Udah pada liat kasus di Final Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI 2026 ini belum?
Intinya ada peserta yang udah menjawab pertanyaan dengan benar, namun oleh juri dianggap salah. Pertanyaan kemudian dilempar ke tim lain. Tim lain jawab dengan jawaban yang sama dan dianggap benar.
Peserta yang sebelumnya menjawab protes (dengan cara yang cukup elegan) tapi tidak digubris oleh Juri. Bahkan malah disalahkan oldh juri lain.
Gimana menurut kalian?
Proses evakuasi korban kecelakaan kereta di Bekasi Timur masih berlangsung.
Petugas gabungan dari PT KAI dan aparat terus berupaya mengevakuasi penumpang yang terjebak di dalam gerbong yang mengalami kerusakan parah.
Sejumlah korban dilaporkan mengalami luka, sementara proses penyelamatan sempat terkendala karena kondisi rangkaian kereta yang ringsek akibat benturan.
Evakuasi dilakukan secara bertahap dengan prioritas pada penumpang yang terjebak. Insiden ini melibatkan kereta jarak jauh dan KRL Commuter Line yang bertabrakan di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam.
Ya Allah mana ini senin terus banyak penumpang capek dari pulang kerja🥲
source cnnindonesia
Suasana di Stasiun Bekasi Timur mendadak mencekam setelah satu rangkaian Kereta Rel Listrik (KRL) dilaporkan mengalami gangguan teknis berupa mati listrik total secara tiba-tiba.
#krl#bekasitimur
POV kejadian dari penumpang dalam KA Argo Bromo Anggrek saat menabrak KRL CL di Stasiun Bekasi Timur. Saus: https://t.co/LK9NK7mNo5
@krlmania@InfoKRL@KAI121
@KAI121 Min, saya ingin melakukan pembatalan keberangkatan tapi tidak bisa karena ada keterangan "tidak ada satu pun nama penumpang atas pemilik user." Mohon dibantu, min.
Jadi begini warga yang Budiman dan budiwati menurut data BMKG ( bar mangan kudu guyon )
Tak jelaskan sedikit kenapa petani lebih memilih membuang hasil panen nya daripada memberikan ke orang lain yang kalian anggap lebih bermanfaat ,karena ini efeknya jangka panjang ,jadi jangan hakimi petani yang melakukan hal tersebut
Saya kasih tahu sebab dan alasannya
Saat panen melimpah, pasokan banjir tapi permintaan tidak ikut naik , harga bisa jatuh sangat rendah,saya kasih contoh ,misalnya harga Rp5.000–Rp15.000 per keranjang besar, sementara biaya keranjang + tali saja sudah Rp9.000–Rp11.000,
Membuang lebih murah daripada memanen, mengangkut, dan menjual karena
Biaya panen tenaga kerja+ transportasi ke pasar sering lebih besar daripada uang yang diterima.alias petani tambah merugi
Memberikan Gratis Justru Bisa Merusak Harga Lebih Parah (Efek Pasar Jangka Panjang)
Kalau petani bagi-bagi gratis dalam jumlah besar, masyarakat atau pedagang akan mengharapkan harga murah/gratis di masa depan.
Ini membuat harga di pasar sulit naik kembali, bahkan saat pasokan normal. Petani rugi berkepanjangan karena pasar "terbiasa" dapat barang murah.
Membuang sebagian hasil bisa mengurangi pasokan di pasar membantu harga stabil atau naik sedikit di kemudian hari,meski ini bukan solusi ideal.
Biaya Logistik dan Penanganan yang Tinggi untuk Donasi
Hasil tani seperti sayur dan buah sangat mudah busuk ,umur simpan pendek, butuh pendingin
Memberikan gratis memerlukan akan biaya lagi
Panen manual (biaya tenaga kerja).
Pengemasan yang layak.
Transportasi ke tempat distribusi (masjid, panti asuhan, atau kota).
Petani kecil biasanya tidak punya infrastruktur itu. Kalau dipaksakan, biayanya bisa lebih besar daripada nilai barangnya.
Di daerah terpencil, akses pasar saja sudah susah, apalagi distribusi donasi.
Tidak Ada Pembeli Tetap atau Infrastruktur Penyimpanan
Banyak petani bergantung pada tengkulak atau pasar lokal. Saat harga anjlok, tengkulak pun enggan beli.
Tidak ada gudang pendingin skala kecil yang murah , barang cepat rusak kalau ditahan.
Memberi gratis dalam volume besar juga tidak realistis karena orang yang mengambil biasanya terbatas, sementara hasil panen bisa puluhan ton.
Petani Harus Tetap Hidup dan Bayar Hutang
Petani punya biaya tetap pupuk, bibit, sewa lahan, hutang ke tengkulak/bank, kebutuhan keluarga.
Kalau terus rugi karena bagi gratis, mereka tidak bisa tanam musim berikutnya bisa bangkrut total.
Membuang adalah cara "mengurangi kerugian lebih besar" agar bisa bertahan untuk musim depan. Dalam case ini contoh timun itu dibuang disungai ituungkin hanya sebagian saja ,karena mereka juga harus berpacu dengan waktu untuk pengolahan lahan untuk ditanami kembali dan mengurangi kerugian dari mengeluarkan biaya transportasi
Petani bukan mau membuang hasil kerja kerasnya. Mereka terpaksa karena ekonomi yang keras,biaya > pendapatan, plus risiko merusak pasar jangka panjang kalau dibagikan gratis secara masif. Ini masalah struktural pertanian Indonesia , fluktuasi harga, ketergantungan tengkulak, infrastruktur lemah, dan rantai pasok yang tidak fleksibel.
Solusi jangka panjang hilirisasi (olahan makanan), koperasi petani yang kuat, gudang penyimpanan, kontrak langsung dengan buyer besar, atau program pemerintah yang serap surplus saat panen raya. Tanpa itu, fenomena ini akan terus berulang setiap musim panen melimpah.
Paham ya sampai disini ,atau ada tambahan lagi ?
Ancaman Pilkada Tak Langsung
Ancaman instabilitas muncul jika kepala daerah dipilih dan bertanggung jawab kepada DPRD. Hal tersebut berkaca pada era demokrasi parlementer dan MPR di masa demokrasi yang menjatuhkan Gus Dur.
MPR-isme hanya berhasil di masa rejim otoriter Soeharto. Karena ditopang kekerasan militer.
Kolom Prof @saiful_mujani di Kompas awal tahun 2025.
Dadi wong Indonesia secara nature ancen kudu misuh, ra iso ora, soale nek kabeh masalah dipendem dhewe, suwe-suwe pedot. 🤣
Dadi kentir tapi ketulung ora keliling karo isih gelem klamben wae. 🤣
Dari segala banyak opini yang berseliweran, kita sering lupa satu hal penting:
Laras adalah warga biasa seperti kita, yang marah ketika melihat polisi MEMBUNUH Affan.
Maka mendukung Laras adalah sikap keberpihakan yang penting bahwa negara GAK BOLEH BUNUH warga serampangan.
MBG tidak akan pernah libur.
Anak sekolah boleh libur.
Boleh puasa bulan Ramadan.
Tapi MBG harus tetap jalan.
karena memang tujuan utamanya sejak awal bukan untuk kasih makan anak sekolahan,
tapi pemilik dapur🤣