Fun fact:
Kenapa dalam 10 tahun terakhir, Perdana Menteri UK ada 7 orang dan 6-nya resign semua?
Ternyata karena BREXIT. Sebuah kebijakan luar negeri paling celaka yang dimenangkan oleh demokrasi.
Pasca BREXIT, UK berada di jalur yang berbeda. Ini faktanya ges 👇
Belaga messiah pas demo, sok difoto candid, lalu upload di sosmed dengan caption cringe mentok, SAYA DIAM
Tersebar foto ia tertawa lepas saat makan bersama Menhan (sekarang udah jadi presiden), SAYA JUGA DIAM
Tapi, kalau sudah menghina King Totti, SAYA AKAN LAWAN! 🖕
Normalisasi beli dari pedagang kecil.
Karena mereka berdagang bukan untuk menyusun APBN. Bukan untuk membangun rumah bertingkat dengan pagar tinggi dan kamera di tiap sudut. Bukan untuk menambah koleksi mobil mewah yang bahkan harga velgnya mungkin setara modal dagangan mereka setahun. Dan bukan untuk rapat sambil plesiran ke luar negeri atas nama studi banding.
Mereka jualan untuk makan hari ini.
Untuk beli beras malam nanti.
Untuk bayar susu anak yang besok pagi tetap harus sekolah meski bapaknya belum tentu sarapan.
Mereka mungkin gak trading saham.
Gak paham $IHSG
Gak paham candle merah hijau.
Gak tahu apa itu foreign flow, yield obligasi, atau net sell asing.
Mereka juga mungkin gak pernah pegang USD.
Gak punya rekening dolar.
Gak pernah buka Bloomberg atau lihat kurs tiap pagi.
Tapi anehnya, setiap rupiah melemah, yang paling duluan sesak justru mereka.
Harga minyak naik, gorengan mengecil.
Harga bahan baku naik, porsi dikurangi diam2.
Gas mahal, beras naik, telur merangkak, sewa naik, listrik naik. Sementara pembeli tetap menawar seolah hidup pedagang kecil tidak ikut mahal.
Di negeri ini, keputusan besar sering dibahas dengan istilah rumit dan angka triliunan.
Padahal ujung paling nyatanya cuma satu, ada rakyat kecil yang makin sulit menutup pengeluaran harian.
Meski anak Anda dapat MBG, tetaplah beli gorengan di ujung gang. Tetap beli es teh dari gerobak yang mangkal sejak subuh.
Karena keuntungan proyek miliaran itu belum tentu mampir ke tangan mereka.
Ironis memang.
Program katanya demi makan anak2, tapi banyak pedagang kecil justru mengeluh dagangannya makin sepi. Seolah negara sedang memberi makan lewat satu tangan, sambil tanpa sadar mematikan dapur kecil lewat tangan yang lain.
Dan meski ada koperasi desa, tetaplah belanja ke tetangga sendiri. Sebab di balik senyum mereka menawarkan dagangan, sering ada kecemasan yang tidak ikut dipajang di etalase.
Ada yang menunggu dagangannya laku untuk beli susu anak. Ada yang berharap satu plastik sembako terjual agar listrik rumah tidak diputus.
Dan ada yang pura2 tersenyum padahal sejak pagi belum ada uang masuk sama sekali.
Lucunya, jargon UMKM hari ini terdengar begitu megah di podium2.
Katanya ekonomi rakyat.
Katanya keberpihakan.
Katanya serapan produk lokal.
Tapi di lapangan, banyak yang justru melihat barang UMKM datang dari gudang distributor besar. Sementara pedagang kecil hanya jadi penonton dari kata2 yang mengatasnamakan mereka.
Negeri ini memang unik.
Rakyat kecil diminta kuat, mandiri, kreatif, dan tahan banting. Sementara kebijakan sering lahir dari ruangan dingin yang terlalu jauh dari aroma minyak goreng gerobak kaki lima.
Padahal ekonomi bukan cuma soal grafik hijau dan presentasi PowerPoint.
Ekonomi juga tentang ibu2 yang senang karena dagangannya habis sebelum magrib. Tentang bapak penjual kopi yang bisa pulang membawa lauk. Tentang pedagang asongan yang malam ini tidak perlu bilang ke anaknya, “Besok aja ya.”
sumber:stockbitHendraSetiawan08
Guys, choki pardede baru aja ngasih sesuatu
yang menurut gw patut di tanyakan
jadi begini kata dia....
Kenapa ada orang yang IQ-nya biasa-biasa saja tapi hidupnya mulus, ditolong orang di mana-mana, karirnya naik terus
sementara ada yang jenius tapi stuck di tempat yang sama bertahun-tahun?
Jawabannya bukan soal nasib.
Jawabannya adalah kecerdasan sosial.
Apa itu kecerdasan sosial
dan kenapa ini beda dari IQ:
Konsep ini pertama kali dicetuskan oleh Edward Thorndike di tahun 1920-an.
Dia bilang ada kecerdasan yang sama sekali tidak diukur oleh tes IQ yaitu kemampuan untuk memahami orang lain dan mengelola hubungan sosial secara efektif.
IQ mengukur seberapa cepat otak lo memproses logika, angka, dan pola abstrak. Kecerdasan sosial mengukur seberapa baik lo bisa membaca situasi, memahami emosi orang lain, dan merespons dengan cara yang membuat orang merasa didengar dan dihargai.
Dan yang mengejutkan banyak orang: dua hal ini tidak selalu berjalan beriringan.
Orang yang jago matematika belum tentu jago baca emosi. Orang yang hafal ribuan fakta belum tentu tahu kapan harus diam.
