@BukanUshikawa@AwalilRizky Sebenere ramah awam apa engga tergantung cara narasumber jelasinya. Tapi yg bedain tu channel ma yg lain,pak Awalil mesti nyuruh narasumber buat jelasin konsep²/hal² yg dia bawa sebelum dibahas lebih lanjut. Jadi lebih ke channel literasi alih² podcast² doang bahas isu
Banyak orang anggap Twitter cuma tempat curhat atau pamer opini. Buat gue, ini lebih mirip ruang ujian sidang yg gak pernah selesai.
Setiap kali gue nulis analisis, ada kemungkinan nyata yang baca itu dosen ekonomi, analis di sekuritas, praktisi yang udah puluhan tahun di market, atau orang yang posisinya jauh lebih senior dari gue. Mereka nggak perlu izin untuk koreksi, cukup reply.
Itu yang bikin nulis di sini berbeda dari nulis di catatan pribadi. Argumen yang cuma masuk akal di kepala sendiri, begitu dipublish, langsung diuji validitasnya sama orang yang punya data atau pengalaman lebih dalam. Logika yang lemah biasanya ketauan dalam hitungan menit. Data yang salah dikoreksi sebelum sempat dipercaya banyak orang.
Awalnya ini berasa nggak nyaman. Argumen dibedah di depan publik itu pengalaman yang gampang bikin defensif. Tapi lama-lama gue sadar ketidaknyamanan itu justru yang bikin analisis makin tajam. Kadang kita terlalu pede sm POV kita sendiri, sampe ada orang lain yg lebih ahli menyadarkan bahwa lo ga sehebat itu.
Bandingkan sama belajar sendirian. Kesalahan logika baru ketauan setelah kena dampaknya, entah di porto atau di keputusan yang lebih besar. Di sini, kesalahan bisa ketauan sebelum sempat jadi keputusan yang merugikan. Jadi kalau ditanya kenapa masih betah main twitter? Ya karena disini tempat gue bisa mengasah nalar, mempertajam argumen, belajar banyak hal dari banyak ahli.
@TwipsX Kalo ngerjainnya bagus. Sebenere kerjaan² yg gajinya gede tu kebanyakan kerjanya kek garap skripsi semua, analyst².
Skripsi gw tembus SINTA 2 juga soalnya, dan selinear ma kerjaan gw sekarang
Kurangnya exposure melahirkan orang dewasa yang "kagetan", sumbu pendek, dan gampang menghakimi hal-hal yang tidak sesuai kebiasaan di kampung/lingkungannya. Sebaliknya, anak yang terbiasa melihat keberagaman komunitas akan tumbuh dengan Window of Tolerance (jendela toleransi emosi) yang sangat luas. Mereka tidak akan merasa terancam oleh perbedaan pandangan.
So, kalo masih ada yg bilang ulah asing², Soros², lah kita sendirilah yg mempersilahkan para spekulan main di pasar kita. Karena para hedge fund gabakal main di negara yg fundamentalnya jelek. Kalo psikologis rupiah dah di rentang angka segitu, ya wajar semisal spekulan² pasang forward rupiah melemah terus :). Udah tau rezimnya devisa bebas kok sok²an bilang "ekonomi kita kuat!". Ya dengan gampang para spekulan bales "masa, sih?"
Apapun narasi kuat pemerintah, yg jadi dealer maker di pasar ya tetep para hedge fund itu :). Ibarat kata pemerintah mo ngontrol isu, tapi lupa dia gabisa ngontrol floating