Akhirnya kami boleh sebarkan berita kesyahidanmu wahai jurucakap ummah. Berbahagialah dengan janjimu yang telah dikotakan, kemenangan atau kesyahidan.
Semoga Allah merahmatimu al-Syahid Huzaifah Samir al-Kahlout, Abu Ubaidah.
Ayo orang-orang cerdas se Indonesia.
Jadilah berani!
Mari kita berjuang tegakkan kebenaran!
Polemik Ijazah ini harus kita selesaikan dengan
1) Kajian Ilmiah berbasis data
2) Minta Joko Widodo untuk menunjukkan ijazahnya, karena Ijazahnya adalah dokumen publik, sejak dia mendaftarkan diri ke KPUD Solo, 20 tahun yang lalu.
Ketika seseorang menjadi Pejabat Publik, maka ijazah yang dia gunakan untuk meraih jabatannya, sudah menjadi domain publik. Dan ini diatur dalam Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik no 14 tahun 2008.
Ayo bicara! speak up!
Indonesia butuh banyak orang cerdas dan pemberani!
WOW AND WOW
ALHAMDULILLAH
AKSI DAHSYAT BRIGED AL QASSAM DALAM 48 JAM TERAKHIR MEMPERTAHANKAN KHAN YOUNIS GAZA
IDF MENDAKWA SEEKOR ANGGOTANYA MAMPUS DAN 4 EKOR LAGI CEDERA. YANG MAMPUS ITU IALAH KETUA KOMPENI
Kalau kalian mengira kami takut, kalian salah besar!
Kalau kami takut, maka Rismon Sianipar akan tetap di luar negeri, untuk tetap jadi Konsultan Digital Forensic Internasional dengan bayaran miliaran per tahun, keliling dunia dengan istri tercintanya, melanjutkan petulangan Travelling yang sangat menyenangkan, tanpa memikirkan carur marut gaduh dan jahatnya hukum di Indonesia.
Tetapi dia tergerak untuk pulang. Tergetar dengan sebuah keganjilan ijazah yang secara kebetulan dia temukan, skripsi aneh yang mengusik jiwa penelitinya, yang keduanya dia temukan di almamater yang sangat dia cintai.
Kalau kami penakut, maka Roy Suryo, akan melanjutkan hobby fotografi dan penelitian telematika yang menjadi passionnya, sambil berkeliling dari kota ke kota dengan koleksi mobil-mobil tuanya yang legendaris.
Tetapi dia tergelitik melihat ijazah dan berbagai foto-foto seseorang yang berserakan di internet. Kok aneh secara fotografi dan telematika, maka di sela-sela waktunya mengajar, fotografi, merawat mobil-mobil dan 20 ekor kucing-kucing eksotisnya, dan terperanjat ketika makin lama jejak kepalsuan dari dokumen dan foto-foto itu makin terbongkar dengan keahliannya.
Kalau kami takut, maka dr Tifa akan terus bajalang kasana kamari mengobservasi persoalan epidemiologi yang terjadi di lapangan, di desa desa, menulis dan berpikir dan merenung, dan membaca dan mensintesis, dan menganalisis segala sesuatu dengan rumus matematika, filosofi, sosiologi, histori, metafisika sambil melihat awan-awan di langit, larik-larik hujan, dan bulan dan bintang-bintang sambil bercengkerama dengan keluarga di kediamannya yang jauh dari riuh rendah.
Tetapi dokumen yang berisikan foto foto yang muncul di internet, yang tidak sinkron dengan karakter seseorang, dan ketika anatomi, fisiologi, dan behavior semakin menunjukkan anomali dan pola yang tidak konsisten, semakin menarik fokusnya dan naluriya.
Ketika hasil observasi kami bertemu di satu titik hipotesisi yang sama, kami sangat heran dan cemas. Heran karena kami bertiga sebelumnya belum pernah bertemu belum pernah diskusi tetapi temuan kami menghasilkan hasil yang sama!
Jangan jangan dokumen ini palsu?
Maka pergilah kami ke UGM, tanggal 15 April 2025, tanpa janjian sebelumnya, dengan membawa niat ingin mendapatkan kejelasan, dan the rest is history.
Orang yang punya dokumen ganjil dan foto-foto yang sangat meragukan itu rupanya marah, dan merasa terhina-hina, meresa terendah-rendah.
