Tambah 1 akun medsos baru lagi, kali ini di Substack. :) Akan dipakai rutin utk taruh pemikiran dlm format tulisan panjang.
Unggahan perdana: versi utuh tulisan ttg potret Indonesia dalam film The Odyssey. Bagi yg punya Substack jg, yuk saling terhubung.
https://t.co/WeAFeqwq27
GUBERNUR MANA YANG PUNYA VISI MENCERDASKAN RAKYAT SAMPAI PENDIDIKAN TINGGI?
KDM VS ANWAR HAFID
APBD JABAR: Rp 30,49 TRILIUN
APBD SULTENG: Rp 4,93 TRILIUN
BERAPA YANG MEREKA ANGGARAKAN UNTUK BEASISWA PENDIDIKAN?
⏳️KDM: RP 30 MILIAR
Modelnya: kemitraan kampus
Skema alokasi kampus khusus: Rp30 Miliar dialokasikan khusus untuk kemitraan bersama IPB University hingga jenjang S3.
• Anggaran operasional program D3 (500 kuota) dan Beasiswa Industri (1.000 kuota).
• Pendanaan penuh (full scholarship) untuk 10 lulusan terbaik ke luar negeri.
⏳️ANWAR HAFID: RP 264 MILIAR
Modelnya: fokus beasiswa masif
Skema alokasinya: Anggaran dinaikkan signifikan menjadi Rp264 Miliar untuk perluasan program.
• Sebelumnya telah terealisasi bertahap dari Rp48 Miliar hingga Rp84 Miliar.
• Dana ini mencakup pembayaran UKT mahasiswa S1, serta perluasan ke jenjang S2, S3, dan Dokter Spesialis.
Bayangkan dengan APBD sebesar 30,49 TRILIUN KDM hanya mengeluarkan RP 30 miliar saja
Kasihan rakyat JABAR 💔
Jadi bisa di simpulkan sendiri mana pemimpin yang berniat mencerdaskan rakyatnya mana pemimpin yang berniat memelihara kebodohan rakyatnya.
Sekarang saatnya membagi pengalaman penerjemah yang sangat bagus menurut saya.
Beberapa yang saya suka:
1. Mas Ronny dengan terjemahan bahasa Latinnya. Contoh buku: Rumah Arwah - Isabel Allende
2. Rio Johan terjemahan bahasa Prancis. Contoh buku: Althusser Pembunuh
3. Tiya Hapitiawati terjemahan Jerman. Contoh buku: Kalut - Stefan Zweig
4. Astrid W terjemahan bahasa Latin/Argentina. Contoh buku: Elena Tahu - Claudia Piñeiro
Dan masih banyak lagi.
Di sidang MK, 30 Juni 2026, dosen Cenuk minta perlindungan:
"Kami mempertaruhkan pekerjaan kami."
Ketua MK Suhartoyo peringatkan langsung:
"Kampus tidak boleh ada dampak negatif ke saksi."
Setelah sidang: penugasan akademik dicabut.
Riset bareng BRIN & MA tidak diakui.
Konferensi internasional harus bayar sendiri.
Doktorat Australia.
Publikasi Scopus.
Reviewer beasiswa internasional.
Kampus tidak intervensi, katanya.
𝗕𝗿𝗲𝗱𝗲𝗹. 𝗦𝗶𝘁𝗮. 𝗣𝗲𝗻𝗷𝗮𝗿𝗮𝗸𝗮𝗻. 𝗕𝘂𝗮𝗻𝗴.
Sejarah Indonesia penuh dengan cara negara mematikan penerbitan. Tapi setiap kali satu pintu ditutup paksa, selalu ada yang menerbitkan dari celah — lebih kecil & lebih cair.
Zen RS dalam pidatonya di Bandung Zinefest 2026 menelusuri tradisi panjang itu. Dan menjelaskan kenapa ia relevan kembali hari ini.
𝗦𝗘𝗕𝗨𝗔𝗛 𝗨𝗧𝗔𝗦.
Sampul buku ini menguras emosi sy. Rudolf bercerita, ini foto saat Amir sdh ditangkap, ia duduk di gerbong kereta menuju st yogyakarta. Tak lama kemudian ia akan diarak dan diekskusi mati.
Saya ga tau, detik2 menjelang kematiannya, perasaan apa yg berkecamuk di pikiran dan hati Amir? Ia masih membaca buku, seolah bagaimana ia akan mati tak jd soal bwt dia.
Celaka betul Indonesia, celaka betul orng2 sepenting secerdas Amir diekskusi mati oleh tangan bangsanya sendiri.
Sy sering membayangkan jika orng2 penting seperti Amir hidup lebih panjang, Indonesia pasti akan mengalami perubahan besar.
Tiap sy ambil buku ini untuk dibaca, sy selalu meraba sampulnya, ada embos kasar di foto Amir. Seakan tangan sy ingin memegang Amir.
Terima kasih untuk Rudolf Mrazek menghadirkan sosok Amir dalam cara pandang yg baru. Dan desain sampul yg sangat menyentuh.
😭😭
Saat masih kuliah di UGM, saya mendengar kabar seorang diplomat muda Indonesia di London berani tampil di BBC World Debate, berhadapan dgn diplomat senior Ramos Horta, di saat atmosfer internasional sedang menyudutkan Indonesia. Diplomat muda Indonesia itu tampil gemilang menjaga nama Indonesia tegak berwibawa. Di situlah pertama kali saya mendengar namanya: @dinopattidjalal.
Beberapa tahun kemudian, saat sedang menempuh progam PhD di Illinois, kami berjumpa langsung. Dino datang ke Chicago menjelaskan keadaan mahasiswa dan diaspora Indonesia pasca-9/11. Yg kami temui adalah diplomat muda yg cerdas, artikulatif, dan mampu menangani persoalan rumit dgn ketenangan diplomatik yg sulit ditiru.
Tahun 2012, sebagai Dubes di AS, Dino menggagas Kongres Diaspora Indonesia pertama di Los Angeles, mempertemukan diaspora dari seluruh dunia. Saya termasuk yg ia undang. Ia lalu mendirikan FPCI, komunitas kebijakan luar negeri terbesar dan berpengaruh, yg ikut melahirkan generasi diplomat baru, ujung tombak kita di panggung global.
Menguasai substansi, rekam jejaknya teruji, dan pengalaman memimpinnya luas. Itulah Dino. Karier diplomatiknya panjang dan ajeg, kecintaannya pada politik luar negeri Indonesia begitu dalam. Dino Patti Djalal, bukan karbitan jadi diplomat, bukan pula karbitan jadi pejabat.
Seorang ahli saraf ngabisin waktu 20 tahun buat ngebuktiin kalau nulis pakai tangan ternyata bisa ngubah cara kerja otak dengan cara yang nggak bakal bisa ditiru sama ngetik.
Tapi lucunya, hampir nggak ada yang pernah baca hasil penelitiannya.
Ini yang dia temuin:
Sedih ga ketika lu kerja di perusahaan luar, dimana kerjaannya lu sendiri yg nemu, ga pake bantuan pemerintah, eh pas gajian mereka ambil sebanyak ini setiap bulan