Aku sudah pernah berbaju orange
Aku tidak pernah membayangkan akan sampai di titik ini.
Memakai baju orange, berdiri di tengah kerumunan, dilihat banyak mata, seolah hidupku diringkas menjadi satu warna. Tapi kalau mereka mau tahu, ini bukan awal dari ceritaku. Ini hanya satu potongan kecil dari jalan panjang yang sudah kupilih, sadar atau tidak.
Baju orange ini,
Yang sering diteriakkan buzzer dan termul untuk menghinaku
Ketika dia ku sandang di tubuhku, justru
Seperti baju zirah yang membungkus perjuanganku.
Baju orange ini, di tubuhku adalah tanda perlawanan terhadap kebohongan, kepalsuan, kezaliman.
Tanda bahwa aku terus berdiri tegak dan senyuman karena aku tahu nilai apa yang terkepal di tanganku.
Aku hanya berjalan dengan apa yang kupercaya. Kadang langkahku pelan, kadang aku ragu, tapi aku tidak pernah benar-benar berhenti.
Aku tahu, apa yang kusuarakan tidak selalu nyaman untuk didengar. Bahkan mungkin membuat sebagian orang terusik. Tapi bagaimana aku bisa diam, kalau hatiku sendiri tidak bisa diajak kompromi?
Di balik senyum ini, ada banyak hal yang tidak terlihat. Ada lelah, ada takut, ada pertanyaan yang tidak selalu punya jawaban. Tapi ada satu hal yang selalu kutahan kuat-kuat: aku tidak mau kehilangan diriku dan menggadaikannya demi kenyamananku.
Hari iitu, melihat aku berbaju orange, mungkin banyak orang iba padaku, menangisiku.
Tapi di dalam diriku, muncul bara api membara seterang baju ini.
Yang membuatku tetap utuh dalam langkahku dan berkata:
Kalau ini memang harus aku jalani, ya sudah… aku jalani.
Bukan untuk membuktikan apa-apa ke dunia. Tapi supaya nanti, saat aku melihat ke belakang, aku tahu,
aku tidak pernah mengkhianati kebenaran yang kuyakini.
Mohon doanya
Tiga bulan menyendiri
Istilah di kalangan Para Ilmuwan adalah Sabbatical leave. Bersendiri untuk mendalami, merenung, dan mempelajari.
Naskah - apapun adanya - insyaAllah sudah siap.
Mengingat 30 tahun yang lalu masa-masa menuntaskan Pendidikan Dokter. Saling bertanya dengan teman
"Kok bisa ya kita selesai kuliah Kedokteran dan syukur ngga jadi gila"
Kuliah Kedokteran sangat sangat berat. Meluluhlantakkan tubuh, jiwa, dan mental.
Kini perasaan itu terasakan kembali.
Disertai tentu dengan beban dan tanggung jawab yang jauh lebih besar.
Disertasi ini tentang Diabetes, penyakit yang diderita 20 juta orang di Indonesia, dan itu angka gunung es. Faktanya jauuh lebih banyak.
Dan disertasi ini mengangkat Kitab Suci Al Quran dengan ayat-ayat As Syifa, atau ayat-ayat penyembuh.
Berat, berat sekali pertanggungjawabannya.
Karena itu, saya mohon doa sahabat semua, sebangsa dan setanah air.
guys kalian tau gk nih...
anies baswedan mengaku pernah di panggil 19x KPK
sekali lagi 19x dipanggil oleh KPK
dan datang cuma sendirian doang
tapi tidak ada 1 pun mengindikasi beliau
ada korupsi atau penyelewangan
rahasia dari beliau :
- tau aturannya , jadi gk bisa di kibulin
- selalu dokumentasi kan atau catat setiap kebijakan
- doa ibu dan istri
Beda banget sama keberanian berstatement seperti ini…
Pernah sadar gak, kenapa belakangan ini informasi langsung dari Gaza terasa makin sepi? Jawabannya memilukan: puluhan wartawan, influencer, YouTuber, hingga vlogger di sana telah gugur.
