El jugador australiano de rugby Jai Arrow tuvo que retirarse tras ser diagnosticado con una enfermedad de la neurona motora, cuando estaba a solo dos partidos de alcanzar los 100 encuentros con su club, los South Sydney Rabbitohs.
Su equipo consiguió una autorización especial para que pudiera ser titular en los dos últimos partidos de la temporada regular y fuera sustituido apenas unos segundos después de comenzar. Incluso los equipos rivales apoyaron la iniciativa.
Y este fue el momento en el que alcanzó los 100 partidos.
Después de tantos años compartiendo vestuario con tus compañeros, salir al campo junto a ellos puede parecer algo normal. Solo podemos imaginar lo que significó para Jai volver a ponerse esa camiseta y pisar el césped una vez más junto a los suyos.
kata-kata ini sekarang?
1. Dulu bilang parsel, sekarang HAMPERS
2. Dulu bilang termos, sekarang TUMBLER
3. Dulu bilang bekas, sekarang PRELOVED
4. Dulu bilang ngamuk, sekarang TANTRUM
5. Dulu bilang loak, sekarang THRIFTING
6. Dulu bilang pagar ayu, sekarang BRIDESMAID
7. Dulu bilang ngerumpi, sekarang SHARING
8. Dulu bilang coklat pramuka, sekarang MAHOGANI
9. Dulu bilang sederhana, sekarang SLOW LIVING
10. Dulu serabutan, sekarang freelance
11. Dulu bilang utang, sekarang paylater
12. Dulu bilang gak punya duit, sekarang IN THIS ECONOMY
13. Dulu bilang kumpul kebow sekarang living together
14. Dulu bilang ikut-ikutan, sekarang FOMO
15. Dulu bilang pamer, sekarang FLEXING
16. Dulu bilang gaya-gayaan, sekarang AESTHETIC
17. Dulu bilang norak, sekarang TOO MUCH 😆
18. Dulu bilang pelit, sekarang FINANCIAL AWARENESS
19. Dulu bilang ngirit, sekarang MINIMALIST
20. Dulu bilang banyak alasan, sekarang BOUNDARIES 😂
21. Dulu bilang nganggur sekarang bilang gibran
22. Dulu bilang 19JT Lapangan Pekerjaan, Sekarang 19JT Pengangguran
Kalau ngomongin soal pemain sepak bola yang berhati emas, tapi punya kisah hidup tragis, nama Piermario Morosini akan saya taruh di urutan pertama.
Kisahnya dimulai saat dia berusia 15 tahun, ketika harus kehilangan ibunya untuk selamanya.
Dua tahun kemudian, di usia 17 tahun, ayahnya juga meninggal dunia.
Belum selesai dengan semua kehilangan itu, Morosini kembali harus kehilangan saudara laki-lakinya yang merupakan penyandang disabilitas.
Dengan hati yang dipenuhi kesedihan, Morosini pun harus memikul tanggung jawab besar. Dia harus menjadi tulang punggung keluarga, mencari nafkah sekaligus merawat saudara perempuannya yang juga merupakan penyandang disabilitas.
Sepak bola jadi salah satu jalan perjuangannya. Morosini terus berlatih sampe akhirnya menjadi pesepak bola profesional dan salah satu klub yang dia bela adalah AS Livorno.
Tapi, takdir ternyata masih menyimpan satu pukulan terakhir yang sangat kejam.
14 April 2012, saat Livorno menghadapi Pescara, Morosini tiba-tiba terjatuh di atas lapangan setelah mengalami serangan jantung (cardiac arrest).
Saat itu, usianya baru 25 tahun.
Mungkin dia bukan pemain terbesar dalam sejarah sepak bola (bahkan bukan pemain besar untuk Serie A), gak pernah menang Ballon d'Or, apalagi mengangkat trofi Liga Champions.
Tapi, yang kita semua tahu...Piermario Morosini adalah seorang pejuang.
Seseorang yang sudah merasakan begitu banyak kehilangan dan penderitaan, tetapi tetap memilih untuk bangkit dan mengejar mimpinya. 🥀
Morosini meninggalkan saudara perempuannya. Tapi, Antonio Di Natale kemudian mengambil tanggung jawab untuk merawatnya.
Madame Celeste Amarilla,
Vous êtes une femme méprisable et indigne de sa fonction.
Vous ne représentez pas le Paraguay, ce pays qui a transpiré la passion et l’honneur tout au long de la compétition. Par votre inconscience et votre racisme décomplexé, le monde entier a déjà oublié le parcours et l’effort historique que vos joueurs ont réalisés durant cette coupe du monde pour laisser place à une dame incompétente donnant la pire image possible de son pays.
Je ne laisserai jamais aux gens comme elle, la liberté de laisser propager leur haine et leur racisme à travers le monde.