1. Setiap tahun, ribuan orang tua mengantarkan anaknya ke pesantren. Yang mereka titipkan bukan hanya koper dan perlengkapan mondok. Mereka menitipkan harapan. Mereka menitipkan masa depan. Mari kita jaga kepercayaan itu bersama. #MataSantri#GernasRANA
Entah amalan apa yang dilakukan oleh orang tuanya 🥹
Semoga semua orang tua di luar sana yang anaknya mulai masuk kuliah tahun ini diberikan rezeki selalu, apalagi yang pada ambil jurusan kesehatan. Aamiin.
Wafat pada 19 Oktober 1988, Kiai Umar Burhan meninggalkan warisan yang membuktikan bahwa sebagian "harta karun" terbesar Nahdlatul Ulama justru tersimpan rapi di sebuah rumah dekat Masjid Jami' Gresik.
Menatap sejarah NU hari ini berarti merayakan ketekunan seorang Umar Burhan; sosok visioner yang paham bahwa masa depan sebuah jamiyyah besar sangat bergantung pada seberapa rapi mereka merawat data, merawat ingatan masa lalunya.
Terima kasih yang nyaris tak mampu saya temukan cara mengungkapkannya, kepada para masyayikh, Syaikhina KH Nurul Huda Djazuli, Syaikhina KH Anwar Manshur, dan masyayikh Ploso-Lirboyo.
Terima kasih atas pengayoman, terima kasih atas naungan berkah, quwwah ruhaniyah yang melindungi kita semua dari hal-hal yang tak diinginkan oleh jam’iyah dan jamaah.
Saya kira sudah tepat untuk menyebut Munas & Konbes Ploso ini sebagai penegasan, bahwa para masyayikh adalah gantungan bagi kemaslahatan kita semua.
Terima kasih kepada para peserta yang berjibaku merumuskan keputusan-keputusan yang bermanfaat, menyatukan, demi kemaslahatan jam’iyyah dan jamaah NU yang kita cintai.
Alhamdulillah tsummal hamdulillah tsummal hamdulillah.
Usia Pesantren Ploso sekurun dengan Nahdlatul Ulama, sekurun dengan perjuangan ulama membentengi jati diri keulamaannya.
Pesantren ini didirikan oleh Simbah KH Ahmad Djazuli Utsman yang titis membaca gejala dunia baru, membaca masa depan Islam dan Indonesia.
Dari rahim pesantren ini, ilmu bertumbuh menjadi tameng rohani yang menjaga umat dari disorientasi zaman.
Hari ini (20/6) kami berziarah, berdoa di pusara para muassis-muassisah bersama Katib Aam PBNU KH Ahmad Said Asrori, Rais Syuriah KH Muadz Thohir, Waketum KH Amin Said Husni dan beberapa kolega pengurus serta sahabat lainnya.
Semoga kita senantiasa bisa mendulang tetesan misykāt ilmu dan keteguhan spiritual yang telah mereka tancapkan dalam-dalam di tanah Ploso ini. Amīn yā rabbal’ālamīn.
Sejak hari pertama pasca Muktamar Lampung, saya tegaskan, agenda penataan organisasi tidak boleh berhenti dalam keadaan apapun, bahkan ketika langit runtuh sekalipun.
Alhamdulillah, walaupun dinamika silih berganti menerpa, roda jam'iyah tetap tajrī limusytaqarrin lahā, tetap sprint berjalan di akar rumput.
Kami memilih tidak terjebak dalam polemik tuduhan kosong yang menguras energi. Warga Nahdliyin sudah bijak untuk menilai mana gerak yang berdasar bukti dan mana ikhtiar yang sengaja dijegal di tengah jalan.
Kepemimpinan NU bukanlah ruang untuk mengarang aturan sendiri. Merujuk naskah asli Qanun Asasi, struktur jam'iyah mutlak memadukan peran thōifah minal ulama (Syuriyah) dan musa'idun bil a'mal (Tanfidziyah).
Oleh karena itu, posisi saya hari ini adalah meminta waktu untuk melunasi seluruh amanah agenda khidmah yang tersisa. Jika dipercaya, kami akan lunasi dengan bonus kemajuan berlipat. Selebihnya, urusan hisab sepenuhnya di tangan Allah.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei, menyerukan negara-negara Muslim untuk memperdalam kerja sama dan membentuk tatanan regional serta global baru guna melepaskan diri dari dominasi Amerika Serikat (AS).
Dalam pesan tertulis yang dirilis pada Selasa (26/5/26) bertepatan dengan Hari Arafah, Khamenei menyatakan bahwa dunia Islam kini tengah memasuki fase sejarah baru seiring dengan berubahnya realitas kawasan secara permanen dan terus melemahnya pengaruh militer Amerika.
