Bagaimana perbedaan bahasa di ruang ganti?
Rashford: " Bahasa utamanya adalah Spanyol, dan banyak pemain muda berbicara bahasa Katalan, tetapi banyak yang mengerti bahasa Inggris, seperti De Jong dan Jules Kounde, yang juga fasih berbahasa Spanyol.
Di lapangan, lebih mudah dari yang saya duga, dan sepak bola sendiri adalah bahasa yang umum.
lawan jepang kan udah ga menentukan pak patrick boleh coba2 taktik dan pemain nih
saranku buat tim pelatih, yakob sama yance suruh pake nomor punggung yg sama trus suruh keluar masuk gantian
kalo ga ketahuan nnti di round 4 boleh dipraktekin
mayan menghemat kuota pergantian
"Tugas kita mempopulerkan Muhammad SAW, jangan sampai kita lebih populer dari Muhammad SAW".
—Emha Ainun Nadjib, Kenduri Cinta November 2011, SOLD OUT.
Hi X, berikut rangkuman refleksi saya terhadap diskusi hangat ini [Positives to follow]
[Critique]
Tujuan utama dari esai/video yang saya buat adalah untuk menyoroti tidak adanya konsistensi dalam lanskap politik Indonesia. Namun, sebagian rekan cendekia di X—yang daya analisisnya tajam dan perhatian pada detail—terpancing oleh bagian awal video, tepatnya 30 detik pertama, mengenai terminologi atau keakuratan kutipan Tan Malaka.
Padahal, video tersebut jelas bukan merupakan kuliah sejarah atau kajian Sosial-Politik secara formal. Kritik yang muncul banyak yang senada: keberatan terhadap gagasan bahwa konflik kelas bukanlah akar utama politik Indonesia.
Saya memahami keberatan ini, meskipun saya secara eksplisit menyatakan dalam video: "Pergumulan kita itu bukan antara pemilik modal dengan kaum buruh, melainkan antara yang menjajah dengan yang dijajah."
Artinya, saya tidak pernah menafikan konflik kelas sebagai lensa metodologis, hanya mempertanyakan kedudukannya sebagai satu-satunya kerangka baca dalam konteks kita.
Yang cukup menarik dan baru bagi saya adalah betapa dalamnya keterikatan sebagian kalangan terhadap konflik kelas sebagai kerangka pemikiran utama—bahkan kadang satu-satunya. Banyak tanggapan tampak sangat berkomitmen pada pandangan bahwa hampir seluruh dinamika sosial merupakan produk dari konflik kelas. Walaupun pendekatan ini memiliki nilai historis dan analitis yang kuat, saya bertanya:
Bagaimana dengan epigenetika dan trauma kolonial?
Bagaimana peran idealisme dalam membentuk struktur kapitalisme?
Bagaimana kondisi alam dan geografi menciptakan ketimpangan?
Justru pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan bahwa memperluas kerangka analisis bisa memperkaya pemahaman kita, bukan menyainginya.
Saya juga mencatat adanya resistensi terhadap pendekatan interdisipliner, terutama ketika seseorang yang bukan dari bidang tertentu mencoba mengusulkan perspektif baru. Beberapa tanggapan menilai ini sebagai pelanggaran batas pakar.
Namun menurut saya, justru sains berkembang lewat keberanian untuk melintas batas disiplin. Tidak ada tantangan besar di dunia—seperti perubahan iklim, ketimpangan global, atau perbudakan modern—yang bisa dipecahkan secara mono-disipliner. Di negara-negara maju, masalah perdagangan manusia ditangani dengan satelit dan citra remote sensing; arsitektur masa depan dipelajari dari cara serangga membangun sarang.
Menolak pendekatan lintas disiplin, bagi saya, berisiko mempersempit cakrawala, dan dalam konteks Indonesia, kadang mencerminkan cara berpikir yang belum sepenuhnya merdeka secara intelektual.
[Positives]
Banyak hal baru yang saya pelajari. Salah satunya bahwa diskursus yang membuat "pintar" itu dimungkinkan di ruang bebas arbitrasi seperti X.
Terlepas dari satu dua komentar yang kasar, mayoritas tanggapan sangat sopan dan menunjukkan ketertarikan yang tulus untuk berdiskusi. Bahkan, beberapa respons yang tidak sependapat justru menyambut. Tentu saja, topik ini bukan bidang utama riset saya. Namun justru karena itu, saya mengapresiasi betul keterbukaan sejumlah rekan dalam menyambut perspektif yang datang dari luar "lingkaran dalam".
Saya jadi tahu banyak literatur yang belum pernah saya baca!
