Beda bgt dgn tentara babi 🐽 israhell @IDF, klo tentara Iran mau kirim rudal & drone kasih peringatan dulu ke warga sipil & minimal tentara babi bs siap2 pake pampers.
Inilah difinisi perang pake hukum perang internasional, kalo tentara babi kan membabi buta, sadis & biadab.
Isu murahan berisi fitnah disampaikan orang sinting, yang bahkan mengurus dirinya sendiri saja tidak mampu, kok ditanggapi.
Buang-buang waktu.
Di depan mata banyak sekali persoalan besar yang sudah dan bakal terjadi: Perang Dunia III dengan segala dampak yang harus segera dicarikan solusinya bagi rakyat, karena bakal ada kelangkaan BBM, bencana kelaparan, pandemi yang sudah disiapkan, bencana kelaparan, banyak sekali yang membutuhkan pemikiran dan tindakan konkrit.
Guys Feri Amsari baru saja bilang sesuatu yang perlu lebih banyak orang Indonesia dengar soal Board of Peace.
Dan ini bukan soal perasaan pro Palestina atau pro Amerika.
Ini soal hukum yang sangat konkret.
Indonesia join Board of Peace tanpa persetujuan DPR.
Pasal 11 Undang-Undang Dasar sudah sangat jelas. Presiden mau buat perjanjian soal perang, perdamaian, atau perjanjian internasional apapun harus minta persetujuan DPR dulu sebelum pergi.
Dan setelah pulang — harus diratifikasi DPR dalam bentuk undang-undang.
Dua-duanya tidak dilakukan.
DPR mengaku masih reses.
Sementara Presiden sudah tanda tangan.
Sudah komitmen kirim 8.000 prajurit TNI ke Gaza. Dan belum ada penjelasan yang jelas soal apa manfaatnya bagi Indonesia.
Feri bilang ini bukan pertama kali.
Hari pertama kabinet dilantik saja Seskab Teddy dilantik tanpa berhenti dari TNI aktif.
Padahal undang-undang TNI tidak mencantumkan sekretaris kabinet sebagai jabatan sipil yang boleh diisi TNI aktif.
Hari pertama sudah langgar undang-undang.
Jadi ini bukan anomali.
Ini pola.
Dan soal 8.000 prajurit yang mau dikirim ini yang paling gw catat dari Feri.
Palestina sendiri sudah bilang jangan kirim pasukan. Tapi Indonesia tetap jalan. Untuk apa? Feri khawatir prajurit kita dijadikan pasukan darat tameng kepentingan Amerika dan Israel sementara perangnya sendiri sudah pakai drone dan teknologi. Yang kena duluan justru manusia di lapangan.
Dan biayanya pakai uang siapa? Nyawanya milik siapa?
Soal argumen ekonomi yang sering dipakai untuk membela keputusan join BOP bahwa kita bisa dapat tarif 0 persen dari Amerika Feri kasih konteks yang menarik.
Mahkamah Agung Amerika sendiri sudah putuskan bahwa Trump tidak boleh tentukan tarif dagang tanpa persetujuan Senat. Artinya tarif yang dijanjikan itu fondasinya sudah digugurkan pengadilan tertinggi Amerika. Dan Trump tetap jalan seenaknya.
Jadi kita berikan konstitusi kita untuk perjanjian dengan orang yang pengadilannya sendiri bilang dia tidak berwenang buat perjanjian itu.
Feri simpulkan dengan satu kalimat yang gw rasa paling jujur.
Ini adalah hari yang gelap untuk konstitusi bangsa ini.
Bukan karena Indonesia tidak boleh punya kepentingan ekonomi. Bukan karena bergaul dengan Amerika itu salah. Tapi karena ketika Presiden sendiri tidak patuh pada konstitusinya dan tidak ada yang bisa mengawasi karena DPR koalisinya satu suara yang hilang bukan cuma prosedur.
Yang hilang adalah jaminan bahwa keputusan sebesar ini yang menyangkut nyawa prajurit dan posisi Indonesia di dunia diambil dengan akuntabilitas yang seharusnya.
Pernyataan dr Tifa
Bismillahirrahmanirrahiim.
Beberapa hari ini saya memilih menarik diri sejenak dari berbagai urusan.
Memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, saya ingin memusatkan diri pada ibadah: sholat, tadarus, membaca kitab-kitab hikmah, dan lebih banyak berdiam di rumah.
Dalam keheningan itu, saya tetap mengikuti perkembangan yang terjadi di luar. Termasuk kabar tentang Rismon Hasiholan Sianipar yang mengajukan Restorative Justice kepada Jokowi di Solo. Saya mencermatinya sesekali, dari jarak yang tenang.
Terus terang, saya menyesalkan langkah tersebut.
Saya tidak berada pada posisi yang sama dengannya. Dan InsyaAllah, atas izin Allah serta dukungan yang terus mengalir dari banyak pihak, saya tidak akan pernah memilih jalan rendah seperti yang dipilih Rismon.
Laa hawla wa laa quwwata illa billah.
Tetapi hidup sering menempatkan manusia pada tekanan yang tidak terlihat oleh orang lain. Tekanan itu bisa berupa ancaman yang kasar, tetapi sering kali justru lebih kuat dalam bentuk yang jauh lebih halus: bujukan, iming-iming, kompromi, yang menimbulkan ketakutan yang perlahan menggerogoti keberanian dan akal sehat.
