Ketua DPD IMM Jawa Tengah | Anggota LPCR PDM Sukoharjo | Anggota PDPM Kab. Sukoharjo | Ketua Umum PC IMM Kab. Sukoharjo 2022-2023 | Kader Buya Syafi'i Ma'arif
Bangsa ini butuh Filsuf/Intelektual besar Ekonomi Islam seperti M. Dawam Rahardjo.
Gagasan yang saya senang dari Dawam salah satunya ialah "Ekonomi Islam harusnya menjadi/menuju Kesejahteraan Sosial".
#ekonomiislam#ekonomikerakyatan#Muhammadiyah
50 Websites that feel illegal to know:
DOWNLOADS & MEDIA
1. https://t.co/rx5opXtGbz — download any video from socials
2. https://t.co/Mm1kjeCg8w — Photoshop but completely free
3. https://t.co/JJXZNwl9C4 — disposable email in one click
4. https://t.co/TjbUlMGBCJ — 100+ free tools in one site
5. https://t.co/tPrADrldjy — access any old webpage ever
6. https://t.co/vWsQoosfQW — millions of free textbooks
7. https://t.co/WMr2vOn6vx — free research papers
8. https://t.co/Gv7RVNwpS4 — find free app alternatives
9. https://t.co/77DeRlWDHw — find where to stream anything
10. https://t.co/xPRUz6gvPi — 70K free classic books
RESEARCH & LEARNING
11. https://t.co/VaeGfrStsI — free PDF downloads
12. https://t.co/fpSMmbB9O0 — free courses from top unis
13. https://t.co/fhAarLfQwW — solve any math instantly
14. https://t.co/bPEOCh2iM0 — remove backgrounds in one click
15. https://t.co/1L7IVBpvB3 — erase objects from photos
16. https://t.co/sfQWxY20pX — remove video backgrounds free
17. https://t.co/2ACSCRY28t — compress any image free
18. https://t.co/DIs1xxY1mb — hand draw diagrams free
19. https://t.co/KmZZc7VLp5 — turn code into beautiful art
20. https://t.co/lcYIImtaan — stunning code screenshots
TRAVEL, SHOPPING & SAFETY
21. https://t.co/wjSDXD2vwy — track any flight in real time
22. https://t.co/xDmXUpFrZP — track Amazon price history
23. https://t.co/gyC3p0kzGK — check if you were hacked
24. https://t.co/IzsPfZCljD — scan any file for malware
25. https://t.co/Suz3ABOIGM — send self destructing messages
26. https://t.co/Dfhnm3rvkA — share files that auto delete
27. https://t.co/S7nFGBiYZh — save any webpage forever
28. https://t.co/jcYBIZZPpX — delete yourself from any site
29. https://t.co/CUZrr82MWl — listen to any radio worldwide
30. https://t.co/548umxbY27 — find songs from any show
ENTERTAINMENT & DISCOVERY
31. https://t.co/mLkJpAYiBv — music to focus with
32. https://t.co/reD9s425WY — custom focus soundscapes
33. https://t.co/VchktUSh5W — search every book ever written
34. https://t.co/5IVOcFVSBw — AI research paper assistant
35. https://t.co/b3UqkCqR9I — search what science agrees on
36. https://t.co/WQhycog76E — map research visually
37. https://t.co/lyMO20F0Ig — free academic search
38. https://t.co/NSKQOn6Hjt — understand any research paper
39. https://t.co/TB5VFMRreC — summarize any YouTube video
40. https://t.co/frT8hDRgLD — AI search for developers
DEVELOPER & PRODUCTIVITY
41. https://t.co/x7iK61mx2T — test any regex instantly
42. https://t.co/H4xGp0RvBy — format any code cleanly
43. https://t.co/J0bGNDRW2M — understand terminal commands
44. https://t.co/LKgV4ihXMl — infinite whiteboard in browser
45. https://t.co/HahxW8y07t — check if any site is down
46. https://t.co/Zb9YbVS5Wj — reverse image search
47. https://t.co/X8PzbLjV3Y — check your internet speed
48. https://t.co/psqZ9G754N — edit PDFs free
49. https://t.co/fYYmhcoWaX — merge and split PDFs
50. https://t.co/RhbEhUKNE7 — temp email in seconds
Sudah pahamkan sejauh ini?
