Jelas bukan player solo ya, minimal trio egois atau party. Jadi lu ga bisa ngatain orang segampang itu karna lu sendiri aja ga mau kan main solo atau main asal nyomot orang? Lu pasti masih berlindung dibalik party strongzy lu. Wr boleh tinggi, tapi nyali lu cuma semata kaki π€
Selalu heran sm org yg kalau kalah nyalahin matchmaking ML! ππ€·ββοΈ
Padahal kalo emg jago ya ga ngaruh mau tim kaya gmn juga, kalo emg dasarnya poke ya poke aja deh jgn nyalahin matchmaking π€
Kalo emg jago tuh gini stats nya πΉ
Dan pedihnya, biasanya mahasiswa yang hadir ini ga selalu karna mau menjunjung norma atau kebenaran gitu. Simply pengen ikut ikutan aja. Kaya demo ke pemerintah, ga semuanya aware apa yang didemoin, tapi pengen ikut eksis aja atau fomo.
gue pribadi nggak membenarkan public display of affection yang berlebihan di area kampus, regardless of sexual orientation. mau itu pasangan heterosexual maupun homosexual, kalau sampai making out di ruang publik kampus ya memang bisa dianggap melanggar norma atau aturan yang berlaku di lingkungan tersebut. tapi yang bikin gue nggak nyaman adalah apa yang terjadi setelahnya.
mereka direkam tanpa consent, videonya disebarkan, diarak, dijadiin tontonan, bahkan sampai di-live di tiktok and instagram. orang tua nya dipanggil, ada sidang, lalu muncul tekanan publik dari sebagian mahasiswa agar mereka di drop out. honestly, that feels way too much.
kalau memang ada pelanggaran, kampus punya mekanisme sendiri untuk nanganinya. kasih teguran atau sanksi sesuai aturan yang berlaku. tapi ketika seseorang dipermalukan di depan banyak orang dan dijadikan konsumsi publik, itu tuh udah mulai bergeser dari penegakan aturan menjadi public shaming.
dan menurut gue kita juga harus jujur melihat konteks yang lebih besar. indonesia memang bukan negara yang ramah sama komunitas homoseksual. karena itu, kasus seperti ini sering kali tidak hanya dipandang sebagai persoalan perilaku di ruang publik, tetapi juga bercampur dengan sentimen terhadap orientasi seksual mereka.
again, gue nggak sedang membela tindakan PDA di kampus. tapi gue juga nggak setuju kalau pelanggaran tersebut dijadikan alasan untuk mempermalukan seseorang secara massal. a rule violation should be handled through proper procedures, not through humiliation.
the punishment shouldn't become a public spectacle. Karena ketika tujuan utamanya udah bergeser dari penegakan aturan menjadi mempermalukan seseorang di depan umum, itu justru mulai terlihat seperti collective bullying daripada penyelesaian masalah.
at the end of the day, seseorang bisa aja ngelakuin kesalahan, tetapi mereka tetap manusia yang berhak diperlakukan dengan hormat dan bermartabat. accountability is important, but so is basic human dignity.