Suara-suara lapangan sengaja dibungkam, membuat kerja media untuk kemerdekaan Palestina berada di titik yang sangat mengkhawatirkan.
Di era digital ini, serangan bukan cuma soal fisik, tapi juga pembungkaman informasi. Publik harus tahu kondisi ini. Ingat, sekadar ngaji atau 'happy healing' saja tidak cukup. Kita butuh jurnalis.
Hari ini, kerja strategis yang sangat signifikan adalah kerja jurnalistik. Mari merapatkan barisan bersama para jurnalis dunia untuk terus menyuarakan kebenaran.
Sc: ubnnewscom
Novelty seorang Doktor
Tifauzia Tyassuma
Kandidat Doktor Ilmu Kedokteran Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Novelty dalam studi tingkat Doktoral. adalah sebuah mandatory, atau kewajiban.
Seorang Doktor harus mampu melahirkan sesuatu yang baru, yang bermanfaat bagi umat manusia.
Bisa dalam bentuk teori baru yang mematahkan teori lama yang sudah obsolete.
Bisa menghasilkan alat, instrumen, prototipe
Bahkan gagasan baru yang jika dikembangkan akan bisa mengubah keadaan.
Novelty yang saya buat ini adalah perjalanan yang sungguh panjang.
Selama ini saya sedih karena penderita Diabetes yang merupakan The Mother of All Diseases, yang merusak dan membunuh organ-organ tubuh satu demi satu, pada saat penderita masih hidup.
Bahkan pada beberapa orang, dia menyaksikan beberapa bagian tubuh dikubur terlebih dahulu, pada saat dia masih hidup. Kakinya, tangan, kornea mata, sudah mendahuluinya dimakamkan.
Karena itulah saya mencari tahu dalam perjalanan kehidupan:.menagih janji Allah.
Bukankah Allah katakan bahwa semua penyakit ada obatnya?
Lalu dimana obat itu?
Maka dengan khusyu saya berdialog dengan Allah, melalui kata-kataNya yang tertulis dalam Al Quran.
Dan
Dengan Ayat-ayat itulah saya membangun Pola Makan berbasis Al Quran, yang saya namakan The 7 Colors Garden Plate, Tujuh Warna dan Ragam karunia Allah yang semestinya hadir dalam piring makan setiap umat manusia.
Kedua
Problem utama yang dihadapi oleh penderita Diabetes, mengapa mereka selalu sulit menjaga pola makan yang baik?
Itu terjadi karena, tanpa mereka sadari, modalitas kendali diri dan fungsi eksekutif otak mereka ternyata terganggu bahkan rusak.
Karena itu harus ada metode, bagaimana melakukan perbaikan fungsi dan struktur otak, tidak menggunakan obat, suplemen, ataupun alat, tetapi menggunakan modalitas otak untuk berubah, yaitu kapasitas otak yang disebut Neuro plastisitas.
Berlawanan dengan pengetahuan selama ini, sains membuktikan bahwa otak bisa dilatih untuk bisa berubah menjadi lebih baik.
Maka. saya membuat instrumen dengan ayat-ayat Al Quran yang menjadi dasar dari kalimat-kalimat afirmasi, yang saya namakan Cognitive Transcendence Strategy atau CTS.
Keduanya, 7 Colors Garden Plate atau 7CGP dan CTS, jika digabung maka bernama Transformative Transcendence Program atau TTP.
Penggunaan ayat-ayat Al Quran tentu tidak boleh gegabah, maka saya dibantu tak kurang dari 11 Ahli Tafsir Quran dan Ahli Bahasa Arab dadi sejumlah Universitas di seluruh Indonesia.
