“Untuak a den lari.. jin satuo den lah sapatuiknyo ndak takuik mati..” (Untuk apa saya lari.. jin setua saya sudah sepatutnya tidak takut mati..) ujar Si Kumbang.
“Karampang... jadi awak harus maulang liak dari patamo?..” (brengsek.. jadi kita harus mulai lagi dari awal?..) tanya Sufyan sambil memegangi tangan kirinya yang putus. Tenaganya yang tersisa belum cukup untuk membuatnya kembali seperti semula.
Namun tanpa keduanya sadari, kayu yang menembus dada Marunggai itu mengeluarkan percikan api kecil yang merembet secara perlahan tanpa menimbulkan suara...
“MATI LAH ANG, CINDAKU!!” (MATI KAU, CINDAKU!) pekik Marunggai sambil melepaskan bola api besar dari telapak tangannya ke arah Guntara.
BLAAAAAAARRR!!!
Jantungnya yang semula berdegup tak beraturan itu lama kelamaan mulai teratur.
Dan hanya dalam hitungan detik setelah ucapan Dayat tadi berakhir, Andre mengangguk paham tanpa perlawanan..
...Kita lihat sejauh apa Roeslan bisa menangkal mereka, kita tidak ingin wadah entitas itu justru adalah orang yang sudah ada isinya” ujar Khairul memberikan pengarahan pada Leo, yang masih percaya bahwa Roeslan adalah calon wadah sosok pembunuh ayahnya.
“Manga Urang Bunian jo turunan darah Cindaku ado disiko?.. Kalian ka manolongan urang urang bakhianaik ko?” (Apa yang mau dilakukan bangsa Bunian dan keturunan Cindaku di sini?.. apa kalian mau membela orang orang khianat itu?..) tanya pria itu dgn suara berat dan menggelegar.
Perjalanan motor Guntara terhenti ketika ia menghadapi sebuah jalur terputus di dalam hutan. Motornya tidak mampu melalui jalur itu karena begitu curam dan sempitnya jalur.
Di lantai, ia menggelepar seperti ikan yang ditarik keluar dari dalam air secara mendadak. Ia menggeliat tanpa henti dengan mata melotot tajam tertuju ke arah pelaku pembacokannya dari belakang... Leo.
Pak Roeslan mengacungkan salah satu potongan cuping Sakti dengan sebuah simbol titik dan tutup kurung ditato.
“Lambang kuping. Penumbalan ini masih berjalan!” ucapnya dengan tegas.
Andre sudah tidak mendengar dan merasakan detak jantung maupun tarikan napas Sakti.
Tubuh Andre bergetar. Bahunya menggigil tanpa melepaskan pelukannya pada tubuh Sakti. Setelah Dhika, kini Sakti juga..
“Sakti.. udah ga ada..” ucap Andre, terisak.
Tanpa mereka sadari, sejak tadi mereka hanya terdiam berdiri menyaksikan salah satu rekan mereka menjemput kematiannya dengan cara mengerikan.
“M..mas Sakti....AAAARRRHHHH!!!!!” pekik Andre.
Andre dan Dayat baru bisa menjerit setelah beberapa detik Sakti roboh.
-agar membuatnya susah dibuka, baik dari atas maupun dari dalam.
Sementara itu, kondisi kurang baik dialami oleh Sakti dan Pak Roeslan. Pendengaran Sakti belum kembali sejak insiden pergelutannya dengan mayat hidup Pak Santo tadi malam.
“Pai manolongan adiak awak.. Ah iyo, tadi si Mina titip salam untuak ang, Bas” (Pergi menolong adik kita.. oh iya, tadi si Mina titip salam untuk kau, Bas) ucap Guntara si Pagaralam pada sahabatnya, Abbas.
“...Iya.. benar. Saya abangnya. Mba, mana si Andre? Dia kerja sama kalian? Dia sehat sehat aja kan?” tanya Rofik, intonasi bicaranya seketika berubah menjadi lebih halus dari saat pertama menjawab telepon.