Dan merasa perlu memenjarakan kami dengan melaporkan kami ke Polisi dengan pasal-pasal yang sangat berat hukumannya: 8.tahun dan 12 tahun.
Seakan-akan tidak cukup dia memenjarakan Bambang Tri..seakan akan tidak cukup dia memenjarakan Gus Nur!
Sesungguhnya jika hatinya tidak jahat dan kejam, ketika Bambang Tri dan Gus Nur bertanya tentang ijazah, tinggal dia tunjukkan saja ijazah, selesai!
Seakan tidak cukup, ketika kami bertiga bertanya tentang ijazah, hatinya yang jahat dan kejam, ingin membungkam kami dengan memenjarakan kami!
Apakah kami takut?
Kalian semua bisa melihat sendiri, kami terus melanjutkan penelitian kami tentang ijazah yang meragukan itu, tentang foto foto yang mencurigakan itu, dan kami terus sampaikan ke media dan tulisan dan karena kami sungguh ingin, rakyat semua tahu kebenaran, anak anak dan masa depan negara ini tak lagi berada dalam kabut keraguan yang menggelisahkan.
Jadi, orang orang picik dan kusam pikiran saja yang mengira kami takut kalian bikin meme seperti ini!
Penakut itu seperti kalian!. Yang hanya diam dan membisu. Yang keroyokan membully dan menista kami.
Tuhan tahu, apa yang di hati kami..kami hanya tidak mau gagal jadi manusia yang diberi otak cerdas oleh Allah, yang harus digunakan untuk berpikir dan memberi manfaat banyak
Termasuk menguak kebenaran..walaupun penuh onak dan duri..walau pilu dan perih seperti sembilu.
Kami hanya tidak mau menghadap Tuhan nanti dengan malu.
Karena membiarkan kebohongan terpampang di depan mata dan kami hanya diam saja seperti batu!
BELIAU DIJEMPUT AJAL DENGAN MERAYAKAN 3 HARI RAYA!
Hari raya pertama, adalah hari Idul Adha, hari raya kurban.
Hari raya kedua, adalah hari Jum'at.
Hari raya ketiga adalah hari raya yang dikatakan sebagai perkataan Anas bin Malik, bahwa mukmin itu memiliki 5 hari raya, salah satunya adalah:
اليوم الذي يخرج فيه من الدنيا بالإيمان فهو يوم عيد
Hari dimana seseorang keluar dari dunia ini dengan membawa iman, adalah merupakan hari raya (baginya).
Semoga Allah merahmati ustadz Yahya Waloni, diberi kedudukan yang mulia di sisiNya.
Takjub sekali.
Dengan ketenangan memproduksi kebohongan dan mengorbankan orang lain.
Tahun 2017 sudah jelas pernyataan dan menjadi jejak digital yang tak terhapus sampai kiamat:
"Dosen pembimbing skripsi saya Pak Kasmudjo, yang galak, saya dibentak-bentak..."
Sekarang dengan entengnya berkata;
"Pak Kasmudjo bukan pembimbing skripsi, pembimbing skripsi saya Prof. Dr. Ir. Sumitro"
Wartawan: "Jadi Pak Kasmudjo siapa,Pak?"
Jawabannya: "Pembimbing akademik"
Padahal, Pak Kasmudjo sudah bersaksi, dalam video yang jadi jejak digital abadi:
"Saya tahun 1980-1985 belum jadi Dosen, masih Asisten Dosen. Saya bukan Dosen Pembimbing Akademik, saya bukan Dosen Pembimbing Skripsi"
Di Universitas manapun termasuk UGM, tidak ada Asisten Dosen yang bisa jadi Dosen Pembimbing Akademik.
Bukan sekedar ngawur. Bohong!
Sekarang, Pak Kasmudjo sedang menjadi buah dari kesediaannya berkomplot di panggung, menyebut dirinya Dosen Pembimbing, PN Sleman menjerat Pak Kasmudjo sebagai calon tersangka pembohongan publik.
Entah siapa lagi bakal diseret orang ini dalam kasus yang sebenarnya mudah sekali diselesaikan.
Mana ijazahmu? Kertas, bukan foto!
https://t.co/VdqLcWAkEk