Cuma mau ngomong, terimakasih kepada Rosianna Silalahi, Dirut Kompas TV yang mau MENYIARKAN LIVE aksi mahasiswa di Jakarta hari ini.
Butuh keberanian besar untuk melakukan keputusan sebesar itu ditengah REPRESIFNYA rezim totalitarian hari ini.
We love you kak Rosi, we love Kompas TV.
GUYS, TGL 29 MEI KEMARIN
TERNYATA TERJADI SESUATU DILUAR NALAR KEPALA,
BURSA SAHAM DIJUAL ASING HAMPIR 8.5 TRILIUN RUPIAH HANYA DALAM SATU HARI !!!
TERBESAR SEPANJANG SEJARAH INDONESIA !!
DAN KALO DILIHAT LIST DIBAWAH,
6 PENJUALAN ASING TERBESAR TERJADI DI ERA PRABOWO !!!
ADA APA SEBENARNYA?
ISU MARKET INDONESIA AKAN DI DOWNGRADE IS REAL?
SOMETHING TERRIBLE AHEAD !!!
RANGKING PENJUALAN ASING TERBESAR SEPANJANG SEJARAH DI IHSG.
No. 1 — 29 Mei 2026
Net sell: Rp 8,52 triliun (all market) / Rp 8,36 triliun (pasar reguler)
Pemicu: MSCI rebalancing + rupiah mendekati Rp 17.900 + sentimen negatif kebijakan PT DSI + ketidakpastian ekonomi domestik. IHSG ditutup di 6.127. Ini rekor net sell harian tertinggi dalam data publik modern BEI.
No. 2 — 28 Januari 2026
Net sell: Rp 6,17 triliun
Pemicu: MSCI mengancam pangkas bobot Indonesia akibat isu free float. IHSG anjlok 7,35% ke 8.320, trading halt diaktifkan. IHSG sempat ambruk lebih dari 8% intraday. Nilai transaksi harian melonjak ke Rp 45,5 triliun karena volume jual yang masif.
No. 3 — 18 Maret 2025
Net sell: Rp 2,57 triliun (pasar reguler) / Rp 2,49 triliun (all market)
Pemicu: Kombinasi kontroversi pembentukan Danantara, rupiah melemah tajam, efisiensi anggaran masif, dan tekanan global. IHSG anjlok 6,12%, trading halt diaktifkan. BBCA seorang diri dibuang Rp 1,53 triliun, BMRI Rp 642 miliar, BBRI Rp 361 miliar hanya dalam satu hari.
No. 4 — 27 April 2026
Net sell: Rp 2,04 triliun
Pemicu: IHSG berbalik arah mendadak di tengah penguatan, asing memanfaatkan reli untuk distribusi. BBCA dibuang Rp 897,5 miliar, BMRI Rp 679 miliar dalam satu hari.
No. 5 — 26 Mei 2026
Net sell: Rp 1,88 triliun
Pemicu: Tekanan jual sektor perbankan dan konglomerasi. TPIA dibuang Rp 386 miliar, BBCA Rp 359 miliar, BBRI Rp 264 miliar. Akumulasi net sell YTD saat itu sudah Rp 56,46 triliun.
No. 6 — 22 Mei 2026
Net sell: Rp 1,06 triliun
Pemicu: Meski IHSG naik 1,10%, asing tetap jual. IHSG sempat menyentuh level terendah 5.966 intraday sebelum rebound ke 6.162.
No. 7 — Berbagai hari di Maret 2020 (rata-rata harian)
Net sell: estimasi Rp 500 miliar - Rp 2 triliun per hari
Pemicu: COVID-19 pandemi global. BEI memberlakukan 6 kali trading halt sepanjang Maret 2020 saja. Data harian spesifik era ini sulit diverifikasi secara publik karena pencatatan berbeda, tapi akumulasi bulanannya sangat masif.
No. 8 — Oktober 2008
Net sell: tidak terukur (BEI tutup total 3 hari)
Pemicu: Krisis subprime mortgage, Lehman Brothers bangkrut. BEI terpaksa menutup perdagangan penuh 3 hari mulai 8 Oktober 2008, satu-satunya kasus dalam sejarah bursa Indonesia
CATATAN PENTING:
Data net foreign sell harian sebelum 2020 tidak terdokumentasi secara publik dengan angka yang bisa diverifikasi.
BEI tidak mempublikasikan ranking historis resmi. Angka-angka di atas diambil dari laporan media keuangan terpercaya (Kontan, CNBC Indonesia, Bloomberg Technoz, Kabarbursa) dan bisa berubah jika ada data yang lebih akurat.