Data yang perlu lo tahu dan ini yang bikin konsep ini tidak sekadar teori motivasi:
Ada penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Social Intelligence and Student Academic Performance at Post Graduate Level yang menemukan korelasi menarik:
mahasiswa dengan IPK 3,6 ke atas rata-rata memiliki skor kecerdasan sosial yang jauh lebih tinggi dibanding yang IPK-nya lebih rendah.
Bukan berarti orang pintar otomatis asik.
Tapi ada pola yang konsisten:
orang yang bisa mengelola hubungan sosialnya dengan baik cenderung perform lebih baik bahkan di lingkungan akademik yang sangat kompetitif sekalipun.
Dan lebih jauh dari itu riset tentang kecerdasan sosial menunjukkan bahwa orang dengan social intelligence yang tinggi cenderung lebih sehat, lebih bahagia, dan hidup lebih lama.
Bukan karena kebetulan. Tapi karena mereka tidak punya musuh yang menguras energi, tidak terjebak dalam konflik yang tidak perlu, dan punya jaringan dukungan yang kuat di saat mereka membutuhkan.
Kenapa orang pintar sering gagal secara sosial dan ini yang paling relate:
Daniel Goleman yang terkenal dengan konsep kecerdasan emosional mengatakan bahwa fondasi utama kecerdasan sosial adalah kemampuan membaca emosi orang secara real time.
Dan masalahnya: orang pintar sering terjebak dalam satu mode mendengar untuk menjawab, bukan mendengar untuk mengerti.
Lo kenal tipe orang ini. Waktu lo ngomong dia sudah menyusun argumen balasannya sebelum kalimat lo selesai.
Waktu ada perdebatan tujuannya menang, bukan memahami. Waktu ada orang baru di ruangan dia fokus keliatan keren, bukan genuinely curious tentang orang itu.
Dan hasilnya? Tanpa sadar dia nyebelin. Bukan karena dia jahat.
Tapi karena social skill-nya tidak berkembang seiring kemampuan kognitifnya.
Lima cara konkret untuk meningkatkan kecerdasan sosial:
Pertama — latih kepekaan sosial yang sesungguhnya. Waktu lo ngobrol sama orang, stop fokus ke apa yang mau lo jawab. Fokus ke nada suaranya, ekspresi wajahnya, timing dia ngomong.
Ada perbedaan besar antara mendengar kata-kata dan benar-benar menangkap apa yang seseorang rasakan.
Kedua — stop pengen kelihatan pintar. Ini yang paling sulit untuk orang-orang dengan kecerdasan tinggi. Ubah tujuan percakapan: bukan bagaimana gue kelihatan keren, tapi apa yang sebenarnya orang ini rasakan dan pikirkan.
Riset MIT tentang collective intelligence menunjukkan bahwa kelompok yang paling efektif bukan yang punya anggota paling pintar tapi yang anggotanya paling bisa saling memahami satu sama lain.
Ketiga — bangun emotional mirroring. Otak manusia punya mirror neurons sistem saraf yang secara harfiah memungkinkan kita menularkan emosi satu sama lain. Kalau lo masuk ke situasi sosial dengan energi yang tepat orang di sekitar lo akan merasakannya.
Sebaliknya juga berlaku. Belajar untuk genuinely merasakan apa yang orang lain rasakan bukan berpura-pura, tapi benar-benar masuk ke kondisi emosional mereka.
Keempat — perbanyak exposure sosial yang beragam. Jangan hanya nongkrong dengan circle yang sama terus. Social Intelligence Hypothesis menyatakan bahwa semakin kompleks interaksi sosial yang lo hadapi semakin terasah social brain lo. Ngobrol sama orang dengan background yang berbeda, masuk ke situasi yang sedikit awkward, keluar dari comfort zone sosial lo.
Kelima — bangun feedback loop yang jujur. Untuk tahu apakah lo asik atau tidak lo tidak bisa mengandalkan penilaian lo sendiri. Itu adalah bias terbesar.
Cari satu atau dua orang yang lo percaya untuk memberi feedback jujur tentang bagaimana lo di lingkungan sosial. Dan yang paling penting: jangan baper kalau feedbacknya tidak enak didengar. Itu bukan serangan personal. Itu kompas yang lo butuhkan.
Tanda-tanda kecerdasan sosial yang rendah checklist yang perlu lo tahu:
Lo selalu jadi yang paling banyak ngomong di setiap pertemuan tanpa sadar. Ada satu grup — entah grup kelas, grup kantor, grup apapun yang tidak ada lo di dalamnya.
Orang sering tidak merespons dengan antusias waktu lo ngomong tapi lo tidak tahu kenapa. Lo sering merasa salah dipahami padahal lo sudah menjelaskan dengan sangat logis. Lo lebih fokus memenangkan argumen daripada memahami posisi lawan bicara.
Satu saja dari tanda-tanda itu sudah cukup untuk dijadikan bahan refleksi.
Dan ini yang paling penting dari seluruh pembahasan ini:
Kecerdasan sosial bukan bakat lahir yang lo punya atau tidak punya. Ini adalah skill yang bisa dilatih. Sama seperti otot semakin sering lo melatihnya dengan cara yang benar, semakin kuat.
Dan dalam dunia nyata di tempat kerja, di bisnis, dalam hubungan yang menentukan seberapa jauh lo bisa pergi bukan seberapa tinggi IQ lo.
Tapi seberapa banyak orang yang genuinely mau membantu lo karena mereka merasa dihargai dan dimengerti ketika bersama lo.
Orang yang ditolong bukan orang yang paling pintar di ruangan. Orang yang ditolong adalah orang yang paling asik untuk diajak kerja sama.
Guys, Purbaya baru saja bikin pernyataan di acara peresmian program reksa dana di BEI yang menurut gue perlu dibaca dengan sangat kritis.
