Gavi pas nerima Golden Boy 2022.
Pas di perjalanan.
Gavi: "Boleh ga ngomong Visca Barca?"
Koordinator: "Tidak, jangan lakukan itu."
Pas di lorong menuju venue.
Gavi: "Boleh ga ngomong Visca Barca?"
Koordinator: "TIDAK."
Gavi pas penutupan sambutan menang:
"Terima kasih, Visca Barca." 😭😭
Ekspresi Laporta: "Ini baru anak guaa." 😆😂
Waktunya nggak lama lagi, Messi bakal ninggalin sepak bola.
Di MetLife Stadium, New Jersey, Messi jalan pelan menuju podium runner up. Bahunya sedikit membungkuk, matanya berkaca kaca saat medali perak digantung di lehernya.
Spanyol baru saja menang 1-0 lewat gol Ferran Torres di babak perpanjangan waktu. Argentina gagal pertahankan gelar. Tapi bagi jutaan orang yang nonton, malam itu bukan tentang kekalahan. Malam itu adalah tentang akhir sebuah era.
Messi berusia 39 tahun. Rambutnya sudah mulai memutih di pelipis, langkahnya nggak secepat dulu, tapi matanya masih sama. Penuh api, penuh cinta untuk sepakbola. Sepanjang turnamen cetak delapan gol, kasih assist krusial, dan bawa Argentina yang sempat terseok hingga final. Messi main kayak umur 29 tahun, bukan 39. Tapi usia nggak pernah bohong. Tubuhnya lelah, dan sepak bola tak lagi beri ruang untuk keajaiban selamanya.
Kita ingat Qatar 2022. Malam itu Messi mengangkat trofi yang selama 36 tahun tak pernah diraih Argentina. Air mata bahagia mengalir deras.
“Saya sudah lengkap,” katanya saat itu.
Tapi Tuhan memberinya satu babak lagi. Satu kesempatan terakhir untuk menari di panggung terbesar. "The Last Tango", begitu ia tulis di postingan sebelum final. Tango terakhir. Dan meski berakhir dengan nada sedih, tango itu tetap indah kok.
Bayangkan seorang anak kecil dari Rosario yang dulu menderita kekurangan hormon pertumbuhan, kini berdiri di final Piala Dunia untuk ketiga kalinya.
Lihat wajah para pemain Spanyol saat membuat guard of honour. Ada rasa hormat di mata mereka. Mereka tahu, mereka baru saja mengalahkan legenda hidup, panutan mereka sendiri.
Nggak lama lagi, Messi bakal ninggalin sepak bola. Mungkin beberapa bulan lagi di Inter Miami, mungkin satu atau dua pertandingan persahabatan terakhir dengan Argentina. Lalu lampu stadion akan padam untuknya. Nggak ada lagi momen ankara messi yang bikin bek lawan mati kutu. Nggak ada lagi senyuman malu malu saat ia mengangkat trofi.
Yang tersisa adalah warisan yang nggak bisa dihapus. Bukan hanya rekor gol, assist, atau Ballon d’Or. Tapi Messi ngajarin kita bahwa bakat saja tak cukup. Dibutuhkan hati yang besar, ketahanan yang luar biasa, dan cinta yang tak pernah pudar.
Untuk Leo, terima kasih. Terima kasih telah membuat jutaan anak di seluruh dunia percaya bahwa mimpi bisa diwujudkan meski berkekurangan dan tantangannya besar.
Kau bukan runner up malam ini, Leo. Kau adalah pemenang seumur hidup.
Sekarang, istirahat yang pantas. Dunia sepak bola akan terus berputar, tapi tak akan pernah sama lagi tanpamu.
Ternyata perasaannya aneh ya
Sejak sepanjang pertandingan berjalan bahkan hingga sekarang telah usai, perasaannya belum hilang juga
Ternyata lebih besar rasa nggak ingin melihat salah satu dari mereka kalah, daripada rasa ingin melihat salah satu dari mereka menang
🚨🗣️ Thierry Henry on Barcelona Vs Atletico Madrid both-leg officiating controversy:
“I’m sorry, but what did I just watch over two legs? Because that’s not football, that’s decisions deciding games.
First leg, you send off Cubarsí for that? Minimal contact, the boy barely touches him and suddenly it’s a red card that flips the entire tie. Then you have a clear handball inside the six-yard box from Pubill, he literally stops the ball with his hand like he’s playing basketball and VAR just… goes quiet? How is that even possible at this level?
Koke is out there doing late challenges, off-ball stuff all game, no cards. Not even a warning. But on the other side, Eric García gets a straight red when Koundé is literally right there to cover? So now we’re rewriting the ‘last man’ rule as we go?
And don’t get me started on Olmo, pushed from behind, clear as day, no penalty. Then you count the fouls Atlético made… how many yellows? Zero? Come on. You can’t tell me that’s normal.
Then Ferran scores, and we’re talking about offside on a rebound situation? That goal should stand. Simple.
At some point, you stop calling it ‘bad luck’ and you start asking real questions. Because when every big decision goes one way, it’s not coincidence anymore. Barcelona didn’t just lose this tie… they were taken out of it.”