Dari cerita, pengalaman, bahkan buku-buku fiksi dan ilmiah yang dibaca,kita belajar. Bahwa menentukan timing yang tepat, adalah cara komunikasi terbaik tanpa ada emosional dan keegoisan.
Setiap kita dengan situasi yang berbeda, dengan finansial yang tak sama. Terkadang, sebagian dari kita bekerja hanya untuk melunasi pinjaman. Maka, bersyukur bagi kita yang masih Allah titipkan rezeki yang ada, bersabar bagi kita yang sedang berjuang untuk keluarga.
Mungkin jawaban yang tepat bagi hati kita yang selalu tak menetap, bagi jiwa yang lelah dengan pikiran² yang seharusnya tak harus dipikirkan adalah kita terlalu berharap apresiasi orang lain, kita juga terlalu berharap orang lain mengetahui segala perbuatan baik yang kita lakukan
Sukses itu ngak selamanya harus berdasi, ngak selamanya dengan pakaian jas yang bergengsi, ngak selamanya dengan mengoleksi BRANDED yang tinggi.
Karena itulah, jangan pernah malu dan gengsi dengan apa yang sedang kamu tekuni.
Hidup ini, penuh dengan sejuta kejutan. Penuh dengan ribuan pelajaran. Penuh dengan ratusan pengalaman.
Kadang menyenangkan, juga terkadang melelahkan. Kadang mengesalkan, tapi indah untuk dikenang.
Sesuatu yang tidak ditakdirkan untukmu, jangan terlalu dipaksa. Ikhlaskan, cobalah berdamai dengan keadaan. Kita tak pernah tau, mungkin ini cara Allah supaya kita belajar dari kehidupan kemudian memperbaiki diri agar lebih baik. Jadi, jangan terlalu overthingking dengan keadaan.
Tanpa disadari, musuhmu ialah dirimu sendiri. Hari-harimu penuh dengan overthingking yang berlebihan, dihiasi dengan kecemasan yang tak tertahan. Menanggapi setiap perkataan orang, hingga terngiang-ngiang sepanjang malam. Sampai akhirnya, engkau lelah menjalani kehidupan.
Terkadang nostalgia itu indah. Membuka kembali deretan foto² masa SMA yang telah tersimpan rapi, sambil bercerita kejadian yang terjadi kala itu. Memang benar kata orang², dulu pengin cepat² selesai, sekarang malah rindu balik ke masa² itu.
Kita anak bangsa, tak perlu berbangga-bangga. Tak perlu menghamburkan harta. Tak perlu banyak gaya. Tak perlu menghabiskan waktu sia-sia. Cukup membuktikan pada dunia, kalau kita bisa seperti orang-orang yang telah dulu marasakan rasa perjuangan.
Tak ada yang perlu disesalkan. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Tak ada yang perlu disedihkan. Selama hari terus berkelanjutan. Selama udara kehidupan masih bisa dirasakan. Jalan untuk berubah masih terbuka, jalan untuk menuju kesuksesan masih bisa dicapai.
Jarum jam terus berjalan, tanpa memedulikan kami yang sedang lalai. Hari demi hari terus berkelanjutan, tanpa menunggu kami yang selalu antipati dengan keadaan. Setahun telah terlewati,terima kasih telah menemani. Untuk kita yang sedang berjuang, lekas membaik dengan keadaan.
Beberapa orang terlihat biasa saja dengan impiannya. Bagaikan balon udara yang mengambang di cakrawala, ringan terlihat tanpa beban. Ada juga seperti bara api yang berkobar, pantang henti sebelum sampai.
Terkadang suka tertawa lirih, lihat tingkah laku anak kecil dengan berbagai justifikasi. Jadi teringat, dulu pernah nangis karena hal sepele. Pernah cengengesan, padahal bukan lelucon.
Darah muda, darahnya para remaja. Dibalut emosional yang membara, juga ego yang meronta-ronta.
Kenapa harus membalut diri dengan amarah, jika ada kelembutan. Kenapa harus merasa diri paling benar, sedangkan pada realitasnya setiap kita punya kekurangan.
Dengan kebersamaan, banyak solusi yang bisa didapatkan. Dengan kebersamaan, banyak kegiatan produktif yang bisa kita rencanakan. Disini kita belajar, membuang rasa ego dan tidak merasa diri paling benar. Dengan kebersamaan kita juga belajar menghargai orang.
Kian hari, makin banyak belajar dari pengalaman. Kian hari, makin tau watak seseorang. Kian hari, makin banyak yang harus diperjuangkan. Kian hari, selalu ada hal baru yang tak diduga-duga. Semoga kian hari yang dilalui, juga merubah diri kita agar lebih baik kedepan.
Kenapa, ketika membaca tentang percintaan kamu begitu asyik dan terhanyut dengannya. Tapi, ketika membaca tentang keilmuan, kita begitu cepat bosan dan memilih untuk menutup kembali lembaran-lembaran buku di depan kita.
Jangan insecure dengan teman-temanmu yang cepat memahami pelajaran. Tapi, jadikan itu pemicu agar kamu lebih berusaha. Karena setiap kita bisa, tapi dengan tolak ukur yang berbeda-beda.
Terlalu berkutat dengan, "Gimana cara bisa kyak kamu ", "Gimana sih sukses kayak dia. ", sehingga lupa kita masih seperti sedia kala. Hal yang paling sulit itu memulai, karena yang kau kagumi itu sudah duluan memulai beberapa langkah, bukan hanya duduk manis tanpa kelelahan.