remember, this is just dunya. whatever we do in a day, just to wait for the call to prayer, 5 times a day. don't forget about hereafter because this world is mortal and temporary ✨
tau silent burnout gak si?
jadi, silent burnout itu dimana keadaan emosi dan mental kita lagi cape cape nya, but you just stay quiet about it dan kita gak pernah yang kayak ngeluh badan sakit karena capek atau mungkin jadi emosi meluap tapi orang yang ngalamin itu kehidupannya tetep berjalan normal tapi hati nya lagi hancur secara perlahan. i think that’s dangerous if we can’t control our emotions.
akibatnya kita jadi lebih gampang nangis karena banyak emosi yang belum di luapin.
@LelySafitri8@insidefolkative gak membelaa, tp kalau di baca dari story nya dia, dia udah berusaha ikhlasin. dia tremor karena tau siapa yg maling barang2nya
kenapa rezeki dia lancar? karena dalam setiap doanya selalu menbaca:
“Ya Allah, Ya Rahman Ya Rahim, jadikanlah setiap langkahku adalah ibadah. Setiap usahaku adalah rezeki.”
Setiap ujianku adalah sebagai penghapus dosa. Karuniakanlah kepadaku rezeki yang berlimpah ruah seperti air zamzam yang senantiasa mengalir. Aamiin
Suka banget sama doa ini:
"Ya Allah, jika rezekiku masih tertahan, maka lancarkanlah. Jika masih tersembunyi, tampakkanlah. Jika masih jauh, dekatkanlah. Jika sedikit, berkahilah. Dan jika bukan yang terbaik untukku, gantilah dengan rezeki yang lebih baik menurut-Mu."
Benar kata Dokter Gia, anxiety sering muncul karena terlalu memikirkan masa depan, sedangkan depresi sering berkaitan dengan terlalu terfokus pada masa lalu.
Wedding dream kamu apa?
“Nikah untuk tidak bercerai, nikah untuk tidak dianggap beban, nikah untuk tidak main kasar, tidak ada issue curang, dunia akhirat dicari bersama, jadi tempat dan perlindungan terbaik bersama hingga akhir hayat” 🥹🥹
semoga jodohmu nanti adalah orang yang seru diajak bertukar cerita, mau diajak kemana aja, suka bercanda tapi tetap serius dalam beragama dan bertanggung jawab.
gaada yg namanya lebay perihal kesedihan, setiap kesedihan itu nyata, sekalipun menurut kamu itu suatu kesedihan yg levelnya biasa aja, yaudah diem, gak perlu segala menunjukkan respon "yaelah gitu doang". jangan menjadi manusia nyebelin dengan ngebecandain kesedihan orang lain.
Cowok pernah ngga sih mikir gini:
“Ini perempuan tulus banget, ngerti semua kondisi aku, selalu ada kalau aku butuh, ngga pernah minta apa pun dari aku selain waktu, masa iya aku mau ngecewain dia mulu?”
ini basic manner, tapi orang suka lupa.
kalau ada yang lagi curhat atau cerita, jangan malah cerita tentang diri sendiri dan ganti fokus percakapannya ke diri sendiri. don't make everything about u.
gue mau cerita tentang temen gue.
sebut aja dia R.
dulu gajinya 7 juta.
dan tiap kali kami ngobrol, dia selalu bilang satu kalimat yang sama:
"Val, nanti kalau gaji gw udah 15 juta, baru deh gw bisa nabung. Baru deh hidup gw beres."
gue dengerin. gue angguk-angguk. gue percaya.
tiga tahun kemudian, gajinya beneran naik.
bukan 15 juta.
17 juta.
gue seneng banget waktu dia kabar. gue pikir sekarang hidupnya udah oke. udah bisa nabung. udah beres kayak yang dia bilang dulu.
sampai kemarin dia chat gue.
