Lo semua pasti udah denger: 30 Juni 2026, Nadiem Makarim divonis 10 tahun penjara sama Pengadilan Tipikor Jakpus, kasus korupsi pengadaan Chromebook, kerugian negara Rp1,56 triliun.
Tapi sebelum lo simpulin apa-apa, gue ajak bedah utuh 5 tahun kepemimpinannya di Kemendikbudristek.
Data dulu, opini belakangan
PERMOHONAN MAAF
BRIN Indonesia menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan dalam tayangan konten peringatan Hari Lahir Pancasila yang telah kami bagikan.
Hal ini menjadi pelajaran bagi kami untuk lebih teliti, cermat, dan berhati-hati dalam proses pembuatan serta penyebaran konten di masa mendatang.
Sebagai bentuk tanggung jawab dan evaluasi internal, konten tersebut telah kami perbaiki.
Kami menghaturkan terima kasih atas perhatian, masukan, dan kontrol dari seluruh lapisan masyarakat kepada BRIN. 🙏🙏
theres nothing more attractive than a man who communicates properly, expresses what he feels, and allows himself to be vulnerable with the woman he love. segye the man that you are 😮💨 #myroyalnemesis
Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran.
Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang. Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini.
Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal. Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap “tidak berguna”, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan.
Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja.
Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya.
Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka. Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia.
Lebih jauh lagi, kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Mulai dari ilmu epidemiologi (berbasis matematika dan biologi dasar) yang berjasa besar saat pandemi, lalu ilmu lingkungan (ekologi dan geofisika) dalam menghadapi bencana perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal. Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap “tidak praktis”.
Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal.
Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk. ;)
Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan.
Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa.
Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri.
Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok.
Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.
Guys, Bu Rani Anggrini Dewi konselor pernikahan 25 tahun lebih, sudah menikah 44 tahun bilang sesuatu yang menurut gua adalah penjelasan paling nyesek yang pernah gua dengar tentang kenapa banyak perempuan menyesal setelah menikah.
Dan ini bukan opini.
Ini dari orang yang setiap hari duduk berhadapan dengan pasangan-pasangan yang pernikahannya sedang hancur.
Jawabannya satu kalimat
mereka masuk ke pernikahan
tanpa tahu siapa diri mereka sendiri.
Dan begitu mereka masuk
semua yang membentuk identitas mereka sebelumnya karir, mimpi, ambisi,
pengembangan diri pelan-pelan hilang.
Bukan karena dirampas.
Tapi karena struktur pernikahan
yang mereka masuki memang tidak dirancang
untuk menampung itu semua.
Bu Rani bilang polanya sangat konsisten dari ribuan kasus yang dia tangani.
Perempuan menikah.
Anak lahir.
Semua fokus beralih ke peran sebagai ibu dan istri.
Pengembangan diri berhenti.
Dan di suatu titik entah dua tahun kemudian atau sepuluh tahun kemudian mereka bangun dan bertanya siapa saya sekarang?
Saya sudah S1,
saya pernah kerja,
saya punya mimpi.
Sekarang saya cuma masak
ngurus anak, dan menunggu suami pulang.
Dan yang membuat ini sistemik dan bukan hanya nasib buruk individu adalah satu fakta yang Bu Rani sebut dengan sangat tegas orang tua Indonesia sekarang sudah sadar untuk menyiapkan anak perempuannya.
Mereka kirim ke universitas terbaik.
Dorong untuk berkarir.
Ajarkan untuk mandiri secara finansial.
Tapi mereka lupa menyiapkan anak laki-lakinya.
Hasilnya adalah collision yang tidak bisa dihindari. Perempuan yang sudah berkembang menikah dengan laki-laki yang masih membawa mindset bahwa suami harus dilayani, urusan rumah tangga dan anak adalah urusan istri, dan suami harus selalu lebih tinggi dari istri dalam segala hal.
Dua orang dengan level perkembangan yang sangat berbeda masuk ke satu institusi.