IHSG bisa tembus 28.000 di 2029-2030.
Mereka bilang Purbaya gila.
Dan gue mau jawab dengan satu pertanyaan sederhana:
Sebelum bicara soal 28.000 bagaimana dengan target yang sudah dia ucapkan sebelumnya?
Target Purbaya yang sudah ada sebelum ini:
Purbaya sebelumnya sudah menyatakan IHSG akan mencapai level 10.000 di akhir 2026.
Hari ini 28 April 2026 IHSG ada di sekitar 7.000.
Untuk mencapai 10.000 di akhir 2026 IHSG harus naik sekitar 43% dalam 8 bulan ke depan.
Di tengah kondisi:
Rupiah di Rp17.300 per dolar.
Modal asing keluar Rp28 triliun di Q1 2026.
Moody's dan Fitch sudah downgrade outlook Indonesia dari stable ke negatif.
Defisit APBN sudah melampaui 3,72% GDP secara annualized. Harga komoditas global bergejolak karena perang Iran-AS.
Tapi sekarang Purbaya sudah loncat jauh ke depan — bicara soal 28.000 di 2030.
Bukan karena target 10.000-nya sudah tercapai.
Tapi karena belum tercapai dan dia sudah mulai bicara angka baru yang lebih besar dan lebih jauh waktunya.
Argumen yang dia pakai dan ini yang perlu dicermati:
Purbaya berargumen dengan data historis:
IHSG dari 400-an di 2002 naik ke 2.500 di 2009 10 kali lipat dalam 7 tahun.
Jadi dari 7.000 sekarang ke 28.000 di 2030 4 kali lipat dalam 4-5 tahun menurutnya bukan hal gila.
Secara matematis argumen itu tidak salah.
IHSG memang pernah tumbuh seperti itu.
Tapi ada yang dia hilangkan dari perbandingan itu:
2002-2009 adalah era ekspansi ekonomi global yang sangat kuat. China sedang booming.
Komoditas Indonesia batubara, CPO, nikel —emua harganya meledak.
Investasi asing mengalir deras ke emerging markets.
Indonesia menikmati windfall dari semua itu.
Kondisi 2026 ke depan: perang Iran-AS mengguncang rantai pasok global.
Amerika sendiri sedang menghadapi inflasi tinggi.
Ketidakpastian geopolitik di level yang tidak pernah ada di era 2002-2009.
Dan Indonesia masuk ke era ini dengan defisit fiskal yang melebar, rupiah yang lemah, dan kepercayaan investor yang sedang dipertanyakan.
Membandingkan IHSG 2002-2009 dengan IHSG 2026-2030 tanpa menyebut perbedaan konteks globalnya itu adalah perbandingan yang tidak lengkap.
Soal Gen Z yang berinvestasi dan ini poin yang paling perlu diluruskan:
Purbaya menyebut 57% investor pasar modal adalah Gen Z sebagai salah satu faktor yang akan mendorong IHSG ke 28.000.
Tapi ada dua hal yang perlu dipertanyakan:
Pertama — Gen Z yang berinvestasi di pasar modal saat ini mayoritas adalah investor ritel dengan modal kecil.
Pergerakan IHSG secara fundamental lebih digerakkan oleh institutional investor dan foreign fund bukan oleh jumlah rekening retail yang bertambah.
Kedua — data kelas menengah Indonesia turun dari 57 juta ke 47 juta dalam beberapa tahun terakhir. Tabungan kelas menengah mendekati nol.
Omset pegadaian melonjak.
Ini adalah kondisi di mana daya beli untuk investasi justru sedang tertekan bukan sedang menguat.
Gen Z banyak yang buka rekening saham tapi berapa yang punya kapasitas finansial untuk terus berinvestasi dalam jumlah signifikan di tengah kondisi ekonomi yang semakin berat?
Yang paling perlu dipertanyakan dari seluruh pernyataan ini:
Purbaya adalah Menteri Keuangan bukan analis saham, bukan fund manager, bukan ekonom pasar modal.
Ketika seorang Menteri Keuangan bicara proyeksi IHSG di forum publik pasar akan membacanya sebagai sinyal resmi dari pemerintah. Bukan sekadar opini pribadi.
Dan kalau proyeksi itu ternyata tidak terwujud bukan Purbaya yang rugi. Yang rugi adalah investor ritel yang mungkin terpengaruh oleh pernyataan pejabat negara dan membuat keputusan investasi berdasarkan proyeksi itu.
Dan ini yang paling tidak bisa diabaikan:
Di saat yang sama ketika Purbaya bicara IHSG 28.000 di 2030:
Prof. Feri Latuhihin ekonom yang proyeksi dolar Rp17.000-nya sudah terbukti — sedang memperingatkan potensi resesi dan dolar ke Rp25.000.
World Bank memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 4,7% yang membuat Purbaya marah.
Moody's dan Fitch sudah downgrade outlook Indonesia.
Defisit APBN sudah melampaui target 3% secara proyeksi tahunan.
Di satu sisi ada data-data yang memperingatkan.
Di sisi lain ada Menkeu yang proyeksikan IHSG naik 4 kali lipat.
Salah satu dari dua hal ini yang benar.
Dan track record proyeksi Purbaya versus track record World Bank, Moody's, dan Fitch — itu adalah perbandingan yang bisa dinilai sendiri oleh siapapun yang mau jujur.
Optimisme itu bagus.
Menkeu yang yakin dengan ekonomi negaranya itu baik.
Tapi ada batas antara optimisme yang berbasis data dan optimisme yang berbasis keinginan.