"Val, lo bisa pinjemin 500 ribu nggak? Buat nutup tagihan."
gue bengong lama di depan layar HP gue.
kita ketemuan.
gue tanya pelan: "lah kok bisa?"
dia diem sebentar.
terus jawab satu kalimat yang sampai sekarang masih muter di kepala gue:
"Gaji gw naik. Tapi gaya hidup gw naik lebih kenceng."
gue kira dia bercanda.
dia buka notes HP-nya dan nunjukkin ke gue.
gaji: 17 juta.
pengeluaran:
kos: 4 juta. makan dan kopi: 3,2 juta. cicilan HP: 1,1 juta. paylater: 2,4 juta. transport: 1,8 juta. langganan aplikasi: 600 ribu. jajan random: 2 juta. transfer keluarga: 1,5 juta.
sisa?
kadang nol.
kadang minus.
gue tanya: "paylater 2,4 juta itu buat apa aja?"
dia diem bentar.
"ya... barang kecil-kecil doang."
kaos 89 ribu. sepatu diskon. skincare. makan promo. top up game. barang lucu dari live shopping. checkout karena takut stok habis.
satu-satu kelihatannya kecil.
tapi pas digabung, jadi satu monster yang nagih tiap bulan.
yang bikin gue serem bukan belanjanya.
tapi kalimat pembenarnya.
"lagi diskon."
"mumpung murah."
"cuma 30 ribu."
"gratis ongkir."
"bulan depan juga ketutup."
dan dia bilang satu hal yang nusuk banget:
"gw bahkan udah nggak bisa bedain lagi. Gw lagi hemat, atau lagi nyari alasan buat keluar duit."
terus dia ngomong sesuatu yang bikin gue diam lama banget:
"Gw nggak miskin karena nggak punya uang. Gw miskin karena uang gw udah punya tujuan sebelum masuk rekening."
tanggal 25 gajian.
tanggal 26 autodebet.
tanggal 27 bayar cicilan.
tanggal 28 bayar paylater.
tanggal 29 baru sadar:
yang kerja sebulan dia. yang menikmati duluan tagihan.
gue tanya: "jadi yang paling bikin nyesel apa?"
dia jawab:
"Gw pikir gw beli barang. Ternyata gw beli kewajiban."
HP baru = cicilan 12 bulan. barang diskon = tagihan bulan depan. makan enak tiap hari = saldo bocor pelan-pelan. kopi harian = lebih dari sejuta sebulan. paylater = gaji masa depan yang udah dipakai hari ini.
"Gw kerja buat bayar keputusan gw yang kemarin."
coba hitung kasar.
kopi 35 ribu x 22 hari kerja = 770 ribu. delivery food dengan selisih ongkir dan markup 25 ribu x 20 kali = 500 ribu. checkout random 75 ribu x 10 kali = 750 ribu. langganan aplikasi yang jarang dibuka = 300 ribu.
total: 2,3 juta.
itu bukan pengeluaran besar. itu bocor kecil yang pura-pura nggak kelihatan.
sekarang temen gue lagi coba bikin aturan sendiri.
kalau barangnya diskon tapi nggak ada di rencana, berarti tetap mahal. kalau beli karena capek, tunggu besok. kalau checkout cuma karena takut kehabisan, tutup aplikasi 10 menit dulu. kalau cicilan bikin gaji bulan depan terasa sempit, jangan ambil.
dan satu pertanyaan yang dia tempel di layar HP-nya sekarang sebelum checkout apapun:
"Gw butuh ini, atau gw cuma pengin ngerasa hidup gw naik kelas?"
dari cerita dia, gue jadi mikir.
mungkin masalah banyak orang bukan nggak bisa cari uang.
tapi nggak pernah diajarin cara mempertahankan uang.
dari kecil kita diajarin: belajar biar kerja, kerja biar punya uang, punya uang biar bisa beli ini itu.
tapi jarang diajarin: kalau uang udah masuk, jangan langsung dikasih jalan keluar semua.
ini bukan soal hidup pelit.
beli kopi boleh. checkout promo boleh. reward diri boleh.
tapi jangan sampai tiap reward kecil numpuk jadi hukuman besar di akhir bulan.
coba jujur ke diri sendiri:
pengeluaran kecil apa yang paling sering bikin saldo lo bocor?
kopi? makan online? paylater? top up? checkout live?
atau "cuma 50 ribu" yang kejadian 20 kali?