Londo Ireng
Dulu digunakan untuk menyebut pribumi yang mendukung penjajah. Mereka memusuhi rakyat yang ingin merdeka.
Kini pleciden menggunakannya untuk menstigma para jurnalis dan pengamat yang mencintai negara dan membela rakyat lewat cara mengkritik. Ada-ada saja.
Hi guys apa ada info loker sejabodetabek asal deket sama stasiun KRL? atau ga info freelance yang tanpa dipungut biaya? Thanks :)
#zonauang (maaf pinjem hastagnya)
Reminder to:
• Gibran menyuap mahasiswa UBK 300 juta
• Korupsi emas jampidsus 74KG
• Kasus keracunan mbg
• Korupsi 10M Kebun Binatang Surabaya
• Korupsi pengadaan kipas angin Kopdes 1,8 Triliun
• pemotongan anggaran perpusnas 377 M
• Dana belanja pendidikan Indonesia terendah, hanya 1,3%
• BBM Pertalite Mulai langka
Saking gaada berita baik di negara ini🥲🥲
Orasinya keren bgt, merinding 🔥, sedih ngeliat negara yg selalu kita banggakan di urus oleh manusia tidak berempati hanya memikirkan perut dan golongannya sendiri 🥀
gini ya moslem, gua jelasin dikit, semoga paham😊
perempuan dan LGBT itu sama sama kelompok yang selama ini sering mengalami diskriminasi, kekerasan, dan pembatasan hak. makanya banyak organisasi perempuan juga ikut bersuara soal isu LGBT. bukan karena "agendanya sama", tapi karena perjuangannya memang sering beririsan
patriarki dan norma gender yang kaku netepin gimana seseorang "seharusnya" hidup: perempuan harus feminin, laki laki harus maskulin, dan semua orang dianggap harus heteroseksual. ketika ada orang yang dianggap menyimpang dari norma itu, baik perempuan yang menolak peran tradisional, laki laki gay, lesbian, maupun trans, mereka sering menjadi sasaran diskriminasi dan kekerasan. karena itu, misogini, seksisme, homofobia, dan transphobia sering kali saling berkaitan dan berakar pada cara pandang yang sama tentang gender
makanya perjuangan organisasi perempuan dan komunitas LGBT sering berjalan beriringan. banyak isu yang mereka perjuangkan juga sama: hak untuk hidup aman, bebas dari kekerasan berbasis gender, bebas dari diskriminasi, dan memperoleh perlindungan hukum yang setara. kalau prinsipnya adalah "setiap orang berhak hidup tanpa kekerasan dan perlakuan yang tidak adil" ya wajar kalau solidaritasnya juga meluas ke kelompok lain yang mengalami hal serupa
dan semoga gaada yg bawa argumen "nanti perempuan harus berbagi toilet sama trans" ya, karena lucu aja banyak orang yang tiba tiba mengatasnamakan hak perempuan ketika membahas isu trans, tapi jarang kelihatan bersuara soal persoalan yang selama ini benar-benar dihadapi perempuan. femisida, KDRT, pelecehan seksual, perkawinan anak, sampai perlindungan korban kekerasan seksual sering kali jauh lebih sepi perhatian, jadi kesannya perempuan baru diingat ketika bisa dijadikan tameng buat nyerang kelompok minoritas lain, setelah itu, isu isu perempuan yang sebenarnya ya ditinggal lagi🙂↔️
jadi kalau Aliansi Perempuan Indonesia ikut menyuarakan isu LGBT, itu bukan sesuatu yang aneh ya moslem. banyak organisasi perempuan melihat bahwa sistem yang membatasi dan mengontrol perempuan sering kali juga merugikan kelompok LGBT, mereka melawan sistem dan struktur diskriminasi yang sama
semoga sekarang kamu paham ya, moslem. kalau masih ga paham juga, capedeh😊
"Hidup Perempuan! Hidup Buruh! Hidup LGBT!"
Begitulah suara tuntutan yang digemakan dalam aksi Aliansi Perempuan Indonesia (API) hari ini.
Aksi berpusat di depan Gedung Kementerian Hak Asasi Manusia (Kemenham), Jakarta Selatan, sebagai bentuk peringatan sekaligus seruan untuk menghentikan segala bentuk kekerasan dan diskriminasi terhadap kelompok ragam gender dan seksualitas.
Aksi berlangsung pada pukul 13.00 hingga 16.30 WIB dengan mengusung tuntutan "Hentikan Kekerasan Terhadap Ragam Gender dan Seksualitas."
Kegiatan ini diikuti oleh berbagai elemen organisasi yang tergabung dalam Aliansi Perempuan Indonesia—menyatakan solidaritas terhadap perjuangan HAM tanpa diskriminasi.
Peserta aksi menyuarakan penolakan terhadap segala bentuk kekerasan, ujaran kebencian, dan tindakan persekusi yang masih dialami kelompok ragam gender dan seksualitas. Mereka juga menolak berbagai kebijakan yang dinilai diskriminatif serta mendesak negara untuk menjamin perlindungan hak asasi manusia bagi setiap warga negara tanpa membedakan identitas gender maupun seksualitas.
📸Elvina Manuella Simanjuntak/Konde.co.