IHSG 10.000 di akhir 2026 belum terwujud. Kondisi makroekonomi sedang berat. Data-data internasional memperingatkan. Dan Purbaya sudah loncat bicara 28.000 di 2030.
Bukan karena targetnya tidak mungkin secara matematis. Tapi karena menyebut angka besar tanpa menjelaskan dengan jujur apa risiko dan prasyarat yang harus dipenuhi itu bukan komunikasi kebijakan yang bertanggung jawab.
Rakyat yang mendengar angka 28.000 dari Menkeu dan kemudian membuat keputusan investasi berdasarkan itu mereka yang menanggung risikonya kalau ternyata angka itu tidak terwujud.
Bukan Menkeu-nya.
Guys, ada berita hari ini yang menurut gua adalah salah satu sinyal paling serius tentang kondisi keuangan negara yang perlu dipahami semua orang.
Kemenkeu baru saja mencopot dua pejabat eselon I sekaligus Dirjen Anggaran Luky Afirman dan Dirjen Strategi Ekonomi dan Fiskal Febrio Kacaribu. Keduanya dinonaktifkan dan digantikan pelaksana harian sambil menunggu pejabat definitif.
Dan ini bukan pencopotan pertama.
Sebelumnya Dirjen Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan Masyita Crystallin juga sudah dicopot. Artinya sekarang ada tiga kursi Dirjen kosong di Kemenkeu bersamaan.
Tapi yang bikin gua tidak bisa langsung lanjut adalah isu yang beredar di balik pencopotan ini.
Kabarnya penyebabnya adalah APBN yang hanya mampu bertahan tiga bulan ke depan.
Tiga bulan.
Dari April berarti sampai Juli 2026.
KENAPA INI SANGAT MENGKHAWATIRKAN
Dirjen Anggaran adalah orang yang bertanggung jawab atas pengelolaan dan eksekusi anggaran negara.
Dirjen Strategi Ekonomi dan Fiskal adalah orang yang merancang strategi keuangan dan fiskal jangka pendek dan panjang.
Dua orang yang paling bertanggung jawab atas kesehatan APBN dicopot bersamaan di tengah situasi di mana ruang fiskal Indonesia sedang dalam tekanan paling besar dalam beberapa tahun terakhir.
Konteksnya perlu dipahami bersama.
APBN sudah dipotong Rp80 triliun lebih di awal tahun untuk efisiensi.
MBG menyedot hampir Rp1 triliun per hari.
Perang Iran membuat harga energi melonjak dan rupiah melemah.
Penerimaan pajak tertekan karena ekonomi global melambat.
Dan sekarang ada isu bahwa kas negara hanya cukup untuk tiga bulan ke depan.
Kalau isu itu benar maka ini bukan sekadar masalah administrasi pergantian pejabat.
Ini adalah krisis fiskal yang sangat serius yang sedang terjadi di balik layar.
YANG ANEH DARI RESPONS MENKEU
Menkeu Purbaya ketika ditanya hanya mengkonfirmasi bahwa pencopotan benar terjadi dan kedua pejabat itu diberi waktu istirahat dulu sebelum penugasan berikutnya.
Tidak ada penjelasan tentang alasan pencopotan. Tidak ada klarifikasi soal isu APBN tiga bulan.
Tidak ada pernyataan yang menenangkan pasar atau publik tentang kondisi fiskal sesungguhnya.
Dan ini adalah pilihan komunikasi yang sangat berbahaya di tengah situasi yang sudah sangat sensitif. Kekosongan informasi dari otoritas resmi akan selalu diisi oleh rumor.
Dan rumor tentang APBN yang hanya bertahan tiga bulan kalau tidak segera dikonfirmasi atau dibantah dengan data yang konkret bisa menjadi self-fulfilling prophecy yang sangat merusak kepercayaan pasar.
APA YANG HARUS DITANYAKAN
Pertama —apakah benar APBN hanya mampu bertahan tiga bulan ke depan? Ini harus dijawab dengan data yang transparan dan bisa diverifikasi bukan dengan pernyataan umum bahwa kondisi fiskal aman.
Kedua — apakah pencopotan ini adalah akuntabilitas atas kegagalan proyeksi fiskal?
Kalau ya maka ini adalah langkah yang benar pejabat yang bertanggung jawab atas proyeksi yang salah harus diganti. Tapi publik berhak tahu bahwa itu yang terjadi.
Ketiga — siapa yang akan mengisi tiga kursi Dirjen kosong ini dan dalam waktu berapa lama?
Karena tiga posisi strategis yang diisi pelaksana harian bersamaan di kementerian yang paling kritis dalam kondisi fiskal yang tertekan adalah situasi yang tidak ideal.
Keempat bagaimana pemerintah berencana menutup potensi shortfall anggaran yang dilaporkan? Apakah ada rencana pemotongan anggaran tambahan? Penerbitan surat utang? Atau ada sumber penerimaan baru yang sedang disiapkan?
pergantian pejabat di Kemenkeu itu hal biasa dan bisa terjadi karena berbagai alasan.
Tapi tiga Dirjen kosong bersamaan di tengah isu APBN yang hanya cukup tiga bulan ke depan di tengah tekanan global yang tidak mereda, perang Iran yang belum selesai, rupiah yang melemah, dan program-program besar yang terus menyedot anggaran — itu bukan hal biasa.
Dan yang paling menggelisahkan adalah ketika kondisi seperti ini terjadi, publik tidak mendapat penjelasan yang jelas dan jujur dari pemerintah tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Guys, Rocky Gerung baru ngobrol panjang dan ini salah satu analisis paling tajam dan paling berani soal hubungan Prabowo dan Jokowi yang pernah gue rangkum.
Tidak ada basa-basi.
Langsung ke intinya.
