Aku adalah Bulan yang Bersujud pada Anakku
Aku adalah Rahil binti Laban. Perempuan yang dicintai lelaki mulia, dengan penantian panjang selama 14 tahun, yang diikat oleh rindu dan kesabaran. Dari rahimku lahir Yusuf, lelaki tampan, yang cahaya wajahnya kelak menerangi banyak jiwa. Lalu adiknya, Bunyamin, yang menjadi napas terakhirku.
Sejak itu, aku berdiam dalam tanah, sunyi, tak terlihat, namun tak pernah benar-benar pergi dari hati anak-anakku.
Namaku tak pernah disebut dalam kisah yang paling indah dalam kitab suci. Seratus sebelas ayat mengalir tentang anakku: tentang sumur yang gelap, tentang istana yang gemerlap, tentang air mata seorang ayah yang memutih oleh rindu. Tapi aku, ibunya, tak hadir dalam kata-kata. Kalian pun tak pernah mengenalku. Dan aku menerima itu. Sebab cinta seorang ibu tak membutuhkan nama untuk tetap hidup.
Aku tak sempat melihat Yusuf tumbuh. Tak sempat menyisir rambutnya ketika ia mulai dewasa. Tak sempat mendengar suaranya berubah menjadi suara lelaki. Bahkan tak sempat menyaksikan mimpi indahnya menjadi nyata.
Aku telah pergi, sebelum ia dicampakkan ke sumur, sebelum ia dijual, sebelum ia berdiri sebagai ‘Aziz Mesir yang disegani.
Namun aku teringat, pada suatu malam, ketika Yusuf kecil berlari kepada ayahnya dengan mata yang masih basah oleh cahaya mimpi, aku hadir.
“Aku melihat sebelas bintang… matahari… dan bulan,” katanya lirih. “Semuanya sujud kepadaku, ayah.”
Dari balik keheningan alam yang tak terjangkau manusia, aku tersenyum.
Aku adalah bulan itu.
Aku memang tak melihat mimpi itu terwujud. Tapi aku tahu, ketika Yusuf kelak mengangkat ayahnya dan ibu tirinya ke singgasana, ketika luka masa lalu diluruhkan oleh maaf, cahaya itu tetap ada.
Sayup kudengar suara…
"Keberhasilanku adalah air mata sujudmu, dan tahtaku itu doamu yang menembus langit. Terima kasih, Ibu."
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Prabowo Subianto sini tak ajarin ngurus negara dgn cara yg paling mudah.
1. Stop MBG
2. Stop Koperasi Merah Putih
3. Tutup Kementerian yang tidak berguna, sisakan 10-15 Kementerian
4. Hapus Jabatan Wakil Menteri
5. Bubarkan DPR atau Potong Gaji Anggota DPR
6. Potong Gaji Pejabat.
7.tambah in......
kita nih lelah liat kelakuan pejabat2 ini😪😪
Robohnya Pesantren Kami
Musibah runtuhnya Ponpes Al Khoziny di Sidoarjo bukan sekadar ambruknya beton dan besi. Ini runtuhnya kelalaian yang disembunyikan di balik jargon keikhlasan. Takdir memang kuasa Tuhan, tapi kelalaian adalah pilihan manusia.
Kita sering berlindung di balik kalimat “sudah takdir”, seolah-olah Tuhan yang disalahkan atas kecerobohan kita. Padahal Allah memberi akal untuk menghitung beban, memberi aturan demi keselamatan, dan ilmu agar kita tak membangun di atas kesalahan. Bila itu diabaikan lalu kita menyebutnya “musibah”, bukankah itu bentuk kezaliman terhadap amanah-Nya?
Masalah kita juga ada pada cara berpikir: menganggap rencana bisa diganti niat baik, prosedur diganti doa, dan keselamatan digadaikan demi percepatan. Kita ingin mendirikan pesantren tapi lupa bahwa pondok bukan hanya tempat mengaji, tapi rumah bagi akal sehat. Pesantren harus menjadi tempat yang nyaman dan aman.
Di antara reruntuhan itu, ada darah yang berserak, tubuh yang remuk, air mata dan jeritan. Santri datang mencari cahaya, bukan untuk terkubur di reruntuhan pondok.
اللَّهُمَّ ارْفَعْ دَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّانِ، وَاجْعَلْ دِمَاءَهُمْ شَهَادَةً عَلَى طُهْرِ نِيَّاتِهِمْ، وَعَلِّمْنَا أَنْ نَبْنِيَ بِالْعِلْمِ قَبْلَ أَنْ نَبْنِيَ بِالطُّوبِ وَالْإِسْمَانْتِ.
رَبَّنَا، لَا تَجْعَلْ غَفْلَتَنَا سَبَبًا فِي هَلَاكِ الْأَبْرَارِ، وَلَا تَكْتُبْنَا مِنَ الْمُقَصِّرِينَ الَّذِينَ يَقُولُونَ “قَدَرُ اللَّهِ” وَقُلُوبُهُمْ تَعْلَمُ أَنَّهُمْ فَرَّطُوا.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ دُمُوعَ أُمَّهَاتِهِمْ مِفْتَاحً�� لِرَحْمَتِكَ، وَآهَاتِ آبَائِهِمْ سُلَّمًا يَرْتَقُونَ بِهِ إِلَى جَنَّاتِ النَّعِيمِ.
