Di IGD rumah sakit, saya lihat seorang ibu menjerit histeris. Bayinya yang baru 9 bulan tak sadarkan diri, lalu dokter memanggil anak itu telah meninggal.
Suaminya datang, memeluk istrinya yang pingsan. Tangannya gemetar menelepon satu per satu, mencari pinjaman. Katanya, "Saya pinjam dulu, untuk tahlilan nanti malam."
Saya bilang, "Tidak usah tahlilan juga tidak apa-apa, Pak. Masih kecil, itu bukan kewajiban."
Jawabnya pelan: "Tak bisa, Mbak. Nanti saya dikucilkan masyarakat. Apa yang mau disuguhkan ke orang-orang yang melayat?"
Anaknya baru meninggal, istrinya baru pingsan tapi ia masih harus mikirin satu hal lagi standar sosial.
Tahlilan boleh, silakan. Tapi jangan diubah jadi kewajiban. Jangan sampai orang tidak mampu harus berutang hanya agar tidak digunjing.
Kalau tetangga datang bawa makanan, itu kepedulian. Kalau datang bawa tekanan, itu sudah kehilangan ruh bertetangga.
Jangan sampai orang yang baru kehilangan anak, masih harus membayar harga agar diterima lingkungannya.
Halo kak, kenalin ini adek manis kerudung cream yang juga kehilangan seorang ayah, bedanya ayahnya lagi “kerja” sekali lagi “kerja”
Bukan residivis maling ayam (ayam jutaan ya buat sabung ayam)
Ini anak pak satpam di waduk jatiluhur yang direnggut nyawanya secara tragis saat menjalankan tugasnya 🥀❤️🩹 huhu
cc: rialshryn
@realmadridindo1 Begitulah.. sekarang banyak fansnya yang nyamar lagi bahas konspirasi Argentina terpaksa kalah, tapi selalu disclaimer kalau mereka fans Spain. 🤣
@ilumin4te Lagi pada halu semua ini fans Argen. Gol Nico Williams gak akan dianulir, pemain Tarkam Argen udah kena kartu merah beberapa kali sebelum Enzo, dan Dibu gak akan ngotot mati2an menjaga gawang kalau konspirasi khayalan kalian benar. 🤣