Selama Soeharto berkuasa, pemilu tetap dilaksanakan. Namun, tentu dilakukan dengan kecurangan yang terstruktur, sistematis, & masif.
Bagaimana langkah rezim ini hingga berhasil mencacatkan demokrasi?
#UtasMild#PemiluCurang
Anaknya diberi makan, orangtuanya hilang pekerjaan. Walhasil satu keluarga terjaga dalam kemiskinan dan ketergantungan.
Kelak begitu musim pemilu tiba, suara mereka bisa dibeli dengan mudah. Itu pun dengan harga murah.
Demikian si bengis melanggengkan kekuasaannya. Di Somalia.
Bahkan ga ada catatan sejarah tokoh perjuangan kemerdekaan yang disiram air keras, dibuat cacat permanen oleh kolonial. Tindakan paling jauh ya diasingkan. Lah ini dibuat cacat. Dan bentar lagi bakal ada mobilisasi buzzer yang ngebunuh karakter korban. Literally iblis!
Di NTT, seorang anak 16 tahun menjadi korban pemerkosaan hingga mengalami perdarahan hebat dan trauma. Tersangka dilantik jadi tentara meski statusnya buron. Usai ramai, tersangka dipecat dari tentara; korban masih berjuang mendapat keadilan lewat proses hukum.
https://t.co/xkaVZ9USCD
#StopKekerasanSeksual
#LawanImpunitas
im not even kidding dan gak ada intention buat diskriminasi orang lanjut usia, tapi orang ini beneran harus dicek penurunan fungsi otaknya. gak lucu ya negara dipimpin ama orang yg suka bersikap & ngelantur bego terus LUPA SENDIRI.
Sadar nggak sih, kalo ini waktunya kita gerak, do something.
Lebih berisik lagi. Lebih kritis lagi.
Penguasa udah takut sama orang yang ngga pegang senjata. Cuma punya suara dan aspirasi.
Kita semua punya itu. Ayok kita pake.
CCTV penyiraman air kerasnya ada, terlihat jelas & sudah tersebar di mana mana.
Kalau negara gak ambil tindakan apapun, maka BISA DIPASTIKAN mereka adalah pelaku utamanya, karena diam atas kejahatan sama saja membiarkan kejahatan itu terus terjadi.
Meski saya pesimis, karena Presidennya saja pelanggar HAM berat masa lalu dan para penjilat & buzzeRp-nya sudah buta mata hati telinga & tidak punya rasa malu. Ga ada harapan negara ini, sumpah. Terlaknatlah kalian yang terlibat atas kehancuran negara ini!
Di titik ini saya bisa bilang Indonesia adalah negara jahat. Selama dua tahun belakang, tidak ada kebaikan yang dihasilkan oleh negara. Semuanya kejahatan.
🚨 Pernyataan Sikap Kami atas Video ini 🚨
Kawan-kawan, Handai Tolan. Coba perhatikan mulai dari menit 5:41. Kacau ini presiden. Mental dendamnya kentel banget. Kemampuannya dalam mencerna kritik sangat buruk. Amat sangat buruk.
"Berarti kamu butuh MBG ya? Soalnya katanya MBG gak penting. Banyak orang-orang pintar di Jakarta yang bilang kalau MBG gak penting. Buang-buang anggaran."
Woy, Gendut. Kalau sedari awal 'blueprint' MBG itu menyasar anak-anak sekolah yang nasibnya seperti Yamisa, KAMI JAMIN, gelombang kritik dan protes ngga akan semasif seperti sekarang. Nilai gizi perporsi bakalan lebih bagus, anggaran yang dipakai juga nggak bakalan setekor sekarang.
Masalahnya adalah, den, presiden, MBG udah berjalan setahun lebih, sektor yang dikorbankan sudah banyak, anggaran udah kebuang triliunan rupiah, tapi pendistribusiannya masih sangat carut marut. Masih banyak siswa/i kayak Yamisa yang belum kebagian, tapi di lain sisi siswa/i yang ortunya mampu, yang biaya SPP sekolahnya ada di level menengah sampai mahal, malah kebagian, dan bentuk menu yang disajikan terkesan melecehkan kemampuan ekonomi mereka.
Mosok koyok ngono rak paham sih, Ndut?
Tolong hentikan narasi dan berbicara pada khalayak publik perihal banyak orang pintar yang menolak MBG. Tidak ada yang menolak MBG apabila program ini berlandaskan kajian dan riset yang kuat, roadmap yang mateng, dan target kategori penerima manfaat yang sangat jelas. Dengan terus-menerus menarasikan kritik terhadap MBG sebagai bentuk penolakan, maka bukan tidak mungkin kalau kami mengecap presiden sebagai dalang konflik warga vs warga, rakyat vs rakyat.
"Ya kan untuk bisa merata kami perlu waktu."
Alah, omong kosong. Kalau pelaksana program sedari awal mau untuk melakukan riset yang lebih dalam terlebih dahulu, mengizinkan para ahli untuk turut terlibat, waktu dan biaya tidak akan banyak terbuang seperti sekarang. Dan tidak akan ada anak-anak sekolah seperti Yamisa, yang terlambat mendapatkan haknya.
"Lu kalau main keluar bakal sadar kalo dunia baik-baik aja, nggak seserem kata medsos" adalah kebohongan besar karena baru keluar rumah bentar aja udah ketemu trotoar ambyar, jalanan bolong, mahalnya harga barang di pasar, kena catcall laki-laki, lansia tidur di emperan, dll, dsb