"When ya" bukan sekedar kata spontan yang keluar begitu saja, itu adalah bentuk kecil dari keinginan. sebuah cara lembut untuk mengekspresikan bahwa aku juga ingin, bahwa di dalam diriku ada keinginan yang sama. tapi di baliknya, tersembunyi perasaan yang lebih dalam.
"When ya" adalah tanya lirih pada diri sendiri, kapan giliran ondah untuk merasakannya? kapan ondah bisa begitu juga? Lalu setelahnya, aku diam. aku belajar menerima bahwa tidak semua keinginan harus dimiliki, tidak semua perasaan harus diwujudkan. aku menatap dari jauh, menghirup kenyataan, dan perlahan melangkah pergi.
i remember how i get very close with toya sampai sekarang itu cuman dengan sesimpel
“kamu suka exo? biasnya siapa?”
and this friendship jalan sampai sekarang and hopefully selamanya :’) 🤍