90% kasus kencing manis itu sebenernya udah mulai dari 10-15 tahun lebih awal.
Pas itu badan lo mulai nunjukin tanda-tanda awal insulin resistance.
Ini tanda-tandanya kalo lo lagi ada masalah INSULIN RESISTANCE, tapi banyak yang nggak sadar dan sering kelewat:
fatima: "prabowo punya cita cita, tidak ingin ada anak anak indonesia tidur dalam perut lapar"
"nah tapi mbg ini kan dibagiin (sekali) di siang hari di sekolah. jadi ketika dia pulang ya lapar lagi" ๐
Guys, ada ekonom yang bicara sangat jujur dan sangat keras tentang kondisi Indonesia sekarang dan menurut gue lo perlu dengar ini dengan kepala dingin tapi hati yang waspada.
Prof. Ferry Latuhihin.
Analis pasar modal lebih dari 25 tahun.
Dan dia tidak sedang bercanda.
Kalimat pembuka yang langsung bikin gue duduk tegak:
"Kalau harga minyak ini terus bertahan di atas 100 dolar bukan tidak mungkin inflasi kita double digit. Kalau inflasi double digit dolar bisa ngacir ke atas Rp20.000. Kalau dolar Rp20.000 PHK besar-besaran. Pengangguran naik.
Dan imported inflation dari dolar itu sendiri akan memperburuk semuanya dalam feedback loop yang sangat sulit dihentikan."
Ini bukan ramalan. Ini reasoning berbasis data. Dan itu yang membuatnya lebih mengerikan dari sekadar prediksi doom-doom.
Masalah pertama yang paling mendesak stok minyak kita:
Fakta yang jarang dibahas: kapasitas penyimpanan kilang minyak Indonesia tidak bisa menampung lebih dari 20 hari pasokan.
Dua puluh hari.
Artinya kalau geopolitik di Timur Tengah Selat Hormuz, konflik Iran-Israel mengganggu pasokan selama lebih dari tiga minggu saja Indonesia langsung dalam masalah serius.
Tidak ada buffer yang cukup. Tidak ada cadangan yang bisa menutup gap itu dengan nyaman.
Dan harga minyak Brent sekarang sudah di kisaran 103 dolar per barel sementara APBN kita masih menghitung dengan asumsi 70 dolar.
Gap itu artinya subsidi BBM membengkak jauh di luar proyeksi. Dan uang yang dipakai untuk menutup gap itu diambil dari mana? Dari APBN yang sudah tertekan.
Masalah kedua APBN yang menurut banyak ekonom cash flow-nya hanya cukup 2-3 bulan:
Ferry menyebut sesuatu yang sangat serius dan perlu digarisbawahi: ada perkiraan dari banyak ekonom bahwa cash flow APBN kita hanya cukup untuk 2-3 bulan ke depan.
Kalau itu benar konsekuensinya sangat nyata. ASN dan pegawai negeri bisa hanya menerima gaji pokoknya saja tanpa tunjangan. Proyek-proyek infrastruktur bisa terhenti. Program-program sosial bisa dipotong mendadak.
Data yang mendukung kekhawatiran ini: defisit penerimaan pajak yang terus membesar dari Rp35 triliun, lalu Rp135 triliun, lalu Rp240 triliun.
Annualize budget deficit kita sudah menyentuh 3,7% terhadap PDB di atas threshold legal 3% yang diatur undang-undang.
Masalah ketiga reshuffle kabinet yang tidak menjawab masalah:
Ferry sangat jelas soal ini: reshuffle yang baru dilakukan Prabowo adalah reshuffle politik bukan reshuffle ekonomi.
Yang masuk dan keluar adalah pos-pos yang tidak terkait langsung dengan krisis ekonomi yang sedang terjadi. Sementara masalah paling mendesak ada di kebijakan ekonomi dan pos paling kritis ada di Menteri Keuangan.
Market merespons dengan sangat jelas: IHSG merah setelah pengumuman reshuffle. Rupiah tetap under pressure. Asing terus jual.
Artinya para pelaku pasar yang punya uang dan analisis yang sangat serius membaca reshuffle itu sebagai sinyal bahwa pemerintah belum merespons dengan serius masalah yang paling mendesak.
