Messi Tak Menyangka Akan Bertemu Lamine Yamal di Final Piala Dunia Setelah Foto Ikonik Itu 🇦🇷🇪🇸
“Fakta bahwa hari ini saya dan Lamine berada di sini, saling berhadapan setelah foto kami diambil ketika dia masih berusia enam bulan, benar-benar terasa luar biasa bagi saya.”
📝Press Conference
#FIFAWorldCup
Jadi gini.. Iran memberikan pesan politik lewat ayat Al Quran saat pemakaman Ali Khamenei.
Saat delegasi negara lain datang ke pemakaman Sayyid Ali Khamenei untuk memberikan penghormatan terakhir.
Qari membacakan ayat Al Quran yang berbeda di setiap delegasi yang datang. Diduga ini terkait dengan hubungan Iran ke negara/entitas tersebut.
Kepada Saudi yang tak lain saingan Iran, disindir dengan Ali Imran ayat 13, yang menceritakan kemenangan kaum muslimin melawan musuh-musuhnya di Perang Badar, padahal jumlah mereka sedikit...
Ini menyindir Saudi yang dianggap tidak tegas dengan Amerika Serikat yang menyerang Iran dari wilayah Saudi.
Adapun kepada delegasi Turki, Iran melantunkan
فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً ۚ dan seterusnya..
"Allah melebihkan derajat orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwa mereka atas orang-orang yang duduk (tidak berjihad). (An Nisa 95)
Maksudnya di sini, Iran itu memahami dan menghargai posisi Turki yang netral (duduk) karena terkait dengan kepentingan nasional mereka. Yang membuat mereka tidak bisa seperti Iran.
Namun, Iran mengingatkan ke Turki bahwa melawan Amerika itu jauh lebih utama dan akan ditinggikan derajatnya sama Allah swt.
===
Bagi saya pribadi ini cerdik sih
Ini bukan memainkan ayat al quran, tetapi memberikan penghargaan sekaligus nasihat.
Memang dah orang Persia ini luar biasa gaya komunikasinya.
Guys lu pada tau dulu presiden habibie pernah selamatin rupiah dari Rp17.000/USD ke level Rp6.500–Rp7.000-an per dolar AS dalam kurun waktu sekitar 17 bulan pada masa krisis ekonomi 1998–1999.
Bayangin lagi krisis tapi bisa buat nilai rupiah menguat
segila dan sejenius itu beliau
Bayangin ini dulu:
Tahun 1998, Indonesia itu hampir runtuh total:
Rupiah tembus hampir Rp17.000/USD
Bank-bank kolaps
Perusahaan bangkrut massal
Rakyat narik duit → panic everywhere
Dunia internasional:udah gak percaya sama Indonesia
Lalu masuk Habibie.
Bukan ekonom.
Bukan banker.
tapi Engineer.
Tapi justru di situ letak “gila”-nya.
Habibie ngerti satu hal:
Kalau bank hancur, ekonomi pasti mati.
Langkahnya brutal tapi perlu:
Bank yang gak sehat → ditutup
Bank yang masih bisa diselamatkan → direstrukturisasi
Hasilnya:
Lahir Bank Mandiri (gabungan 4 bank bobrok)
Bank Central Asia diselamatkan dan jadi raksasa
Banyak bank lain ikut pulih
Ini bukan sekadar “nyelamatin bank”
ni balikin kepercayaan orang buat naro uang lagi
Sebelum Habibie:
Bank sentral bisa “diatur” pemerintah
Habibie ubah total:
Lewat UU No. 23 Tahun 1999
Bank Indonesia jadi independen
Kenapa ini penting?
Karena dunia luar mikir:
Kalau bank sentral bisa diintervensi politik → negara ini gak bisa dipercaya.”
Dengan langkah ini:
Investor mulai balik
Rupiah mulai stabil
Indonesia dapat bantuan besar dari International Monetary Fund (~$43 miliar)
Tapi bedanya Habibie:
Dia gak nurut 100%
Contoh:
IMF mau subsidi dicabut
Habibie nolak
Kenapa?