Yuk perbaiki salat kita, bukan hanya menghafal tapi juga memahami setiap gerakan dan bacaannya! Karena salat akan merubah pelakunya menjadi lebih baik
#MaknaSalat#IslamBerkemajuan#Muhammadiyah
Berikut video pandangan saya mengenai "Indonesia dan Board of Peace: 4 lampu kuning + 6 saran untuk Pemerintah Indonesia". Silahkan disimak, disebarkan, dikomentari & dikutip. Semoga didengar Pemerintah 🇮🇩. Salam diplomasi, Dr. Dino Patti Djalal
Saya sepertinya ketinggalan berita, baru dengar yg namanya "Aliansi Muda Muhammadiyah" (AMM). Jadi saya Googling:
AMM: 525 results
IPM: 121.000 results
Pemuda Muhammadiyah: 464.000 results
Dari Google Trends jg baru muncul hari ini.
Efek Streisand: Pelaporan sebagai Mesin Promosi Gratis "Mens Rea"
Saya tadi sempat lihat data dari Google Trend. Ternyata setelah pelaporan, volume pencarian Mens Rea jadi meningkat. Lebih tinggi dibanding saat orang2 habis nonton di Netflix.
Bagaimana analisanya, dan bagaimana dampaknya ke depan?
Analisis
Pelaporan ke polisi pada 8 Januari bertindak sebagai trigger atensi publik. Isu yang sebelumnya berada di lingkaran penonton stand-up dan komunitas tertentu, tiba-tiba melonjak ke ruang publik luas.
Dalam komunikasi publik, ini dikenal sebagai Efek Streisand:
"Upaya membungkam atau menghentikan sesuatu justru membuatnya lebih dikenal."
Data Google Trends menunjukkan:
- Sebelum pelaporan, pencarian mens rea berada di kisaran rendah–menengah (15-40 points).
- Setelah pelaporan → lonjakan signifikan (57 points).
Artinya, narasi hukum mengalahkan narasi seni, dan publik terdorong mencari tahu:
“Sebenarnya apa isi Mens Rea sampai dilaporkan?”
Bagi karya budaya, kontroversi = distribusi.
Pergeseran Frame
Dari “Komedi” ke “Kritik Kekuasaan”
Pelaporan mengubah framing publik:
Sebelum:
Mens Rea = pertunjukan stand-up, kritik sosial dengan gaya satir.
Sesudah pelaporan:
Mens Rea = simbol kebebasan berekspresi, kritik terhadap kekuasaan, dan relasi negara–warga.
Begitu masuk ke frame “dikriminalisasi”, publik tidak lagi menilai leluconnya lucu atau tidak,
melainkan adil atau tidak.
Kalau sudah seperti ini, Mens Rea berhenti menjadi konten hiburan, ia berubah menjadi artefak politik-budaya.
Efek “Martyrdom”
Pelaku Seni vs Aparat & Ormas
Pelaporan menciptakan relasi asimetris:
Seorang komedian
vs
Aparat hukum + klaim representasi ormas besar (NU & Muhammadiyah)
Secara psikologis, publik digital cenderung:
- simpati pada pihak yang tampak lebih lemah,
- apalagi jika isu menyentuh kebebasan berpendapat.
Delegitimasi Moral Pelapor
Ketika kemudian muncul pernyataan Anwar Abbas dari PP Muhammadiyah (9 Januari) yang:
- tidak mengakui pelaporan, dan
- menyatakan kritik seharusnya didengar, bukan dipidanakan,
- maka terjadi delegitimasi moral terhadap pelapor.
Hasilnya:
- Pelaporan kehilangan otoritas simbolik.