Prabowo sudah tidak butuh Jokowi secara politik:
Buat apa butuhnya Pak Prabowo pada Jokowi?
Butuh secara persahabatan mungkin.
Tapi secara politik tidak butuh apa-apa lagi.
Rocky menjelaskan kenapa dengan logika yang dingin: Jokowi sudah terlalu terlihat.
Dan seseorang itu efektif justru ketika tidak terlihat.
Jokowi yang masih aktif di publik muncul di sana-sini, ngurusin PSI, membesarkan nama Gibran justru memperlihatkan bahwa dia sudah kehilangan energi politiknya yang sesungguhnya.
Jokowi tidak efektif lagi karena dia akhirnya keluar sendiri.
Justru sangat terlihat.
Soal winning formula yang sudah berubah:
Prabowo tiga kali ikut pemilu sebagai macan kalah. Satu kali jadi gemoi menang.
Dan strategi gemoi itu adalah strategi Jokowi.
Tapi sekarang Prabowo sudah tidak memakai itu lagi. Dia sudah menyerap semua energi kemenangan dari Jokowi dan sekarang bergerak dengan cara dan agenda sendiri.
Seorang komandan tidak mengulang strategi yang sama dua kali. Kalau diulang kebaca sama lawan.
Soal pertemuan Prabowo-Megawati:
Rocky membacanya sebagai sinyal yang sangat signifikan.
Prabowo lebih sering ketemu Megawati daripada ketemu Jokowi sekarang dan itu bukan kebetulan.
Intinya:
Prabowo sedang merekalibrasi aliansi politiknya menuju 2029.
Jokowi bukan bagian dari formula baru itu.
Dan ada kalimat Rocky yang menohok soal pertemuan Mega-Prabowo:
Tenang Bu Mega saya masih ingat Perjanjian Batu Tulis.
Pada waktunya.
Soal orang-orang yang minta maaf ke Jokowi:
Beberapa tokoh yang selama ini vokal soal ijazah Jokowi tiba-tiba minta maaf.
Rocky melihat ini justru sebagai kabar buruk buat Jokowi sendiri.
Jokowi dimaafkan oleh orang-orang bego itu.
Musuh utama Pak Jokowi adalah termul-termul ini.
Tidak ada satupun yang bisa membantah dalil mereka yang anti-Jokowi.
Oposisi yang beneran tidak minta maaf.
Oposisi sejati menghormati lawannya dengan cara bermain serius sampai menit 90 bukan kabur di tengah jalan.
Orang yang minta maaf pada Jokowi justru tidak menghargai Jokowi.
Soal Prabowo dan ide sosialisme gap antara ambisi dan kapasitas:
Rocky mengakui Prabowo punya ide sosialistis yang genuine MBG, koperasi, sekolah rakyat, perumahan rakyat. Semua itu adalah narasi sosialis.
Tapi masalahnya satu: negara tidak punya uang. Dan kabinet yang harusnya menjalankan ide itu Rocky menyebutnya 70% tidak capable. Presiden sendiri dalam hati mungkin sudah tahu itu.
"Sosialisme harus dibiayai negara. Negara tidak punya uang. Masalahnya di situ."
Dan Danantara yang seharusnya jadi mesin state capitalism lebih banyak menguntungkan oligarki yang dapat uang gede dari sana. Bukan rakyat yang merasakannya pertama.
Soal BOP dan posisi Prabowo di geopolitik:
Rocky melihat Prabowo sedang mencari cara keluar dari BOP secara beradab karena terlanjur masuk tapi tidak mau dicatat sebagai bagian permanen dari orbit Trump.
"Kalau keluar sekarang malu. Jadi presiden sedang cari cara transisi yang elegan."
Dan Rocky menawarkan satu tesis menarik: Prabowo sebenarnya ditakdirkan untuk jadi pemimpin Asia-Afrika bukan pemain di orbit Amerika atau Rusia. Karena itulah Indonesia punya hak moral historis.
"Setelah epoh Trump selesai ada epoh baru. Epoh Prabowo sebagai pemimpin Asia-Afrika. Itu lebih realistis."
Soal faksionalisme di tubuh TNI:
Ini bagian yang paling serius dan paling jarang dibahas secara terbuka.
Rocky menyebut ada dua kubu di dalam kekuasaan sekarang satu yang tergoda dengan militarisme satu yang betul-betul ingin mempertahankan nilai masyarakat sipil.
Dan perwira-perwira muda yang masuk AKMIL setelah tahun 2000 sudah punya software yang berbeda. Mereka belajar di Amerika, Australia, Inggris. Mereka tidak akan otomatis ikut kalau ada yang ingin lintas batas.
"Presiden mengerti bahwa era militarisme sudah selesai. Tetapi ada yang tidak tercerahkan di sekelilingnya dan punya pengaruh."
Dua menteri favorit Rocky yang dia sebut di ujung:
Purbaya dan Fero. Keduanya dia sebut sebagai "teman diskusi" bukan karena setuju dengan semua kebijakannya, tapi karena mereka bisa diajak bicara serius.
Prabowo sedang dalam transisi besar.
Dari Prabowo yang bergantung pada formula Jokowi ke Prabowo yang mencari identitas kepemimpinannya sendiri.
Dari orbit Amerika ke posisi pemimpin non-blok Asia-Afrika.
Dari kabinet transaksional ke legitimasi yang dibangun lewat program sosial langsung ke rakyat.
Apakah semua itu akan berhasil?
Rocky tidak memberikan jawaban pasti.
Tapi dia memberikan peta yang sangat jelas tentang di mana kesulitannya ada.
Presiden punya kapasitas bermain di elit internasional.
Tapi bangsa ini tidak mampu setara dengan kapasitas presiden.