Dari segi substansi, diskusi ini juga mendorong saya untuk meninjau ulang cara saya memandang relasi antara kolonialisme dan konflik kelas. Sebelumnya saya cenderung menganggap pendekatan “konflik kelas global” sebagai penyederhanaan yang kurang relevan bagi konteks Indonesia. Setelah terpapar pada berbagai literatur dan argumen dari rekan-rekan di X—I think it's a sensible take. Terutama setelah merefleksikan bertahun tahun bekerja di Eropa, saya melihat praktik social engineering, altering class relation, yang masih dilakukan oleh negara-negara Barat bahkan sampai sekarang—although in velvet gloves.
Saya sedikit bergeser dalam melihat relevansi peristiwa 1965 sebagai variabel dalam membaca lanskap politik Indonesia (kontemporer). Tadinya saya melihat ini sebagai episode yang terlalu sering dijadikan jawaban atas segala persoalan. But now it seems: 1965 bukan sekadar titik balik politik, tetapi juga trauma epistemik—yang membungkam tradisi intelektual kiri, dan menggeser arah formasi kelas di Indonesia. Karena saya cenderung melihat relasi antara epigenetika dan trauma sosial, maka argumen ini terdengar masuk akal. Another case I had in mind is the Chinese cultural revolution—which seems comparable.
Anything else I missed? 🙂
Apa itu silabus? Menurut mas Jamal, silabus itu "Ilmu Pintu". Ia menyusun silabus dekonstruksi & elaborasi ilmu Maiyah dalam sistematika sejumlah bab.
Bab selama ini kita terpaku pada chapter. Padahal bab itu dari bahasa Arab, yakni babun. Jadi keberadaan bab ini laksana pintu saja, awal dari eksplorasi.
Metode yang Mas Jamal tawarkan untuk eksplor atau mengembara ada banyak, tapi di sesi sharing malam hari ini ia mengajak dengan satu saja. Yakni kemampuan zoom in-zoom out.
Ada kalanya zoom in pada problem negara, tapi jangan lupa zoom out pada hakikat peradaban yang lebih luas dan panjang.
Sebagai diaspora Indonesia yang telah lama tinggal di Amerika, zoom out mas Jamal jadi lebih optimal. Termasuk melihat bagaimana sikap bandel yang jadi ciri orang Indonesia sebagai bawaan DNA. Bandel tak selalu jelek katanya, ia adalah manifestasi dari watak tangguh.
Lalu, pada bab atau pintu eksplorasi mengenai jatidiri. Mas Jamal menggunakan analogi pohon jati, primadona kayu Nusantara. Jati kenapa kuat, karena akarnya dalam. Menembus berlapis² tanah.
Setiap lapis tanah ibarat lapis generasi. Makin berlapis kita mengakses DNA leluhur, makin kokoh kiprah kita menjulang seperti pohon jati.
🚨 BREAKING : Sindiran menohok Javier Tebas untuk Florentino Perez. 🤯💥💣
"Ini bukan sepak bola, ini soal perebutan kekuasaan.
❌ Dia tidak suka Tebas karena Tebas tidak menuruti keinginannya.
❌ Dia tidak suka Ceferin (Presiden UEFA) karena Ceferin tidak menuruti keinginannya.
❌ Dia tidak suka Louzán (Presiden RFEF) karena Louzán tidak menuruti keinginannya.
❌ Dia tidak suka komentator TV karena mereka tidak mengatakan apa yang dia mau.
❌ Dia menolak reformasi wasit karena itu bukan versi yang dia inginkan.
Dan sekarang, setelah pernyataan para wasit — yang sudah muak dengan tekanan terus-menerus dari Real Madrid TV — dia merespons dengan cara yang sudah biasa:
🚫 Membatalkan konferensi pers.
🚫 Tidak hadir dalam sesi latihan di La Cartuja.
🚫 Mengabaikan acara resmi final Copa del Rey.
🚫 Menyebarkan kabar bahwa dia tidak akan hadir di final Copa del Rey.
Betapa tipis kulitnya.
Dia bukan protes, tapi menekan.
Dia bukan mengeluh, tapi mengancam.
Dia bukan tidak setuju, tapi menghukum.
Dia bukan ingin memperbaiki sepak bola, dia ingin sepak bolanya sendiri.
Dan yang paling parah bukan karena dia mencoba. Yang paling parah adalah banyak yang membiarkannya, mendukungnya, dan membantunya."
Pepe Conde:
"Match seperti ini lah gelar juara bisa hilang atau dimenangkan. Mereka berjuang tidak degradasi. Kita jangan memiliki rasa 'lapar' lebih kecil, karena kita berjuang untuk gelar juara. Jangan sia-siakan kerja keras yg sudah kita lakukan. Ayo!"