🚨 FERRARI STRATEGY MASTERCLASS~
Ketika Lewis Hamilton diberikan ban soft untuk start, kami langsung tahu kalau Ferrari akan bermain agresif dan lakukan segala cara untuk dapatkan track position.
Beneran kejadian & Ferrari eksekusi strateginya dengan jitu.
Ferrari berani ambil inisiatif untuk pit stop cepat. Mereka menjebak Mercedes di dalam pilihan: mau ikut tiga stop atau bertahan dengan strategi dua stop? Dua-duanya sama-sama merugikan, namun pilihan Mercedes untuk bertahan dengan dua stop memberikan Hamilton track position di P1 pada stint kedua.
Di saat itulah keberuntungan tiba. Mobil Alonso bermasalah, membawa Virtual Safety Car. Rezeki tak ke mana, Ferrari manfaatkan ini untuk dapatkan pit stop gratisan dan curi pimpinan lomba.
Diberi strategi jitu dan mobil kompetitif, kombinasi sempurna untuk membuat Hamilton kembali seperti masa jayanya. Dia belum habis.
Ferrari sempurna.
Hamilton menggila.
Setuju gak sih?
Di kondisi ekonomi sekarang,
punya orang tua yang mandiri secara finansial
itu bukan hal biasa.
Itu BLESSING level tinggi.
Itu privilege.
Karena anak gak harus jadi penopang dua arah.
Gak harus jadi sandwich generation.
Bahkan, saat anak lagi goyah,
masih ada yang bisa bilang,
“tenang nak, kamu butuh dibantu apa?”
Dan itu jujur aja…
kemewahan yang gak semua orang punya.
90% meeting cuma buang waktu. Duduk satu jam, bahkan lebih, tapi ga ada keputusan nyata yang keluar
Di dunia kerja, ini kerasa banget.
Lo dateng di meeting pagi-pagi, semua orang ngomong serius, penuh ide dan insight… tapi begitu meeting selesai, lo sadar ga ada yang dieksekusi.
Angka dibahas, campaign direncanain, tapi eksekusi molor.
Meeting bolak-balik, keputusan ditunda, semua cuma "nanti dibahas lagi".
Dan yang paling parah?
Kadang meeting itu bikin lo merasa "sibuk" padahal output lo minim.
Lo tau rasanya ga? Duduk, merhatiin, nyatet, tapi kerjaan ga kelar.
Dan di akhir hari, lo pulang dengan rasa bersalah karena ga maju satu langkah pun.
Ironisnya, orang-orang kadang merasa produktif karena mereka hadir di meeting, padahal yang terjadi hanyalah drama korporat.
Meeting seharusnya jadi alat untuk mempercepat keputusan, bukan ritual buat terlihat sibuk. Dan kalau lo ga hati-hati, skill, kreativitas, dan hasil kerja lo bisa stagnan selama bertahun-tahun.
Gw pernah, ikut meeting yang topiknya "review content Instagram", tapi 40 menit ngobrolin font dan emoji. Sementara campaign penting molor seminggu. Itulah bedanya sibuk sama produktif.
Terlalu miskin untuk resign,
Teralu tua untuk cari lowongan lagi,
Terlalu susah untuk bangun usaha.
Ini bukan tentang kurang niat,
Ini tentang sistem yang gak pernah kasih pilihan secara adil.