Tentang Menkeu Purbaya dan ini bagian yang paling berani dari Ferry:
Ferry mengkritisi Purbaya dengan sangat keras. Dan kritiknya bukan soal personal dia menegaskan itu berkali-kali. Tapi soal kebijakan dan pernyataan yang menurutnya tidak masuk akal.
Contoh yang dia sebutkan: Purbaya marah kepada World Bank yang merevisi proyeksi pertumbuhan Indonesia ke 4,7%. Ferry bilang 4,7% itu justru sudah bagus.
Yang perlu dikhawatirkan bukan proyeksinya tapi apakah proyeksi itu akan tercapai dengan kondisi yang ada sekarang.
Purbaya juga pernah bilang dia bisa buat rupiah kembali ke Rp15.000. Ferry langsung bedah logikanya: untuk membuat rupiah sekuat itu lewat suku bunga BI rate harus naik di atas 10%.
Tapi kalau BI rate di atas 10% kredit membeku, ekonomi bisa kolaps, dan orang justru tidak punya alasan untuk beli rupiah. Jadi cara itu tidak akan mempan.
Cadangan devisa kita sekarang sudah turun dari 155 miliar dolar ke sekitar 147-148 miliar dolar akibat intervensi BI yang terus-menerus. Dan cadangan devisa bukan unlimited. Ada batasnya.
Fenomena yang bikin ekonomi makin susah pulih โ Paradox of Thrift:
Ferry menyebut konsep yang sangat relevan: Paradox of Thrift paradoks berhemat ala Keynes.
Logikanya sederhana tapi berbahaya: kalau satu dua orang berhemat tidak masalah. Tapi kalau semua orang berhemat sekaligus tidak ada yang belanja, tidak ada permintaan, ekonomi jebol.
Dan itulah yang sedang terjadi. Pengusaha sebagaimana disuarakan Apindo 67% tidak akan rekrut pegawai baru. 50% tidak akan melakukan capital expenditure atau ekspansi dalam 5 tahun ke depan. Masyarakat sudah mulai makan tabungan.
Ketika semua pihak berhemat sekaligus โ siklus ekonomi melambat drastis. Dan tidak ada yang bisa memutus siklus itu kecuali pemerintah punya ruang fiskal yang cukup untuk jadi pengerak.
Masalahnya: ruang fiskal pemerintah juga sedang sangat terbatas.
Konsep paling mengejutkan dari Ferry "Imaturizing Growth":
Ini adalah istilah yang dia gunakan untuk menggambarkan kondisi Indonesia: pertumbuhan yang memiskinkan.
Pertumbuhan ekonomi angkanya tinggi tapi rakyatnya justru makin miskin. Kelas menengah turun dari 57 juta orang ke angka yang lebih rendah. Industri manufaktur yang dulu 30% dari GDP sekarang tinggal sekitar 16%.
Contoh paling nyata: hilirisasi nikel di Sulawesi Tenggara. Pertumbuhan ekonomi daerah itu sempat mencapai 28%.
Tapi nelayan tidak bisa melaut karena lautnya tercemar. Petani tertekan oleh industri. Rakyat lokal tidak banyak menikmati hasilnya.
Angka pertumbuhan yang indah di atas kertas sementara manusia yang hidup di bawah angka itu justru sengsara. Itulah imaturizing growth.
Tiga permintaan Ferry langsung kepada Prabowo dan ini yang paling konkret:
Pertama:
hentikan pemborosan.
MBG adalah konsumsi bukan investasi.
Ferry menegaskan ini dengan sangat keras.
Investasi sejati adalah pendidikan, riset dan pengembangan, infrastruktur pelabuhan, kereta, jalan.
Makanan masuk mulut dan keluar di belakang itu bukan investasi, itu pengeluaran rutin yang nilainya tidak berlipat ganda.
Dengan pos MBG yang mencapai Rp335 triliun dalam APBN Ferry minta ini dimoratorium dulu sepenuhnya. Bukan dikurangi satu hari dari 5 ke 4 hari. Tapi dihentikan sementara sampai APBN kembali kuat.
Kedua: ramping birokrasi. 108 menteri dan wakil menteri adalah beban yang sangat besar baik secara anggaran maupun koordinasi.
Tidak ada satu pun kebijakan ekonomi yang terkoordinasi dari semua kementerian terkait. Masing-masing jalan sendiri tanpa narasi yang jelas dan masuk akal.
