Jelek. Udah pake AI jelek lagi. Jatohnya ini konten kekerasan terhadap perempuan.
Yes. She did mistake tapi kalo sampe diedit dicelakain gini, no no. Apa bedanya sama mbak yg tolol2in orang lain di gym?
Big no.
kak izin menanggapi #aowkaowk
di indo tuh warganya kebagi jadi banyak kubu. ada yg berani ambil resiko, ada yg gak berani ambil resiko. yg kedua ‘biasanya’ kalangan orang miskin, karena mereka takut bakalan kesusahan lagi kalo terlalu banyak nyoba. tapi ada juga orang miskin yg berani nyoba ini itu, gak mikirin apa-apa. biasanya yg kayak gini orangnya agak nekat dikit.
memang pada akhirnya, karir di wni itu kayak lagi taruhan. bisa jadi dapet yg bagus, bisa jadi dapet yg ampas. seharusnya orang msikin kan dijamin hidupnya sama negara, sayangnya pemerintah gak hadir sebagai pemegang kuasa yg baik, jadi banyak dari kita yg merasa insecure dan incapable. padahal aslinya kita bisa, cuman karna gak ada yg menjamin ketika gagal dan cari kerjaan lagi gak semudah itu, jadi mending cari aman.
pada akhirnya, rakyat miskin dan kalangan pekerja adalah golongan yg patut dikasihani sih😭 kalangan menengah bayar pajak, terhimpit dari atas dan bawah, udah bayar pajak buat rakyat miskin tapi duitnya malah dipake buat proker gak guna.
Kebiasaan merespon pujian dengan memuji balik itu bahaya.
Jadi, rambutku kan dicat highlight coklat ya. Kemarin, ada klienku muji, "Mas, rambutnya keren."
"Wah, makasih, rambut bapak juga keren."
"...."
"...."
Dia botak.
Lulusan S3 Australia.
Belasan tahun jadi dosen. Bersaksi di MK.
Gaji pokok: Rp 2,6 juta/bulan.
Kampusnya buru-buru klarifikasi:
"tapi kalau ditambah honor ngajar, insentif penelitian, honor KKN, honor penguji... total Rp 9–16 juta!"
Nah itu dia masalahnya.
Dosen pendidik bangsa ini hidupnya bergantung pada honor yang tidak tetap, bukan gaji pokok yang layak.
Sakit satu bulan, nggak bisa ngajar ,honornya hangus.
Kita bicara orang yang mendidik dokter, hakim, insinyur masa depan bangsa.
Kelayakan hidup mereka harusnya dijamin negara , bukan diserahkan ke mekanisme honor yang fluktuatif.
🙄
bisnisnya tbtb jd banyak bgt gt ya...
well, cm mau ngingetin kl sblmnya jg udh ada seleb yg bisnisnya tbtb muncul banyak dan beragam gini trs sekarang terindikasi cuci uang dan jd penyepong rezim.
ngingetin aja si ini.
you gotta love what you're making if you wanna last long as a vtuber
its either an expensive hobby or you're gonna have to teach yourself a lot of skills, so never mind the numbers, lock in and focus on creating
if a guy with a full time job can make all this, maybe you can too
@icblues Karena ada pengalaman baca tulisan terbitan gereja, dalam konteks asli agama di Orb (Katolik) gw biasa lihat ejaan "Bapa" ketimbang "Bapak". Ada juga yg pakai "Romo". Sepertinya tim translator/localization nggak ke arah sana
Heartbreaking: Karena ketidakadaan 19 juta lapangan pekerja yang dijanjikan, admin akun @karirfess menghabiskan waktunya menjadi provokator agar maysarakat termotivasi menyerang kelompok minoritas.
Ini namanya Learned Helplessness
Kondisi di mana saking seringnya kita ga bisa keluar dari kondisi susah dulunya, hingga akhirnya terbawa sampai sekarang dan merasa tidak berdaya
Analoginya seperti seekor anak kuda yang sejak kecil diikat sekencang mungkin, meronta-ronta mencoba lepas ga bisa
Akhirnya kuda itu belajar bahwa kalo sudah diikat yaa ga akan bisa ke mana-mana
Sehingga ketika sudah dewasa dan lebih kuat, diikat dengan tali rafia tipis dan longgar sekali pun, kudanya tidak mencoba melawan karna sudah "belajar" bahwa ketika diikat itu tidak akan bisa lepas
.
Masyarakat kita kebanyakan berada dalam kondisi Learned Helplessness ini, yg sengaja di kondisikan oleh rezim zalim
Kita dibuat susah setengah mati, semua perlawanan kita ditepis dan berakhir dengan sia-sia, hingga akhirnya kita akan mengeluh bahwa "mending gini2 aja, toh situasi ga akan membaik"
Dan kalau kita tidak melawan kondisi Learned Helplessness ini, rezim zalim akan menang
Karena pendapatan indon RENDAH banget buat orang biasa2 aja. Gue udah kerja dari gue 18-26, tp ngga punya tabungan puluhan juta. Sementara gue harus struggle bantu biaya kehidupan keluarga gue. Gaji per gaji habis untuk biaya hidup gue dan keluarga doang (bersyukur tanpa hutang).