- Mens Rea justru mendapat validasi moral.
Polarisasi & Amplifikasi Algoritmik
Kontroversi hukum memiliki daya sebar algoritmik lebih kuat dibanding konten seni biasa:
- Media online mengangkatnya.
- Talkshow, podcast, X/Twitter, Instagram Reels membahasnya.
- Komentar pro–kontra memicu engagement tinggi.
Algoritma media sosial membaca ini sebagai:
“konten bernilai tinggi untuk disebarkan”.
Akibatnya:
Nama Mens Rea muncul lintas platform.
Bahkan orang yang tidak pernah nonton stand-up ikut mencari.
Ini menjelaskan kenapa setelah 8 Januari, tren pencarian tidak turun—justru naik.
Dampak Jangka Pendek
- Pamor Mens Rea naik
- Ia menjadi referensi nasional tentang kritik sosial.
- Kapasitas simbolik bertambah
- Bukan sekadar pertunjukan, tapi “kasus”.
Audiens baru tercipta
Orang datang bukan karena komedi, tapi karena isu.
Dampak Jangka Menengah–Panjang
a. Untuk Mens Rea & Kreator
- Karya ini akan terus dirujuk dalam diskursus kebebasan berekspresi.
- Potensi menjadi tonggak sejarah budaya pop–politik.
Kritik berikutnya akan dibaca dengan bobot lebih besar.
b. Untuk Ormas & Institusi
Klaim “mewakili NU/Muhammadiyah” tanpa otorisasi resmi akan makin dipertanyakan.
Pernyataan elite seperti Anwar Abbas memperkuat kesan:
Ormas besar tidak monolitik dan tidak anti-kritik.
c. Untuk Negara & Aparat
- Muncul tekanan publik agar hukum tidak dijadikan alat sensor.
- Kasus ini bisa menjadi rujukan setiap kali seni bersinggungan dengan pasal pidana.
Kesimpulan
Pelaporan Mens Rea adalah contoh klasik salah strategi komunikasi:
Niat: menghentikan pengaruh
Hasil: memperluas pengaruh
Alih-alih meredam kritik, pelaporan justru:
mengangkat Mens Rea ke level wacana nasional,
memberi panggung yang jauh lebih besar,
dan mengubahnya dari pertunjukan menjadi simbol.
Dalam ekosistem digital hari ini, kriminalisasi kritik sering kali bukan akhir cerita—
melainkan awal amplifikasi.
Mens Rea: Ketika Komedi Menjadi Cermin Politik, dan Publik Terbelah oleh Etika
Drone Emprit Notes
Keberhasilan Mens Rea memuncaki daftar tontonan Netflix Indonesia bukan sekadar pencapaian industri hiburan. Ia adalah penanda penting bahwa kritik politik—yang disampaikan secara terbuka, satir, dan tanpa sensor—masih memiliki tempat besar di ruang publik Indonesia. Namun, data percakapan digital menunjukkan bahwa penerimaan itu tidak datang tanpa friksi.
Dalam rentang sebelas hari, Mens Rea memicu hampir 20 ribu percakapan lintas media sosial dan hampir 1.000 pemberitaan media online, dengan total interaksi mencapai lebih dari 117 juta. Skala ini menempatkan Mens Rea bukan sekadar sebagai tontonan, tetapi sebagai peristiwa sosial-politik.
Dua Dunia yang Berbeda
“Media Sosial vs Media Berita”
Data menunjukkan kontras yang tajam antara cara publik dan media arus utama merespons Mens Rea.
Di media sosial, sentimen positif mendominasi—sekitar dua pertiga percakapan bernada dukungan. Publik memuji keberanian Pandji menyebut pejabat, institusi hukum, dan praktik kekuasaan secara gamblang. Banyak yang menyebut materinya “kena”, relevan, dan mewakili keresahan kolektif rakyat kecil: soal pajak, gaji pejabat, aparat bersenjata, hingga relasi rakyat–presiden.