Yang jelas: 29 Mei 2026 dengan Rp 8,52 triliun adalah rekor net foreign sell harian tertinggi yang pernah terdokumentasi secara publik dalam sejarah IHSG modern.
jadi ceritanya hari ini para pejabat bank indonesia
di panggil komisi XI DPR karna rupiah tiap hari
makin melemah terhadap dollar
semua pejabat BI hadir termasuk keponakan prabowo
yang jawaban dari Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo rupiah kita stabil kok
Perry membela diri dengan argumen teknis.
Dia bilang mandat BI bukan menjaga level nilai tukar tapi menjaga stabilitas nilai tukar.
Dan stabilitas yang dimaksud adalah volatilitas seberapa besar naik turunnya rupiah dalam 20 hari terakhir.
Angkanya: 5,4%.
Dan menurut Perry 5,4% itu masih relatif stabil.
Lalu Dolfie dari PDIP interupsi dengan pertanyaan yang sangat mendasar:
"Menetapkan bahwa dalam rentang 5,4% itu dianggap stabil apa landasannya?
Kenapa enggak 1%?
Kenapa enggak 2%?
Kenapa harus 5,4% dianggap volatilitas yang stabil?"
jadi yang dilakukan BI ternyata simpelnya begini
ada ujian sekolah nih
untuk lulus ujian tersbut harus dapat nilai kkm = 80
tapi waktu ujian dia dapat nilai 50
bukannya memperbaiki nilai untuk bisa lulu
tapi dia malah mengubah aturan nilai kkmnya
jadi nilai kkm 50 bisa lulus
Ini bukan soal teknis statistik.
Ini soal kejujuran kepada publik:
Perhatikan apa yang Perry lakukan dengan sangat cerdas dan sangat berbahaya.
Rupiah sekarang ada di Rp17.600.
Asumsi APBN 2026 adalah Rp16.500 dengan kisaran bawah Rp16.200 dan kisaran atas Rp16.800.
Artinya rupiah sekarang sudah di luar kisaran atas APBN.
Sudah Rp800 lebih lemah dari asumsi atas.
Tapi Perry bilang stabil.
Caranya: ganti definisi.
Bukan lagi soal level tapi soal volatilitas.
Bukan soal di mana rupiahnya sekarang tapi soal seberapa besar naik turunnya dalam 20 hari.
Dengan definisi itu kamu bisa bilang rupiah stabil meskipun nilainya sudah jauh di luar target APBN.
Karena yang diukur bukan apakah rupiahnya kuat atau lemah tapi apakah naik turunnya konsisten atau tidak.
Ini seperti dokter yang bilang pasiennya stabil karena suhu badannya tidak naik turun drastis.
Padahal suhu badannya sudah 40 derajat dan terus di sana.
Stabil dalam kondisi sakit parah bukan berarti sehat.
presiden bilang: "Mau dolar berapa ribu kek."
Gubernur BI bilang stabil. Caranya: ukur volatilitasnya bukan levelnya. Ukur seberapa besar naik turunnya bukan di mana posisinya.
presiden,pejabat plenger semua asliii
Ingat kasus Leony Vitria Hartanti (eks Trio Kwek Kwek)? Ayahnya meninggal 2021. Rumah sudah lunas dari dulu. PBB dibayar rajin tiap tahun. Pas Leony mau balik nama sertifikat, dia kena tagihan PULUHAN JUTA.
Reaksi Leony sama seperti semua org: "Kan bukan jual beli? Ini kan WARISAN?"
Ternyata ada prosedur yang bisa bikin biaya balik namanya jadi 0 rupiah. Tapi banyak yang gak tau. Simak screenshot cara2nya dari akun thread @nafkahnation.dx
Guys, ini gilaa sihh
Suster Natalia.
Perempuan yang tidak menikah.
Tidak punya harta pribadi.
Mengabdikan seluruh hidupnya untuk gereja dan umatnya di Labuhanbatu, Sumatera Utara.
Dan sekarang dia harus menanggung beban Rp28 miliar yang raib bukan uangnya sendiri
tapi uang 1.900 jiwa umat yang dia jaga amanahnya.
bahkan dia bilang
ke teman dia yang suster juga
dia akan masuk penjara.
dia cerita
Setiap kali ketemu umat yang sederhana itu,
saya selalu katakan:
mari, masa depan anak-anakmu melalui menabung.
Tapi sekarang masa depan mereka itu hancur di tangan saya.
Kronologi yang perlu semua orang pahami:
Credit Union Paroki Aek Nabara koperasi simpan pinjam di bawah naungan gereja sudah berjalan 45 tahun tanpa masalah.
Umat menabung perak demi perak.
Untuk sekolah anak.
Untuk biaya sakit.
Untuk masa depan.
Total yang terkumpul dan ditempatkan di deposito: Rp28 miliar lebih dari 1.900 anggota.
Di 2019 Andi Hakim Febriansyah
Kepala Kas BNI Unit Aek Nabara
mendatangi pengurus CU.