This is why travelling IS political and I wish more people would realize it. Wdym an outsider cuma perlu 2/3 minggu untuk menjelajahi setengah negara ini, meanwhile we as a local who was born and raised here, probably won't even have that chance.
Abis baca (lupa dimana) kalo terlalu mengaitkan value diri sama hal konkrit (kayak hobi, pekerjaan, peran) itu membuat sense of self jadi lemah.
Dianjurkan untuk mengaitkan personality sama value yang lebih abstrak dan kuat (kayak integritas, keterbukaan, kejujuran).
Kamu Cuma Mau Didengerin, Tapi Dia Sibuk Cari Solusi.
Lagi pingin curhat, eh dianya malah langsung ngasih daftar solusi ala presentasi pitch deck. Padahal kamu maunya dia dengerin ceritamu, kalau hari ini tuh lagi lelah banget ngadepin dunia.
Si cowok juga sering bingung, "Lah kan, udah dikasih solusi, kenapa malah tambah kesel?"
Akar masalahnya tuh seringkali dari kebiasaan lama ortu kita didik anak.
Coba inget lagi masa kecil. Kebanyakan cowok dari masih ingusan dan jadi bocil iPad, udah denger kalimat: jangan nangis, laki-laki harus kuat, harus jantan. Lama kelamaan kalimat itu bukan cuma didenger, tapi ketanem.
Jadi, pas dewasa dan ketemu masalah, respons defaultnya bukan ngerasain dulu, tapi langsung mikir gimana caranya beresin biar rasa itu cepat ilang. Problem solving jadi semacam jalan pintas buat ngehindarin perasaan yang enggak pernah diajarin cara ngolahnya.
Sementara cewek, sejak kecil relatif lebih dikasih ruang buat ekspresif. Nangis boleh, cerita panjang lebar boleh, bahkan diapresiasi kalau bisa jelasin perasaan dengan detail. Jadinya kemampuan regulasi dan artikulasi emosi ini kebentuk dan keasah lebih dulu, jauh sebelum masuk ke fase mikirin solusi.
Tentunya, didikan ini bisa beda tiap keluarga. Bahkan tiap anak di keluarga yang sama juga bisa beda.
Setelah dewasa, dua latar belakang ini ketemu di satu momen yang sama, yaitu pas ada masalah. Cewek dateng bawa perasaan yang butuh divalidasi dulu. Cowok refleks buat langsung ngebenerin. Dua duanya niatnya baik kok, sayangnya beda modenya aja.
Sebagai filmmaker yang punya impian bikin drama romance atau keluarga, aku banyak belajar banyak soal psikologi hubungan, biar karakter dan ceritanya terasa nyata.
Trope yang umum adalah, pas satu karakter butuh didenger dulu keluhannya, yang lain maunya langsung eksekusi biar masalah kelar. Miskomunikasi, bakal jadi konflik utama kalau mereka enggak saling ngerti.
Resolusi konfliknya, kita perlu sama-sama paham kalau feeling itu valid, walaupun belum tentu sesuai fakta.
Misalnya, kamu ngerasa dicuekin sama pasangan padahal faktanya dia cuma capek kerja. Perasaan dicuekin itu tetap nyata dan tetap butuh diakui, meskipun fakta di baliknya belum tentu begitu.
Feelings aren't always facts, but they matter.
Makanya kalau cewek lagi cerita masalah terus bilang aku cuma pingin didengerin, ya dengerin. Kalau dijawab dengan solusi, yang kejadian bukan masalah kelar, tapi malah ngerasa perasaannya enggak dianggap penting.
Di sisi lain, cowok juga bukan enggak peduli. Cuma refleksnya emang begitu, dan kalau enggak dikasih tau caranya beda, ya dia bakal terus pakai cara yang menurutnya paling efektif, yaitu problem solving. Mansplaining.
Kalimat sesimpel, "Aku mau cerita, bukan minta solusi," atau "Aku cuma pingin kamu dengerin dulu," bisa menghindari banyak konflik yang sebenarnya enggak perlu terjadi.
Kalau ceweknya udah bilang gitu tapi cowoknya kekeuh gak mau denger? Tinggalin aja, red flag itu sih.
Bisa kok, buat belajar buat duduk sama perasaan, sebelum buru buru lompat ke fase solusi. Memang skill ini seringkali enggak diajarin waktu kita kecil, jadi wajar kalau harus dipelajari ulang di usia dewasa.
Perasaan dan solusi itu bukan dua hal yang saling ngelawan. Cuma soal urutan mana dulu yang dibutuhin.
Kalau kamu bisa nebak urutan yang tepat buat orang di depan kamu, komunikasi jadi lebih sehat.
Gapapa kok mengasah empati pelan-pelan. Namanya juga belajar.