supaya beritanya ga ketutup kenalin ini adalah keluarga alm. bapak Sumarna, satpam yang gugur saat menjalankan tugasnya di waduk jatiluhur.
mereka juga layak mendapatkan perhatian yang lebih. semoga artis dan influencer juga membantu dan melirik kasus ini.
- Anak ini kehilangan bapaknya yg SEDANG BEKERJA BUKAN yg sedang maling ayam
- Anak ini tidak teriak2 “Bapak.. Bapak..” pada saat pemakaman karena TIDAK ADA KAMERA yg merekam
- Anak ini menangis mengeluarkan air mata pada saat dikunjungi BUKAN senyum2 ke kamera
- Anak ini baru mendapatkan 1 kali bantuan, TIDAK MENDAPATKAN BANTUAN yg katanya dapat donasi 1/2M, Ayam 100 Kg, sepatu baru, baju baru, IPAD Baru, HP baru, Baju Baru, Makanan 1 Dus & Se-Truck, biaya sekolah dari SD hingga selesai Sarjana
Stop bayar Google One.
Gue gue pernah panik gara2 Google Drive gue penuh dan ga bisa terima email. Hampir aja gue subscribe bayar Google One buat upgrade kapasitas drive.
Ternyata gak perlu.
15GB gue yang "penuh"? 11GB-nya sampah yang Google sembunyiin.
Gue bersihin dalam 20 menit. Gratis. Tanpa hapus file penting.
Gini caranya:
Mafia Lelang KPR
Oleh ET Hadi Saputra 04-09-2025
Saya mendapat cerita dari seorang kolega pengacara. Bukan kasus biasa, katanya. Ini kasus perlawanan orang kecil melawan sebuah sindikat yang rapi. Saya menyebutnya "mafia lelang".
Dulu, ada sepasang suami istri pekerja, sebut saja Pak Budi dan Bu Siti. Mereka punya rumah di Jakarta Timur, dengan cicilan KPR di sebuah bank plat merah, sebut saja Bank BRI. Rumah itu adalah surga mereka. Nilai pasar wajarnya di kisaran Rp 2 miliar. Beli dengan uang muka Rp 211 juta, sisanya KPR Rp 1,2 miliar.
Semua berjalan baik sampai badai pandemi datang. Bisnis Pak Budi kolaps. Penghasilan terpangkas. Cicilan pun tersendat.
Saat itulah, naluri Pak Budi menyuruhnya untuk berjuang. Ia tahu ada aturan dari OJK yang memberi kelonggaran restrukturisasi. Berkali-kali ia mendatangi Bank Merah. Memohon, meminta keringanan, dan menunjukkan itikad baiknya.
Namun, bank itu seolah sudah punya rencana lain. Semua pintu negosiasi ditutup rapat. Janji ketemu diundur undur sampai melewati tenggat. Pimpinan cabangnya, selalu sibuk. Permohonan ketemu Pak Budi diabaikan, semua dicuekin termasuk surat yang berulang kali dikirim.
Tepat saat Pak Budi dan Bu Siti terpojok, skenario itu dimulai.
Lelang pun diadakan. Harga limitnya bukan Rp 1,4 miliar, bukan Rp 1,2 miliar, tapi hanya Rp 690 juta. Jauh sekali di bawah nilai pasar.
Siapa yang diuntungkan dari harga semurah itu?
Seorang pembeli, yang saya sebut Tuan B. Ia memenangkan lelang dengan harga Rp 725,5 juta. Sebuah "hadiah" yang sangat manis.
Prosesnya sangat cepat. Sertifikat rumah langsung dibalik nama. Tuan B, tanpa basa-basi, langsung mengajukan permohonan pengosongan rumah.
Tentu saja Pak Budi dan Bu Siti tak tinggal diam. Mereka menggandeng pengacara yang punya nyali, sebut saja Pengacara P. dan timnya.
Mereka melihat semua kejanggalan itu bukan kebetulan. Ini adalah rangkaian peristiwa yang terstruktur, yang tujuannya hanya satu: merampas aset dengan cara yang "legal".
Di pengadilan, mereka melawan. Mereka menyebutnya perlawanan terhadap eksekusi lelang.
Mereka mengungkap bagaimana Bank BRI sengaja menciptakan wanprestasi. Bagaimana nilai limit lelang dimanipulasi agar harganya murah. Bagaimana risalah lelang itu punya dua versi tanggal yang berbeda.
Lalu, siapa Tuan B? "Pembeli yang beritikad baik pasti akan datang melihat rumahnya dulu. Tapi Tuan B tidak. Dia hanya tahu di atas kertas, lalu terburu-buru mengosongkan."
