Salah satunya di ajang Para Archery European Cup Nove Mesto nad Metuji (CZE) yang akan digelar di bulan Juli 2021 bersamaan dengan Paralympic Final Quota Tournament.
Berdasarkan perolehan prestasinya di Continental Qualification Tournament dan Asian Para Archery Championship 2019 Thailand, maka di tahun 2021 mendatang Fitriansyah memperoleh kesempatan untuk kembali berburu tiket Paralympic.
Dengan ketersediaan alat yang memenuhi persyaratan pertandingan dan kesempatan untuk bertarung di ajang kejuaraaan internasional, Fitriansyah terima sebagai peluang yang tidak akan ia sia-siakan.
Dari pencapaian tersebut, Fitriansyah memantapkan diri untuk tampil dan bertarung di Kejurnas NPC Indonesia 2018, dan berhasil lolos seleknas, bergabung dalam keluarga besar Pelatnas Para Panahan NPC Indonesia.
Meski harus menahan sakit dan lecet di bekas operasi amputee kaki kanannya karena beban latihan yang berat, di kejuaraan terbuka ini ia berhasil meraih medali perak.
Fitriansyah lahir di Lamandau Kalimantan Tengah pada 15 Desember 1988. Di tahun 2018, Fitriansyah sama sekali belum memiliki alat memanah. Untuk mengikuti kejuaraan Pakualam Archery Open Championship Yogyakarta 2018, Fitriansyah berlatih dengan anak panah dan busur bekas pakai.
Meraih prestasi dan menjadi atlet yang layak diperhitungkan kemampuannya di ajang Continental Qualification Tournament dan Asian Para Archery Championship 2019 Thailand bukanlah sebuah proses yang mudah.
Satu tiket Paralympic Tokyo sudah ada di tangan. Semangat berjuang Widi sampai dengan tetes darah penghabisan, tunjukkan kejayaan Merah Putih di ajang Paralympic Tokyo!
Kemampuan dan prestasi Widi semakin tajam. Mengukuhkan supremasinya dengan pencapaian prestasi di 4 multi event Asia Tenggara (APG Indonesia 2011, APG Myanmar 2013, APG Singapore 2015, dan APG Malaysia 2017). Widi selalu berhasil meraih medali emas dan menjadi pemecah rekor!
Sejak itu, dukungan terus mengalir. Perhatian dan support dari Pemerintah melalui Pelatnas NPC Indonesia yang semakin besar memberi banyak kemudahan bagi pengembangan karir dan prestasi Para Angkat Berat Widi.
Dan Widi berhasil pulang dari Dubai dengan perolehan 1 medali perunggu kejuaraan dunia, dalam sambutan hangat dan gempita orang-orang yang telah memberi kepercayaan dan kasihnya pada Widi.
Belum banyak yang mengenal Widi dan prestasinya. Dalam kondisi pembiayaan yang terbatas, Widi harus mencari sponsor. Beruntunglah, tiga minggu sebelum pendaftaran ditutup, Widi berhasil mendapatkan sponsor yang mau membiayai.
Perjuangan Widi menuju pertandingan terbesar dunia pertamanya di Paralympic London 2012 tidaklah mudah. Kala itu Widi harus mengikuti World Championship di Dubai.
Ni Nengah Widiasih, lahir di Karangasem Bali pada 12 Desember 1992. Sejak pencapaian di Kejurnas 2006 tersebut, Widi memenuhi panggilan Pelatnas NPC Indonesia untuk memperkuat tim Para Angkat Berat Indonesia di kota Solo.
Tercatat dalam sejarah, kisah seorang anak kelas 6 SD di tahun 2006 yang berlatih dalam waktu singkat dengan alat pendukung seadanya dan berhasil meraih medali emas di Kejurnas mengalahkan senior-seniornya.