APBN DIDUGA UNTUK KEPENTINGAN HASHIM
TVRI bayar Rp1,3 triliun dari APBN untuk hak siar Piala Dunia 2026, tapi masyarakat yang mau streaming lancar justru disuruh bayar lagi lewat paket BOLA GEMBIRA di Maxstream dan Folaplay. Ironis sekali wak.
Streaming sering error, putus-putus, buffering parah kali wak, bahkan login aja kadang susah tapi tidak ada kompensasi yang jelas bagi pelanggan yang sudah bayar. Siaran gratis di TVRI memang ada wak, tapi kualitas dan akses digitalnya jauh dari harapan wak, kadang lagi di jalan,atau dikantor mau nonton pun susah.
Yang Lebih parahnya lagi wak, penunjukan mitra OTT ini dilakukan tanpa tender terbuka, langsung ditunjuk sebagai MITRA STRATEGIS, mitra strategis kepala hashim iya, bayangkan wak Transparansi kontrak juga minim kali wak,ntah berapa sebenarnya nilai sublisensi yang dibayarkan Maxstream dan Folaplay ke TVRI? Janganยฒ hanya Rp1 miliar atau malah jauh di bawah itu wak? Kita sebagai rakyay tidak pernah diberi angka pasti, kan bangek. Uang pajak kita gak jelas dibuatnya.
Bayangkan wak TVRI bukan hanya menyiarkan, tapi juga aktif mempromosikan Folaplay yang kemudian bundling dengan IRA proyek yang berada di ekosistem Hashim. Uang negara dipakai untuk hak siar, lalu digunakan untk promosi folaplay dan keuntungannya mengalir ke platform swasta yang terkait kelompok tertentu itu wak.
Kalau ini dilakukan SCTV atau stasiun swasta lain, tidak masalah awak, sebagai pecinta bola sudah biasa bayar untuk nonton. Tapi ini pakai uang APBN, uang rakyat. Ketika gagal tayang lancar, tidak ada pertanggungjawaban yang tegas, kompensasi pun tak de, kan bangke.
Ini bukan Bola Gembira wak. Ini lebih cocok seperti Bola KKN, Kolusi, Korupsi, Nepotisme yang baunya sangat kuat kali akh, Tapi tak ada yang berani menyentuh karna terkait dengan PM.
Andai Uang Rp1,3 triliun itu, kalau digunakan untuk membangun jembatan, jalan, atau infrastruktur dasar di daerah, dampaknya jauh lebih nyata dan bermanfaat bagi rakyat. Bukan sekadar hiburan yang teknologinya saja masih error dan bobrok.
Ingat wak tvri itu milik negara Folaplay dan iran punya swasta, jangan sampai uang negara di pakai untuk memperkaya segelintir orang, jika kita diam wak, maka polaยฒ yang sama akan terus di lakukan oleh penguasa serakah ini.
SEKARANG SAATNYA TVRI MEMBUKA SEMUA DATA MEREKA.JIKA TIDAK BERANI BERARTI BENAR TVRI TELAH ALAT UNTUK MEMPERKAYA HASHIM.
Kalian harus tahu wak...โ๏ธโ๏ธโ๏ธ๐จ
Tipu tipu ala TVRI
TVRI membeli hak siaran piala dunia 2026 memakai uang rakyat sebanyak Rp1,3 TRILIUN. Dengan gimick menyiarkan seluruh pertandingan piala dunia 2026 secata GRATIS bagi masyarakat Indonesia.
Faktanya:
Jika mau nonton lewat hp,tab,laptopnya dan sejenisnya wajib berlangganan di folaplay atau maxstream.
Artinya tidak gratis 100% alias scam
PANJANG UMUR PERLAWANAN!!! โ๐ฎ๐ฉ
STAY SAFE SEMUANYA!
Jaga diri, jaga kesehatan, dan jangan terpancing provokasi.
WARGA JAGA WARGA. โค๏ธ
Semoga semua yang berada di lapangan diberi keselamatan dan bisa pulang ke rumah masing-masing dengan selamat.
#Demo#IndonesiaGelap#Jakarta
Sumber: txtdrijkt
If you found out football was staged like WWE would you still watch it?
This would be an insane correct score predictionโฆ Two scores correct so far โ
Gakuuaaattttt๐ญ๐ญ Aku nangis dengernya "Tolong! Negara lagi ga baik2 aja!" ๐๐๐
Rombongan ojek online memohon kepada petugas agar membuka blokade untuk mahasiswa.
cr: jktdulu on Threads
Aneh gak sih ada orang berdiri di pinggir gedung tinggi gitu?