Mereka juga menyeret dua lembaga pemerintah: Kantor Lelang dan Kantor Pertanahan. Kedua lembaga ini, dalam pembelaannya, mengatakan bahwa mereka hanya menjalankan prosedur. Hanya mengurus dokumen.
"Bagaimana mungkin sebuah lembaga bisa menjalankan prosedur yang cacat? Bagaimana mungkin sebuah risalah lelang yang isinya tidak konsisten bisa dianggap sah?"
Kasus ini masih berjalan. Tapi, bagi saya, ini sudah membuktikan sesuatu. Bahwa "mafia lelang" itu nyata.
Mereka punya komplotan yang rapi. Bank yang menutup pintu, penilai yang membuat harga rendah, pembeli yang siap menampung, dan lembaga pemerintah yang memproses tanpa bertanya.
Semua orang dalam komplotan itu punya peran masing-masing. Mereka menunggu saat yang tepat untuk mencaplok aset-aset berharga.
Perjuangan Pak Budi dan Bu Siti adalah perjuangan kita semua. Perlawanan ini harus didukung, agar tidak ada lagi yang menjadi korban. Agar keadilan tidak lagi dilelang dengan harga yang terlalu murah.
Tips biar jadi karyawan overperform dan bisa cepet naik gaji:
1. Gak boleh sering minta maaf. Bikin keliatan lemah dan gak kompeten.
Minta maaf hanya dalam konteks personal.
Kesalahan dalam kerja itu biasa. Move on. Fokus sama solusi dan langkah berikutnya.
@03_12jpg @MiskinTV_ Dari kejadian Kanjuruhan ini kita punya kesempatan terbaik untuk mengubah kompetisi sepakbola negeri ini dan hubungan antar suporter. Tapi kita menuju kata gagal. Ironisnya sebagian berasal dari internal salah satu suporter itu sendiri.
Gubernur Pram ngga perlu merespon. Soalnya ngga esensi. Publik tau kok itu ngga mungkin.. 10 jutanya dikonversi ke layanan publik yg baik dan gratis untuk kalangan tertentu cukup.
Pak @aniesbaswedan. Terima kasih. Sy menangis membaca ini. Orang tua sy memiliki 6 anak. Bapak sy bkerja tak pasti. Tak bergaji. Sy msh ingat sy makan nasi dan garam saja ketika kecil. Tetangga sy blg bapak sy pasti mau bunuh diri.
@ZakkiAchmad16@SiaranBolaLive Ronaldo Nazario pra 1999 definisi dari pemain muda terbaik sampai dengan saat ini, lebih dari Messi, C. Ronaldo dan Yamine Lamal di usianya.
@gatras_id Alhamdulillah, semoga sukses akuisisi bus Patrick juga. Sering skip kalau ada bis ini, interior kurang nyaman (kursi tegak, aliran udara sumpek, eks MB warna hijau keluaran 2000an), tarif diatas rata2 (Sby-Pas atau Bangil - Probolinggo 25-30rb), dll.
Okay, gue udah abis baca 39 artikelnya. Ini pendapat gue atas framing CNN.
Nyaris semua pemberitaan demo #IndonesiaGelap di luar Jakarta framingnya negatif. Dan dari 39 artikel, CNN Indonesia belum merilis satupun yang fokus pada poin tuntutan dari juru bicara aksi atau massa.
Beberapa hari ini saya melihat beberapa provokasi suporter bertebaran di media maya, baik dari Malang, Jakarta, Bandung, Sleman, Surabaya, dll.
Sudahkah semua lupa dengan slogan "Tidak ada sepakbola yang seharga nyawa".
Ayas sama sekali tak akan membenarkan nawak2 melontarkan provokasi kepada sesama suporter sepakbola lain. Rivalitas klub lokal itu semu dan receh. Jangan ada darah menetes walau setitik dari korban tak berdosa yang tak ada sangkut pautnya dari buah tindakanmu sebelumnya.
Tragedi Kanjuruhan belum 1000hari. Tapi masih banyak yang belum mengambil pelajaran darinya. Rivalitas sesama suporter adalah semu, tak layak untuk dikobarkan.
Berikan keadilan. Adili pelakunya. Kompetisi sepakbola cukup sampai disini. Jangan ada lagi korban berikutnya.
Momen ricuh oknum suporter sempat mewarnai laga pekan ke-23 Liga 1 2024 antara Persija Jakarta versus Persib Bandung di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, Minggu (16/2/2025).
Dari pantauan https://t.co/phrmO0DBVp, ada beberapa titik di tribun terdapat keributan oknum suporter.