PERANG UHUD.
A. Situasi Umum.
Pasca pecahnya operasi militer yang dipimpin oleh Zaid bin Haritsah, yang berhasil menyita barang dagangan milik kafilah dagang Quraisy, membuat kaum Quraisy di Mekkah naik pitam.
Bukan hanya karena nilai barang bawaannya yang besar, namun juga karena operasi militer tersebut mengisyaratkan bahwa tak ada lagi jalur perniagaan yang aman untuk dilewati oleh kafilah dagang Quraisy.
Penguasaan penuh jalur perniagaan antara Syam dan Mekkah oleh Kaum Muslimin, tentunya akan membawa dampak besar bagi perekonomian masyarakat Mekkah. Krisis ekonomi akan timbul jika kafilah dagang mereka terus mendapatkan gangguan dari Kaum Muslimin, mengingat jalur perniagaan itu merupakan urat nadi perekonomian Kaum Quraisy.
Selain mengamankan rute perniagaan, kaum Quraisy juga ingin segera memulihkan gengsi mereka di mata Bangsa Arab atas kekalahan di Badar beberapa waktu silam.
Tak ada pilihan lain bagi Kaum Quraisy selain keluar untuk menghancurkan kekuatan Kaum Muslimin sekaligus mengamankan rute perniagaan mereka.
Setelah melalui rapat koordinasi dengan seluruh pemuka Quraisy, maka dicapai keputusan yang kuorum, yakni mengumpulkan perbekalan dan pasukan untuk berangkat ke Madinah.
Total sebanyak 3 batalyon pasukan berhasil dihimpun (2900-3000 personil), dimana saat itu juga dikerahkan 1 Kompi kavaleri yang dikomandani oleh panglima perang terbaik bernama Khalid bin Walid.
Pasukan itu juga dilengkapi dengan 700 baju zirah, 200 ekor kuda, 3000 ekor unta. Pengerahan kekuatan Kaum Quraisy kali ini tidak main-main, mereka bahkan mengerahkan para budak dengan janji kemerdekaan.
Selain itu juga guna mencapai kekuatan personil yang maksimal, Kaum Quraisy menetapkan program wajib militer bagi para pemuda dengan iming-iming bayaran yang cukup besar.
Jadi jelas tujuan Kaum Quraisy pada perang kali ini hanya termotivasi oleh faktor finansial dan gengsi. Sehingga moril pasukan mereka bisa dikatakan cukup lemah.
Berbanding terbalik dengan Kaum Muslimin, selain hanya berkekuatan sekitar 650-700 orang, pasukan juga hanya diperkuat oleh 50 orang pasukan kavaleri.
Kendati demikian, moril pasukan Kaum Muslimin lebih unggul dikarenakan sebelumnya telah meraih kemenangan mutlak dalam beberapa Pertempuran.
Sementara di pihak Kaum Munafik, mereka tak ikut bertempur. Namun mereka mengharapkan agar Kaum Muslimin mengalami kekalahan. Dalam perhitungan internal mereka meyakini, jika Kaum Muslimin kalah maka dengan mudah bisa dikalahkan oleh mereka.
B. Sebelum Pertempuran Berlangsung.
Kaum Quraisy segera mengumpulkan pasukan serta logistik, setelah semuanya selesai maka pasukan segera diberangkatkan menuju Madinah tanpa perlu mengadakan retreat yang pastinya akan menghabiskan anggaran yang cukup besar. Selain itu pada masanya belum ada satupun Kaum Quraisy yang memiliki perusahaan yang bisa dipergunakan untuk menguras keuangan negara dengan dalih program retreat.
Pasukan Kaum Quraisy bergerak cepat dengan tujuan agar menghindari deteksi dari pihak Kaum Muslimin, hingga suatu ketika mereka telah mencapai daerah Shomqah yang letaknya sekitar 5 mil dari Madinah.
Belajar dari pengalaman Perang Badar Kubro, kali ini Kaum Quraisy menerapkan strategi tempur bershaf, dimana Maimunah dipercaya sebagai panglima perangnya.
Di lokasi tersebut mereka menjumpai tanah yang ditumbuhi oleh rerumputan, maka segera mereka menyebar hewan tunggangan agar bisa makan sebelum dikerahkan ke Pertempuran.
Sementara kekuatan utama pasukannya ditempatkan di Telaga Aqieq, agar mereka bisa mendapatkan pasokan air yang cukup.
Dibelakang pasukan mereka terdapat rombongan para istri yang dibawa sebagai pelecut motivasi bagi pasukan untuk tidak meninggalkan peperangan
Kelompok para istri ini dipimpin oleh Hindun binti Uthbah, dimana dia begitu dendam atas kematian ayah dan saudaranya pada Perang Badar. Jika mereka melarikan diri maka para istri mereka akan menjadi tawanan perang..