Jadi Ilmu dalam disertasi saya adalah Nutritional Neuroscince Behavior
Jika insyaAllah saya lulus, maka secara scientific saya sah menjadi Pakar Nutrisi Neurosains Perilaku.
Dibimbing, dibantu, diarahkan, oleh tak kurang dari 11 Guru Besar dan Pakar Ilmu Kedokteran, dari 11 Bidang yang menjadi fondasi Arsitektur magnum opus saya: TTP. Transformative Transcendence Strategy.
Darimana tahu bahwa terjadi perubahan setelah pasien Diabetes diberikan intervensi TTP?
Maka, selain perubahan perilaku dan fungsi otak secara kualitatif menggunakan instrumen PASH BRAIN dan PHQ9
Juga menggunakan 8 Jenis Bio marker molekuler: NO, NaDPH Oxide, ADMA, BDNF, Serotonin, HOMA IR, HbA1C, GDP.
Sekelumit cerita tentang Disertasi yang ingin saya sharing kan kepada Anda semua sahabat-sahabat dokter Tifa dimanapun berada.
Kebahagiaan dalam genangan air mata dan air hati bertahun-tahun ini. Dalam tempaan dan gempuran masalah yang tak sepenuhnya saya mengerti selama setahun ini, saya tetap istiqomah.
Menghormati karunia Allah dalam bentuk otak yang tak bisa berhenti berpikir ini, untuk satu gelar Doktor yang insyaAllah akan disusul gelar Doktor berikutnya setelah ini.
Mohon doanya.
Bismillah.
3C - Kunci Selesainya Kasus Kontroversi Ijazah JKW
oleh; dr Tifauzia Tyassuma
Tahun 2026 membuka babak selanjutnya dari Kasus Kontroversi Ijazah Joko Widodo vs TROY — Tifa-Roy.
Namun bagi saya, ini bukan sekadar perkara satu lembar ijazah. Ini adalah pelajaran besar tentang bagaimana sebuah bangsa memperlakukan kebenaran.
Sebab dalam negara yang sehat, kebenaran tidak boleh bergantung pada siapa yang paling berkuasa, siapa yang paling banyak pendukungnya, atau siapa yang paling keras membungkam pertanyaan.
Kebenaran harus sanggup berdiri di ruang terang. Ia harus dapat diperiksa. a harus dapat diuji. Ia harus dapat dipertanggungjawabkan.
Karena itulah, memasuki 2026, saya melihat babak ini bukan lagi sekadar perang opini. Bukan lagi sekadar hiruk-pikuk media sosial. Bukan lagi sekadar adu narasi antara mereka yang percaya dan mereka yang bertanya.
Babak ini harus naik kelas menjadi babak kejernihan. Dan kejernihan itu memiliki tiga pintu:
Clean Documents.
Clear Procedures.
Credible Witnesses.
Dokumen harus bersih.Clean Documents.
Artinya, dokumen tidak cukup hanya disebut ada. Ia harus bisa dilihat dalam konteksnya, diperiksa keutuhannya, ditelusuri asal-usulnya, diuji konsistensinya, dan diletakkan dalam rantai pembuktian yang terang. Dalam perkara apa pun, apalagi yang menyangkut figur publik dan sejarah kekuasaan nasional, dokumen bukan sekadar benda mati. Dokumen adalah jejak peradaban. Ia menyimpan memori institusi, rekam administratif, dan tanggung jawab hukum. Jika dokumen benar, ia tidak perlu takut cahaya. Jika dokumen kuat, ia tidak perlu dilindungi oleh kabut. Jika dokumen sahih, ia justru akan semakin tegak ketika diperiksa.
Prosedur harus benar. Clear Procedures.