Kalau subsidi dicabut saat rakyat lagi hancur → daya beli mati total
Jadi dia:
Pakai dana IMF buat stabilisasi
Tapi tetap jaga rakyat bawah
Ini yang bikin kebijakan dia tegas tapi manusiawi
Masalah waktu itu:
Banyak perusahaan utangnya dolar → tiba-tiba meledak
Solusi Habibie:
Restrukturisasi utang
Konversi ke rupiah
Bentuk lembaga khusus (INDRA)
Perusahaan yang selamat:
Astra International
Sinar Mas Group
Kalau ini gak dilakukan:
PHK massal bisa jauh lebih parah
Ekonomi gak akan pulih kalau politik chaos.
Habibie:
Buka kebebasan pers (UU Pers 1999)
Legalin banyak partai politik
Siapin Pemilu 1999
Dunia lihat:
Indonesia berubah.
Dari otoriter → demokratis.
Dan ini efeknya besar:
Kepercayaan internasional balik
Hasil Nyata (Bukan Teori)
Dalam ±17 bulan:
Rupiah: dari ~16.800 → ~7.000/USD
Inflasi mulai turun
Perbankan stabil
Investor mulai masuk lagi
Ini bukan recovery biasa
Ini comeback ekstrem dalam waktu super singkat
comeback tergila sepanjang republik ini berdiri
Tapi sekarang berbanding terbalik
bank indonesia mulai disusuti orang2 yang kompeten
gk pernah kerja di bank indonesia
tapi tiba2 bisa jadi deputi bank indonesia
karna keponakan presiden
jadi kalau lu lihat rupiah melemah
ihsg melemah
ekonomi lesu
asing keluar terus
yaa ini kebalikan dari semua yang dilakuin pak habibie dulu
ya tinggal copas aja deh
apa yang dilakuin sama pak habibie
pasti gk bakal mau
orang niat nya jadi pemimpin juga udah jelek
Kejeniusan Habibie bukan karena dia ekonom.
Tapi karena dia berpikir seperti engineer:
lihat masalah → bongkar sistem → perbaiki dari akar
Dia berani ambil keputusan gak populer, tapi benar.
HP Android lo bukan lemot karena tua dan udah waktunya diganti.
Samsung, Xiaomi, Oppo, mereka install 30+ app sampah dari pabrik. Gak bisa di-delete.
Jalan terus di belakang. Makan RAM. Makan baterai.
Lo pikir HP lo udah waktunya ganti. Padahal belum.
Gue bikin Redmi Note 10 yang udah 3 tahun kerasa kayak baru lagi pake cara simpel ini:
Berawal dari obrolan (todongan) pada Ernest ini, muncul ide bikin film.
Sekarang, 2,5 tahun kemudian, dua film AGAK LAEN mendapatkan total 18 juta penonton di Indonesia (belum termasuk yang di luar negeri).
Matinya Roda Jam’iyyah Kami
Jam’iyyah ini sedang berjalan terbalik. Ketua Umum berkonflik dengan Sekjen dan Bendum. Ketua Umum juga tidak akur dengan Rais ‘Am. Sementara Rais ‘Am sendiri tidak sreg dengan Katib ‘Am (yang kebetulan masih keluarga dekat Ketum).
Akhirnya, surat resmi Syuriyah hanya ditandatangani Rais ‘Am. Surat Tanfidziyah hanya diteken Ketum. Padahal aturan mengharuskan empat tanda tangan: Rais ‘Am, Katib ‘Am, Ketum, dan Sekjen.
Ini bukan lagi soal organisasi yang macet. Ini soal mesin yang mati dan dibiarkan karatan selama berbulan-bulan. Masing-masing kubu berjalan sendiri. Jama’ah Nahdliyin bergerak tanpa arahan, tanpa bimbingan, tanpa kepemimpinan PBNU. Roda terkunci mati.
Wa ba’du, jam’iyyah ini sakit parah. Kehilangan marwah, kehilangan arah. Bukan melayani jama’ah, bahkan menggerakkan roda organisasi saja sudah tak sanggup. AD/ART sudah jadi dokumen mati.
Tagline ingin “menghidupkan kembali Gus Dur”, nyatanya sikap kritis justru hilang sama sekali. Mengaku ingin “governing NU”, tapi tata kelola PBNU sendiri remuk redam. Mengibarkan bendera khittah, malah tercebur dalam kubangan dukung-mendukung Pilpres. Mengaku berkhidmat untuk bangsa, malah gaduh sendiri soal tambang. Bicara ingin membangun peradaban dunia, tapi yang diundang justru tokoh zionis perusak peradaban.
Satu Abad NU bukan dirayakan dengan kejayaan, tapi dilewati dengan perih dan prihatin yang menyesakkan dada.
