Namun bukan saatnya aku mempermasalahkan itu. Suara teriakan di dalam kamar itu terdengar sangat serius. Tak lama kunci kamar itu dibuka dan salah satu dari mahasiswi itu berlari keluar dengan wajah ketakutan. Di dalam, teman satu kamarnya sedang bersimpuh di lantai sambil menggoyang goyangkan kepalanya ke kanan dan kiri seperti lenggak lenggok seorang sinden.
“PAK RONI TOLONG PAK!” pinta wanita yang tadi keluar dan membukakan pintu, sambil bersembunyi dibalik punggung Pak Roni.
Pak Roni lalu masuk dan mulai membacakan ayat ayat Quran sambil mengusap kepala wanita itu.
“Aman! Disini aman! Keluar! Keluar!” ucap Pak Roni saat itu pada wanita kesurupan tadi.
Beruntung, tak lama wanita itu sadar dengan kondisi tubuh lemah dan panas. Ia segera diberikan minum dan diminta untuk beristirahat. Sementara aku, keinginanku untuk kembali ke kamar dan tidur sudah lenyap. Aku memilih kembali ke pos satpam dan berbincang lagi dengan Pak Roni sambil menunggu adzan shubuh berkumandang.
“Yang masuk tadi, kayaknya punya dia sendiri” ucap Pak Roni sambil menyulut api ke ujung rokok di bibirnya.
“maksudnya pak?” tanyaku.
“Selama saya jaga di sini, ga ada yang bentukannya sinden kayak tadi. Itu dia sendiri yang bawa, dia juga yang kerasukan..” ucap Pak Roni.
“Loh gimana?”
“Biasanya ada orang orang yang dikasih turunan jin gitu Kang Des. Nah kalau dia ngerasa inangnya terancam. Entah ada jin lain yang bahaya, atau semacam itu, si jin turunan ini bakal ambil alih badan inangnya biar yang dari luar gabisa masuk..” jelas Pak Roni yang terdengar sudah sangat berpengalaman.
“Berarti tadi ada yang ngancem dia sampai sampai si sinden ambil alih?” tanyaku.
“Ya.. dan bisa jadi yang ngikut sama Kang Des pas di jendela tadi” ucap Pak Roni tiba tiba.
Aku tersentak.
“Pak Roni liat??” tanyaku gugup.
“Tadi pas Kang Des kedua kali ke jendela, itu saya udah ngusir ngusir dari bawah dan suruh kang Des keluar. Tapi kayaknya akang ga denger” ujar Pak Roni.
Pabrik Kopi
Cerita ini berawal saat aku bekerja di pabrik kopi milik pak Karyanto. Sejak hari pertama aku langsung merasakan ada sesuatu yang aneh dengan pabrik itu. Suasanya terlalu sunyi untuk tempat yang seharusnya ramai orang. @bacahorror
“Cih!” Sadar jin yang merasuki Hendra adalah tipe yang tidak bersikap baik, Pak Danu memperlakukannya berbeda.
“Kurang ajar! Keluar sana! Atau saya paksa kamu keluar! Kami tidak punya urusan dengan jin liar seperti kamu!” bentak Pak Danu.
“Hihi...Hahahaha” Hendra tergelak. Matanya melotot seperti orang depresi.
“Menantang?... Kalian kira kalian bisa lari?...” tantang Hendra.
Pak Danu tidak mau ambil banyak cara. Baginya, memasukkan jin yang hanya meledek dan mecemoohnya hanya buang buang waktu. Dengan satu tepukan di punuk Hendra, sosok itu keluar dari tubuhnya.
Hendra terengah, lebih parah dari sebelumnya. Ia bahkan langsung berbaring untuk mengumpulkan tenaganya. Demi menghindari kejadian serupa, Pak Danu terus mengusap punggung Hendra agar tidak ada jin lain yang memanfaatkan kondisi temanku itu saat sedang “terbuka” akibat jadi wadah mediasi.
“Bermalam disini barang satu malam. Kalian sedang diawasi, dan mereka ingin masuk ke dalam tubuh kalian. Sepertinya obrolan kita malam ini dan proses mediasi menarik mereka semua..” ujar Pak Danu sambil sesekali melirik ke arah jendela.
Sadar kondisi sudah cukup malam, ditambah lagi kami harus berjalan kaki melewati jalan setapak itu lagi untuk kembali ke mobil dan warung Pak Sugeng, akhirnya kami menuruti saran Pak Danu.