OPERASI MILITER RASULULLAH KE SYAWIQ.
A. Kekuatan Dari Kedua Belah Pihak.
- Kaum Muslimin:
1 Kompi Pasukan Pemukul Taktis yang dipimpin oleh Rasulullah.
- Kaum Musyrikin:
2 Kompi (200 orang) Pasukan Kaveleri yang dipimpin oleh Abu Sufyan.
B. Tujuan Operasi Militer.
Rasulullah melakukan penyergapan dan pengejaran terhadap komplotan Abu Sufyan yang telah melakukan pembunuhan serta perampokan terhadap desa Kaum Muslimin.
C. Jalannya Operasi Militer.
Pada bulan Syawal tahun ke-2 Hijriyah, Abu Sufyan memimpin pasukan sebanyak 200 orang kaveleri, tujuannya adalah untuk menyerang Madinah.
Strategi yang dipergunakan oleh Abu Sufyan kali ini adalah taktik 'serang dan lari' (Hit and Run), sedangkan yang menjadi target adalah kelompok kecil Kaum Anshar yang bermukim di pinggiran kota Madinah.
Tujuan Abu Sufyan kali ini adalah ingin membalas dendam atas kekalahan di Badar, namun dirinya tak berani melakukan kontak senjata secara terbuka melawan Kaum Muslimin. Selain itu Abu Sufyan telah mengimbar janji bahwa dia tidak akan membasuh kepalanya sebelum berhasil memerangi Rasulullah kembali. Alhasil, selama sebulan tak keramas maka kepala mulai dipenuhi ketombe yang mengakibatkan rasa gatal. Tak tahan dengan rasa gatalnya, maka demi untuk bisa keramas lagi, maka dia terpaksa harus menunaikan janjinya terlebih dahulu.
Abu Sufyan tak berani langsung menyerang ke Kota Madinah, karena trauma pada kekalahan di Badar yang menewaskan hingga 70 orang yang terdiri dari para tokoh Quraisy bahkan panglima perang pasukannya kala itu yang bernama Abu Jahal.
Operasi militer Abu Sufyan ini diawali dengan mendatangi pemukiman Kaum Yahudi dari Bani Nadhir, karena kedua kelompok ini telah menjadi sekutu sejak hijrahnya Rasulullah ke Madinah. Dari Bani Nadhir diperoleh informasi bahwa terdapat Pemukiman kecil di pinggiran kota Madinah yang dihuni oleh keluarga muslim.
Awalnya Abu Sufyan mengajak Bani Nadhir untuk ikut serta memerangi Kaum Muslimin, namun peristiwa pengusiran terhadap Bani Qainuqa telah membuat ciut mental Bani Nadhir, sehingga mereka tak berani ikut serta dalam rencana Abu Sufyan.
Meskipun begitu, Abu Sufyan terpaksa menjalankan misinya tanpa Bani Nadhir. Segera diarahkan pasukannya ke lokasi yang telah ditunjukkan oleh Bani Nadhir, dan akhirnya mereka menjumpai perkampungan yang dimaksud. Perkampungan itu bernama Uraidh, dan di sana Abu Sufyan beserta pasukannya membakar 2 buah rumah. Selain itu Abu Sufyan CS juga membakar kebun kurma milik Kaum Muslimin serta membunuh 2 orang Anshar lalu bergegas pergi.
Seorang warga kampung segera mengabarkan peristiwa tersebut kepada Rasulullah. Mendengar laporan dari orang tersebut, Rasulullah tak lantas menulis BAP apalagi meminta uang perkara. Rasulullah justru segera mengumpulkan pasukan dan melakukan pengejaran terhadap komplotan Abu Sufyan.
Tak lama kemudian Rasulullah beserta pasukannya telah tiba di TKP, namun tak menemukan adanya Abu Sufyan CS di tempat itu.
Menyadari bahwa Abu Sufyan CS telah melarikan diri, maka tanpa banyak bicara Rasulullah segera melakukan pengejaran hingga ke Qarqarah Al-Kudr.
Sementara itu Abu Sufyan mendengar laporan bahwa mereka tengah diburu oleh Kaum Muslimin, dengan segera dia mempercepat langkah pelariannya dengan cara mengurangi perbekalan yang dibawanya.
Dari ceceran perbekalan yang ditinggalkan oleh Abu Sufyan, maka Rasulullah dapat mengetahui rute pelarian mereka. Dengan segera beliau memacu pasukannya agar dapat menyusul para penjahat itu.