Dikutip dari Press TV, Rabu (27/5/2026), Khamenei menegaskan bahwa umat Muslim dan bangsa-bangsa di kawasan memiliki banyak kapasitas serta kepentingan bersama yang kuat untuk membentuk tatanan baru dan arsitektur masa depan dunia.
#mojtabakhamenei #iran #geopolitik #timurtengah
Saya mendukung usulan ini. Sebaiknya, negara besar yg mengambil inisiatif di luar negara Arab dan selama ini belum banyak aktif berperan di dunia Islam. Itulah Indonesia.
Guys, ada yang gue rasa perlu dibahas lebih dalam soal kasus Nadiem dan ini bukan soal membela dia secara membabi buta.
Ini soal menelusuri logika di balik kenapa kasus ini tiba-tiba meledak sekencang ini.
Karena kalau lo telisik lebih dalam,
ada pola yang sangat menarik dan sangat tidak nyaman untuk diabaikan.
Apa yang sebenarnya Nadiem bangun selama jadi Mendikbud:
Di era Nadiem, lahir satu sistem yang namanya SIPLah Sistem Informasi Pengadaan di Sekolah.
Platform digital untuk pengadaan barang dan jasa menggunakan dana BOS dan BOP.
Artinya apa?
Setiap transaksi tercatat online.
Setiap pelaporan bisa dilacak.
Nota kosong jadi jauh lebih sulit digunakan.
Markup jadi jauh lebih sulit disembunyikan.
Selama puluhan tahun sebelumnya dana BOS adalah salah satu ladang basah yang paling mudah dimainkan di tingkat sekolah sampai dinas.
Nota fiktif, pengadaan barang yang tidak pernah ada, markup harga yang masuk kantong oknum.
Semua itu bisa berjalan mulus karena sistemnya manual dan tidak bisa diaudit dengan mudah.
Nadiem menutup lubang itu.
Sertifikasi guru yang ikut didigitalisasi:
Sebelumnya sertifikasi guru identik dengan biaya hotel, konsumsi, transportasi,
administrasi tatap muka yang semuanya bisa di-markup dan bisa jadi sumber komisi bagi pihak-pihak tertentu.
Di era Nadiem sebagian besar
proses ini dipindahkan online.
Lebih efisien.
Lebih murah.
Dan jauh lebih sulit untuk dimainkan anggarannya.
Chromebook dan ekosistem Google yang sebenarnya paling mengancam siapa:
Ini yang paling penting dan paling jarang dibahas.
Kalau sekolah pakai Windows lisensi Windows 11 Home saja Rp2,6 juta.
Microsoft Office saja Rp2,2 juta. Per laptop.
Dikali ratusan ribu sekolah di seluruh Indonesia.
Angkanya fantastis.
Dan karena banyak yang pakai bajakan ada ruang untuk markup seolah-olah membeli lisensi asli padahal tidak.
ChromeOS dan Google Workspace for Education?
Gratis untuk institusi pendidikan.
Tidak ada lisensi yang perlu dibeli.
Tidak ada celah untuk markup lisensi software.
Jadi pertanyaannya bukan hanya soal apakah Chromebook bagus atau tidak untuk pendidikan. Pertanyaannya adalah:
siapa yang selama ini menikmati ekosistem pengadaan software berbayar di sekolah-sekolah Indonesia dan siapa yang dirugikan ketika ekosistem itu diputus?
Polanya terlalu jelas untuk diabaikan:
Digitalisasi SIPLah menutup celah korupsi pengadaan.
Digitalisasi sertifikasi menutup celah markup pelatihan.
Chromebook dan Google Workspace menutup celah markup lisensi software.
Audit anggaran jadi lebih mudah karena semuanya tercatat digital.
Dan kemudian tiba-tiba kasus Nadiem meledak. Dengan tuntutan 27 tahun.
Dengan uang pengganti Rp5,6 triliun yang bahkan diambil dari nilai IPO Gojek di SPT pajak bukan dari uang yang terbukti masuk ke kantong Nadiem.
PPATK sendiri tidak menemukan satu sen pun aliran dana ke Nadiem dari siapapun.
Kalau ini murni kasus hukum kenapa tuntutannya lebih besar dari pembunuh dan teroris?
Kenapa uang penggantinya diambil dari aset yang tidak ada hubungannya dengan dugaan korupsi yang dituduhkan?
Gue tidak bilang Nadiem sempurna.
Gue tidak bilang semua kebijakannya benar.
Tapi ada pertanyaan yang jauh lebih besar di balik kasus ini:
Siapa yang paling diuntungkan dari kembalinya sistem lama yang serba manual, serba gelap, dan serba susah diaudit?
Dan apakah orang-orang itu memiliki kepentingan — dan kemampuan untuk memastikan bahwa orang yang menutup ladang mereka itu tidak bisa berbuat apa-apa lagi?
Kalau jawabannya iya maka yang sedang kita saksikan bukan penegakan hukum.