Sebaliknya, media online cenderung lebih negatif. Lebih dari separuh pemberitaan bernada kritik, dengan fokus pada kontroversi: isu body shaming, etika komedi, dan potensi pelanggaran hukum. Alih-alih membedah substansi kritik politiknya, framing media lebih banyak menyorot konflik antartokoh—Pandji versus Tompi, Pandji versus Deolipa, atau Pandji versus “etika publik”.
Kesenjangan ini penting: ia menunjukkan bahwa apa yang dianggap relevan oleh netizen tidak selalu sama dengan apa yang dianggap “layak diberitakan” oleh media.
Lanskap Percakapan Lintas Platform
Meski membahas objek yang sama—Mens Rea dan Pandji Pragiwaksono—setiap platform media sosial menunjukkan karakter emosi, fokus isu, dan dinamika konflik yang berbeda. Ini penting, karena publik Indonesia hari ini tidak lagi membentuk opini di satu ruang tunggal, melainkan di banyak “ruang gema” dengan logika yang berbeda.
Twitter / X: Arena Politik, Polarisasi, dan Perang Narasi
Twitter/X menjadi ruang paling politis dan paling terpolarisasi. Sentimen positif memang dominan—sekitar 63%—namun X juga menjadi tempat utama lahirnya narasi tandingan dan serangan langsung.
Topik utama di X berputar pada:
· Kritik terhadap negara, aparat, dan politik dinasti.
· Isu kebebasan berekspresi dan kekhawatiran kriminalisasi.
· Tuduhan body shaming terhadap fisik Gibran.
· Narasi seragam seperti “Pandji Darurat Ide”dan “Pandji Rusak Komedi”.
X juga menjadi platform pertama di mana publik mendeteksi pola mobilisasi akun, yang kemudian justru dibaca sebagai bukti bahwa materi Pandji “mengganggu kenyamanan kekuasaan”. Di sini, Mens Rea diposisikan bukan sekadar komedi, melainkan tindakan politik simbolik.
Facebook: Dukungan Emosional dan Validasi Kolektif
Facebook menampilkan wajah publik yang lebih afirmatif dan emosional, dengan sentimen positif mencapai lebih dari 70% dan sentimen negatif relatif kecil.
Topik yang dominan di Facebook antara lain:
· Apresiasi keberanian Pandji menyebut pejabat secara terbuka.
· Kebanggaan atas capaian Mens Rea sebagai tayangan nomor satu Netflix.
· Persepsi bahwa materi Pandji “mewakili suara rakyat biasa”.
· Komedi sebagai pendidikan politik informal.
Isu body shaming memang muncul, tetapi tidak menjadi pusat percakapan. Facebook lebih berfungsi sebagai ruang validasi kolektif, tempat publik saling menguatkan bahwa kritik seperti ini “wajar dan perlu” dalam demokrasi.
Instagram: Popularitas, Visual, dan Simbol Keberhasilan
Di Instagram, sentimen positif juga berada di kisaran 70%, namun nuansanya berbeda. Percakapan lebih berfokus pada simbol keberhasilan dan popularitas, bukan konflik argumentatif.
Topik utama di Instagram meliputi:
· Mens Rea sebagai TV Show No.1 Netflix Indonesia.
· Potongan video stand-up yang dianggap “kena” dan mudah dibagikan.
· Pandji sebagai figur publik yang “berani dan konsisten”.
· Kesadaran politik ringan, terutama di kalangan penonton muda.
Isu kontroversi muncul, tetapi cenderung sekilas dan kalah oleh narasi keberhasilan. Instagram memperkuat Mens Rea sebagai fenomena budaya populer, bukan sekadar polemik politik.
YouTube: Ruang Penjelasan, Narasi Panjang, dan Konteks
YouTube menjadi ruang penalaran yang lebih panjang dan reflektif, dengan sentimen positif sekitar 68%. Di sini, publik tidak hanya bereaksi, tetapi mencoba memahami konteks.
Topik yang menonjol di YouTube:
· Penjelasan ulang materi Mens Rea dan konteks kritik politiknya.