Setibanya di daerah bernama Sawieq, Rasulullah beserta sahabat-sahabatnya menemukan sejumlah besar perbekalan yang ditinggal oleh pasukan Abu Sufyan.
Menyadari bahwa Abu Sufyan telah lari jauh, maka Rasulullah memutuskan untuk menghentikan pengejaran dan membawa harta perbekalan yang ditinggal oleh Abu Sufyan ke Madinah.
Banyaknya harta rampasan yang ditemukan di Sawieq, membuat operasi militer kali ini dikenal dengan Operasi Militer (Ghuzwah) Sawieq.
OPERASI PENUMPASAN PEMBERONTAKAN BANI QAINUQA.
Operasi militer ini merupakan konfrontasi fisik yang pertama kali terjadi antara Kaum Muslimin versus Kaum Yahudi. Lokasinya berada di wilayah Kota Madinah, tepatnya di perkampungan Bani Qainuqa.
Mengenai situasi umum yang terjadi telah Mimin uraikan dalam artikel sebelumnya, intinya Bani Qainuqa merasa iri terhadap keputusan Allah yang menurunkan Nabi terakhir di kalangan Bangsa Arab, sementara mereka berharap risalah tersebut diturunkan kepada keturunan Yahudi.
Rasa iri tersebut berujung pada kedengkian terhadap Rasulullah dan pengikutnya, seperti yang biasa dilakukan oleh Bangsa Yahudi jika Nabi yang diturunkan tidak sesuai dengan keinginan mereka maka dengan kedangkalan akalnya Bangsa Yahudi akan membunuh Nabi tersebut.
Begitu juga yang mereka rencanakan terhadap Rasulullah, mereka mengira bahwa Allah akan membiarkan mereka melakukan rencana keji tersebut. Namun ternyata kenyataan akan berbanding terbalik dengan ekspektasi mereka kali ini.
A. Latar Belakang Operasi Militer.
Secara khusus operasi militer terhadap Bani Qainuqa dipicu oleh beberapa hal, diantaranya sebab tak langsung yakni Entitas Yahudi Bani Qainuqa kerap menunjukkan sikap permusuhan terhadap Kaum Muslimin. Sikap permusuhan itu tercermin dalam beberapa tindakan berupa aksi spionase terhadap kekuatan dan berbagai rencana operasi militer yang akan dilaksanakan oleh Rasulullah. Hasil observasi itu lalu secara diam-diam diberikan kepada Kaum Quraisy Mekkah, sehingga dalam pelaksanaan operasi militer Kaum Muslimin kerap gagal menghadang kafilah dagang Quraisy.
Selain itu Kaum Yahudi Bani Qainuqa juga aktif menyebarkan hasutan dan provokasi terhadap penduduk Madinah agar melakukan pemberontakan terhadap Rasulullah dan Kaum Muslimin.
Sedangkan sebab langsung yang melatarbelakangi operasi militer Rasulullah terhadap Bani Qainuqa adalah pelanggaran perjanjian yang dilakukan oleh Yahudi Bani Qainuqa.
Aksi tersebut lalu berlanjut pada insiden di Pasar Bani Qainuqa, tatkala seorang laki-laki Yahudi melakukan pelecehan seksual terhadap seorang muslimah yang ingin menjual perhiasannya.
Tak terima atas tindakan mesum yang dilakukan oleh laki-laki Yahudi tersebut, Muslimah tersebut berteriak minta tolong. Berharap orang-orang Yahudi di sekitarnya berkenan membantunya, namun kenyataannya orang-orang Yahudi di pasar tersebut juga menertawainya.
Sampai beberapa saat kemudian datang seorang laki-laki Muslim yang mendengar keributan di TKP, dengan segera laki-laki Muslim tersebut menyerang pelaku dan menolong Muslimah tersebut. Namun pelaku malah melakukan perlawanan sehingga berujung pada terbunuhnya laki-laki Yahudi bejat tersebut.
Melihat Yahudi itu terkapar bersimbah darah, rekan-rekan sesama Yahudi lantas murka dan mengeroyok lelaki Muslim tadi. Akibat pertarungan yang tak seimbang, akhirnya lelaki Muslim itu menjumpai kesyahidan di tangan gerombolan preman Yahudi.
Insiden itu menimbulkan dendam diantara kedua belah pihak, sehingga masing-masing merasa perlu menuntut balas melalui konfrontasi fisik terbuka.
B. Kekuatan Dari Kedua Belah Pihak.
- Kaum Muslimin.
Kekuatan yang dikerahkan meliputi seluruh Kaum Muslimin yang berada di Madinah dengan dipimpin langsung oleh Rasulullah.