Itu yang perlu pelan-pelan diterangkan.
Guys Danantara mau terbitkan surat utang lagi. Rp7 triliun.
Tenor 5 dan 7 tahun.
Bunganya 2%.
Gw ulangi.
Dua persen.
Deposito bank digital sekarang kasih 4 sampai 6%. SBN ritel kuponnya 6 sampai 7%.
US Treasury yield-nya 4 sampai 5%.
Dan Danantara mau jual surat utang dengan bunga 2%.
Secara logika investasi paling dasar ini tidak masuk akal untuk investor retail biasa.
Kenapa lo mau kasih duit ke Danantara dengan bunga 2% kalau opsi lain kasih dua sampai tiga kali lipatnya dengan risiko yang lebih jelas?
Tapi sebelumnya Patriot Bond Rp50 triliun dengan bunga yang sama kata mereka terserap 100%.
Yang beli siapa?
Hampir pasti bukan ibu-ibu yang baca brosur di bank. Bukan anak muda yang scroll TikTok soal investasi. Yang beli besar adalah konglomerat Indonesia.
Grup-grup besar yang punya kas besar dan punya kepentingan besar untuk tetap baik-baik sama pemerintah.
Dan itu bukan filantropi.
Itu kalkulasi bisnis yang sangat dingin.
Kalau lo konglomerat Indonesia lo punya izin usaha, konsesi tambang, kontrak pemerintah, akses proyek infrastruktur yang semua bergantung pada hubungan baik dengan penguasa.
Beli Patriot Bond Rp1 triliun dengan bunga 2% itu bukan rugi itu biaya politik.
Lo bayar diskon dari return pasar demi akses dan proteksi yang nilainya jauh lebih besar dari selisih bunganya.
Sekarang pertanyaannya apakah konglomerat mau beli lagi di putaran kedua ini.
Kondisinya jauh berbeda.
IHSG sudah turun lebih dari 20% dari puncak.
Rupiah di 17 ribu.
Perang Iran belum selesai.
Rating outlook Indonesia sudah diturunkan Moody's dan Fitch.
Saham-saham konglomerat sendiri sedang kena pressure MSCI free float.
Kas mereka tidak sebebas dulu.
Dan kalkulasi politiknya mungkin sudah berubah.
Tapi ada satu hal yang tidak berubah.
Selama pemerintah masih pegang kunci izin dan konsesi konglomerat tidak bisa benar-benar bilang tidak.
Mereka mungkin tawar.
Mungkin minta porsi lebih kecil.
Mungkin minta konsesi lain sebagai kompensasi.
Tapi keluar dari game ini sepenuhnya terlalu berisiko untuk bisnis mereka.
Dan itulah yang paling menarik dari seluruh skema ini.
Danantara tidak perlu jual produk yang kompetitif secara pasar.
Mereka jual sesuatu yang jauh lebih berharga dari bunga 2% akses dan aman.
Kalau lo investor retail biasa ini bukan untuk lo. Return-nya tidak masuk akal.
Kalau lo konglomerat dengan kepentingan bisnis yang bergantung pada pemerintah ini bukan investasi.
Ini iuran.
Ibarat preman di pasar cuk
Dan bedanya tipis sekali.
"Guys Prabowo baru aja bilang dia happy karena ROA Danantara naik 300% di tahun 2025.
Sebelum lo ikut tepuk tangan gw mau ajak lo mikir sebentar.
ROA itu simpelnya adalah dari semua uang yang dikelola, berapa persen yang balik jadi keuntungan.
Danantara ngklaim kelola aset 1 triliun dolar. Itu setara 16.000 triliun rupiah. Dan katanya ROA nya naik 300%.
Kedengarannya gila. Tapi gw mau tanya satu hal dulu.
300 persen dari berapa?
Karena ini yang tidak pernah dijelaskan.
Kalau ROA awalnya 0.1% terus naik 300% berarti sekarang cuma 0.3%. Dari aset 16.000 triliun itu keuntungannya cuma sekitar 48 triliun. Terdengar besar tapi untuk ukuran aset sebesar itu itu sangat kecil.
Dan gw kasih perbandingan biar lo ngerti.
BlackRock itu perusahaan investasi terbesar di dunia. Kelola aset 10 kali lebih besar dari Danantara. Timnya ribuan orang. Teknologinya terdepan. Pengalamannya puluhan tahun.
ROA mereka per tahun sekitar 0.05 sampai 0.06 persen.
Warren Buffett yang udah investasi selama 60 tahun lebih dan dianggap investor terbaik sepanjang sejarah rata rata return nya sekitar 20 persen per tahun. Dan itu dianggap luar biasa oleh seluruh dunia.
Danantara yang baru dibentuk belum genap setahun klaim ROA naik 300%.
Masuk akal gak?
Dan ini yang paling penting lo pahami.
Danantara itu kelola aset BUMN Mandiri, BRI, BNI, PLN, Pertamina, Telkom. Perusahaan perusahaan itu udah ada puluhan tahun. ROA mereka udah ada dari sebelum Danantara lahir.
Jadi pertanyaannya simpel ROA yang naik 300% itu beneran karena kehebatan Danantara? Atau karena mereka pilih angka pembanding yang paling menguntungkan buat dijadiin headline?
Aset yang dikelola Danantara itu bukan uang dari langit. Itu uang rakyat. Aset yang dibangun dari pajak dan kerja keras puluhan tahun.
Kalau beneran naik 300% tunjukkan laporan keuangannya. Tunjukkan siapa auditor independennya. Tunjukkan metodologinya.
Karena angka tanpa bukti yang bisa diverifikasi itu bukan prestasi.
Itu iklan.