Mau sampai kapan kondisi jam’iyyah dibiarkan begini….
Al-fatihah untuk Hadratus Syekh Mbah Hasyim Asy’ari dan para muassis NU lainnya 🙏🏻😰
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Ini artikel terbaru saya yang mengurai dimana letak persoalan hukum kontroversi kuota haji tahun 2024. Buat yang ingin tahu perdebatan hukumnya, monggo disimak 🙏🏻
Pesantren gak kompatibel dengan dunia modern?
Masih ada pandangan keliru yang terus berulang: bahwa Islam hanya bisa “modern” kalau dibuat sekuler. Bahwa agama harus dipinggirkan supaya sains bisa berkembang. Pandangan seperti ini mungkin cocok di Eropa abad ke-18, tapi tidak relevan bagi Islam. Sejarawan Marshall Hodgson dalam The Venture of Islam menulis bahwa peradaban Islam justru melahirkan sains karena keyakinan spiritualnya. Iman bukan penghalang bagi akal, tapi justru bahan bakarnya.
Hal ini juga ditekankan Nurcholish Madjid dalam bukunya Islam, Kemodernan dan Keindonesiaan (1992):
“Modernisasi adalah rasionalisasi, bukan sekularisasi. Modernisasi dalam Islam berarti pembebasan dari kebodohan dan kejumudan, bukan pembebasan dari Tuhan.”
Kalimat itu seperti tamparan halus bagi dua kutub ekstrem: yang alergi pada modernitas, dan yang mabuk modernitas tapi lupa iman.
Kita sering mendengar komentar seperti, “Modernisme itu kan sekuler. Mana bisa cocok dengan Islam?” atau “Pesantren itu tradisional, ketinggalan zaman.” Bahkan ada yang berpikir bahwa kalau seorang santri bicara soal demokrasi, HAM, atau berpikir kritis, pasti dia “liberal.” Sebaliknya, kalau dia menjaga tradisi, pakai sarung, dan hidup sederhana, dicap “kolot.” Dua-duanya salah paham — karena keduanya lahir dari cara pandang yang gagal memahami apa itu modernitas, dan apa itu ruh pesantren.
Pesantren berada di jalur tengah. Ia mendidik manusia agar cerdas tanpa congkak, beriman tanpa beku. Santri belajar berpikir kritis, tapi tahu kapan harus menunduk hormat kepada gurunya. Santri belajar bahasa asing, tapi tak kehilangan bahasa doa. Mereka bukan anti-modern, hanya saja mereka tahu bahwa kemajuan tanpa values itu ‘kesesatan’ yang canggih.
Sudah banyak santri yang menjadi prof di kampus terkemuka di dunia. Banyak santri yang gak hanya bisa baca kitab kuning tapi mereka juga fasih menjelaskan teori dan kajIan bidangnya seperti antropologi, demokrasi, rule of law, fisika kuantum dan lainnya.
Para santri bisa pakai sarung, bisa juga pakai jas. Bisa dengerin Umi Kulsum, tapi juga Adele. Cium tangan ke Kiai, tapi juga tampil di seminar Internasional. Biasa aja 😊
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Petarung, Bukan Pewaris
Zaman sekarang, istilah “privilege” sering dilempar buat ngecilin orang lain. Padahal, nggak semua sukses datang dari warisan keluarga; banyak yang lahir dari luka dalam dan perjuangan panjang yang bikin capek jiwa raga.
Beasiswa ke luar negeri, artikel di Oxford-Cambridge, dua PhD, sampe jadi dosen tetap di kampus top dunia—semua itu bukan gara-gara nama abah saya lho. Mereka bahkan nggak kenal siapa abah saya. Di dunia akademik global, yang dihargai cuma merit, kerja keras, dan integritas. Titik.
Saya lahir dari keluarga Kiai, ya. Tapi realita alam: yang belajar serius dan gigih pasti maju, entah santri biasa, Gus, Ning, atau siapa pun. Man jadda wa jada. Yang males? Ya stuck aja.
Beasiswa saya? Bukan titipan Kemenag atau lobi-lobi gelap. Saya perang mati-matian, jatuh bangun, baru bisa dapet beasiswa S3 langsung dari kampus Australia dan Singapura. Saingannya? Calon dari seluruh dunia, bukan cuma lokal.