- Yahudi.
Seluruh Bani Qainuqa yang tinggal di dalam Kota Madinah.
C. Tujuan Operasi Militer.
Mengembalikan ketertiban di Madinah yang merupakan basis kekuatan Kaum Muslimin, sekaligus mengamankan situasi kota dengan menumpas upaya makar Bani Qainuqa.
D. Jalannya Operasi Militer.
Rasulullah meminta kepada Bani Qainuqa agar menghentikan sikap permusuhan terhadap Kaum Muslimin dan menjaga kesepakatan damai yang telah ditandatangani. Hal itu juga demi menjaga kehormatan Bani Qainuqa sendiri, dimana dengan begitu mereka tidak akan diperlakukan seperti Kaum Quraisy.
Akan tetapi seruan Rasulullah justru ditanggapi dengan kesombongan oleh Yahudi Bani Qainuqa.
DENGAN KEKUATAN 3 KOMPI MAMPU MENGALAHKAN MUSUH YANG BERKEKUATAN 1 BATALYON.
BAB IV: SEJARAH PERANG BADAR KUBRO.
A. Situasi Umum.
1. Kaum Muslimin:
Kekuatan Kaum Muslimin di Madinah kian hari semakin bertambah, namun kondisi perekonomian mereka tidak menggembirakan. Hal ini dikarenakan mayoritas mereka yang berhijrah dari Mekkah ke Madinah hanya membawa Aqidah dan bekal yang sangat minim, sementara harta mereka terpaksa ditinggalkan di Mekkah demi menyelamatkan nyawa dan Aqidah mereka.
Dimana harta benda milik Kaum Muslimin yang ditinggal di Mekkah secara sepihak dikuasai oleh Kaum Quraisy.
Untuk kebutuhan sehari-hari mengandalkan harta milik kaum Anshar yang jumlahnya juga tidak seberapa.
Ditambah lagi sikap permusuhan yang terus menerus dilancarkan oleh Kaum Quraisy, mengakibatkan penderitaan yang semakin parah oleh Kaum Muslimin.
Itulah sebabnya Rasulullah berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan diplomasi kepada pimpinan Kaum Quraisy agar mereka tak lagi memusuhi Ummat Muslim lalu membiarkan Ummat Muslim untuk mengambil harta benda miliknya kembali.
Namun upaya persuasif Rasulullah tak mendapatkan tanggapan yang positif dari Kaum Musyrikin Quraisy, justru penindasan terhadap Kaum Muslimin semakin digencarkan.
Rasulullah kemudian berulang kali memberikan peringatan kepada Kaum Quraisy agar menghentikan sikap permusuhan terhadap Kaum Muslimin dengan melakukan operasi militer skala kecil, tetapi peringatan tersebut tak diindahkan oleh Kaum Quraisy (Baca BAB III).
Menghadapi sikap sombong dan arogansi Kaum Quraisy, maka Rasulullah memutuskan untuk menempuh langkah terakhir dengan melancarkan operasi militer skala besar.
2. Kaum Musyrikin dan Yahudi.
Dalam operasi militer skala kecil fase terakhir yang dilancarkan oleh Kaum Muslimin, tepatnya dalam Sariyah Abdullah bin Jahsy, telah menewaskan tokoh Quraisy yang bernama Umar bin Hadrami. (Kisah lengkapnya baca BAB III)
Hal itu membuat kaum Quraisy menjadi berang dan hendak menuntut balas atas kematian Abdullah bin Jahsy, selain itu Kaum Quraisy juga ingin menghancurkan kekuatan Kaum Muslimin secara keseluruhan sehingga jalur perniagaan mereka antara Mekkah dan Syam kembali aman.
Untuk bisa merealisasikan rencana mereka maka Kaum Quraisy menjalin kontak dengan Kaum Yahudi di Madinah, dimana kedua kelompok ini sama-sama ingin menghancurkan Ummat Muslim. Bedanya Kaum Quraisy secara terang-terangan menyatakan permusuhan terhadap Kaum Muslimin, sementara Kaum Yahudi di Madinah berpura-pura menerima Kaum Muslimin sementara dibalik itu semua Kaum Yahudi justru kerap menyebarkan fitnah, provokasi serta gerakan politik hingga gencar mengirimkan informasi mengenai kekuatan Kaum Muslimin kepada orang-orang Quraisy.
Dari kaum Yahudi inilah kaum Quraisy mendapatkan berbagai informasi tentang Kaum Muslimin, sehingga beberapa operasi militer skala kecil yang dilancarkan oleh Rasulullah kerap menghadapi kendala.