Di area rumah Pak Danu ini terdapat sebuah bangunan yang biasa ditempati oleh tamu tamu Pak Danu. Bentukannya seperti gubuk dari luar, dan di dalamnya hanya ada satu kamar dengan tikar alas tidur. Bangunan ini terpisah dari rumah utama Pak Danu dan tidak memiliki kamar mandi. Untuk buang air, kami harus berjalan sekitar lima belas meter menuju bangunan wc dengan sumur di sampingnya dan pohon rimbun yang kutebak adalah pohon mangga.
“Kalau dipikir pikir.. Ranca Upas yang area terbuka gitu aja penunggunya bisa seserem itu, apalagi gunung ini ya?” ucap Sunanto.
“Ya lebih kuat lagi. Mau ngobrol? Nanti aku masukin ke kalian yang mau” tawar Hendra. Sama seperti dulu, celetukan anehnya masih belum berubah dan mengejutkanku.
“Ayo!” Doni mengajukan diri tanpa ragu. Karena kami sudah dewasa saat itu, kami rasa kami bisa menangani ini dengan lebih baik.
Proses mediasi dilakukan di dalam kemah agar tidak menarik perhatian pengunjung lain dan jaga jaga kalau Doni bertindak diluar kontrol. Setelah beberapa saat, Doni yang duduk bersila tiba tiba mengangguk pelan.
“Don?..” tanya Hendra.
Doni menggeleng sambil mendengus.
“Terus siapa?” sambung Hendra.
Doni menunjuk alas tenda itu, seolah menjelaskan bahwa ia berasal “dari sini”. Setelahnya, Hendra berkomunikasi dengan Doni yang sudah dirasuki makhluk itu dan melemparinya dengan bermacam macam pertanyaan.
Singkatnya, makhluk itu menyebut bahwa di gunung ini juga ada penghuninya dari bangsa jin yang tidak segan menegur manusia manusia yang berbuat kerusakan atau hal tak pantas di tanah mereka.
Dirasa tidak begitu menarik dan rasa penasaran kami sudah terjawab, sosok itu kemudian Hendra keluarkan. Namun tiba tiba pintu tenda yang kami tutup dipukul pukul dari luar oleh seseorang.
Kami segera membuka resleting tenda itu dan mendapati Komar berdiri dengan wajah marah di samping api unggun kami.
“Kalian tuh mau gejago ke sini?” tanyanya tiba tiba. Wajah ramah Komar tadi sudah berubah total.
“Eh, maksudnya apa ya kang?..” tanya Asep yang duduk paling dekat dengan pintu tenda.
“Ya kalian semua ini! Kalian sok ngejago! Udah saya bilang jangan macam macam! Liat aja bakal ada yang lawan kalian! Liat aja! Hahaha...” bentak Komar sambil menunjuk nunjuk kami lalu pergi begitu saja sambil tertawa ke arah sisi gelap yang tidak kena cahaya api unggun.
Kami tertegun dengan sikap aneh Komar barusan. “Dia kenapa? Kesurupan juga apa?” tanya Dozer keheranan.
Aku menggeleng dan segera beralih ke Hendra. Namun aku mendapati wajah Hendra nampak berbeda.
“Sialan... aku sama sekali ga sadar dari tadi..” lirih Hendra sambil memandang keluar tenda.
“Sadar apa?” tanya Sunanto.
“Kalian juga belum sadar? Kayaknya.. Komar yang tadi itu bukan manusia. Harusnya aku sadar gerak gerik anehnya, dia juga muncul dan pergi dari arah hutan, bukan area kemah” ucap Hendra.
“Saya pernah bawa penumpang yang lebih bau dari ini. Dan mereka tidak bisa lagi minta maaf” jelas Opi yang sedikit mengundang senyum Labai karena tau apa maksudnya.
Setelah mandi dan mengganti pakaiannya, Labai diantarkan kembali ke kantor Mursid saat hari sudah hampir sore.
Bagaimanapun, Hidayat melihat jauh lebih banyak dari apa yang Fattah lihat dari dalam mess.
Sesekali Hidayat meminta waktu untuk meneguk air di meja sambil mengusap peluh yang sudah menggenang di dagunya, begitupun dengan Fattah.
“Ini risiko pekerjaan di lapangan yang ada di luar kendali kami. Tidak ada yang mau proyek ini terhambat, dan kami mengirim kalian ke sana memang untuk bekerja, bukan untuk dib_nuh!” potong Mursid, seolah peduli.
Namun, sebelum melihat dan bertemu dengan satupun orang di dalam, aliran darah yang mengalir keluar dari celah di bawah pintu kamar Wawan sudah cukup membuat mereka terhenyak. Jantung keduanya berdebar tak karuan, semua pikiran buruk menyergap akal mereka dan membunuh harapan yg-