Sebab kebenaran yang lahir dari prosedur yang kabur apalagi carut marut, akan selalu meninggalkan luka. Dalam negara hukum, cara menemukan kebenaran sama pentingnya dengan kebenaran itu sendiri. Tidak boleh ada proses yang berjalan dengan prasangka, tekanan, ketertutupan, atau ketimpangan akses. Tidak boleh ada warga negara yang dipaksa diam hanya karena ia bertanya. Tidak boleh ada hukum yang terasa tajam kepada penanya, tetapi tumpul kepada pertanyaan pokoknya. Prosedur yang benar berarti semua pihak diberi ruang yang adil. Hak tersangka dihormati. Bukti diuji. Ahli didengar. Rantai dokumen ditelusuri.
Sebab hukum bukan alat untuk memenangkan kekuasaan. Hukum adalah jalan untuk menemukan keadilan.
Saksi harus kredibel. Credible Witness
Dalam perkara besar, saksi bukan hanya orang yang hadir. Saksi adalah penjaga ingatan. Saksi membawa kepingan waktu yang tidak bisa digantikan oleh opini. Namun saksi yang dibutuhkan bukan saksi yang sekadar ramai. Bukan saksi yang hanya mengulang keyakinan. Bukan saksi yang hadir untuk memperkuat posisi politik tertentu.
Saksi yang dibutuhkan adalah saksi yang relevan, kompeten, konsisten, independen, dan berani diuji. Saksi yang tidak hanya berkata, tetapi mampu menjelaskan. Saksi yang tidak hanya mengingat, tetapi mampu menempatkan ingatannya dalam kronologi, dokumen, dan realitas administratif yang bisa diverifikasi.
Di sinilah pelajaran besar untuk Indonesia. Bahwa bangsa ini tidak boleh terus-menerus hidup dalam budaya “percaya saja”. Tidak boleh.
Bangsa besar tidak dibangun di atas kultus personal. Bangsa besar dibangun di atas institusi yang kuat, dokumen yang tertib, prosedur yang adil, dan warga yang berani berpikir.
Jika seorang warga bertanya, jawabannya bukan stigma. Jika seorang ilmuwan menguji, jawabannya bukan tekanan. Jika seorang ahli meneliti, jawabannya bukan pembungkaman. Jika sebuah dokumen dipersoalkan, jawabannya adalah pembuktian.
Karena pertanyaan bukan kejahatan. Keraguan bukan dosa. Penelitian bukan permusuhan.
Maka TROY, Tifa-Roy, dalam babak ini bukan sekadar nama
TROY adalah simbol dari keberanian untuk meminta kejernihan.
TROY adalah rakyat yang menuntut tegaknya kebenaran.
"Anda bisa menipu semua orang untuk sementara waktu, dan sebagian orang untuk selamanya.
Namun, anda tidak bisa menipu semua orang untuk selamanya"
(Abraham Lincoln)
Jika ada persidangan atas Laporan Polisi anda kepada saya, pak Jokowi, anda harus datang. Tidak bisa mangkir.
Kemarin-kemarin anda bisa mangkir. Tetapi untuk Laporan Polisi yang anda buat dengan nama saya, persidangan akan membuat anda HARUS HADIR sebagai saksi pelapor.
Dan, atas 709 dokumen yang disita oleh POLDA dan disiapkan menjadi barang bukti, saya sudah siapkan lebih dari 2.000++ pertanyaan yang harus anda jawab secara langsung, tidak bisa diwakilkan.
Dan persidangan WAJIB terbuka, sehingga 280 juta rakyat akan mendengarkan jawaban anda atas 2.000++ pertanyaan saya atas 709 dokumen itu.
Dan saya pastikan, butuh sekitar 4 tahun sidang bahkan lebih untuk menyelesaikan 2.000 pertanyaan itu.
Belum lagi pertanyaan saya terhadap 130 saksi yang meringankan anda.
Saya sebagai tersangka, berhak untuk bertanya kepada mereka di persidangan nanti, dan mereka WAJIB menjawab semua pertanyaan saya.
Setiap saksi akan saya tanya tiga hari tiga malam sampai saya puas.
