau melupakan pengorbananku hanya karena orang baru, yang bahkan tak mengenalmu