B. KEKUATAN DARI KEDUA BELAH PIHAK.
1. Kaum Muslimin.
Kekuatan Kaum Muslimin antara 305-313 orang personil campuran, terdiri dari Kaum Muhajirin dan Anshar.
Pucuk komando tertinggi langsung dipegang oleh Rasulullah, mereka dilengkapi dengan 2 ekor kuda dan 70 ekor unta.
2. Kaum Musyrikin.
Berkekuatan antara 900-1000 orang personil campuran yang dilengkapi dengan 600 baju besi, 200-300 ekor kuda dan sekitar 700 ekor unta.
Dalam Perang Badar Kubro ini pasukan Kaum Quraisy terbagi atas beberapa suku, masing-masing memiliki panglima sendiri, s moehingga tidak terjalin kesatuan komando antar suku.
Tiap-tiap suku punya tujuan yang berbeda, sehingga tak tercapai kesatuan visi meskipun mereka berada dalam misi yang sama.
C. Tujuan Dari Kedua Belah Pihak.
1. Kaum Muslimin:
- Memberikan konsekuensi serius terhadap Kaum Quraisy yang enggan menghentikan sikap permusuhan terhadap Kaum Muslimin dengan cara mencegat kafilah dagang Abu Sufyan dan menyita seluruh barang bawaannya sebagai ganti atas harta Kaum Muslimin yang dirampas oleh kaum Quraisy di Mekkah.
LEADERSHIP RASULULLAH DALAM BIDANG KEMILITERAN.
BAB III.
8 OPERASI MILITER PERTAMA RASULULLAH.
Masih banyak diantara ummat muslim yang menganggap bahwa operasi militer yang dilancarkan oleh Rasulullah adalah Perang Badar, sesungguhnya kekeliruan tersebut sangat wajar terjadi mengingat masih minimnya literatur yang mengungkapkan fakta sejarah secara utuh. Oleh sebab itu disini Mimin akan uraikan secara lengkap mengenai 8 (delapan) misi operasi militer yang dilancarkan oleh Rasulullah sebelum pecahnya Perang Badar Kubro.
Sebelum masuk pada pembahasan jalannya operasi militer, Mimin akan menjelaskan terlebih dahulu situasi umum yang mendasari terbitnya perintah dari Rasulullah kepada kaum muslimin untuk melancarkan operasi militer.
A. Situasi Umum.
1. Kaum Muslimin.
Kaum Muslimin menetap di Madinah, Rasulullah menciptakan situasi persaudaraan antara kaum Anshar dan Muhajirin. Seluruh kepentingan pribadi dan golongan dikesampingkan, sehingga seluruh pihak memprioritaskan kepentingan dakwah Islam. Ummat muslim membuang jauh-jauh perbedaan yang berdasarkan pada suku, ras, juga tempat daerah asal mereka masing-masing. Sehingga ummat muslim kala itu dalam kondisi kompak bersatu dengan satu tujuan bersama, yakni melindungi kemerdekaan dakwah Islam.
2. Kaum Musyrikin dan Yahudi.
Orang Arab di Madinah tak seluruhnya mau memeluk Islam, mereka tinggal di perkampungan yang terpisah dengan pemukiman penduduk Muslim. Sebagai tetangga kampung, kaum musyrikin melakukan berbagai gerakan politik dan mencari peluang yang baik untuk bisa menjatuhkan kaum muslimin.
Kaum Musyrikin di Madinah secara diam-diam terus mengirim informasi kepada kaum Musyrikin Mekkah, kerjasama ini terus mereka lakukan dengan tujuan menghancurkan kekuatan Kaum Muslimin ditempat baru mereka.
Seperti yang kita ketahui, bahwa hijrahnya Kaum Muslimin ke Madinah disebabkan oleh penindasan yang dilakukan oleh Kaum Quraisy. Penindasan yang dilakukan oleh Kaum Musyrikin itu ditujukan untuk memurtadkan Ummat Muslim. Namun upaya keji itu gagal total, Kaum Muslimin lebih memilih untuk hijrah/pindah ke Madinah, sehingga Kaum Musyrikin tak dapat mencapai tujuannya.
Rupanya hijrahnya Kaum Muslimin beserta Rasulullah tak juga membuat Kafir Quraisy puas, mereka terus saja mengganggu dan berupaya untuk menghancurkan Kaum Muslimin.
Upaya tersebut dilakukan dengan cara menjalin kerjasama dengan kaum Musyrikin dan Munafik di Madinah.