Saya sudah menduga siapa saja mereka: orang-orang yang mengaku-ngaku sebagai teman kuliah, teman KKN, teman SD, SMP, SMA, Guru-guru, Dosen-dosen, saya sudah membuat daftar siapa saja mereka, sudah saya buat profil mereka, sudah saya investigasi mereka, dan dengan ilmu Neuroscience saya sudah bisa mengidentifikasi jawaban dan penjelasan apa yang dicangkokkan di otak mereka.
Saya pastikan saya akan bikin mereka terkencing-kencing dengan ribuan cecaran pertanyaan saya, selama berhari-hari, selama bertahun-tahun.
Dan pada satu titik di antara hari-hari sidang itu, KEBENARAN yang semurni-murninya, sejelas-jelasnya, seterang benderangnya, tentang Ijazah anda, juga masa lalu anda, juga siapa sebenarnya anda, akan terbuka.
Jika anda tidak mencabut Laporan Polisi anda, mari kita siapkan kesehatan fisik, kesehatan mental, kesehatan otak, dan kesehatan jiwa, untuk menjalankan persidangan, yang akan saya buat sangat panjang dan sangat lama, sangat rumit, sangat complicated, sangat menghabiskan dana negara, dan sangat membuat siapapun Lansia dengan penyakit Autoimun berat, tak akan sanggup menghadapinya.
Anda menuduh saya dengan pasal bukan main-main. Pasal dengan ancaman hukuman 6 tahun, 8 tahun, 12 tahun.
Artinya anda ingin menghancurleburkan, menghabisi hidup saya, itulah kekejaman dan kejahatan yang luarbiasa dilakukan oleh mantan Presiden kepada rakyatnya yang bertanya atas sebuah Dokumen Publik: Ijazah Presiden.
Karena itu, dengan segenap kekuatan batin, kekuatan jiwa, kekuatan otak dan kecerdasan saya, akan saya hadapi anda di pengadilan, jika memang anda ingin pengadilan terjadi.
Ingat, Laporan Polisi anda yang buat, maka, anda pak Jokowi, HARUS HADIR!
Guys, ada laporan baru dari lembaga riset Celios yang menurut gue adalah salah satu yang paling mengerikan yang pernah gue baca tentang kondisi ekonomi Indonesia.
Judulnya: Republik Oligarki Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026.
Dan datanya bukan dari sembarang sumber.
Dari Forbes.
Dari LHKPN.
Data yang sudah terverifikasi dan tidak bisa dibantah.
Fakta pertama yang langsung bikin gue sesak napas:
50 orang terkaya Indonesia hanya 50 orang total kekayaannya mencapai Rp4.600 triliun per 2026.
APBN Indonesia?
Rp3.800 triliun.
Artinya 50 orang itu lebih kaya dari seluruh anggaran negara yang digunakan untuk membiayai 270 juta rakyat Indonesia selama satu tahun penuh.
Satu tahun.
Gaji PNS, subsidi BBM, bayar utang, bangun jalan, biaya militer, semua program sosial semuanya masih kalah dari 50 orang itu.
Dan setiap harinya harta 50 orang itu naik Rp13 miliar per hari.
Sementara upah pekerja harian di Indonesia bergerak di kisaran Rp2.000 sampai Rp5.000 per jam.
Fakta kedua ketimpangan di antara pejabat negara sendiri:
Total kekayaan pejabat negara era Prabowo-Gibran: Rp1 triliun lebih.
Dan dari seluruh pejabat itu 73% kekayaannya hanya dikuasai oleh 12 orang.
Dua belas orang.
Yang masing-masing punya kekayaan di atas Rp1 triliun.
Siapa?
Salah satu yang terbesar adalah Menteri Pariwisata Widya Kusuma.
Ada juga Menteri Perumahan Rakyat.
Keduanya masuk dalam daftar lima pejabat terkaya.
