Ada kepergian yang tak meninggalkan luka pada tubuh, namun mampu mengubah seluruh cara seseorang memandang hidup.
Menariknya, manusia menyebutnya kehilangan, padahal yang sesungguhnya lenyap adalah bagian dari dirinya yang pernah ia titipkan kepada seseorang.
Kau pasti akan menemukan suatu perjalanan yang tak dapat kau lanjutkan. Ada langkah yang terpaksa berhenti di tengah jalan, ada perasaan yang tetap tinggal meski tujuan tak lagi dapat dicapai.
Kadang, dua hati dapat berjalan searah tanpa pernah sampai pada tempat yang sama.
Beban hidupmu akan terasa ringan bila kau berhenti menakar dirimu dengan mata orang lain.
Setidaknya, hiduplah untuk dirimu sendiri. Sebab penilaian dunia hanyalah rantai yang akan terus menjerat sampai kau memilih merobeknya.
Manusia tak dihancurkan oleh hidupnya, melainkan oleh dahaga yang tak pernah berhenti mereka namai harapan.
Semakin mereka mengejarnya, semakin haus mereka dibuat. Dan ironisnya, kehausan itu justru yang perlahan melahap mereka lebih kejam daripada penderitaan itu sendiri.
Hh.. Pelajaran yang menarik.
Tapi kau harus mengetahuinya, Quinella-hime. Kekuasaan sejati tak membutuhkan nama. Nama hanyalah rantai agar orang lain merasa mereka mengenalmu, padahal yang mereka kenal hanyalah topeng yang rapuh.
Aku tidak butuh dikenal, yang kubutuhkan hanyalah memastikan jejakku terukir dalam tubuh dan jiwa mereka, sesuatu yang tak bisa dilupakan bahkan setelah nama itu lenyap.
Nama hanyalah topeng yang manusia sematkan agar tak tenggelam dalam ketakutan.
Namun jika kau benar-benar ingin tahu, sebut aku Orochimaru.
Bagi sebagian itu hanyalah nama, bagi yang lain itu adalah akhir dari hidup mereka.
Sekarang giliranmu. Sebutkan siapa dirimu agar ketika aku mengukir jejakmu, aku tahu nama apa yang layak kuabadikan.
Ia menoleh sekilas ke arah Karin yang bersembunyi di balik tubuhnya.
“Tidak, dia hanya tertidur paksa. Tapi bila tak seorang pun menolongnya sampai besok, tubuhnya akan berhenti bernapas. Atau bahkan membusuk lebih cepat.”
Tanpa menunggu reaksi, ia melangkah masuk melewati gerbang Amegakure, seolah tubuh yang terkapar hanyalah debu di jalan.
“Di dunia seperti ini, kelemahan sekecil apa pun adalah undangan bagi kematian. Karena itu kita harus bergerak sebelum hal yang sama datang menghadang lagi, Karin.”
@medichopath
Penjara Otogakure berdiri seperti luka lama yang tak pernah ditutup
rapat.
Dingin. Sunyi. Penuh bisik-bisik dendam yang dibiarkan membusuk.
Lorongnya sempit dan panjang, dengan dinding batu lembab dan cahaya obor yang berkedip-kedip. Tempat ini tidak berubah sejak terakhir kali ia tinggalkan, dan tidak perlu berubah.
Orochimaru berjalan pelan, langkahnya nyaris tak bersuara. Kehadirannya seperti kabut tipis yang menyusup tanpa permisi, tapi tetap meninggalkan rasa dingin saat disentuh.
“Kau masih suka membaca laporan tidak penting rupanya.” Ucapnya pelan, muncul dari balik bayangan lorong.
Suara itu tak meninggi, tak pula melemah. Tapi cukup untuk mengganggu konsentrasi siapa pun yang mendengarnya.
@Adtmin Hh. Menarik.
Kau boleh meraihnya sesuka hatimu. Tapi ingat, setiap kekuatan besar selalu menuntut harga yang lebih tinggi dari yang bisa dibayangkan.
Banyak yang mati bahkan sebelum menyentuhnya. Semoga kau bukan sekadar bangkai berikutnya.
@Adtmin Kalau begitu ikutlah denganku.
Di sisiku kau tak hanya akan menemukan permainan, tetapi juga rahasia, rasa sakit dan kekuatan yang tak pernah bisa kau sentuh seorang diri.
Itu jauh lebih menggairahkan daripada sekadar menguap menantang kebosanan, bukan?
Tanpa sentuhanku pun, Konoha perlahan melukai dirinya sendiri. Aku hanya penonton, sementara sistem yang mereka banggakan menjadi racun yang membusuk dari dalam.
Mereka yang berteriak melawannya, hanyalah cermin kecil dari keberanian untuk menyingkap busuk itu lebih cepat.
@Adtmin Kau ingin tahu caraku bersenang-senang?
Pergilah mencabut sesuatu yang berharga dari orang lain, lalu lihat bagaimana mereka meronta tanpa daya.
Itu permainan yang membuatku merasa hidup.
@medichopath Karin, kekuatan memang bisa merusak. Tapi tanpa kekuatan, segalanya sudah hancur sejak awal. Yang lemah hanya bisa berharap dilindungi, lalu kecewa ketika perlindungan itu runtuh.
Aku lebih memilih jadi tangan yang merusak, daripada menjadi tubuh yang menunggu untuk dihancurkan.
@Adtmin Menurutku tidak.
Mungkin yang kau sebut membosankan hanyalah ruang yang menunggu untuk dikoyak. Kau hanya belum menemukan cara menumpahkan darah di dalamnya.
Penjaga gerbang itu meludahkan tusuk gigi yang sedari tadi ia kunyah, lalu melangkah mendekat, tatapannya penuh curiga.
“Hah? Penilai makanan? Baru kali ini aku mendengarnya. Kalau memang begitu, tunjukkan identitas kalian.” Ia mengulurkan tangan, menuntut bukti dengan nada merendahkan.
Orochimaru seakan sudah memperkirakan jalannya permainan ini sejak awal, mengeluarkan sebuah kartu pengenal. Nama dan fotonya tercetak rapi di permukaannya. Senyum tipis tetap menghiasi wajahnya ketika ia menyerahkan kartu tersebut.
Di saat yang sama, seekor ular putih mungil merayap keluar dari balik jubahnya, bergerak tanpa suara menuju kaki sang penjaga. Giginya yang beracun menancap sekejap, terlalu cepat untuk disadari.
Penjaga menunduk, membaca dengan suara pelan. “Orochi… ma—” kata-katanya terhenti, pandangannya mulai kabur. Tubuhnya melemah, kaki goyah hingga sedikit membungkuk menahan tubuhnya.
“S-sial… penyusup…” Napasnya tersendat, tubuhnya akhirnya ambruk menghantam tanah, racun menjalar cepat dalam alirannya.
Orochimaru hanya menatap jatuhnya tubuh itu, seolah hanyalah konsekuensi kecil dari permainan yang ia atur.
Aku paham maksudmu. Tapi batas yang mereka sebut perlindungan hanyalah rantai yang mencegah manusia melihat lebih jauh. Jika aku berhenti demi melindungi sesuatu, maka pada akhirnya aku tak akan bisa melindungi apa pun.
Karena kekuatanlah satu-satunya cara untuk benar-benar menjaga. Dan itulah yang kucari.