Menawarkan produk bernama BNI Deposito Investment
dengan bunga 8% per tahun.
Lebih tinggi dari deposito biasa.
Pengurus percaya.
Karena siapa yang tidak percaya kepada kepala kas bank negara yang datang dengan seragam resmi, ID card BNI, dan pick-up service resmi yang sudah berjalan sejak 2015?
Tujuh tahun berjalan.
Bunga masuk rutin setiap bulan.
Tidak ada masalah.
Sampai Desember 2025 dan semuanya mulai runtuh:
CU mengajukan pencairan Rp10 miliar untuk pinjaman ke anggota.
Bertahap minta Rp2 miliar dulu.
Januari 2026 tidak cair.
Februari 2026 tidak cair.
5 Februari Suster Natalia panggil Andi.
Andi bilang besok.
Besok tidak cair.
Andi minta semua bilyet deposito untuk pembaruan. Suster menyerahkan semuanya karena percaya.
Sore hari Andi sudah di jalan ke Medan katanya cuti.
Lalu 23 Februari bukan Andi yang datang.
Tapi kepala kas baru.
Dengan kalimat yang mengubah segalanya:
Per hari ini saudara Andi Hakim Febriansyah bukan pegawai BNI lagi.
Dan produk yang ditawarkan itu bukan produk BNI.
Suster Natalia pingsan lima menit.
Yang lebih ngeri dari hilangnya uang itu:
Bilyet deposito yang dipegang Andi dibakar. Sengaja. Supaya tidak ada barang bukti.
Tapi Andi salah hitung.
Satu bilyet tersimpan di tangan pastor lain yang kebetulan tidak ada di tempat saat pengambilan.
Satu bilyet itu yang menjadi bukti bahwa semua ini nyata.
Andi sudah menyiapkan skenario dari jauh hari. Tanggal 23 Februari itu hari yang sama dia ambil semua bilyet dia sudah mengajukan pengunduran diri. Dan dua hari kemudian dia terbang ke luar negeri bersama istrinya lewat Bali ke Australia, lalu ke New Zealand.
Sambil cuti dia masih angkat telepon Suster Natalia. Masih bilang "aman, Suster."
Masih janjikan pencairan.
Setelah red notice diterbitkan oleh Interpol dan Australian Federal Police Andi kembali ke Indonesia 30 Maret 2026 dan ditangkap di Kualanamu.
Di dalam pemeriksaan dia mengakui semua perbuatannya.
Uangnya?
Dipakai untuk sport center, kafe, mini zoo, tanah, dan berbagai aset yang kini sedang dilacak dalam proses TPPU.
Dan sekarang masuk ke bagian yang paling mengkhawatirkan:
BNI melakukan verifikasi internal sendiri.
Tanpa transparansi.
Tanpa melibatkan korban dalam proses.
Hasilnya: BNI bersedia mengganti Rp7 miliar.
Dari Rp28 miliar lebih.
Dan pada 26 Maret 2026 tanpa persetujuan CU-PAN BNI mentransfer Rp7 miliar itu ke rekening korban secara sepihak.
Seolah dengan mentransfer itu kasus selesai.
Kuasa hukum CU-PAN dari Gani Djemat & Partners menolak keras.
Karena:
Berdasarkan prinsip Vicarious Liability perusahaan bertanggung jawab atas tindakan pegawai yang dilakukan dalam kapasitas jabatannya.
Andi beroperasi dengan ID card BNI, jabatan BNI, fasilitas pick-up service BNI, dan atas nama BNI selama tujuh tahun.
Ini bukan tindakan pribadi yang kebetulan dilakukan oleh orang yang bekerja di BNI. Ini tindakan yang bisa terjadi karena dia adalah BNI di mata korban.
POJK Nomor 22 Tahun 2023 Pasal 10 ayat 1 juga menegaskan: pelaku usaha jasa keuangan wajib bertanggung jawab atas kerugian konsumen akibat kesalahan pegawainya.
Tidak ada klausul kecuali kalau pegawainya nakal.
Dan respons BNI yang paling menyakitkan menurut korban:
Enam kali mediasi.
Satu kali aksi damai.
Sepanjang itu tidak satu pun pejabat BNI dari kantor cabang atau wilayah yang mengucapkan kata "maaf" atau kami prihatin kepada korban.
Yang datang dari pihak BNI hanya satu permintaan berulang: Berikan kami bukti pendukung.
Padahal semua data transaksi ada di sistem BNI sendiri.
Semua perpindahan uang dari kas lancar ke rekening Andi tercatat di rekening koran BNI.
Bukan di tangan korban.
Baru Wakil Menteri BUMN yang mengundang korban dan itulah pertama kalinya ada pejabat yang mengucapkan kata permohonan maaf dan rasa prihatin.
