@NenkMonica Razman skrng ini , niat hati mau menutupi keburukannya dg sikap skrng yg merapat ke Prabowo.
Akhirnya di SEL juga?......
Peringatan keras ini buat para pejabat yg mau di sogok
@NenkMonica@lapascipinang1 Peringatan keras buat ketua lapas cipinang dari bang Hotman.
Udahlah jngn pake alasan sakit , rahasia begituan kuncinya ada di bang Hotman.
Untuk Apa Kita Punya Presiden, Kalau Rakyat Kita Tidak Sejahtera!
Untuk Apa Kita Punya Presiden, Kalau Kerjaannya Hanya Omon-Omon Saja!
Untuk Apa Kita Punya Presiden, Kalau Setiap Pidato Hanya Menyalahkan Rakyatnya!
@PaltiHutabarat Jadi dr. tifa aja kasihan sama jokowi, knp jokowi gak nyerah minta maaf ya?......
tetap mempertahankan ego nya klo beliau ijazahnya asli.
Klo orang yg jujur & amanah ya prof. @henrysubiakto .
Memang sy setuju apa yg beliau katakan. Saya jg dulu terkesima oleh Jokowi. Skrng sy sadar telah tertipu?.....
SAYA BUKAN MANTAN TERMUL TAPI AKADEMISI YANG PERNAH JADI APARAT NEGARA.
Faktanya saya bukan ternak siapapun, apalagi “Termul”, tapi saya ini orang kampus yang pernah ditarik untuk bekerja di pemerintah. Mulainya di era Presiden SBY tahun 2007 hingga di era Presiden RI ke 7, Joko Widodo.
Adapun saya di Pemerintahan (sebagai eselon 1 tahun 2007 itu diajak Prof Muh Nuh, mantan Rektor ITS yg menjadi menteri Kominfo di era Presiden SBY). Kemudian saat Menkominfo berganti pak Tifatul Sembiring saya tetap menjabat di Pemerintahan.
Di era Pemerintah berikutnya yaitu Presiden Jokowi, saya masih dipertahankan jadi Staf Ahli Menteri yang baru, pak Rudiantara. Maka otomatis sebagai aparat birokrasi pusat tentu harus membantu menteri dan presiden saat itu. Ini berlanjut hingga menteri Kominfo kembali berganti jadi pak Jhonny G Plate. Berarti saya Staf Ahli untuk 4 Menteri dari 2 Presiden.
Di tahun 2022 saya berhenti dari jabatan Pemerintahan karena memasuki batas usia pensiun untuk jabatan struktural. Walau saat itu ditawari jabatan politis sebagai Staf Khusus, saya memilih balik ke Kampus. Saya sudah merasa cukup dan kembali ke profesi semula yg independen. Jadi saya tidak pernah dipecat di Pemerintah, tapi berhenti karena batas usia dan memilih tak lagi tertarik di pemerintahan.
Tahun 2023 saya melihat ada persoalan subtansial terkait rusaknya demokrasi dan hilangnya etika politik pemimpin RI saat menjelang Pemilu. Ucapannya flip flop, mencla mencle, sering tidak jujur. Di depan nampak lugu, tapi di belakang mengendalikan kekuatan politik dengan memainkan hukum dan menyandera para politisi negeri ini.
Cawe cawe mempengaruhi proses Pilpres hingga hasilnya seperti sekarang ini. Banyak hal buruk yg awalnya tertutup rapi, belakangan terbongkar sendiri di hadapan bangsa ini.
Maka saya yang dulunya mengagumi semangatnya membangun infrastruktur negeri, berubah menjadi kecewa dan tak percaya lagi. Terutama setelah melihat dinastinya yang nampak berambisi mendorong keluarga untuk lanjut bisa menguasai Indonesia dengan berbagai cara.
Mulailah saya berubah mengkritisi. Hilang harapan kebaikan dan respek saya pada sosok besar yang dibangun lewat pencitraan. Setelah saya berubah, teman, sahabat, saudara, tetangga yg dulu berseberangan, kembali menyatu dalam aspirasi yang sama.
Sebaliknya orang orang yg dulu mengikuti saya, pada bingung karena jadi berbeda pandangan, bahkan berseberangan jalan.
Saya bersyukur dalam hal ini tidak menjadi bagian dari kelompok orang yang tersandera. Bukan bagian pendukung kekuasaan yg jauh dari kejujuran. Bukan bagian dari penabrak moral dan etika kebangsaan. Bukan kelompok yg menganggap melanggar moral etika adalah kewajaran dalam politik.
Sejak itu saya lebih bebas menyuarakan kebenaran yg sering beda dengan orang orang yg tersandera atau penikmat kekuasaan. Saya bisa menyuarakan nilai sesuai hati nurani, dan pandangan rasional orang orang cerdas yg berada di luar kekuasaan.
Sekarang saya menjadi lebih dekat dengan kebenaran yg kuyakini. Lebih dekat dengan masyarakat kritis yang terpinggirkan dan jadi objek pembungkaman. Lebih dekat dengan komunitas komunitas yg bebas yg menyuarakan keprihatinan dengan kondisi negara.