Saya nggak nolak privilege—itu ada, dan harus diakui biar kita sadar ketimpangan sosial. Tapi pake itu buat ngebasmi perjuangan orang lain? Itu iri buta dan buruk sangka banget, mas bro!
Kunci sukses itu, pertama, kerendahan hati buat terus belajar meski udah tahu banyak, dan, kedua, keteguhan buat nggak nyerah walau pintu dunia keliatan nutup rapet. Dua hal ini nggak bisa diwarisin, harus dibangun sendiri cuy 🤣
Saya ini petarung tulen, bukan pewaris. Anda? Tukang nyinyir?
Komentar-komentar merendahkan, bahkan melecehkan, seolah bilang: “Santri? Kolot, kampungan, mana bisa tembus internasional. Kalo ada yang sukses, pasti anomali doang—atau karena lo Gus dengan jalur VIP.”
Mereka nggak tahu: banyak santri biasa (bukan Gus/Ning) lagi ngajar di Jerman, Amerika, Belgia, Kanada, Jepang, dst. Belum lagi ratusan santri yang rebut PhD lewat beasiswa dengan susah payah.
Kebencian dan kurang wawasan lo jangan dipamerkan di depan umum. Lo lagi ngejek akal sehat lo sendiri, lho 😏
Santri-santri, ayo gaspol maju dengan senyum dan doa. Balas caci maki dengan prestasi nyata 👍👏
Tabik,
Nadirsyah Hosen
🇮🇩😔 One of the biggest robberies in Indonesian football history.
When ego takes over everything, it destroys what truly matters.
And remember, you all must take responsibility for the decisions you made.
Kasus Kuota Haji
Sekadar mengingatkan. Masalah dugaan korupsi kuota haji ini bukan masalah kelompok atau ormas.
Ustad Khalid Basalamah dari Salafi sudah mengaku mengembalikan dana ke KPK, setelah beberapa kali diperiksa KPK.
Dirjen PHU Kementerian Agama sudah diperiksa KPK dan menurut pemberitaan media massa diduga menerima aliran dana. Prof Hilman Latief ini dari Muhammadiyah, tepatnya sebagai Bendahara Umum.
Sebelumnya KPK juga telah berulang kali memeriksa mantan Menteri Agama, Gus Yaqut Cholil. Kita tahu bahwa yang bersangkutan dari NU dan adik kandung Ketua Umum PBNU.
Sekali lagi, soal kasus kuota haji ini adalah masalah umat dan bangsa. Bukan soal ormas atau aliran. Saya berdiri mendukung keadilan (I Stand with Justice). Siapapun dan dari kelompok/ormas manapun kalau bersalah ya harus diproses secara hukum. Gak masalah. Umat dan bangsa mendukung penegakan korupsi secara adil dan sesuai koridor negara hukum.
Untuk KPK, saya juga berpesan untuk segera menuntaskan kasus ini. Segera tetapkan siapa tersangkanya. Jangan ini menjadi bola liar. Kasus sudah naik ke tahap penyidikan tapi kok tersangkanya belum ada. Justice delayed is justice denied. Segera tuntaskan kerja KPK, jangan sibuk bikin pernyataan, yang malah meresahkan.
Mari kita simak firman Allah dalam QS An-Nisā’ [4]:135 untuk kita renungi bersama:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ ۚ إِن يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَىٰ بِهِمَا ۖ فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَىٰ أَن تَعْدِلُوا ۚ وَإِن تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.”
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Mengapa Ijab Qabul Harus Langsung Tanpa Jeda?
Dalam akad nikah, ijab (ucapan wali) dan qabul (jawaban mempelai pria) harus terjadi dalam satu suasana yang utuh—bukan soal satu napas secara harfiah, tapi satu tarikan makna: janji yang bersambung.
Menurut mazhab Syafi’i, ijab dan qabul wajib langsung bersambung. Kalau jedanya terlalu lama, akad bisa batal. Imam Nawawi menjelaskan:
“Kalau jedanya lama, akadnya tidak sah. Tapi jika hanya jeda singkat seperti menarik napas atau menelan ludah, maka sah.” (Al-Majmu’)
Maksudnya, diam sebentar karena gugup, bernapas, atau menelan ludah masih dimaklumi. Tapi kalau mempelai malah diam terlalu lama, atau ngobrol dulu, maka akad dianggap terputus. Dalam Fiqh Manhaji juga disebutkan: kalau setelah wali berkata “Saya nikahkan…”, calon suami lama diam lalu baru berkata “Saya terima…”, maka akadnya tidak sah.