Berbagai isu yang beredar tentang dirinya, mulai dari soal ijazah S2 dan S3 dari Jepang hingga kabar mengenai surat keterangan kematian yang konon dibuat oleh istrinya, tentu bukan perkara ringan bagi siapa pun.
Saya memahami bahwa tidak semua orang mampu memikul beban semacam itu sendirian.
Karena saya sendiri sedang menghadapi persoalan dengan orang yang sama, mantan Presiden Jokowi, saya cukup mengenal karakter Rismon. Selama ini saya mengenalnya sebagai sosok yang berani, blak-blakan, dan bernyali, serta cermat dalam analisis.
Dalam banyak kesempatan, saya melihat ia memang memiliki kepakaran yang nyata di bidangnya. Soal tidak punya ijazah itu perkara lain. Karena kepakaran seseorang tidak melulu diukur dari ijazah. (Di sini sebagai mantan kawan saya berbisik: "Why, Mon, kenapa kau musti palsuin ijazah, sih?")
Langkah yang Rismon ambil saat ini, setidaknya dalam penilaian saya, terasa asing. Tidak mencerminkan kemandirian sikap yang biasanya kita tunjukkan.
Saking liar dan mandirinya, kadang saya dan mas Roy suka kewalahan dan geleng-geleng kepala melihat segala manuvernya sambil berkata: " Piye to adikmu kuwi?*
"Lha embuh!* Jawab saya.
Setahun ini kami bertiga memang sudah seperti saudara dekat. Seia sekata dan senasib sepenanggungan.
Hanya kami sedih karena kepada kami pun dia tidak terbuka. Padahal dalam ilmu yang dia tekuni, dia betul-betul hebat.
Namun kekecewaan terbesar saya justru bukan kepada Rismon.
Kekecewaan terbesar saya tertuju kepada mantan Presiden Jokowi dan lingkar kekuasaannya.
Demi menepis tuduhan tentang ijazah yang dipersoalkan publik, cara-cara yang digunakan sungguh kejam, keji, dan sangat menyakitkan: menghancurkan reputasi orang, menekan hingga kehilangan ruang bernapas.
Hal yang sama pernah menimpa Bambang Tri. Juga Gus Nur.
Dan kini sejarah itu seperti berulang.
Pada Rismon, dibuat hancur harga diri melata begitu rendah tak berdaya.
Kekuasaan seharusnya melindungi rakyat. Bukan alat untuk membungkam mereka yang bersuara.
Tetapi sejarah selalu mengajarkan satu hal: kekuasaan yang digunakan untuk membungkam kebenaran pada akhirnya justru memperbesar gema kebenaran itu sendiri.
Namun saya tidak ingin larut dalam kemarahan.
Ramadhan mengajarkan kita untuk menahan diri, menjaga hati tetap jernih, dan menyerahkan segala sesuatu kepada Yang Maha Mengetahui.
Saya memilih jalan yang berbeda.
Dengan dukungan banyak orang, dan dengan sepenuhnya berserah kepada Allah, saya akan tetap melanjutkan perjuangan ini.
Perjuangan untuk kebenaran memang sering kali sunyi.
Kadang juga menyakitkan.
Tetapi kebenaran memiliki sifat yang tidak dimiliki oleh kekuasaan:
ia tidak pernah benar-benar bisa dimatikan.
Selama masih ada satu orang saja yang berani berdiri, kebenaran akan tetap hidup.
Dan saya memilih untuk tetap berdiri.
Salam,
Tifa
Momen Haru
Seorang Ibu Peluk Buah Hatinya
Dari Balik Jeruji.
.
Ibu Ini Bernama Tina Rambe
Ditahan Sejak 20 Mei 2024
Dan Hingga Kini Belum Dibebaskan.
Karena
Menolak Pengoperasian
Pabrik Kelapa Sawit PT PPSP Pulo,
Kab. Labuhanbatu.
Prop. Sumut
.
https://t.co/F7kqUFEuc1
..
JEJAK DIGITAL
Setelah Ridwan Kamil menjadi target netizen di platform X, kini giliran Anies Baswedan yang menjadi sorotan.
Netizen mulai mengulik rekam jejak digital mantan Gubernur DKI Jakarta ini dengan cara mencari dan mengupas cuitan-cuitan lamanya.
@MardaniAliSera Perjalanan indah & cerita indah itu akhirnya menjadi sia2. Iming2 godaan kekuasaan menghancurkan segala cerita indah itu. PKS telah kehilangan pegangan etis, kehilangan pegangan moralnya…
Pria Gaza ini duduk santai di samping puing-puing tokonya, berkata, "Kami akan bangun lagi, lebih bagus, kami tidak akan meninggalkam Gaza."
Palestina takkan bisa ditundukkan Zionis🇵🇸✊️
Kita bukan lagi manusia dgn nalar dan akal budi...jika tak peduli akan genosida terang²an oleh Israel thdp warga Palestina...
Sungguh ini diluar batas kemanusian ,kebiadaban yg didukung oleh AS n sekutunya..
Apakah salah rakyat Palestina,shg mrk diperlakukan bgini? 😭😭💔🇵🇸