Fakta ketigayang paling menohok soal TNI dan Polri:
Setiap tamtama TNI prajurit paling bawah butuh 252 tahun masa tugas untuk menyamai kekayaan Panglima TNI.
Dua ratus lima puluh dua tahun.
Kalau mulai kerja umur 20 baru bisa menyamai kekayaan atasannya di umur 272 tahun.
Itu bukan angka. Itu absurditas.
Di Polri sedikit "lebih baik" polisi golongan paling rendah butuh 139 tahun masa tugas untuk menyamai kekayaan Kapolri.
Ketimpangan ini bukan hanya antara rakyat dan orang kaya. Tapi di dalam institusi yang sama.
Di antara satu korps yang sama.
Fakta keempat anggota DPR versus konstituennya:
Anggota DPR Gorontalo kekayaannya 800 kali lipat dari rata-rata masyarakat Gorontalo yang mereka wakili.
Anggota DPR Yogyakarta 400 kali lipat dari rata-rata masyarakat Yogyakarta.
Orang-orang yang mengklaim mewakili rakyat hidupnya 400 sampai 800 kali lebih kaya dari rakyat yang katanya mereka wakili.
Dan mereka yang membuat undang-undang. Mereka yang memutuskan kebijakan pajak. Mereka yang menentukan siapa yang dapat subsidi dan siapa yang tidak.
Dan ini yang membuat seluruh gambar itu menjadi sangat gelap:
Celios mengajukan satu pertanyaan yang sangat sederhana: kalau 50 orang terkaya itu dipajaki hanya 2% dari total kekayaan mereka negara dapat berapa?
Rp93 triliun per tahun.
Sembilan puluh tiga triliun.
Setiap tahun.
Dari pajak 2% saja atas kekayaan 50 orang.
Itu lebih dari cukup untuk membiayai rekonstruksi bencana besar.
Untuk membenarkan semua perlintasan kereta berbahaya di Jawa yang butuh Rp4 triliun.
Untuk menggaji 8 juta guru honorer setahun penuh.
Untuk menutup seluruh defisit BPJS Kesehatan.
Hanya dari 50 orang.
Hanya 2%. Per tahun.
Tapi itu tidak terjadi.
Dan Celios menjelaskan kenapa:
Karena orang-orang yang punya kekayaan itu — adalah orang-orang yang sama yang membiayai kampanye politik, yang duduk di dewan komisaris BUMN, yang punya akses langsung ke pengambil keputusan.
Pajak kekayaan sudah masuk dalam rencana Kementerian Keuangan paling lambat 2028 kata mereka. Tapi implementasinya? Masih "akan akan akan" saja. Tidak pernah benar-benar dieksekusi.
Sementara yang terus dipajaki adalah kelas menengah yang sudah ngos-ngosan. Kelas menengah Indonesia turun 1,1 juta orang dalam setahun tapi mereka yang paling mudah dikejar pajaknya karena datanya ada, penghasilannya kelihatan.
Seperti kata peneliti Celios: berburu di kebun binatang. Hewannya kelihatan, tinggal tembak. Sementara yang benar-benar harus dipajaki terlalu kuat untuk disentuh.
Dan ini yang paling mengerikan dari seluruh laporan ini:
Ketimpangan yang ekstrem ini bukan hanya masalah ekonomi. Ini adalah bahan bakar untuk sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Celios menelusuri pola historis dan hasilnya konsisten. Ketika ketimpangan mencapai titik ekstrem dan orang-orang hopeless tidak melihat jalan keluar yang rasional mereka tidak lari ke gerakan buruh atau gerakan sosial yang terorganisir.
Mereka lari ke kelompok-kelompok yang menawarkan identitas, musuh bersama, dan rasa memiliki.
Di Italia 1930-an orang yang di-PHK direkrut oleh Black Shirt. Di Jerman industri tutup, pengangguran meledak, orang mencari pegangan.