Ketiga: ganti Menkeu dengan figur yang kredibel dan punya track record nyata. Ferry menyebut nama โ Yonan atau bahkan Bu Susi.
Bukan soal apakah mereka latar belakang ekonom atau bukan. Tapi soal track record bersih, integritas yang tidak diragukan, dan kemampuan mengembalikan kepercayaan pasar.
Karena di level ini kepercayaan adalah segalanya. Kalau pasar tidak percaya kepada orang yang pegang kunci ekonomi โ tidak ada intervensi apapun yang akan cukup.
Apakah masih ada harapan?
Ferry menjawab ini dengan satu kalimat yang menurut gue paling jujur dari seluruh percakapan:
"Masih asal mau do something."
Bukan optimisme buta. Bukan pesimisme yang menyerah. Tapi kondisional yang sangat jelas: ada harapan kalau ada tindakan nyata. Tidak ada harapan kalau yang terjadi hanya pernyataan tanpa substansi.
Indonesia sedang di persimpangan yang sangat kritis. Harga minyak di atas 100 dolar, stok domestik hanya 20 hari, defisit APBN sudah melampaui threshold legal, cadangan devisa menipis akibat intervensi terus-menerus, pengusaha tidak mau ekspansi, masyarakat mulai makan tabungan.
Dan di tengah semua itu reshuffle kabinet yang baru dilakukan tidak menyentuh pos-pos yang paling menentukan.
Bukan berarti semua akan berakhir buruk. Tapi yang pasti adalah: waktu untuk bereaksi semakin sempit. Dan setiap hari tanpa kebijakan yang tepat ruang manuvernya semakin mengecil.
Ini bukan serangan kepada pemerintah. Ini adalah warning yang sangat serius dari orang yang sudah 25 tahun membaca pasar dan track record-nya dalam membaca tanda-tanda awal masalah ekonomi tidak bisa diabaikan begitu saja.
โ ๏ธ Disclaimer: Berdasarkan analisis Prof. Ferry Latuhihin dalam podcast. Ini adalah pandangan seorang analis bukan prediksi pasti. Kondisi ekonomi bersifat dinamis dan sangat dipengaruhi oleh banyak variabel yang bisa berubah sewaktu-waktu. Selalu lakukan riset independen sebelum mengambil keputusan finansial.
Guys, ini gilaa sihh
Suster Natalia.
Perempuan yang tidak menikah.
Tidak punya harta pribadi.
Mengabdikan seluruh hidupnya untuk gereja dan umatnya di Labuhanbatu, Sumatera Utara.
Dan sekarang dia harus menanggung beban Rp28 miliar yang raib bukan uangnya sendiri
tapi uang 1.900 jiwa umat yang dia jaga amanahnya.
bahkan dia bilang
ke teman dia yang suster juga
dia akan masuk penjara.
dia cerita
Setiap kali ketemu umat yang sederhana itu,
saya selalu katakan:
mari, masa depan anak-anakmu melalui menabung.
Tapi sekarang masa depan mereka itu hancur di tangan saya.
Kronologi yang perlu semua orang pahami:
Credit Union Paroki Aek Nabara koperasi simpan pinjam di bawah naungan gereja sudah berjalan 45 tahun tanpa masalah.
Umat menabung perak demi perak.
Untuk sekolah anak.
Untuk biaya sakit.
Untuk masa depan.
Total yang terkumpul dan ditempatkan di deposito: Rp28 miliar lebih dari 1.900 anggota.
Di 2019 Andi Hakim Febriansyah
Kepala Kas BNI Unit Aek Nabara
mendatangi pengurus CU.
Menawarkan produk bernama BNI Deposito Investment
dengan bunga 8% per tahun.
Lebih tinggi dari deposito biasa.
Pengurus percaya.
Karena siapa yang tidak percaya kepada kepala kas bank negara yang datang dengan seragam resmi, ID card BNI, dan pick-up service resmi yang sudah berjalan sejak 2015?
Tujuh tahun berjalan.
Bunga masuk rutin setiap bulan.
Tidak ada masalah.
Sampai Desember 2025 dan semuanya mulai runtuh:
CU mengajukan pencairan Rp10 miliar untuk pinjaman ke anggota.
