Ini mobil kalau bisa ngomong mungkin udah protes kali ya "Baru aja selesai keliling China, eh dibawa lagi ke tempat bencana" 😅
📸 Chery Tiggo 8 Pro Max AWD
Alhamdulillah dua sekolah darurat kita di Aceh Tamiang telah terlaksana. InsyaaAllah menyusul lokasi lain dan perpustakaan keliling.
Pendidikan harus terus berlanjut.
Misi pertama membawa air bersih sebanyak 49.000 liter dan melakukan trauma healing untuk anak-anak. Di Aceh Tamiang kami akan mendata guru, sekolah dan masjid yang siap untuk melaksanakan proses belajar darurat.
Doakan para relawan Baitulmaal Merapi Merbabu dan ManfaatMengalir.
Ada ±150KK, Balita ±60 dan Lansia ±78. Berdasarkan survey ada ±85-90% rumah warga rusak, akses jalan rusak dan berlumpur.
Niat kami datang tanpa merepotkan, membawa logistik dan genset langsung ke desa. Namun qadarullah, double cabin terjebak lumpur semalaman..
Saya dan tim pamit dulu yaa.
Mohon maaf kami kalau banyak kurangnya. Kami malu pada Allah karena lemahnya kami, kurangnya upaya kami, sedikitnya strategi kami.
Kami terharu setiap kali ada yang bilang, "Maaf, cuma bisa donasi sedikit." Demi Allah, kalian pahlawan...
Bismillahirrahmanirrahim.
Atas pertimbangan saya dan keluarga Sabalingga malam tadi, akhirnya kami sepakat untuk urunan membelikan Bapak ini motor (tidak baru tapi yang masih layak dan lebih baik dari motor yang beliau gunakan saat ini).
Oleh karena itu, saya ingin menjual 1 karya ini untuk tambahan membelikan motor hari ini.
Bagi yang berminat mengoleksi, silakan DM saya untuk detail karya, harga, dan detail lainnya nggih.
Saling bantu, saling jaga 🙏🏼
Habis hati saya malam ini.
Karena kami nggak masak, akhirnya tadi Nyonyah pesan GoFood. Saat datang, ternyata drivernya membawa anak laki-lakinya yang masih kecil dan motor yang dikendarainya tergolong lawas dan kurang layak.
Entah, saya reflek mengajak beliau ke toko sembako terdekat. Saya titipkan beberapa bahan makanan untuk dibawa pulang dan saya persilakan langsung kembali ke rumah karena kasihan anaknya yang sudah mengantuk.
Ya Allah Ya Karim
Berkahilah perjuangannya, kuatkan bahunya 😭
Saya tau gimana rasanya keliling kota nggak berani pulang sampai lewat tengah malem sambil bawa rasa gelisah besok akan gimana, harus apa, dan bakalan seperti apa.
Rasa gelisah itu makin besar ditambah takut melihat kecewanya keluarga saat tau saya mungkin pulang tanpa hasil baik.
Ya, saya tau rasanya.
Hal-hal ini yang saya lakukan berangkat dari itu, berangkat dari rasa yang sama.
Berangkat dari cinta, berangkat dari Gusti Allah.
Sesudah menghilangkan kesal pada Fedi, dan sesudah melakukan refleksi lebih mendalam pada film Pangku, inilah ulasannya. Perlu beberapa kali menulis ulang agar tertuang semua yang dirasakan saat menonton.
Ada film yang selesai kita tonton, lalu kita pulang dan hidup seperti biasa. Ada juga film yang membuat kita pulang dengan cara pandang yang berubah. Pangku berada di kelompok kedua.
Dalam debut penyutradaraannya ini, Reza Rahadian memilih menaruh kamera sebagai saksi yang tenang. Di sudut-sudut Pantura, di antara perempuan yang memikul beban rumah tangga sendirian, di warung-warung kecil yang menjadi ruang bekerja sekaligus ruang tawar-menawar martabat.
Di sana kita bertemu Sartika, seorang ibu yang harus menghidupi diri dan anaknya di tengah krisis ekonomi, tanpa pegangan selain tekad untuk bertahan. Kita melihat dilemanya sebagai ibu tunggal dengan perasaan sepi dan kegelisahan akan dokumen yang tak lengkap. Di titik itu film ini mengingatkan kita bahwa keleluasaan memilih adalah sesuatu yang ikut direnggut oleh kemiskinan.