Demikian juga Kaum Yahudi di Madinah, sejak kehadiran Rasulullah di kota tersebut Kaum Yahudi bersedia untuk menjalin kesepakatan damai dan meratifikasi perjanjian untuk saling menghormati. Namun hal tersebut tidak berlangsung lama, melihat semakin hari kekuatan Kaum Muslimin terus mengalami peningkatan pesat, hal itu membuat mereka iri. Karena semakin nyata bukti 'Kenabian' yang mereka lihat pada diri Rasulullah, dan itu membuat mereka kecewa karena selama ini mereka berharap agar Nabi terakhir yang dijanjikan oleh Allah akan berasal dari keturunan Yahudi, namun ternyata Allah justru mengutus Nabi dari kalangan Bangsa Arab.
Dan seperti kebiasaan buruk Kaum Yahudi, dimana mereka akan berusaha mengingkari 'Kenabian' yang dianggap tidak sesuai dengan keinginan mereka, maka terhadap Rasulullah pun mereka ingkar dan berencana melakukan makar.
3. Kesimpulan.
Melihat situasi tersebut, Rasulullah merasa perlu untuk langkah preventif guna mengamankan eksistensi Kaum Muslimin dan dakwah Islam.
Langkah yang diambil adalah dengan melakukan operasi militer dengan terlebih dahulu melemahkan posisi musuh melalui embargo ekonomi.
Rasulullah memutuskan untuk mengganggu jalur perniagaan Kaum Kafir Quraisy di sekitar Madinah, dengan begitu Rasulullah berharap kaum Quraisy akan berhenti melakukan permusuhan terhadap Kaum Muslimin.
Mengapa Rasulullah menargetkan kafilah/rombongan dagang kaum Quraisy.? Karena Rasulullah tau persis bahwa kecintaan kaum Quraisy terhadap harta benda begitu besar melebihi apapun.
Lanjut ke jalannya operasi militer. 👇
LEADERSHIP RASULULLAH DALAM BIDANG KEMILITERAN.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Apa kabar Pejantan Lovers..??
Sebelumnya Mimin beserta seluruh tim redaksi memohon maaf karena sempat off beberapa waktu disebabkan kesibukan aktivitas, disamping itu tim redaksi juga sedang mengumpulkan berbagai literatur untuk menerbitkan edisi artikel baru untuk disajikan kepada Pejantan Lovers.
Berdasarkan berbagai pertimbangan serta masukan dari berbagai pihak, Mimin beserta tim redaksi memutuskan untuk menerbitkan artikel yang membahas mengenai 'Leadership Rasulullah Dalam Bidang Kemiliteran'.
Bukan tanpa alasan Mimin mengambil langkah ini, mengingat sebentar lagi kita akan memasuki bulan suci Ramadhan dan di saat ini lebih banyak generasi muda ummat muslim yang lebih tertarik untuk membaca artikel sejarah mengenai tokoh-tokoh militer eropa sehingga banyak yang lupa bahwa kita memiliki figur pemimpin dalam bidang kemiliteran yang terbaik sepanjang sejarah manusia, figur mulia tersebut adalah Rasulullah shalallahu alayhi wasallam.
Dalam artikel yang akan Mimin hadirkan kedepannya, akan memuat secara menyeluruh berbagai operasi militer yang dilancarkan oleh Rasulullah beserta para sahabat dan umatnya. Tak hanya dalam bentuk narasi, namun juga detail lain termasuk peristiwa yang melatarbelakangi dilancarkannya operasi militer tersebut lengkap dengan jumlah kekuatan, jalannya pertempuran, dampak yang ditimbulkannya hingga kesimpulan atau pelajaran penting yang dapat dipetik dari tiap-tiap operasi militer yang dilancarkan.
Namun penting rasanya Mimin sampaikan di awal, meskipun kita semua menyadari bahwa figur Rasulullah merupakan panglima perang yang bersifat makshum dimana beliau terlindungi dari berbagai sifat buruk serta mendapatkan bimbingan langsung dari Allah dalam melaksanakan tugasnya sebagai pemimpin ummat, tentunya tak dapat dilepaskan faktor mengenai skill kemiliteran yang sangat baik sejatinya juga melekat pada diri Rasulullah.
Oleh sebab itu Mimin akan lebih mengedepankan penyajian artikel berdasarkan sudut pandang kemiliteran ketimbang aspek 'kemukjizatan', karena selama ini banyak generasi muda yang melihat sejarah kesuksesan operasi militer yang dipimpin oleh Rasulullah didasarkan pada faktor 'kemukjizatan' bahkan juga 'keajaiban', walaupun faktanya dalam operasi militer tentunya tak lepas dari faktor penentuan strategi dan siasat. Dan dalam disiplin ilmu kemiliteran tentunya strategi yang tepat hanya terlahir dari kepemimpinan yang memiliki kecakapan atau keahlian militer yang hebat dan tangguh.