Mazhab lain lebih longgar. Hanafi dan Hanbali tidak mensyaratkan langsung seketika, asal ijab dan qabul masih terjadi dalam satu majelis dan tidak disela hal lain. Jadi, diam sebentar karena berpikir masih dibolehkan.
Mazhab Maliki berada di tengah: mereka menyarankan qabul diucapkan segera, tapi jeda ringan masih ditoleransi, asal tidak disertai aktivitas lain yang memutus suasana akad.
Kesinambungan saat ijab-qabul ini diperlukan agar tidak ada tafsiran lain yang mempertanyakan keridhaan kedua belah pihak. Jadi lebih pada kehati-hatian. Sebaliknya, dengan memahami aturan di atas kita juga tidak perlu terburu-buru menganggap akad menjadi tidak sah hanya karena ada jeda sejenak. Harus lebih arif dan bijaksana.
Kesimpulannya: dalam mazhab Syafi’i—yang dominan di Indonesia—ijab dan qabul harus langsung tersambung. Jeda lama atau pembicaraan lain bisa membatalkan akad. Tapi jeda singkat karena grogi, ambil napas, atau memindahkan mic masih dimaafkan.
Lagian, ngapain juga jeda lama saat akad? Bukankah ketika perempuan bertanya, “Kamu sayang aku nggak sih?”, jawabannya harus cepat. Nggak boleh ada jeda, kan? Apalagi saat akad…😊
Tabik.
Nadirsyah Hosen
Jalan Lurus Para Kekasih: Renungan atas JATMAN dan JATMA Aswaja
JATMAN dan JATMA Aswaja—dua nama yang tumbuh dari tanah cinta, disiram oleh dzikir, dan berakar pada jejak para kekasih Allah. Yang satu bernaung sebagai badan otonom NU, yang lain lahir sebagai ormas independen bersama seorang mursyid agung nan karismatik, Maulana Habib Luthfi bin Yahya *sungkem Abah Habib*
Sayangnya, sebagian dari kita memaknainya sebagai perpecahan, bukan perbedaan jalan. Padahal bagi para penempuh jalan tasawuf, ini bukan pertarungan, melainkan ujian: sejauh mana kita menjaga adab, dan seikhlas apa hati menerima takdir perbedaan.
“Jangan biarkan nama besar para wali menjadi panggung caci-maki. Tarekat bukan ladang kuasa, tapi jalan sunyi menuju fana.”
Tarekat bukan soal struktur, bukan pula tentang siapa paling dahulu atau paling besar. Ia adalah perjalanan menanggalkan diri, melebur ego, dan larut dalam samudra cinta Ilahi. Para mursyid sejati tak berebut mimbar, tak menggenggam kue jabatan. Mereka berjalan dalam diam, memberi cahaya tanpa menyilaukan.
Kini kita diuji: apakah kita sungguh murid para wali, atau hanya penonton yang bersorak dari gelap? Apakah lisan kita basah oleh dzikir, atau luka karena debat yang kehilangan rahmat?
Biarlah organisasi berjalan sesuai takdirnya. Tapi hati—biarlah tetap bening. Jangan bawa curiga ke sajadah. Jangan nodai doa dengan dendam.
Hakikat jalan ini bukan siapa yang memimpin, tapi siapa yang mampu meniadakan diri dalam kehadiran-Nya.
Saya bukan orang tarekat. Tarekat saya adalah adab. Saya pelajar fiqh. Mazhab saya adalah cinta. Maka dengan adab dan cinta, mari kita sambut dengan gembira hadirnya JATMA Aswaja, bukan dengan curiga, apalagi caci-maki. Ahlan wa sahlan bi hudhurikum🙏🏻😍
Syari’ah dan tarekat—secara literal, keduanya berarti jalan. Dan jalan menuju ridha-Nya tak hanya satu. Yang penting pada akhirnya semua jalan itu lurus menuju-Nya: shiratal mustaqim.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Menurut jumhur ulama: anak hasil zina tidak ada hubungan nasab dengan lelaki yang menzinahi ibunya. Anak zina hanya bernasab kpd ibunya saja. Maka lelaki yg menzinahinya tak memberi waris, hak wali dan tak berkewajiban nafkahi anak zina, meskipun hasil tes DNA itu sama keduanya