Lain orang, lain rezeki. Some get married early, some grow fast in career, some have amazing friends. Don’t compare—Allah’s plan for you is always the best. Be grateful, always.
Awal Mula Perang Dunia III di Asia Barat
Pertempuran yang tampaknya tengah berlangsung saat ini antara Iran dan Israhell sebenarnya adalah pertempuran untuk menentukan masa depan tatanan dunia.
Perang ini bukan sekadar perang antara rudal dan pesawat tanpa awak, tetapi konfrontasi antara dua poros peradaban, dua pandangan dunia, dan dua jalan bagi masa depan umat manusia.
Iran telah memasuki tahap pertempuran sejak kemarin, yang dimensinya telah diprediksi dalam analisis militer Barat yang paling tidak dirahasiakan.
Setelah serangan mendadak dan kerugian besar bagi jajaran pertama komandan militernya, bersama dengan peretasan sebagian komunikasi dan koordinasi antara sistem pengawasan dan radar, Iran mampu pulih dalam waktu kurang dari 12 jam, dan kemudian setelah 24 jam dan setelah dimulainya proses ini, situasi dengan cepat kembali ke 85% dari keadaan yang sama seperti sebelum operasi Israel, dan segera kondisi lainnya akan kembali normal, dan setelah menetralkan jaringan infiltrasi, Iran dapat dengan mudah fokus pada tujuannya sendiri.
Jangan lupa bahwa saat ini Iran tidak hanya terlibat perang dengan Israel, tetapi juga secara praktis menghadapi seluruh infrastruktur keamanan dan pertahanan NATO dan negara-negara Arab-Israel-Barat.
Serangan terhadap tanah Iran secara teknis sangat maju dan membutuhkan banyak intelijen. Israel dengan jelas menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa mereka telah menggunakan semua kapasitas dunia Barat.
Namun Iran tidak hanya melawan, tetapi juga mampu mengganggu keseimbangan dalam gelombang pertama operasi ini dan, dengan serangan yang sangat besar terhadap Israel, menyebabkan negara-negara Eropa menyampaikan pesan Israel untuk gencatan senjata ke Tehran dalam waktu kurang dari sehari.
Namun ini hanyalah awal dari ilusi.
Di inti pertempuran ini, satu hal penting harus dicatat: Iran tidak sendirian. Baik dari perspektif militer maupun dari perspektif peradaban. Saat ini, musuh-musuh Iran - Israel, Amerika, dan Eropa - tahu betul bahwa jika Iran menang, mereka tidak akan lagi dapat menggunakan model seratus tahun terakhir untuk mendominasi. Iran, pada kenyataannya, berdiri di gerbang sejarah yang baru.
Kita tidak boleh lupa bahwa rencana serangan AS dan Israel tidak hanya bergantung pada serangan militer, tetapi tujuan utama mereka adalah untuk menciptakan rasa takut dan menggunakan kelompok teroris dan separatis di dalam Iran.
Faktanya, saat ini, setelah melewati tahap pertama, Iran menghadapi ancaman dari kelompok-kelompok seperti Jaish al-Adl, beberapa cabang Taliban yang tidak terkendali, kelompok teroris Kurdi anti-Iran, dan gerakan-gerakan yang secara tersembunyi didukung oleh Azeri, Arab, dan bahkan kaum royalis dan Baha'i.
Kelompok-kelompok ini bukan sekadar penentang rezim, tetapi juga alat untuk mengganggu stabilitas internal negara.
Kehadiran mereka di daerah perbatasan dan daerah minoritas dirancang justru dengan tujuan untuk menciptakan ketidakamanan.
Dalam keadaan seperti itu, peran pasukan rakyat, intelijen, dan keamanan lebih vital dari sebelumnya. Terutama peran pasukan rakyat.
Situasi ini tidak terbatas di Iran tetapi juga terjadi di Irak.
Faktanya, situasi di Irak lebih rumit. Elemen-elemen ISIS dan kelompok teroris lainnya, meskipun tampak diam, masih sepenuhnya siap untuk membuat lapangan menjadi kacau dalam sekejap. Dalam situasi seperti itu, penyebaran Pasukan Mobilisasi Populer yang terorganisasi di desa-desa dan kota-kota bukanlah taktik militer, tetapi kebutuhan keamanan. Musuh berusaha menghancurkan garis depan dukungan Iran di Irak untuk membatasi rute pasokan logistik dan kedalaman strategis Iran.
Di garis depan perlawanan internasional, ada tiga kekuatan utama, yang masing-masing merupakan pilar tekanan regional hegemon Iran dan sekutunya di poros perlawanan: Hizbullah di Lebanon, Ansarullah di Yaman, dan kelompok Palestina di Gaza. Hizbullah tetap menjadi salah satu struktur paramiliter yang paling koheren dan canggih di dunia.
Mereka telah mempertahankan kekuasaan mereka dan menunggu saat ketika garis depan utara Israel lepas kendali.
Gerakan Ansarullah Yaman, meskipun tampaknya lelah dengan perang yang panjang, hanya selangkah lagi dari melancarkan serangan yang mirip dengan serangan yang dipimpin Saudi.
Di Gaza, kelompok perlawanan juga jelas kembali ke taktik ofensif penuh setelah periode yang tampak tenang.
Sementara itu, ada isu utama yang mungkin kurang mendapat perhatian: peran Rusia dan Cina dalam masa depan pertempuran ini. Banyak yang percaya bahwa Iran berjuang sendirian dan tidak membutuhkan bantuan.
Secara teknis ini benar, tetapi dari perspektif strategis jangka panjang, itu tidak benar.