Reza tidak menampilkan fenomena “kopi pangku” dalam film ini sebagai sensasi, melainkan sebagai gejala dari struktur yang timpang. Perempuan dijerumuskan ke dalam keterpaksaan yang berisiko, sementara laki-laki kerap digambarkan punya kelapangan yang lebih besar untuk datang dan pergi. Walau demikian, film ini tidak menghakimi para tokohnya, tapi memperlihatkan bagaimana lingkungan dan ekonomi bisa menyudutkan seseorang ke pojok yang sempit.
Di balik semua itu, terlihat betapa serius Reza menggarap karyanya. Christine Hakim mengatakan bahwa momen nafasnya pun diatur oleh Reza. Ia juga ingat terakhir kali ia disutradarai sedemikian ketatnya adalah oleh almarhum Teguh Karya. Ia benar. Ada ketelitian dan obsesi pada kesempurnaan dalam pembuatan film ini yang mengingatkan pada tradisi Teguh Karya.
Perhatian pada detail membuat dunia Pantura dalam film ini terasa dekat. Kulit yang tampak lengket oleh keringat, pakaian yang terlihat benar-benar usang, hingga ornamen kecil di warung dan rumah. Semuanya membuat kita merasakan gerahnya udara pesisir dan lelah yang menempel di tubuh para tokohnya. Tidak ada glamor yang dipaksakan, yang ada adalah keotentikan yang sering menyesakkan.
Secara alur, Pangku bergerak pelan. Dialognya irit, tapi justru karena jarang, tiap kalimat jadi terasa penting. Seperti pemahat yang mengikis batu karena yakin bentuk patungnya sudah ada di dalam sana, Reza dan tim menyingkirkan kata-kata yang tidak perlu. Sisanya diserahkan pada tatapan, gestur, dan keheningan.
Di sisi peran, Claresta Taufan memberi tubuh dan jiwa pada sosok Sartika. Rapuh dan lelah, tapi enggan menyerah. Christine Hakim adalah Christine Hakim, seorang maestro. Ia memberikan lapisan emosi yang halus pada tokoh Bu Maya. Hangat dan manipulatif dalam satu tarikan nafas. Sementara Shakeel Fauzi sebagai Bayu menjadi pintu empati penonton terhadap anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang “tidak lengkap” di mata masyarakat. Fedi Nuril kembali menambah lapisan dilema moral dalam cerita.
Bagi saya, film tidak punya kewajiban untuk mendidik. Tugas utamanya adalah membangkitkan emosi yang membekas, entah itu tawa, takut, haru, atau geram. Tetapi ketika emosi itu membuat kita merenungkan cara kita memperlakukan ibu-ibu tunggal yang dipinggirkan, anak-anak dengan hak-hak yang diremehkan, dan mereka yang terpinggirkan tanpa dukungan, di situlah film ini berperan lebih jauh sebagai medium pengingat dan pembuka kesadaran.
Pangku tidak memberi kita daftar pesan moral, tapi memberi kita pengalaman. Dari pengalaman itulah, pelan-pelan, kesadaran sosial ikut terbangun. Maka untuk itu, kita berterima kasih kepada Reza, seluruh aktor dan awak yang telah menghadirkan film ini bagi bangsa. Maju terus perfilman Indonesia!
https://t.co/L5xAE4jGEO
Siang tadi saya menangis. Entah karena apa.
Awalnya hanya percakapan singkat dengan seorang mas-mas wartawan yang meminta bantuan kuota untuk mengirim berita. Ia menulis dengan sopan, dan setelah saya bantu sedikit, saya iseng bertanya lebih jauh tentang kebutuhannya.
Ternyata di balik kalimatnya yang tenang, ada kisah yang begitu berat.
Saya persilakan 3 karya ini untuk dikoleksi guna membantu keluarga ini mendapatkan tempat tinggal (kost/kontrakan bulanan), juga untuk keperluan sembako dan lainnya.
Mas-Mbak yang berminat, bisa silakan DM saya untuk detail karya, harga, dan info lainnya ya!
Maturnuwun!