“Ya Allah, angkatlah derajat para santri yang gugur di sisi-Mu, jadikan darah dan debu mereka sebagai saksi kesucian niat mereka. Ajarkan kepada kami untuk membangun dengan ilmu sebelum kami membangun dengan bata dan semen. Jangan biarkan kelalaian kami menjadi sebab hancurnya jiwa-jiwa suci. Jangan catat kami sebagai hamba yang mudah berlindung di balik kata takdir padahal kami tahu kami telah lalai. Ya Allah, jadikan air mata ibu-ibu mereka kunci rahmat-Mu, dan keluh kesah para ayah mereka tangga menuju surga-Mu yang penuh kedamaian.”
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Catatan Nadirsyah Hosen atas Klaim “Penambangan Itu Baik, Asal Bukan Bad Mining”
Pernyataan Ketua PBNU, Kiai Ulil Abshar Abdalla, bahwa penambangan adalah hal baik karena membawa maslahat, dan yang buruk hanyalah bad mining, tampaknya menyederhanakan problematika yang kompleks. Memang benar bahwa dalam kerangka maqāṣid al-sharī‘ah, setiap aktivitas yang membawa kemaslahatan publik (maṣlaḥah ‘āmmah) dapat dibenarkan. Namun, penambangan bukan sekadar perkara teknis antara “baik” dan “buruk”, melainkan melibatkan soal ketimpangan struktural, kerusakan ekologis, dan pelanggaran hak masyarakat lokal. Selama hal-hal ini tidak diperbaiki, yang kita saksikan adalah bad mining. Dan selama hal-hal ini masih dibiarkan, maka tidak elok menormalisasi pertambangan dengan klaim normatif-abstrak.
1. Maslahat Tidak Berdiri Sendiri
Dalam al-Mustaṣfā, al-Ghazālī menegaskan:
فَالْمَصْلَحَةُ الْمُعْتَبَرَةُ هِيَ الَّتِي لَا تُعَارِضُ نَصًّا وَلَا إِجْمَاعًا
“Maslahat yang diakui (mu‘tabarah) adalah yang tidak bertentangan dengan nash atau ijma‘.”
(al-Ghazālī, al-Mustaṣfā, 1/286)
Maka, jika suatu tambang terbukti mencemari lingkungan, merampas tanah adat, dan menghancurkan ruang hidup masyarakat, itu bukan maslahat yang mu‘tabarah, melainkan mafsadah (kerusakan). Tak semua yang menghasilkan uang dan devisa bisa otomatis disebut maslahat.
2. Keadilan Ekologis Adalah Syariat
Al-Qur’an memperingatkan:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
“Dan janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya.”
(QS al-Aʿrāf: 56)
Kerusakan ekologis akibat tambang berskala besar—baik yang berizin maupun liar—tak sekadar meninggalkan luka di permukaan tanah. Ia mencemari mata air, merusak ekosistem, dan mengusir masyarakat dari tanah warisan leluhur mereka. Dalam fiqh al-bī’ah (fiqh lingkungan), kehancuran semacam ini disebut fasād al-bī’ah—kerusakan lingkungan yang sistemik—dan merupakan bentuk khiyānah terhadap amanah kekhalifahan manusia di bumi yang diwasiatkan Allah.
3. Maslahat Tak Sah Jika Lewat Kezaliman
Pemisahan antara good mining dan bad mining terdengar menarik, tetapi gagal menjelaskan bagaimana mayoritas praktik tambang di Indonesia kerap sarat dengan pelanggaran etis, hukum, dan sosial. Bahkan perusahaan-perusahaan yang menyandang “izin resmi” banyak yang melanggar AMDAL, meminggirkan masyarakat adat, dan membungkam protes rakyat. Kiai Ulil tidak bisa menutup mata atas praktek semacam ini.
Dalam hal ini, prinsip dari al-ʿIzz ibn ʿAbd al-Salām menjadi sangat relevan. Ia menulis dalam Qawāʿid al-Aḥkām fī Maṣāliḥ al-Anām:
فَكُلُّ مَا أَدَّى إِلَى الظُّلْمِ وَالْجَوْرِ وَالْعُدْوَانِ فَهُوَ مَحْظُورٌ تَحْرِيمًا، وَكُلُّ مَا أَدَّى إِلَى الْعَدْلِ وَالإِنْصَافِ وَالإِحْسَانِ فَهُوَ مَطْلُوبٌ وَاجِبًا أَوْ نَدْبًا
“Segala sesuatu yang mengarah kepada kezaliman, keaniayaan, dan pelanggaran adalah hal yang diharamkan. Dan segala sesuatu yang mengarah kepada keadilan, keadilan sosial, dan kebaikan, maka ia adalah sesuatu yang dituntut, baik secara wajib maupun sunnah.”