Intinya adalah: jika Iran menang, tatanan dunia akan berubah, dan jika Rusia dan Cina tidak menjadi bagian dari perubahan ini, mereka tidak akan lagi menjadi mitra tetapi penonton di pinggir lapangan.
Bagi Rusia, tanda-tandanya jelas. Serangan pesawat tak berawak yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap pangkalan udara strategis negara itu, terutama pembom jarak jauh, telah menunjukkan bahwa Barat bersedia melewati batas merah apa pun. Bagi Rusia, yang juga terlibat dalam perang gesekan di Ukraina, partisipasi aktif dalam pencegahan Barat di wilayah Iran bukanlah suatu pilihan; itu adalah suatu keharusan. Karena jika Iran runtuh atau melemah, Moskow akan menjadi garis depan berikutnya.
Cina juga berada dalam posisi yang sensitif. Hingga 80% impor minyak dan energinya dilakukan di sepanjang rute yang kini berada dalam jangkauan rudal, pesawat nirawak, dan ketidakamanan regional.
Dengan menciptakan ketegangan di Laut Arab dan Samudra Hindia, Amerika Serikat secara efektif mencoba mengancam rute energi Tiongkok. Jika Iran dikalahkan, Tiongkok akan menjadi yang pertama terkena dampak; baik secara ekonomi maupun geopolitik.
Di sisi lain, jika Rusia dan Tiongkok tetap menjadi pengamat pada tahap ini dan membatasi peran mereka pada pernyataan diplomatik, mereka tidak akan lagi memiliki hak untuk mengharapkan hubungan yang setara setelah kemenangan Iran.
Iran kini berada di garis depan pertempuran yang hasilnya adalah pembagian kembali kekuatan global. Jika Rusia dan Tiongkok tidak berpartisipasi dalam pembagian kembali ini, mereka tidak akan lagi dapat menikmati hasilnya.
Iran tidak perlu mendukung posisi yang lemah. Sebaliknya, Iran berharap bahwa pada momen bersejarah ini, Front Timur – termasuk Moskow dan Beijing – akan mempertahankan posisi strategisnya.
Ini berarti menyediakan sistem pertahanan, dukungan informasi, dan bahkan membentuk sinergi media untuk melawan perang kognitif. Iran saat ini menjadi target perang siber, ekonomi, informasi, dan lapangan, serta berdiri sendiri di semua front ini.
Mungkin Tiongkok dan Rusia perlu mempertimbangkan kembali fakta ini: mendukung Iran berarti mendukung diri mereka sendiri. Karena jika front ini runtuh, tidak akan ada yang tersisa dari tatanan multipolar yang mereka kejar.
Hegemon Barat saat ini bertindak seperti serigala yang terluka. Amerika Serikat, Israel, dan Eropa berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan Iran.
Karena jika mereka gagal, dunia akan memasuki tahap di mana mereka tidak akan lagi memiliki kendali. Jika Amerika merasa bahwa Iran berada di ambang kemenangan terakhir atas Israel, Amerika siap untuk membakar seluruh dunia untuk menghentikannya. Dan inilah saatnya Rusia dan Cina harus turun tangan.
Singkatnya, kita berada di titik bersejarah saat ini. Iran sedang membentuk masa depan, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk dunia Timur.
Jika Cina dan Rusia tidak bertindak cerdas, cepat, dan serius, mereka akan membayar harga yang mahal. Karena tatanan dunia baru dapat terbentuk tanpa mereka, tetapi tidak tanpa Iran.
Israhell | Mossad | iran's supreme leader
Satu satunya daerah di Aceh yang punya pengetahuan soal tanda tanda tsunami adalah Simeulue. Itu karena pada tahun 1907, Simeulue dihajar tsunami. Bencana itu, yang kemudian dikenal sebagai Smong, menjadi hikayat yang dituturkan (dan dinyanyikan) turun menurun ke orang orang Simeuleu. Hikayat-nya itu termasuk menuturkan bagaimana tanda tanda ketika smong itu terjadi, seperti sumur mengering, hewan berlari, dan laut surut.
Ketua Partai Democratik (Oposisi), Lee Jaemyung, meminta masyarakat Korea sekarang juga turun ke jalan dan mempertahankan demokrasi.
"Presiden Yoon Seokyeol memberlakukan Darurat Militer tanpa alasan yang jelas. Kita tidak boleh membiarkan militer menguasai negara ini
Menguasai negara secara keras lewat Kejaksaan tidak cukup, jadi (Presiden) menggunakan tentara bersenjata api dan tajam yang akan menguasai negara ini.
Tolong datang ke Gedung DPR, Meskipun sudah larut malam, kamu, masyarakat, harus menjaga negara ini"
"KAMI DPR AKAN MEMVETO DARURAT MILITER. TAPI ADA KEMUNGKINAN BAHWA (Presiden) AKAN MENGGUNAKAN MILITER UNTUK MENANGGKAP ANGGOTA LEGISLATIF"
https://t.co/W2Xm2xY7mH
Tax the Rich
Koalisi sayap kiri Perancis, New Popular Front (NPF), mengusung wacana membebankan pajak hingga 90% bagi warga dengan pendapatan tahunan di atas 7 miliar Rupiah (€400.000).
Menggunakan pajak besar dari warga kelas atas, NPF ingin pajak kelas pekerja bisa turun.
Jadi gini
Karena kenaikan UKT yg terstruktur sistematis dan masif... hari Kamis kemarin, mahasiswa yg tergabung dlm BEM SI akhirnya melakukan audensi ke Komisi XI DPR RI
Senang banget dengar aspirasi mereka soal biaya kuliah yg terjangkau.
Hasil pertemuan ini pun tidak kalah menggembirakan.
Nah, saya coba mencatat semua hal penting dalam pertemuan ini.