Itu pembunuhan karakter sistematis terhadap orang yang paling banyak menutup pintu korupsi di dunia pendidikan Indonesia.
Safari diplomatik kami berlanjut hari ini dengan mengunjungi Kedutaan Besar Pakistan untuk berdiskusi panjang bersama Yang Mulia Dubes Zahid Hafeez Chaudhri, Kamis (23/04). Pakistan adalah mitra strategis yang telah membuktikan peran pentingnya dalam memediasi gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat.
Fokus diskusi kami tetap pada upaya meredakan konstelasi perang di Timur Tengah. Kami sepakat bahwa persatuan negeri-negeri muslim adalah kunci untuk menangkal ambisi hegemoni Israel yang memicu instabilitas di tanah Arab. Stabilitas kawasan hanya bisa terwujud jika setiap bangsa mampu menahan diri dan mengedepankan meja perundingan di atas pengerahan kekuatan militer.
Saya menyampaikan aspirasi masyarakat muslim Indonesia sebagai bangsa muslim terbesar di dunia, kita merindukan tatanan peradaban yang damai. Yang Mulia Dubes pun menaruh harapan besar agar ormas seperti Nahdlatul Ulama terus aktif mendorong para pemimpin dunia untuk konsisten menempuh jalur diplomasi.
Pertemuan ditutup dengan santap siang masakan Pakistan yang sangat lezat. Ikhtiar sederhana ini adalah bagian dari khidmah internasional PBNU untuk memastikan suara kemanusiaan tetap bergema di tengah desing konflik global.
Yang jelas, track record Trump dan Pete Hegseth doyan nyerang negara orang!
Jangan lupa pernyataan Pete Hegseth: Islam baik Sunni maupun Syiah dianggap musuh….
—-
Pernyataan Bersama Pembentukan Kemitraan Kerja Sama Pertahanan Utama AS-Indonesia Pete Hegseth dan Sjafrie mengumumkan pembentukan Kemitraan Kerja Sama Pertahanan Utama (MDCP) antara AS dan Indonesia.
Pengumuman itu disebut mencerminkan peran penting Indonesia dalam mempromosikan stabilitas regional dan menegaskan kekuatan dan potensi hubungan pertahanan bilateral.
Dijelaskan, MDCP berfungsi sebagai kerangka kerja panduan untuk memajukan kerja sama pertahanan bilateral. Dengan pengumuman tersebut, kedua negara menegaskan kembali komitmen bersama mereka untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di Indo-Pasifik.
Dalam pernyataan bersamanya, Sjafrie dan Pete Hegseth menyebut MDCP memiliki tiga pilar dasar yang diimplementasikan berdasarkan rasa saling menghormati dan kedaulatan nasional: 1. Modernisasi militer dan peningkatan kapasitas; 2. Pelatihan dan pendidikan militer profesional; dan 3. Latihan dan kerja sama operasional
Luar biasa ramahnya negara kita!
Saking welcome-nya, ruang udara kita mau disulap jadi jalan tol bebas hambatan buat pesawat militer AS.
Ingat, ini bukan pesawat komersial biasa, tapi armada militer negara yang lagi hobi bikin panas situasi global, apalagi dengan konflik AS dan Iran yang makin mendidih.
Dulu, pesawat militer asing yang mau lewat langit kita harus lapor, minta izin resmi satu-satu secara prosedural (case-by-case clearance). Masuk akal dong, namanya juga mampir ke rumah orang.
Tapi lewat dokumen rahasia "Operationalizing U.S. Overflight" yang kabarnya diteken, sistem izin ini bakal dibuang dan diganti cukup dengan sistem notifikasi.
Militer AS cukup ngabarin lewat hotline atau "notif", lalu mereka bisa langsung lewat tanpa izin berlapis!
Mekanisme karpet merah ini rencananya dipakai secara terus-menerus untuk keperluan "operasi darurat" dan "misi respons krisis".
Pertanyaannya, krisis siapa yang sedang mereka urus di atas kepala kita?
Benarkah hanya rancangan dan bahasan internal saja?
Masyarakat modern seperti dikaburkan dari apa yang sungguh-sungguh benar dan apa yang sungguh-sungguh salah.
Kecamuk, polemik, propaganda, infiltrasi, insinuasi hingga impunitas telah merembes dalam kanal informasi yang jadi kudapan saban hari masyarakat modern.
Tapi kita punya ilmunya ulama. Satu software yang mampu meretas kebaruan macam apapun agar tetap dalam pusat kendali, dalam pusara keilmuan, serta dalam nuansa taqarrūban ilallah yang juga berarti taqarrūban bil mashlahah.
Senang sekali, bisa turut serta memenuhi undangan PWNU DKI Jakarta dalam agenda Halal Bibalal Keluarga Besar NU DKI Jakarta di Gedung PWNU 2 Simatupang, Jakarta, Sabtu (11/4). Alhamdulillah.