Beberapa pertanyaan yang mendasari kesimpulan mengenai skill kemiliteran tingkat tinggi dalam diri Rasulullah antara lain:
- Mengapa setiap Rasulullah akan mengadakan operasi militer beliau selalu menyembunyikan rapat-rapat rencana dan strateginya..?
- Mengapa beliau selalu mengumpulkan informasi mengenai lawan-lawannya..?
- Mengapa Rasulullah melontarkan semboyan bahwa "Perang adalah tipu daya"..?
- Mengapa Rasulullah dalam Perang Badar tanpa ragu mengambil keputusan untuk menghadapi lawan yang memiliki kekuatan jauh lebih besar..?
- Apakah yang terjadi jika dalam Perang Khandaq beliau bersikap lemah dan ragu-ragu dalam menghadapi pengepungan pasukan koalisi sekaligus pengkhianatan dari kaum Yahudi Madinah. ?
- Apakah yang terjadi jika Rasulullah beserta 10 Ahlul Bayt beliau tidak teguh berdiri menghadapi gempuran kaum kafir pada pertempuran Hunain..?
Tentunya masih banyak pertanyaan yang muncul sehingga dapat menghadirkan kesimpulan bagi kita semua bahwa figur Rasulullah yang tangguh merupakan faktor yang tak dapat dipungkiri dalam kesuksesan beliau ketika memimpin operasi militer. Itulah sebabnya Mimin beserta tim redaksi memutuskan akan menerbitkan artikel berseri mengenai kepemimpinan Rasulullah dalam bidang kemiliteran.
Serial artikel tersebut akan Mimin ulas mulai dari beberapa fase diantaranya:
1. Fase Konsolidasi.
2. Fase Mempertahankan Aqidah.
3. Fase Defensif Aktif
4. Fase Stabilisasi.
LANGKAH PKI MENUJU G30S/PKI.
Perseteruan antara PKI dengan TNI-AD seakan tak pernah ada habisnya di era kepemimpinan Bung Karno, perbedaan pendapat diantara kedua kubu terus terjadi dalam berbagai proses pembahasan rencana kebijakan pemerintah.
PKI yang bercita-cita mengkomuniskan Indonesia, secara berkesinambungan menyusupkan agenda-agenda politiknya ke dalam berbagai regulasi maupun rancangan kerja pemerintah.
Semakin mendapatkan angin segar ketika Dewan Konstituante gagal merumuskan konstitusi pengganti Undang-undang Dasar Sementara (UUDS), dimana untuk mengatasi kebuntuan tersebut kemudian Bung Karno menerbitkan Dekrit pada tanggal 5 Juli 1959 yang menyatakan kembali pada UUD'45. Sebagai tindak lanjut atas Dekrit tersebut, Bung Karno lalu menuangkan gagasan dalam pidatonya tanggal 17 Agustus 1959 yang berjudul 'Penemuan Kembali Revolusi Kita'.
Bung Karno lantas meminta Panitia Kerja Dewan Pertimbangan Agung (DPA) supaya merumuskan pidatonya untuk dijadikan Garis Besar Haluan Negara (GBHN), dimana Panja DPA itu dipimpin oleh DN Aidit.
Hal ini dimanfaatkan oleh Aidit untuk menyusupkan agenda-agenda politiknya ke dalam GBHN, yang belakangan dikenal sebagai Manifesto Politik (Manipol). Berdasarkan kedudukannya, Aidit berusaha menyisipkan tesis PKI yakni 'Masyarakat Indonesia dan Revolusi Indonesia (MIRI)' yang disusun tahun 1957, meskipun mendapatkan hambatan keras di DPA namun akhirnya Manipol itu disetujui oleh Bung Karno.
Tahun 1960, PKI menjajal kekuatannya dengan cara menuduh TNI-AD tak bersungguh-sungguh dalam operasi penumpasan pemberontakan PRRI/Permesta. Bersamaan dengan tudingan itu PKI menggerakkan massanya dengan melakukan aksi kerusuhan di daerah-daerah, diantaranya Sumsel, Kalsel dan Sulsel.
Tindakan PKI yang menyebabkan ketidakstabilan situasi, membuat TNI-AD selaku Penguasa Perang Daerah (Peperda) menindak tegas kegiatan PKI dan membekukan aktivitas PKI di wilayah tersebut.
Selain itu, koran-koran yang berafiliasi dengan PKI dihentikan penerbitannya. Selanjutnya TNI-AD menyarankan kepada Bung Karno agar tidak mempercayai loyalitas PKI. Namun hal tersebut diabaikan oleh Bung Karno, dan sebaliknya Bung Karno meminta agar TNI-AD tidak fobia terhadap PKI.