Dan perempuannya yang selalu diminta untuk menyesuaikan diri ke bawah bukan laki-lakinya yang didorong untuk naik ke atas.
Dan ini yang paling menyakitkan dari seluruh cerita ini. Banyak perempuan yang menyesal bukan karena suaminya jahat.
Bukan karena pernikahannya penuh kekerasan.
Tapi karena perlahan-lahan tanpa ada satu momen dramatis yang bisa ditunjuk sebagai titik balik mereka kehilangan diri mereka sendiri.
Dan begitu mereka sadar bahwa yang hilang itu tidak bisa dikembalikan oleh siapapun termasuk oleh suami yang mencintai mereka itulah penyesalan terdalam yang Bu Rani temui dalam kasusnya setiap hari.
perempuan yang menyesal setelah menikah bukan perempuan yang salah pilih pasangan.
Mereka adalah perempuan yang masuk ke struktur yang tidak pernah dirancang untuk menampung mimpi mereka.
Dan selama struktur itu tidak berubah selama anak laki-laki tidak disiapkan dengan cara yang sama dengan anak perempuan angka penyesalan itu tidak akan turun.
APA YANG MEMBUAT ORGAN TUBUH KITA “BAHAGIA”
1. Jantung → Jalan kaki setiap hari
2. Otak → Tidur yang cukup
3. Tulang → Paparan sinar matahari
4. Paru-paru → Latihan pernapasan dalam
5. Mata → Istirahat rutin dari layar
6. Sistem saraf → Belajar keterampilan baru
7. Kesehatan mental → Waktu bersama orang tercinta
8. Jam biologis tubuh → Jadwal tidur yang konsisten
9. Ginjal → Minum air yang cukup
10. Sistem imun → Konsumsi gizi seimbang
11. Hati (liver) → Mengurangi alkohol & makanan olahan
12. Lambung & pencernaan → Makan perlahan dan sadar (mindful eating)
13. Mikrobioma usus → Makanan tinggi serat & fermentasi
14. Kulit → Hidrasi cukup + lemak sehat
15. Otot → Latihan kekuatan / beban secara rutin
16. Sendi → Gerakan ringan seperti berenang atau yoga
17. Pankreas → Kadar gula darah seimbang
18. Tiroid → Asupan yodium & selenium cukup
19. Organ reproduksi → Menjaga berat badan ideal & kebersihan organ
20. Kandung kemih → Tidak menahan kencing terlalu lama + latihan otot dasar panggul
21. Telinga → Gak mendengar pidato pejabat
Ketegangan di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo terjadi setelah warga merusak pos jaga dan meminta Satgas PKH meninggalkan lokasi viral di media sosial.
Aksi itu mencuat di tengah memanasnya polemik penertiban kawasan hutan serta penolakan warga terhadap rencana relokasi besar-besaran.
Di sisi lain, pemerintah menegaskan proses penertiban masih berjalan dan relokasi akan dilakukan secara bertahap, sambil memastikan pendekatan yang persuasif agar masyarakat dan alam dapat hidup berdampingan
Penulis: Idon Tanjung, David Oliver Purba
Kreatif: Safira Nurulita
Produser: Elizabeth Ayudya Ratna Rininta
` #TNTN #Satwa #Satgas ##Read
Yesterday, Israeli aircrafts bombed a 200-family tent camp in the city of Deir al-Balah in central Gaza Strip, completely shattering tents and leaving dozens of Palestinians with no shelter.
BREAKING! At least 100 Palestinians have been killed in Israeli attacks across the #Gaza Strip since dawn today, including at least 37 aid seekers.
Among today’s death toll, 61 were killed in Gaza City.
Breaking | Al Jazeera has obtained exclusive footage showing Israeli occupation forces targeting three Palestinians in Shuja’iyya, east of Gaza, as they attempted to retrieve the body of a Palestinian.
The footage show the three men carrying the body before being directly hit by an Israeli shell. According to verified information, the incident took place on May 18.