· Diskusi soal klaim “intel” dan potensi intimidasi aparat.
· Respons tokoh publik seperti Dedi Mulyadi yang dinilai sportif.
· Perdebatan etika komedi, namun dengan argumen yang lebih panjang.
YouTube berfungsi sebagai ruang rekonstruksi makna, tempat publik mencoba memilah mana satire, mana fakta, dan mana provokasi.
TikTok: Viralitas, Potongan Konten, dan Emosi Instan
TikTok menunjukkan sentimen positif paling rendah dibanding platform lain—sekitar 57%—namun tetap dominan. Negativitas di TikTok relatif lebih tinggi karena logika platform yang mengutamakan konten singkat dan sensasional.
Topik yang paling sering muncul di TikTok:
· Potongan cerita soal “intel” yang menyusup.
· Roasting terhadap Gibran sebagai hookrasa ingin tahu.
· Klip-klip sindiran terhadap figur publik lain.
· Amplifikasi kritik dr. Tompi secara masif.
Di TikTok, konteks sering tereduksi. Akibatnya, isu body shaming dan kontroversi lebih mudah membesar. Platform ini menjadi ruang eskalasi emosi, bukan pendalaman argumen.
Satu Kesimpulan Penting dari Lintas Platform
Jika dilihat secara keseluruhan, data lintas platform menunjukkan satu pola konsisten. Dukungan publik terhadap kritik politik Pandji tetap dominan, tetapi bentuk, kedalaman, dan titik konflik sangat dipengaruhi oleh karakter platform.
· X adalah arena konflik ideologis.
· Facebook ruang dukungan emosional.
· Instagram panggung legitimasi popularitas.
· YouTube tempat pencarian makna.
· TikTok mesin viral yang mempercepat polarisasi.
Perbedaan ini penting untuk dibaca, karena ia menjelaskan mengapa satu karya yang sama bisa sekaligus dianggap berani, melanggar etika, mendidik, dan berbahaya—tergantung di ruang mana ia diperdebatkan.
Narasi Seragam dan Dugaan Mobilisasi
Salah satu temuan menarik adalah munculnya narasi yang relatif seragam di media sosial, seperti “Pandji Darurat Ide” atau “Pandji Rusak Komedi”. Pola bahasa, timing, dan akun penyebarnya memunculkan kecurigaan sebagian netizen akan adanya mobilisasi narasi tandingan—fenomena yang justru memperkuat persepsi bahwa materi Mens Rea menyentuh titik sensitif kekuasaan.
Alih-alih meredam diskusi, narasi ini memicu respons sarkastis: bahwa Mens Rea “membuka lapangan kerja baru” bagi buzzer politik. Dalam konteks ini, serangan balik justru dibaca sebagai validasi relevansi kritik, bukan pelemahannya.
Emosi Publik
“Antara Tawa, Cemas, dan Harapan”
Analisis emosi menunjukkan spektrum yang kompleks. Ada joy dan surprise—tawa, kekagetan karena materi tayang utuh tanpa sensor, serta kebanggaan melihat karya lokal memimpin Netflix. Namun ada pula anticipation dan kecemasan: doa agar Pandji aman, kekhawatiran soal kriminalisasi, hingga cerita tentang dugaan intel di lokasi pertunjukan yang memperluas diskusi ke isu kebebasan berekspresi.
Di sini, Mens Rea berhenti menjadi soal lucu atau tidak lucu. Ia berubah menjadi ujian publik: sejauh mana kritik terhadap negara boleh disampaikan, dan risiko apa yang harus ditanggung oleh penyampainya.
Apa yang Sebenarnya Diharapkan Publik?
Jika dirangkum, harapan publik yang muncul bukanlah komedi yang “aman” atau steril dari konflik. Data justru menunjukkan publik menginginkan:
· Kritik yang jujur dan berani, meski tidak selalu nyaman.
· Komedi yang mendidik secara politik, bukan sekadar hiburan kosong.
