@daaiimee “Rooftop bar jam segini biasanya dipilih orang yang ingin ditemani… atau justru ingin menghindari percakapan.”
Sudut bibirnya terangkat tipis.
“Yang mana dirimu malam ini, Nona?”
"Permisi Nona, apakah kursi di sebelahmu kosong?" Tanya pria dalam balutan demi formal nan gelap, nyaris serupa dengan pekatnya 𝗺𝗮𝗹𝗮𝗺 membentang di atas rooftop bar, dengan lantunan musik jazz yang mengisi udara dingin menembus busana.
@daaiimee Ravus duduk, mantel gelapnya terseret pelan. Ia tidak langsung bicara, membiarkan jazz menyelesaikan satu frasa lebih dulu.
“Terima kasih.”
Pandangan matanya beralih ke gelas di depannya, lalu kembali pada wanita asing di sebelahnya.
+
@skylistc Diusapkan ke bagian noda cukup luas. Jauh lebih membaik, meski beberapa variasi bundaran bercak samar terlihat jelas. Deham ringan dilaku dengan saputanganmu masih di genggamannya.
"Rasanya sangat tidak sopan bila kukembalikan sekarang. Kalau besok di jam dan tempat yang sama?"
Ponsel menempel di telinganya, ia melangkah keluar toko tanpa menoleh dan tabrakan itu tak terelakkan.
𝗠𝗮𝗸𝗮𝗻𝗮𝗻 yang semula berada di tanganmu terlepas, berserak di dasar hingga membuat di sekitar turut terkesiap.
“Maaf—”
Andaikan satu kata cukup untuk memutar waktu.
@skylistc Diberi reaksi begitu, pihak sini kian merasa bersalah dan canggung hingga tengkuk diusap dengan dagu setengah diturunkan. Atensinya teralih ke noda putih melekat dan meresap dengan kaos gelap yang dikenakan.
"Terimakasih," gumamnya cepat seraya meraih saputangan milikmu dan
+
@veeyrs Kotak kue sedari tadi dijinjing ringan di tangan kini dipindahkan ke atas meja kasir di antara mereka berdua. "Pertama, namaku Ravus dan bukan Ojisan," Lalu kotak kue dibuka, nampak kue berbentuk bundar bertema Natal.
"Ini. Tidak ada namaku tertulis disini."
"Tidak, jangan 𝗺𝗶𝗻𝘂𝗺 yang itu," lalu menyodorkan gelas berisi cairan hitam pekat nan kental dengan aroma khas yang biasa digunakan sebagai pelumas komponen mesin kendaraan. "Ini saja, untukmu."
Jangan salah paham, ia sungguh berniat tulus padamu.
@higanimigo "Seekor arwah penjaga tanpa tubuh?" Nyaris tertawa dikondisikan menjadi dehaman. Namun, candaan macam apa ini?
Tak ingin debat secara eksplisit, sebelah bahumu ditepuk ringan. "Hidupmu masih panjang, jangan terlalu dibawa ke pikiran.. Tidak baik untuk kesehatan mentalmu."
"Jikalau kau bisa memilih," Jeda untuk koreksi. "Atau semesta mengijinkanmu untuk memilih, 𝗸𝗲𝗵𝗶𝗱𝘂𝗽𝗮𝗻 seperti apa yang kau inginkan?"
"Jangan berikan jawaban klasik padaku."
@millicentbleu Pandang diedar menyusuri barisan toko-toko yang menjual ragam keperluan dan kuliner, disertai orang-orang berlalu lalang. Ravus setengah mendongak dan mendapati hiasan lampu kerlap kerlip mewarnai pekatnya malam, dengan musik latar mengalun bertema Natal.
"Kau suka Natal, ya?"
Menggosok dagunya pelan, tampak berpikir; bingung lalu menoleh padamu. "Berikan saran padaku, Kira-kira 𝗵𝗮𝗱𝗶𝗮𝗵 apa yang disukai wanita berusia 65 tahun ke atas..?"
Jeda sejenak. "Yang suaminya baru saja meninggal dan anak semata wayangnya sedang berada diluar negeri."
@millicentbleu "Libur sampai akhir bulan Januari? Itu berarti aku bebas menganggumu sampai sebulan kemudian?" Lalu terkekeh sambil menyesuaikan langkahmu dan belum sempat direspon oleh pihak sana, ia menambahkan. "Bercanda, kau pasti kelelahan dan butuh banyak istirahat."
+
!2DFess Not a 𝙝𝙚𝙧𝙤. Just a lone DSO agent heading out to see someone other than Leon, Sherry or Hunnigan. If you wish to interact with him, leave a keyword and closeness proximity down below. See you soon.
Fr: RE/Biohazard OC - ddd:ne.
@wargabiskuat "Geser?" Kedua alis bertaut, semakin lama bersamamu - semakin heran dibuatnya. Pria bertubuh jangkung itu sungguhan menggeser diri satu langkah ke kanan; masih terjebak dalam antrean panjang.
"Apa kau bercanda? Kau tahu, semakin berumur seseorang, semakin tipis kesabarannya."
Hela napas dilaku dengan kedua bahu menggantung kian rendah. "Bukankah sudah kubilang untuk mencari tempat makan lain?"
Pandang sembarang dilempar usai melihat barisan antrean memanjang. "Kau memang kepala 𝗯𝗮𝘁𝘂," mendengus lagi.
"Maaf," Komentar singkat apabila tindakannya tadi nampak ganjil. Ravus kembali menyerahkan payung tersebut padamu. "Aku ambil ini saja, @sudramerta.. Sesuai rekomendasimu."
Meskipun datang dengan terusan formal, namun ini adalah bagian dari pekerjaan dan bukan status finansial.
Tangan terulur, meraih benda yang semula di tanganmu dan dikatupkan kanopi abu yang kini digenggamnya, sedikit dilambungkan naik turun, seolah ia tengah menimbang-nimbang.
Ujung lancipnya bahkan dengan sengaja diadukan pada satu telapak tangan, hanya ia yang tahu untuk apa.
+
@skylistc Menatapmu, dengan ekspresi canggung dan.. Rasa bersalah? Bagaimana bisa seceroboh tadi? "Maafkan aku, Nona," melirik bawah pada makananmu yang tak lagi layak untuk dikonsumsi.
"Apa kau keberatan kalau aku menggantikannya untukmu sekarang?" Senyum canggung diulas pada paras.
@skylistc "Seharusnya aku yang bilang demikian," Selanya cepat, mengindahkan sekitar kala mereka kini menjadi pusat perhatian beberapa pasang mata, termasuk kaos gelapnya yang terkena cipratan es milikmu, membentuk motif kontras.
Ponselnya segera dimatikan lalu disimpan ke saku.
+