Sikap Bung Karno ini tentunya mengabaikan fakta bahwa PKI berulang kali melakukan upaya kudeta terhadap pemerintahannya, sementara TNI-AD yang selalu berada di garis depan dalam menggagalkan setiap upaya kudeta maupun gerakan makar serta disintegrasi bangsa.
Melihat kebijakan Bung Karno yang terus memanjakan PKI, membuat Aidit semakin leluasa melancarkan berbagai tindakan yang konfrontatif terhadap lawan politiknya.
Agitasi dan propaganda digencarkan di berbagai lini pemerintahan dengan membonceng program nasakomisasi, PKI lebih memprioritaskan doktrinasi komunis ketimbang Nasionalisme dan Agama.
Dengan mengobarkan semangat pertentangan antara kaum 'proletar' dengan orang-orang yang dituding sebagai kelompok 'borjuasi', Aidit menjalankan rencana 'pemanasan situasi jelang revolusi'.
Maraknya konflik horizontal yang terjadi di tengah masyarakat akibat hasutan dari anasir-anasir komunis, sekaligus menumbuhkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Karena lemahnya sikap Bung Karno terhadap aksi-aksi sepihak kaum komunis menyebabkan ketidakstabilan situasi, kecuali itu juga menandakan ketidakpastian hukum.
Ketika aparat menindak tegas anggota PKI yang melakukan kriminalitas, maka secara spontanitas PKI mengerahkan massa untuk menekan aparat hingga membebaskan anggotanya yang ditahan.
Premanisme anggota PKI terjadi di berbagai daerah dan sifatnya terstruktur, sistematis dan masif. Melihat fakta aksi-aksi sepihak kadernya tak mampu dipatahkan oleh aparat, membuat Aidit dan tokoh-tokoh PKI lainnya semakin optimis untuk segera melakukan kudeta G30S/PKI.
Persiapan akhir PKI yakni mengobarkan semangat kadernya dengan menyebarkan propaganda tentang kegentingan situasi nasional yang menandakan negara hampir tiba di situasi puncak revolusi.
@PecintaSejarah2 Menghadapi skenario perang jangka panjang, apabila perang kali ini menyeret beberapa negara Sekutu AS / NATO ke kancah pertempuran, maka diperlukan persiapan yang matang.
Jangan sampai mengulangi kesalahan Mesir-Suriah-Yordania pada Perang Enam Hari.
Tim Hukum AMIN @aniesbaswedan@cakimiNOW sudah memiliki data dan bukti lengkap untuk menggugat berbagai kecurangan Pemilu ke MK! Dengan dibantu 1000 pengacara Insya Allah sangat siap!☝🏻
#aminajadulu
Bersyukur bisa kembali ke Ranah Minang.
Kami datang untuk menyampaikan rasa terima kasih atas kepercayaan masyarakat Minang, baik yang berada di Sumbar maupun di luar, yang berada di dalam barisan perubahan. Dan sekaligus juga kami menjenguk korban bencana banjir beberapa waktu lalu.
DPP PKB besok sore menyelenggarakan Kajian Kitab At-Tibyan Karya Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari bersama Narasumber Gus Salam.
🕠 16.30 WIB
📍 Kantor DPP PKB
juga bisa disaksikan melalui
Youtube DPP PKB
Space X DPP PKB
#1PKB#Ramadhan1445H
Alhamdulillah, baru kali ini PKB punya DPRD di Kota Solo dan Kota Yogyakarta.
Terimakasih atas kepercayaan masyarakat Yogya dan Solo.
Insyaalloh PKB amanah
Saat bencana melanda, tak ada bansos yg dikucurkan.
Membuat publik menilai bahwa bansos hanya alat politik rezim yg digelontorkan saat menjelang pencoblosan. 😌
Innalilllahi wa inna ilaihi raji'un, kami menyampaikan duka yang mendalam bagi seluruh keluarga korban bencana banjir dan longsor di Sumatera Barat. Doa kami bagi semua yang terdampak agar diberikan kekuatan, ketabahan dan kesabaran dalam menghadapi ujian yang amat berat ini.
Hormat dan apresiasi setinggi-tingginya bagi petugas dan relawan yang hadir di garis depan untuk menyelamatkan saudara sebangsa dan meringankan beban mereka.
Kami mengajak kepada kepada semua, mari kita bergandengan tangan memberikan dukungan, baik itu tenaga, materi maupun doa untuk membantu saudara-saudara kita di Sumbar. Mari tunjukkan solidaritas kita sebagai bangsa.