@koralthing Gramed emang udah sering pajang buku nyeleneh. Keknya terakhir kali aku ke Gramed juga ada buku Flat Earth yang, lucunya, dipajang bareng sama buku geografi umum.
i prefer the "leave gays alone to do what they want privately" position
but if you force me to choose between "public degeneracy" and "exterminate the gays", i choose public degeneracy because fuck you.
Sebenarnya free speech itu sepenting apa sih? Penting karena apa? Oh penting agar seandainya kita kesakitan kita bisa bersuara "gue sakit, tolong hentikan". Agar kalau kita kepanasan bisa bilang "panas!". Agar saat kedinginan kita bisa bilang "dingin!". Tapi terus? Bukankah percuma kita teriak sakit saat dipukuli tapi yang mendengarkan tidak peduli terutama pelakunya itu sendiri? Bukankah artinya yang sebenarnya terpenting dari free speech itu ya harapan efisiensi dalam menyelesaikan masalah (well silahkan didebat).
Kalau begitu, seandainya by data, mengurangi free speech punya probabilitas besar secara struktural untuk dapat lebih lancar dalam mengurangi/mengantisipasi rootcause/asal mula orang dari penderitaan seperti kesakitan, kelaparan, kedinginan, kepanasan, dan sebagainya. Apakah opsi free speech tetap akan ada harganya? Sebenarnya lebih menderita lapar atau tidak didengar? Lebih menderita tidak punya tempat tinggal yang layak atau tidak bisa bersuara?
"False dichotomy"
Well.. bisa jadi false dichotomy, tapi apakah selalu pasti dichotomy? Perlu data kan? Tapi bagaimana jika tidak? Bagaimana kalau semua ini terkait dengan realita zero sum dalam banyak hal di society kita? Soal realita bahwa banyak hal itu finite sedangkan permintaan akan banyak hal yang dependen ke hal-hal finite itu terus menerus ada? Soal realita bahwa society kita itu terdiri dari banyak otak yang bisa punya prioritas berbeda-beda dengan kemampuan memahami material yang berbeda-beda pula?
"Gue maunya tetap setidaknya bisa bersuara, untuk jaga-jaga, tidak satu otak doang"
Oke fair, takut itu wajar, terutama karena masa depan itu tidak pasti, apalagi bagi yang generasi sebelumnya menyampaikan pengalaman buruk ke mereka akan pengkhianatan kepercayaan dari "perwakilan rakyat". Tapi apakah harus free speech absolut? Apakah harus via demokrasi dalam bentuk demokrasi liberal? Kenapa tidak misal pelajari demokrasi yang Iran punya?
Terlalu agamis? Ya sudah, kenapa tidak
whole-process people's democracy seperti yang China punya, yang lebih sekuler? Toh tetap bisa ada musyawarah, tetap bisa ada keadilan sosial, tetap bisa persatuan Indonesia, ya kan?
Oh ini salah? Ya simple, bantah saja. Setidaknya ada diskusi. Setidaknya ada upaya musyawarah mencari opsi terbaik. Atau mau stay pada status quo tidak jelas ini selamatnya. Kek misal.. mahasiswa demonstrasi pakai narasi demokrasi liberal, bagaimana kalau rootcause dari semua ini justru karena demokrasi liberal itu sendiri? Kan circular jadinya, ga solutif.
Konservatif: LGBT harus hilang
Also Konservatif:
=> Melakukan hal yang tidak manusiawi, tidak mengurangi LGBT, tidak membantu memahami rootcause-solusi
=> Marah karena LGBT terus menerus ada
=> Lanjut menyiksa dan stay pada metode yang tidak ilmiah dan solutif
=> Marah karena LGBT terus menerus ada
=> Lanjut menyiksa dan stay pada metode yang tidak ilmiah dan solutif
=> Marah karena LGBT terus menerus ada
=> Lanjut menyiksa dan stay pada metode yang tidak ilmiah dan solutif
=> Marah karena LGBT terus menerus ada
=> Lanjut menyiksa dan stay pada metode yang tidak ilmiah dan solutif
Jadi setara dengan orang yang suka menyiksa dan bisa setara dengan orang yang suka membunuh.
I don't care if every Palestinian on the planet has a blood lust hate for me specifically. I still don't think they should be genocided or kept in apartheid conditions and Israel still has to go immediately.
@slaluserak Oh itu aku kurang tahu dari perspektif muslimnya, tapi ada mantan temanku bilang kalau Istri Lot dicocoklogikan sebagai ally LGBT karena dia ngelihat ke belakang.
Kek ngeliat ke belakang tuh disamain orang yang ikutan ngedukung juga...
@slaluserak Jujur aja, ahli Kekristenan juga berpendapat dalam Alkitba juga disebutkan dosa sodom itu "hawa nafu" yang mengimplikasikan homoseksual (2 Pet 2 : 6 -7), meski ada juga yang berpendapat kalau dosanya lebih karena tidak ada belas kasihan (Yeh 16 : 49 - 50)
@slaluserak Kalau setahuku, kisah Lot dalam agama Islam secara eksplisit menyebut kalau kejahatan Sodom itu ya homoseksual (antara laki-laki dan laki-laki)
exactly, makanya harusnya dibilangnya bukan "jangan LGBT" tapi "jangan seks bebas, gunakan pengaman dan hindari terlalu sering gonta-ganti pasangan"
jadi kesalahannya bukan di identitas LGBT nya kan?
Emang semua agama.
Islam melarang. Udah dikisahkan pada cerita nabi luth. Bahkan allah sudah menyiapkan ayat kalo ayat yg kita sampaikan hanyalah dongeng.
Kristen Protestan melarang Melanggar ketetapan penciptaan dan moral
Katolik melarang. Ttp membedakan orientasi dan tindakan