Bayar tiket harganya sama. Capek kerja seharian juga sama.
Tapi kenapa kalau laki-laki duduk di kursi reguler sering dianggap nggak punya hati?
Baru banget gw pulang kerja naik kereta jakarta-bogor terus ada Laki-laki duduk tenang, di depannya ada perempuan berdiri.
Terus si mbaknya pasang muka sinis, atau sengaja mepet-mepet biar si cowok merasa bersalah. Padahal itu bukan kursi prioritas.
Di satu sisi, ada stigma "Laki-laki harus ngalah".
Di sisi lain, laki-laki juga manusia yang bisa capek kerja 8-10 jam. Kalau dia ngalah, dia makin tumbang. Kalau nggak ngalah, dianggap nggak punya etika.
Akhirnya, banyak yang milih pura-pura merem atau main HP padahal hatinya nggak tenang.
cc:threads
Gue nggak ngebenerin HTS atau FWB.
Dua-duanya punya risiko masing-masing.
Tapi kalau harus milih, gue lebih condong ke FWB.
Bukan karena itu lebih “baik”, tapi karena at least jelas dari awal.
Lo tau batasannya, lo tau ini cuma sebatas apa, dan nggak ada ilusi yang dibangun pelan-pelan.
Kalau HTS justru sebaliknya.
Keliatannya ringan—chat tiap hari, perhatian, jalan bareng—kayak hubungan, tapi tanpa status.
Dan di situ masalahnya.
Manusia gampang kebentuk dari kebiasaan.
Dari yang awalnya biasa aja, jadi nyaman.
Dari nyaman, jadi keterikatan.
Dari keterikatan, muncul harapan.
Sementara dari awal, nggak pernah ada kejelasan buat naruh harapan itu.
FWB memang lebih “dingin”.
Nggak ada daily habit yang dibangun, nggak ada emotional dependency yang dipelihara.
Tapi justru karena itu, semua orang tau posisinya.
Tetap berisiko? Jelas.
FWB bisa jadi baper.
HTS bisa jadi luka yang lebih dalam.
Jadi ini bukan soal mana yang benar.
Tapi kalau ngomongin damage control, gue pribadi lebih pilih sesuatu yang jelas dari awal, daripada yang terasa seperti hubungan… tapi ternyata bukan apa-apa.
@RiefleNut78 Matius 7:2 (TB) Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu
@RiefleNut78 2 Korintus 13:5 (TB) Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji.