Masa depan sudah ada yang mengatur, kita memang hanya bisa mendesain rencana menuju kesana
Meskipun kadang di luar ekspetasi, semoga selalu ada hikmahnya
Semangat, aku
Pake BPJS di Puskesmas Jakarta bikin culture shock.
1. Pelayanan konsultasinya lebih bagus dan nyaman dari RS Swasta premium di Jakarta (pengalaman pribadi)
2. Gratis tis tis. Thanks to BPJS poros sosialisme Indonesia 🔥🔥🔥
3. Puskesmas rasa Rumah Sakit. 4 lantai dan punya banyak layanan.
4. Contrary to popular belief, ramah banget resepsionisnya? Egaliter juga ga pandang penampilan.
What the hell man. Layanan sebagus ini cuma ada di Jakarta. Bandung aja gak gini 😭😭😭
👨🏼⚕️ : Selamat sore pak, belum pernah kesini ya? Keluhannya apa?
🤖 : ini dok sudah di ct scan
👨🏼⚕️ : keluhan nya kenapa pak kok sampe di ct scan
🤖 : ini dok sudah ada hasilnya
👨🏼⚕️ : ini pak komputer sama keyboardnya isi aja sendiri semuanya. Tar kalau dah beres kabarin saya
Ada yang lagi rame:
DUGAAN Beberapa orang Indonesia melakukan pemalsuan riset terorganisir dan TERUNGKAP di Konferensi ilmiah di Denmark??
Masih menunggu kesimpulannya.
Karena ini berpotensi mencoreng nama baik ilmuwan Indonesia di mata internasional.
fyi ini mereka udah di confront langsung sama tim adikku yg lagi di copenhagen, udah di datengin langsung dan diomongin tapi diem aja dan gak bisa jawab apa-apa. selanjutnya dia bikin status di wa kalo dia dibully reasearcher senior dan bikin video gini di tikok 🥲
Tau ga uniknya kerja di instansi RS Halodek?
Ada 2 pasien datang bersamaan, 1 Ibu-ibu dengan abortus inkomplit dan perdarahan pervaginam aktif dan 1 lagi pasien KLL dengan crush injury di bagian kaki.
Kira-kira mana yang paling gawat dan harus ditangani duluan?
Ya, betul sekali…
Yang harus diutamakan untuk dilayani terlebih dahulu adalah, seorang perwira dengan meriang, batuk pilek dan nyeri tenggorokan sejak kemarin malam karena 1 jam lagi mau ada rapat 💪👍
Banyak hal yang bikin geleng2 kepala waktu audit medis dan jumpa langsung sama BPJS, karena saya berusaha untuk keep waras, jadi saya cuma bawa ketawa aja
Pasien tidak bisa dikoding pulmonary edema sebagai dx sekunder pada dx primer CHF, CKD, karena BPJS beranggapan udem pulmo..
Normalisasi Rumah Sakit kalo kekurangan tenaga kerja ya buka lowongan, jangan malah daftar jadi wahana internship.
Internship itu ya magang, kok jadi bertanggung jawab penuh kaya orang beneran kerja. Emang rumah sakit ngasih gaji?
Trus Kemenkes juga harus muhasabah diri, kejadian bukan yang pertama kok masih berulang trus.
Masalah sakit kok dibenturin sama masalah prolong, Sakit ya sakit kok mau dipaksain. Pembimbing tak ada otak.
Tutup itu wahana selamanya, audit semua wahana yg ada. Kalo dirasa ga pantes jadi wahana ya tutup aja.
Akal akalan bener.
Guys, ini beneran enggak sih?
gilaa banget kalo iya katanya....
Insentif dokter internship disebut cuma sekitar Rp3.166.200 per bulan, dan nominal itu katanya nyaris gak berubah dari bertahun-tahun lalu.
Padahal buat sampai di titik itu, mereka kuliah sekitar 6 tahun dengan perjuangan yang gak gampang. Ada yang full dibiayai orang tua, ada yang beasiswa, tapi semuanya tetap dibayar dengan waktu, tenaga, stres, darah, keringat, dan air mata.
Yang bikin makin disorot, nominal itu masih kepotong ini-itu. Ada yang cerita dipotong BPJS Ketenagakerjaan, biaya admin rekening Bank Negara Indonesia sekitar Rp17.500, bahkan ada yang bilang dibuatkan rekening bisnis dan kartu kredit. Belum lagi bayar BPJS kesehatan sendiri.