· Ruang ekspresi yang tidak langsung dikriminalisasi saat menyentuh kekuasaan.
Namun publik juga memberi sinyal batas: kritik kebijakan dan kekuasaan dianggap sah, tetapi wilayah tubuh, identitas, dan kondisi medis tetap menjadi medan sensitif yang bisa menggeser simpati.
Komedi sebagai Indikator Demokrasi
Mens Rea memperlihatkan bahwa di Indonesia hari ini, komedi bisa menjadi indikator kesehatan demokrasi. Bukan karena semua orang setuju, melainkan karena publik masih mau berdebat—tentang etika, tentang kekuasaan, tentang batas kebebasan.
Perbedaan sentimen antara media sosial dan media berita, polarisasi narasi, hingga munculnya dugaan mobilisasi kontra-narasi, semuanya menunjukkan satu hal: yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar selera humor, tetapi ruang kritik itu sendiri.
Dan mungkin pertanyaan paling thought-provoking dari seluruh data ini bukanlah “apakah Pandji melanggar etika?”, melainkan:
mengapa sebuah pertunjukan komedi bisa membuat begitu banyak pihak merasa perlu bereaksi, membantah, bahkan mengingatkan soal hukum?
simak kolom Dr. Sukidi ini:
Hantu otoritarianisme terdengar di telinga Presiden: “Apa memang saya otoriter?” (Tempo, 29/10/2025). Setiap warga negara berhak menyatakan pendapat di muka umum bahwa Presiden memang otoriter dan mengurus negara Indonesia dengan buku panduan otoritarianisme—the authoritarian playbook.
Bayangkan, bisa ada bandara beroperasi, yang tidak bisa perangkat negara terlibat dan ada di dalamnya. Tidak ada Bea Cukai, tidak ada Imigrasi. Bandara itu adalah Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), dengan kode ICAO WAMP dan IATA https://t.co/5JL7CBmDoC.
Negara bisa "dikangkangi" seperti itu. Dan, kini di Era Presiden @prabowo Bandara itu ditertibkan. Sekali lagi kita jaga Presiden @prabowo dengan sepenuh hati, rakyat dan elit harus kompak, kartel dan mafia besar akan terus terancam dengan Pak Prabowo disemua lini disemua sektor.
Ira Puspadewi: Kader Muhammadiyah yang Dikriminalisasi?
Nama Ira Puspadewi kini akrab di pemberitaan sebagai mantan Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) yang divonis 4,5 tahun penjara dalam kasus akuisisi PT Jembatan Nusantara (JN).
Utas ~ Senin 24/11/2025
Harusnya Ibu Ira Puspadewi bebas karena terbukti tdk memperkaya diri sendiri, mirip seperti kasus Tom Lembong. Saya khawatir, anak2 terbaik bangsa yg berkarier di luar makin enggan kembali ke tanah air utk membantu pemerintah membangun bangsa jika endingnya harus seperti ini.
Airmata yang Tidak Seharusnya Jatuh
Dari Seorang Warga, Mantan Diaspora, dan Kader Muhammadiyah untuk Ira Puspadewi
Ada kalanya sebuah berita membuat kita berhenti sejenak, menarik napas dalam, lalu bertanya, "Mengapa seseorang yang begitu rapi jalan hidupnya harus menerima nasib seberat ini?"
Itulah yang saya rasakan ketika membaca kabar vonis terhadap Ira Puspadewi, seorang perempuan yang bagi saya mewakili integritas, profesionalisme, dan dedikasi, baik sebagai pemimpin BUMN maupun sebagai kader Muhammadiyah.
Saya mengenal nama Ira bukan dari kasusnya, tetapi dari rekam jejaknya. Ia bukan sekadar perempuan karier yang sukses. Ia pernah pulang dari dunia korporasi internasional, meninggalkan posisi aman dan mapan di luar negeri untuk mengabdi di tanah air. Ia memimpin Sarinah, Pos Indonesia, sampai ASDP. Dan di setiap tempat, ia membawa jejak yang sama: rapi, tertib, tanpa gaduh, dan jauh dari gaya hidup glamor pejabat.