(al-ʿIzz ibn ʿAbd al-Salām, Qawāʿid al-Aḥkām, 1/86)
Artinya, kemasan maslahat tidak dapat menghalalkan kezaliman struktural. Maslahat yang menindas rakyat dan lingkungan adalah tipu daya moral, dan itu harus dilawan, setidaknya dengan suara moral para ulama.
4. Maslahat untuk Siapa?
Jika “maslahat” hanya dinikmati segelintir elite politik, pejabat, dan pemilik saham, sementara rakyat kehilangan air bersih, tanah warisan, dan udara sehat—itu bukan maslahat, tapi penjajahan domestik. Dalam maqāṣid, maslahat harus berkelanjutan, adil, dan mencakup seluruh lapisan masyarakat.
Kesimpulan:
Pernyataan “tambang itu baik asal bukan bad mining” bisa menjadi justifikasi moral yang berbahaya jika tidak disertai evaluasi kritis terhadap praktik & dampaknya. Kemaslahatan bukan cuma soal manfaat finansial, melainkan harus diuji melalui prinsip keadilan, keberlanjutan, dan kemanusiaan.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Wah, si Yandri ternyata nggak cuma Menteri, tapi juga 'pahlawan' politik buat keluarganya. Sekarang Pilkada Serang harus diulang gara-gara dia... Coba deh pikir, ini negara atau cuma arena dinasti keluarga dia? 🤦♂️
#AdiliYandriSusanto
YandriBeraksi NegaraMerugi
Ahhh... ikut lega rasanya 💞
Semangat selalu para Pendidik Bangsa.
Harapan kami masih ada untuk bisa didengar.
Hormat @Kemdikbud_RI 🫡
Terimakasih Pak @nadiemmakarim
Terlepas dari mbak Kiky kemarin pilpres ngapain.
Ini memang problem.
1) Para CPNS dosen di Kemendikbud di tahun 2023 (ada 8000-an orang), SK-nya belum keluar sampai detik ini.
2) Yang konyol: banyak dari mereka yang sudah disuruh resign dari tempat kerjanya yang lama oleh kampus masing-masing.
3) Bahkan ada yang sudah diminta bekerja, tanpa kejelasan maupun kompensasi yang layak.
4) Jadi salah semua di sini:
a) Kemendikbud gak segera mengeluarkan SK, kalaupun ditunda, belum ada kejelasan ditunda sampai kapan.
b) Kampus butuh tenaga, tapi gak kunjung ada kejelasan maupun penjelasan dari Kemendikbud, dan bisa-bisanya nyuruh orang kerja tanpa SK.
Selamat pagi 🎉
Lapor Pak! @nadiemmakarim beserta jajaran di @Kemdikbud_RI @Itjen_Kemdikbud @BKNgoid
Hak SK CPNS Dosen 2023 sampai saat ini belum dikeluarkan, bahkan tidak ada kejelasan jika memang ada penundaan.
Mereka masih menunggu, sebab mereka butuh pekerjaan dan keluarganya butuh makan.
Two poignant images re: Aaron Bushnell
🔹Vigil for him (in US) with names of 20,000 Palestinian children & women slaughtered by Israel in Gaza
🔹Image circulating in China depicting Bushnell as an angel
Let’s hope that his sacrifice is a catalyst in stopping the genocide.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Semoga Allah memberkahi Jum'at kita dan menyehatkan lahir-batin kita.
⚘️
JUM'AT CALL: Allah menuruti --baik-buruk-- sangka hambaNya. Maka kita perlu berbaik-sangka kepadaNya.
LAUT TIDAK MAU MENERIMA SAMPAH KITA !!!
Pagi ini saya mau ajak cucu main paddle di laut .. Ya Allah ampuni hamba-Mu, sampah hasil perbuatan manusia yang tidak peduli dgn lingkungannya berserakan .. Bekas gelas dan botol air mineral, makanan sachet, cups, sedotan, mie instant, dan segala macam sampah plastik lainnya jutaan pieces terkumpul & terdampar semua di Pantai Pangandaran yang indah dan cantik ini .. Badai kemarin sore membawa lautan sampah kembali ke daratan ..
Bisakah kita semua sebagai manusia, makhluk ciptaan Tuhan yang katanya tertinggi IQ & peradabannya, menghentikan kejahatan kita pada lingkungan ?!!!
STOP buang sampah sembarangan, kurangi pemakaian plastik sekali pakai dlm kehidupan kita sehari-hari .. setiap lihat sampah: ambil, kumpulkan, kelola !! Atau kita akan TENGGELAM dalam lautan sampah kita sendiri 😡😡😡
#FatwaAhad: Bukan hanya aku yang mempunyai hak memilih atas pertimbanganku sendiri, kau dan dia pun mempunyai hak memilih atas pertimbangan masing-masing sendiri. Dan kita tetap bersaudara. 😊
Di antara semua kepahitan kisah mahasiswa UNY yang saya kenal, mungkin ini cerita yg paling getir. Cerita ini tentang seorang perempuan kecil. Sayang ia tak bisa mengisahkan kepada pembaca secara langsung, karna tepat 9 Maret 2022 ia telah meninggal dunia.
[A Thread & Kenangan]