Banyak dokter bilang angka itu bahkan mirip dengan nominal 7–10 tahun lalu. Sementara biaya hidup naik terus, harga emas aja naik berkali-kali lipat.
Dan yang paling bikin sedih, ketika ada dokter muda yang gugur di tengah perjuangan, itu bukan cuma soal angka. Banyak yang melihat ini sebagai cerminan sistem yang masih perlu banyak dibenahi.
Satu dokter yang pergi bukan sekadar statistik, perjuangan panjang di belakangnya yang sering kali gak terlihat
cc: threads
HADUH! ANEH-ANEH AJA NIH!
Susu formula itu gak bisa asal kontra-kontra aja.
Ada indikasi di mana susu formula dibutuhkan loh, misalnya di kondisi ASI gak cukup atau berisiko berbahaya untuk bayi dan anak.
Izin gue jelaskan ya!
(Maaf sambil marah-marah, karena bisa berisiko untuk anak kalau pernyataan kontra sufor ini ditelan mentah-mentah!)
Jadi ada kondisi di mana penggunaan susu formula itu diindikasikan loh. Panduannya juga ada, salah satunya adalah "𝗔𝗰𝗰𝗲𝗽𝘁𝗮𝗯𝗹𝗲 𝗠𝗲𝗱𝗶𝗰𝗮𝗹 𝗥𝗲𝗮𝘀𝗼𝗻𝘀 𝗳𝗼𝗿 𝗨𝘀𝗲 𝗼𝗳 𝗕𝗿𝗲𝗮𝘀𝘁-𝗠𝗶𝗹𝗸 𝗦𝘂𝗯𝘀𝘁𝗶𝘁𝘂𝘁𝗲." Kondisi tersebut antara lain:
1. 𝗕𝗮𝘆𝗶 𝗯𝘂𝘁𝘂𝗵 𝘀𝘂𝘀𝘂 𝗳𝗼𝗿𝗺𝘂𝗹𝗮 𝗸𝗵𝘂𝘀𝘂𝘀 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗯𝗶𝘀𝗮 𝗱𝗶𝗴𝗮𝗻𝘁𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗔𝗦𝗜
- Galaktosemia klasik, di mana bayi butuh formula bebas galaktosa. Kalau dipaksakan diberikan ASI, maka bayi bisa mengalami berbagai kondisi meliputi gagal hati, kerusakan otak, bahkan kematian dalam hitungan hari, dengan angka kematian tinggi mencapai 75% tanpa terapi.
- Maple syrup urine disease, dimana bayi butuh formula bebas asam amino leusin, isoleusin, valin.
- Fenilketonuria (PKU), dimana bayi butuh formula bebas fenilalanin.
2. 𝗕𝗮𝘆𝗶 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝘂𝘁𝘂𝗵 𝗳𝗼𝗿𝗺𝘂𝗹𝗮 𝘀𝗲𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶 𝘀𝘂𝗽𝗹𝗲𝗺𝗲𝗻 𝗔𝗦𝗜
- Bayi berat badan lahir sangat rendah (BBLSR) (<1500 g) atau prematur <32 minggu.
- Bayi risiko hipoglikemia yang tidak respons ASI optimal
- Bayi dengan dehidrasi berat, hiperbilirubinemia berat, atau penurunan BB >8-10% yang tidak teratasi dengan ASI.
3. 𝗞𝗼𝗻𝗱𝗶𝘀𝗶 𝗶𝗯𝘂 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗵𝗮𝗿𝘂𝘀𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗮𝗻 𝘀𝘂𝘀𝘂 𝗳𝗼𝗿𝗺𝘂𝗹𝗮
-Ibu sakit berat, misalnya sepsis atau penyakit lain yang tidak memungkinkan menyusui)
-Ibu yang konsumsi obat atau dalam terapi tertentu (kemoterapi, radioaktif, psikotropika tertentu)
-Ibu HIV+ tanpa ARV pada konteks di mana formula AFASS (aman, feasible, affordable, sustainable, safe) — rekomendasi WHO
-Ibu HTLV-1/2 positif
INGAT! Ada perbedaan fundamental antara "mengutamakan ASI " dengan "menolak sufor pada bayi yang butuh secara indikasi medis".
Ibu yang milih ASI eksklusif itu hebat.
Ibu yang memilih sufor karena indikasi medis juga sama hebatnya.
Dua-duanya adalah ibu yang berjuang buat anaknya.
Yang gak hebat cuma satu yaitu orang yang menyebarkan framing tanpa bukti ilmiah terus bikin ibu-ibu lain merasa bersalah padahal anaknya memang butuh susu formula karena kondisi tertentu.