Gue liat mahasiswa demo โ
Gue liat orang "misterius" di atas gedung โ
Udah nemu 3 orang di pinggir gedung: atas Hotel Indonesia, UOB, Graha Mandiri.
Berani banget ya mereka ๐
Guys, DPR baru saja mengusulkan sesuatu yang menurut gue paling sempurna menggambarkan betapa jauhnya jarak antara para wakil rakyat dengan kenyataan rakyat yang mereka wakili.
Di tengah rupiah Rp17.700.
Di tengah badai PHK yang mengintai.
Di tengah guru honorer yang digaji Rp1,5 juta per bulan.
Di tengah anggaran pendidikan
yang dipotong 44% untuk MBG.
Anggota DPR dari Fraksi Gerindra mengusulkan:
Alokasi APBN 2027 untuk membangun 1.000 layar bioskop di desa.
Gue perlu berhenti sejenak dan baca ulang itu:
Seribu Layar Bioskop Di desa.
Dari APBN.
Dari uang pajak rakyat.
Di 2027.
Dan ini yang paling menggelikan:
Alasannya mulia.
Untuk mendukung rumah produksi kecil di daerah.
Untuk menampilkan potensi dan budaya lokal.
Untuk memberi akses sinema kepada rakyat desa.
Tapi ada satu pertanyaan yang tidak pernah dijawab dalam rapat itu:
Rakyat desa yang gajinya di bawah UMR dengan harga bahan pokok yang terus naik mau beli tiket bioskop pakai uang apa?
Dan ini datanya yang harus dihadapkan langsung:
88% kepala rumah tangga Indonesia tidak punya pendidikan S1.
IQ rata-rata Indonesia 78,9 hampir juru kunci dunia.
Skor PISA Indonesia peringkat 69 dari 81 negara.
50% pegawai Indonesia pernah mengalami stunting waktu kecil yang artinya perkembangan otak mereka terganggu sejak masa paling kritis.
Guru honorer yang seharusnya menjadi satu-satunya harapan untuk memutus rantai kebodohan struktural ini โ digaji Rp1,5-2,8 juta per bulan.
Di bawah UMP. Di bawah standar hidup layak.
Dan anggaran pendidikan yang seharusnya mengurus semua ini dipotong 44% untuk program makan siang.
Tapi DPR punya solusi:
Bukan 1.000 sekolah baru di daerah terpencil yang belum punya akses pendidikan layak.
Bukan rekrut 100.000 guru berkualitas dengan gaji Rp40 juta per bulan yang total biayanya hanya Rp50 triliun atau 7% dari anggaran pendidikan yang ada.
Bukan perpustakaan desa.
Bukan laboratorium sains.
Bukan akses internet untuk sekolah-sekolah yang masih mengajar dengan papan tulis kapur.
Tapi bioskop.
Dan ini logika yang paling sederhana:
Dr. Tirta sudah bilang:
rakyat yang pintar adalah ancaman bagi penguasa yang tidak kompeten.
Karena rakyat yang pintar akan mempertanyakan kebijakan yang tidak ada gunanya.
Ahok sudah bilang:
kebodohan struktural bukan kebetulan. Ini by design. Tidak ada pemerintah otoriter yang ingin punya warga yang benar-benar cerdas.
Mahfud MD sudah bilang:
demokrasi tidak akan berhasil sebelum pendapatan per kapita mencapai 5.500 dolar.
Rakyat yang masih miskin dan tidak berpendidikan pasti menjual suaranya.
Dan sekarang alih-alih memperbaiki pendidikan yang bisa mengubah semua itu DPR mengusulkan membangun bioskop.
Rakyat yang tidak pintar tapi punya bioskop jauh lebih mudah dihibur.
Jauh lebih mudah dialihkan perhatiannya.
Jauh lebih mudah diberi sesuatu yang kelihatan seperti pemberian tanpa benar-benar mengubah kondisinya.
Dan ini yang paling menohok:
Orang desa yang gajinya Rp2-3 juta per bulan yang harga kedelai dan telurnya sudah naik karena rupiah melemah yang anaknya sekolah dengan guru yang mau resign karena gajinya tidak cukup untuk makan
Tidak butuh bioskop.
Mereka butuh guru yang digaji layak supaya anaknya tidak tumbuh dengan IQ 78.
Mereka butuh sekolah yang layak supaya anaknya bisa bersaing.
Mereka butuh sistem pendidikan yang mengajarkan berpikir kritis bukan menghafal untuk ujian.
Karena bioskop tidak mengubah nasib.
Bioskop hanya menghibur orang yang nasibnya tidak berubah.
Dan angkanya bicara sendiri:
1.000 layar bioskop dengan asumsi biaya pembangunan, peralatan, dan operasional bisa menghabiskan ratusan miliar bahkan triliunan rupiah dari APBN.