Dan yang paling membuat saya tertegun. Ira adalah kader Muhammadiyah. Tercatat resmi sebagai Wakil Bendahara II Majelis Ekonomi, Bisnis, dan Pariwisata Muhammadiyah.
Seorang muslimah yang menjaga prinsip, yang sudah terbiasa bekerja dalam sunyi, memberi dalam diam.
Ketika membaca kembali kisah-kisah yang dituliskan sahabat lamanya, saya menemukan potongan-potongan kecil yang justru paling menyentuh. Ira yang naik kelas ekonomi di pesawat meski memimpin BUMN besar. Ira yang memilih menginap di hotel Amaris ketika direktur lain memilih hotel bintang lima. Ira yang malah menampung teman di rumahnya ketika sang teman sedang menghadapi masa sulit.
Kita sering bicara soal integritas, tapi Ira menunjukkannya justru di saat-saat yang tak terlihat kamera. Itu yang membuat kasus yang menimpanya terasa janggal bagi banyak orang.
Terlebih ketika Ketua Majelis Hakim sendiri menyatakan dissenting opinion. Bahwa apa yang dilakukan Ira adalah aksi korporasi yang sah, dilindungi Business Judgment Rule, dilakukan dengan itikad baik, dan melalui proses yang transparan. Bahkan uji tuntas dilakukan oleh tujuh lembaga, termasuk BPK, BPKP, Deloitte, dan PWC.
Di titik itu, saya bertanya sendiri. Kalau seorang profesional yang mengikuti prosedur, melakukan uji tuntas, tidak mengambil keuntungan pribadi, dan bekerja dengan integritas pun tetap tersandung, apa kabar yang lain?
Sebagai seorang warga negara, mantan diaspora yang dulu kembali dengan semangat ingin melihat Indonesia lebih maju, dan sebagai kader Muhammadiyah yang percaya pada nilai keadilan, kejujuran, dan kerja keras, saya merasa perlu menuliskan dukungan ini.
Bukan dukungan untuk membela membabi buta.
Bukan pula untuk mengintervensi proses hukum.
Namun sebagai pengakuan atas manusia yang saya lihat bersih jalannya, yang saya harap mendapatkan keadilan seadil-adilnya. Seorang perempuan yang tidak hanya membangun perusahaan, tetapi juga membangun manusia: teman, sahabat, dan komunitasnya.
Ira telah memberi banyak pada bangsa ini. Lebih dari sebagian besar dari kita.
Ia pulang ketika banyak memilih menetap di luar negeri.
Ia bekerja ketika banyak memilih kenyamanan.
Ia menata sistem ketika banyak memilih zona abu-abu.
Dan bagi saya, seorang yang bekerja sejujur dan sekeras itu, tidak seharusnya berdiri sendirian ketika badai datang.
Saya hanya bisa berharap, dan ikut mendoakan, agar proses berikutnya menghadirkan keadilan yang sebenar-benarnya. Agar suara jernih seperti pandangan Hakim Sunoto menjadi pijakan bagi upaya banding. Agar nama baik yang tercoreng dapat dipulihkan. Dan agar sejarah kelak mencatat bahwa Ira Puspadewi adalah contoh seorang muslimah profesional Indonesia yang tetap tegak meski diuji dengan keras.
Sebagai warga, sebagai kader, dan sebagai sesama manusia, saya ingin mengatakan. Ira tidak sendiri.
Dan kebenaran, jika memang berpihak kepadanya, semoga menemukan jalannya kembali.
(Ismail Fahmi)
I feel you ibu Ira Puspadewi .. You don't deserve this. Sy setuju dgn hakim dissenting opinion: Keputusan bisnis yg keliru tidak berarti korupsi. Sebagai pejuang diaspora, sy himbau kpd semua diaspora agar keep believing in Indonesia. Tidak ada Idealisme yg bebas risiko.