Di Indonesia sendiri kerusuhan 1998 dan berbagai gejolak sosial sesudahnya, ketika ditelusuri, akar masalahnya selalu sama: ketimpangan ekonomi yang dibalut isu identitas.
Dan tanda-tandanya sudah mulai terlihat sekarang ormas-ormas yang berdemo bukan ke instansi pemerintah tapi ke lembaga bantuan hukum masyarakat sipil, bayaran demo yang menjadi solusi pengangguran, program-program besar yang menyerap tenaga kerja tapi dengan cara yang menciptakan ketergantungan bukan kemandirian.
Solusi yang Celios rekomendasikan dan ini sangat konkret:
Satu — pajak kekayaan 2% untuk 50 orang terkaya. Langsung hasilkan Rp93 triliun per tahun. Bukan mimpi Brazil dan Colombia sudah melakukannya dengan komite audit independen.
Dua — moratorium MBG. Hentikan sementara, perbaiki tata kelola dari akar, baru jalankan lagi dengan tepat sasaran fokus ke daerah 3T dan keluarga miskin ekstrem, bukan merata ke semua sekolah termasuk swasta di Jabodetabek.
Tiga — kembalikan 20 triliun yang diambil dari anggaran kesehatan ke Kementerian Kesehatan untuk program stunting yang sudah terbukti efektif. Benefit yang dihasilkan: Rp400 triliun. Versus MBG yang belum jelas benefit konkretnya.
Empat — pajak windfall untuk komoditas yang sedang untung besar batu bara, sawit, nikel, minyak. Mereka untung dari harga global yang tinggi, sementara rakyat menanggung subsidi energi. Ini bukan soal nasionalisasi ini soal keadilan distribusi keuntungan.
Indonesia bukan negara miskin. Indonesia adalah negara yang kekayaannya terkonsentrasi pada sangat sedikit orang, yang sistem pajaknya melindungi orang kaya dan membebani kelas menengah, dan yang program-program besarnya lebih banyak menciptakan celah korupsi baru daripada menyelesaikan masalah lama.
50 orang lebih kaya dari APBN. 12 pejabat kuasai 73% kekayaan seluruh pejabat negara. Tamtama butuh 252 tahun untuk menyamai Panglima. Anggota DPR 800 kali lebih kaya dari konstituennya.
Dan solusinya sudah ada. Jelas. Terukur. Bisa dijalankan hari ini.
Yang tidak ada adalah kemauan politik untuk melakukannya. Karena yang harus meloloskan kebijakan pajak kekayaan itu adalah orang-orang yang sama yang akan paling terdampak olehnya.
Itu bukan korupsi yang bisa ditangkap KPK. Itu adalah struktur. Dan struktur hanya bisa diubah kalau tekanan dari bawah lebih kuat dari kenyamanan di atas.
⚠️ Disclaimer: Berdasarkan laporan Celios "Republik Oligarki Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026" dan wawancara peneliti Celios Bima Yudistira. Data bersumber dari Forbes dan LHKPN yang dapat diverifikasi publik. Ini analisis berbasis riset independen bukan tuduhan hukum kepada individu manapun.
Seorang aktivis sumud Global Flotilla asal Italia ini begitu terkesan dengan akhlak kaum Muslimin, dan akhirnya ia bersyahadat dan shalat untuk pertama kalinya.
—
“Di akhir zaman Islam akan sampai ke seluruh penjuru dunia sebagaimana tersampainya malam dan siang”
Hadist
☕️🌹
Jalan surga sering sederhana. Sesederhana tiada Ilah selain Allah. Sesederhana diam dari ucap jelek. Sesederhana 'amal kecil istiqomah.
Sesederhana berdoa, mendoakan, dan minta didoakan. Seperti ungkapan Nabi kepada 'Umar, "Jangan lupakan kami dalam doamu, Saudara Tersayang."