Uang yang sama bisa dipakai untuk:
menggaji 25.000 guru berkualitas selama satu tahun penuh. Atau membangun ratusan perpustakaan desa dengan koleksi buku yang memadai.
Atau memberikan beasiswa bagi ribuan anak desa yang putus sekolah karena tidak mampu.
Tapi yang diusulkan adalah bioskop.
DPR bukan Dewan Perwakilan Rakyat.
DPR adalah Dewan Penghibur Rakyat.
Rakyat tidak dirancang untuk pintar karena rakyat yang pintar tidak bisa dihibur dengan bioskop.
Rakyat yang pintar akan tanya:
kenapa anggaran pendidikan dipotong tapi ada uang untuk bioskop desa?
Kenapa guru digaji Rp1,5 juta tapi ada dana untuk layar sinema?
Kenapa stunting masih 21% tapi kita bahas distribusi film nasional?
Dan pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih berbahaya bagi mereka yang duduk di kursi DPR daripada rakyat yang diam di depan layar bioskop desa sambil lupa bahwa hidupnya tidak berubah.
buat yang tidak sempet nonton pidato prabowo
berikut ringkasannya :
- Nyampein angka-angka yang akan dicapai
- Curhat
- Nyalahin Belanda
- Curhat lagi
- Bakalan bangun cold storage
- Curhat lagi
- Nyalahin asing
- Ngasih tau masalah. Tapi dia balik nanya
- Beliau sadar kalo kebanyakan marah
- Ekspor bakalan dikontrol oleh BUMN
- PRODUCT REPLACEMET KOPIKO (Beliau mau jadi brand ambassador mungkin)
- Curhat kalo sore suka minta ttd padahal udah capek
- MBG
- DANANTARA
- KOPDES
Guys, Ferry Irwandi baru bedah
kenapa rupiah terus melemah
dan cara dia menjelaskannya
menurut gue paling jujur d
an paling tidak takut nyalahin siapapun.
Intinya satu:
rupiah melemah bukan karena satu sebab.
Dan jangan percaya siapapun yang bilang ini
semua salah satu pihak saja.
Yang sering salah kaprah di medsos:
Ada yang bilang santai saja rupiah lemah justru menguntungkan eksportir.
Kelihatannya masuk akal,
tapi Ferry langsung potong:
ekspor kita hanya tumbuh 0,9%
sementara impor tumbuh 7,18%.
Artinya yang benar-benar diuntungkan rupiah lemah itu jumlahnya sangat kecil
dibanding total penduduk Indonesia.
Jadi itu bukan jawaban yang komprehensif
itu setengah kebenaran yang dipakai untuk menenangkan orang.
Ada juga yang bilang ini bukan urusan Kemenkeu
ini murni urusan Bank Indonesia.
Ferry juga langsung bantah.
Kurs itu dipengaruhi fiskal, moneter, kebijakan pemerintah, dan kepercayaan pasar sekaligus.
Tidak bisa dilempar-lempar tanggung jawabnya.
Dan ada yang bilang ini sudah lebih parah dari 1998. Itu juga tidak tepat.
Yang bikin 1998 jadi krisis bukan angka kursnya
tapi percepatannya.
Rupiah naik 600%
dalam waktu sangat singkat
dari Rp2.400 ke Rp15.000.
Sekarang pelemahan terjadi bertahap
belum sekategoris itu.
Tapi bukan berarti aman.
Tiga lapis penyebab yang harus dipahami:
Pertama โ faktor eksternal.
Dolar sedang sangat kuat karena dunia sedang tidak baik-baik saja.
Konflik Timur Tengah belum selesai.
Suku bunga Amerika tidak turun-turun.
Kalau lo punya uang dan harus memilih antara simpan di negara berkembang yang volatile atau di Amerika yang bunganya tinggi dan dolarnya menguat jawabannya jelas.
Modal terus mengalir keluar dari negara berkembang termasuk Indonesia.
Dan rupiah jadi salah satu yang paling tertekan.
Tapi ini bukan alasan untuk santai.
Karena seharusnya kita tidak semelemah ini kalau domestik kita kuat.
Kedua โ faktor domestik.
Di sinilah masalah yang tidak bisa disembunyikan.
Pendapatan negara Q1 2026 naik 10,5%.
Tapi belanjanya naik 31,4% totalnya Rp815 triliun dalam satu kuartal.
Dari jumlah itu Rp610 triliun adalah belanja pemerintah pusat saja.
Ekspor tumbuh 0,9% impor tumbuh 7,18%. K
ebutuhan dolar meningkat
tapi pemasukan dolar tidak ngejar.