Satu hal yang tidak bisa diabaikan:
Suster Natalia sekarang punya utang pribadi ke beberapa orang.
Karena ada anggota CU yang butuh uang untuk berobat yang tidak bisa dia biarkan meninggal di rumah sakit sementara dana CU tidak bisa diakses.
Dia yang tidak punya harta pribadi meminjam uang untuk membayar tagihan rumah sakit umatnya.
"Saya tidak bisa biarkan umat meninggal di rumah sakit, Pak."
BNI adalah bank BUMN.
Bank milik negara.
Diawasi oleh OJK.
Dijamin kepercayaannya oleh nama negara Indonesia.
Dan di bawah namanya selama tujuh tahun seorang kepala kas menjalankan skema penipuan yang menyedot uang 1.900 jiwa umat gereja yang menabung perak demi perak untuk masa depan anak-anak mereka.
BNI tidak bisa menyebut ini hanya masalah oknum lalu cuci tangan dengan transfer Rp7 miliar yang tidak transparan prosesnya.
Karena korban bukan menyimpan uang kepada Andi Hakim.
Korban menyimpan uang kepada BNI.
Dan BNI harus mengembalikannya penuh tanpa pengecualian.
Kalau tidak ini bukan hanya kasus kriminal biasa.
Ini adalah konfirmasi bahwa di negeri ini orang miskin yang menabung untuk masa depan anaknya bisa kehilangan segalanya karena sistem yang seharusnya melindungi mereka justru membiarkan hal ini terjadi selama tujuh tahun.
Guys, ada pembicaraan antara Helmy Yahya dan Arcandra Tahar (Mantan Menteri ESDM).
Mereka nggak cuma bahas harga BBM,
tapi membongkar peta besar perebutan energi dunia.
Arcandra Tahar menjelaskan bahwa negara maju (terutama Amerika Serikat) punya tiga cara utama untuk mengamankan kebutuhan energinya:
-Strategi Militer (By Military): Digunakan oleh Jerman Nazi (menyerang Polandia demi batu bara) dan Jepang (menyerang Indonesia demi minyak karena diembargo Amerika).
Strategi Politik (By Politics): Ini yang paling sering dipakai sekarang. Caranya ada dua:
-Barter Keamanan: Amerika menjaga keamanan Arab Saudi, imbalannya Amerika mengelola minyaknya (lewat Aramco).
- Ganti Pemimpin (Regime Change): Menumbangkan pemimpin negara yang menasionalisasi minyak, seperti kasus di Iran (1953), Libya, Irak, hingga Venezuela.
Strategi Jalur Perdagangan: Menguasai titik-titik sempit dunia (Choke Points) seperti Terusan Panama, Terusan Suez, dan yang sedang panas sekarang: Selat Hormuz.
Mengapa Selat Hormuz Begitu Penting?
Selat Hormuz adalah "leher" distribusi minyak dunia. Jika Iran menutup selat ini, pasokan minyak global akan lumpuh karena tidak banyak jalur alternatif lain.
Ini adalah bentuk perlawanan negara yang kaya sumber daya tapi kalah secara militer, atau yang disebut sebagai "Weaponized Oil" (Minyak yang dipersenjatai).
Kenapa Amerika selalu dominan? Jawabannya adalah sistem Petro-Dollar.
- Dulu, Dollar di-backup oleh emas. Sejak 1971, Dollar di-backup oleh transaksi minyak.
- Negara-negara OPEC wajib menjual minyak dalam Dollar dan menyimpan uangnya di bank Amerika.
- Uang hasil minyak itu kemudian digunakan kembali untuk membeli senjata dari Amerika. Inilah alasan mengapa kawasan Timur Tengah sering dibuat tidak stabil (Destabilized) agar permintaan senjata tetap tinggi dan Dollar tetap kuat.
China menggunakan cara yang berbeda dari Amerika. Mereka tidak memakai militer atau politik jatuh-menjatuhkan, tapi menggunakan Teknokratik/Diplomatik:
- China membangun infrastruktur (jalan, jembatan) di negara seperti Iran.
- Bayarnya bukan pakai Dollar, tapi pakai minyak.
- Transaksi ini dilakukan lewat sistem mereka sendiri (CIPS), sehingga tidak bisa dilacak atau diblokir oleh sistem perbankan Barat (Swift). Ini perlahan melemahkan dominasi Dollar.
Arcandra menekankan pentingnya Energy Independent (Kemandirian Energi).
Artinya, kita harus pakai apa yang kita punya:
Batu Bara & CPO (Sawit): Indonesia punya banyak. Jangan langsung dimusuhi demi Energi Baru Terbarukan (EBT).
Geothermal: Indonesia juara di sini.
Hebatnya, Geothermal bisa hidup 24 jam stabil (Baseload), beda dengan matahari atau angin yang tergantung cuaca.