Subsidi energi naik lebih dari 266% hampir Rp118 triliun atau sekitar 30% dari APBN.
Ini harus dilakukan untuk menjaga daya beli.
Tapi ketika digabung semua tekanan lain yang paling terbeban tetap nilai tukar.
Siklus mematikannya begini:
rupiah melemah
beban APBN untuk bayar kewajiban dolar makin besar tekanan ke rupiah makin dalam rupiah melemah lagi.
Ketiga โ kepercayaan yang sudah mulai retak.
Dan ini yang paling berbahaya.
Ferry bilang dengan sangat kesal:
ketika pejabat publik di konferensi pers bilang bangga bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,61%
kita di atas Amerika, Singapura, Korea
itu bukan prestasi komunikasi.
Itu memalukan secara intelektual.
Karena siapapun yang belajar ekonomi bahkan di level mahasiswa tahu:
jangan bandingkan pertumbuhan negara berkembang dengan negara maju.
Sizing-nya sudah beda.
Amerika tumbuh 2% itu sudah luar biasa.
Ruang tumbuhnya hampir habis. N
egara berkembang harusnya dibandingkan sesama negara berkembang.
Taiwan tumbuh 13% lebih dengan government spending hanya 3%.
Vietnam tumbuh 7% lebih dengan government spending di bawah 5%.
Sementara kita 5,61% dengan government spending naik 21,8% dalam satu kuartal.
Ketika pejabat bicara seperti itu market mendengar. Dan yang mereka dengar bukan kebanggaan.
Yang mereka dengar adalah sinyal bahwa pemerintah tidak jujur tentang kondisi yang sebenarnya.
Ketidakpercayaan itu mendorong
lebih banyak modal keluar.
Dan rupiah makin tertekan.
Solusi yang Ferry tawarkan:
Satu โ benarin komunikasinya.
Bicara jujur dan objektif justru lebih dipercaya market daripada klaim yang mudah dibantah data.
Dua โ struktur APBN harus dibenahi.
Belanja tidak efisien harus dipotong.
Kalau MBG dilanjutkan jalankan dengan cara paling efektif dan paling transparan.
Ruang fiskal tidak boleh terus tergerus oleh belanja yang tidak terukur.
Tiga โ parkir dolar supaya tidak gampang keluar. Kebijakan DHE yang mulai dijalankan
adalah langkah benar.
Tapi insentifnya harus menarik
bukan hanya pemaksaan.
Empat โ BI, OJK, dan Kemenkeu harus sinergi.
Jangan saling salah-salahan.
Jangan kebijakan satu lembaga
menabrak kebijakan lembaga lain.
Karena kalau tidak sinergi rupiah akan terus melemah bahkan ketika masing-masing sudah bekerja keras sendiri-sendiri.
Rupiah di Rp17.500 bukan karena satu orang salah atau satu lembaga gagal.
Ini kombinasi tiga lapis sekaligus dan selama ketiganya tidak ditangani bersama secara serius angka hari ini bukan yang terakhir.
Dan selama pejabat publik masih lebih sibuk membandingkan diri dengan
Amerika daripada jujur tentang kondisi domestik yang sebenarnya kepercayaan pasar tidak akan pulih.
Dan tanpa kepercayaan tidak ada intervensi BI yang cukup kuat untuk menahan rupiah sendirian.
Mulai ada rush di sejumlah money changer.
Banyak yang mulai buru-buru tuker Rp ke US$. Kalau kepercayaan publik terhadap rupiah mulai retak, ini bukan sekadar panic buying biasa.
Ini alarm.
INGAT!
Bibit krisis selalu dimulai dari kepanikan kecil yang diremehkan pemerintah.
Mungkin ada yang bertanya, "Kenapa tahun 1998 saat Rupiah anjlok ke 16.000, rakyat langsung turun ke jalan, tapi sekarang di 17.500 pada diam?"
Ini terletak pada kecepatan devaluasi. Pada 1998, Rupiah anjlok dari kisaran 2.500 ke 16.000 hanya dalam hitungan bulan.
Jelaslah ini ngebuat shock therapy yang meruntuhkan daya beli secara instan jelas bisa memicu kepanikan dan revolusi.
Sementara saat ini, pelemahan terjadi secara gradual layaknya sindrom "katak dalam panci yang direbus perlahan".
Harga beras naik sedikit demi sedikit, ongkos transportasi merangkak naik, dan porsi makan di warteg mengecil secara diam-diam.
Rakyat terlalu sibuk beradaptasi dan mencari kerja tambahan ekstra keras dari hari ke hari, sehingga energi untuk berontak sudah habis tersita di jalanan dan di tempat kerja.
Sehat selalu semua yahh guys ๐๐