Bertahap minta Rp2 miliar dulu.
Januari 2026 tidak cair.
Februari 2026 tidak cair.
5 Februari Suster Natalia panggil Andi.
Andi bilang besok.
Besok tidak cair.
Andi minta semua bilyet deposito untuk pembaruan. Suster menyerahkan semuanya karena percaya.
Sore hari Andi sudah di jalan ke Medan katanya cuti.
Lalu 23 Februari bukan Andi yang datang.
Tapi kepala kas baru.
Dengan kalimat yang mengubah segalanya:
Per hari ini saudara Andi Hakim Febriansyah bukan pegawai BNI lagi.
Dan produk yang ditawarkan itu bukan produk BNI.
Suster Natalia pingsan lima menit.
Yang lebih ngeri dari hilangnya uang itu:
Bilyet deposito yang dipegang Andi dibakar. Sengaja. Supaya tidak ada barang bukti.
Tapi Andi salah hitung.
Satu bilyet tersimpan di tangan pastor lain yang kebetulan tidak ada di tempat saat pengambilan.
Satu bilyet itu yang menjadi bukti bahwa semua ini nyata.
Andi sudah menyiapkan skenario dari jauh hari. Tanggal 23 Februari itu hari yang sama dia ambil semua bilyet dia sudah mengajukan pengunduran diri. Dan dua hari kemudian dia terbang ke luar negeri bersama istrinya lewat Bali ke Australia, lalu ke New Zealand.
Sambil cuti dia masih angkat telepon Suster Natalia. Masih bilang "aman, Suster."
Masih janjikan pencairan.
Setelah red notice diterbitkan oleh Interpol dan Australian Federal Police Andi kembali ke Indonesia 30 Maret 2026 dan ditangkap di Kualanamu.
Di dalam pemeriksaan dia mengakui semua perbuatannya.
Uangnya?
Dipakai untuk sport center, kafe, mini zoo, tanah, dan berbagai aset yang kini sedang dilacak dalam proses TPPU.
Dan sekarang masuk ke bagian yang paling mengkhawatirkan:
BNI melakukan verifikasi internal sendiri.
Tanpa transparansi.
Tanpa melibatkan korban dalam proses.
Hasilnya: BNI bersedia mengganti Rp7 miliar.
Dari Rp28 miliar lebih.
Dan pada 26 Maret 2026 tanpa persetujuan CU-PAN BNI mentransfer Rp7 miliar itu ke rekening korban secara sepihak.
Seolah dengan mentransfer itu kasus selesai.
Kuasa hukum CU-PAN dari Gani Djemat & Partners menolak keras.
Karena:
Berdasarkan prinsip Vicarious Liability perusahaan bertanggung jawab atas tindakan pegawai yang dilakukan dalam kapasitas jabatannya.
Andi beroperasi dengan ID card BNI, jabatan BNI, fasilitas pick-up service BNI, dan atas nama BNI selama tujuh tahun.
Ini bukan tindakan pribadi yang kebetulan dilakukan oleh orang yang bekerja di BNI. Ini tindakan yang bisa terjadi karena dia adalah BNI di mata korban.
POJK Nomor 22 Tahun 2023 Pasal 10 ayat 1 juga menegaskan: pelaku usaha jasa keuangan wajib bertanggung jawab atas kerugian konsumen akibat kesalahan pegawainya.
Tidak ada klausul kecuali kalau pegawainya nakal.
Dan respons BNI yang paling menyakitkan menurut korban:
Enam kali mediasi.
Satu kali aksi damai.
Sepanjang itu tidak satu pun pejabat BNI dari kantor cabang atau wilayah yang mengucapkan kata "maaf" atau kami prihatin kepada korban.
Yang datang dari pihak BNI hanya satu permintaan berulang: Berikan kami bukti pendukung.
Padahal semua data transaksi ada di sistem BNI sendiri.
Semua perpindahan uang dari kas lancar ke rekening Andi tercatat di rekening koran BNI.
Bukan di tangan korban.
Baru Wakil Menteri BUMN yang mengundang korban dan itulah pertama kalinya ada pejabat yang mengucapkan kata permohonan maaf dan rasa prihatin.
Satu hal yang tidak bisa diabaikan:
Suster Natalia sekarang punya utang pribadi ke beberapa orang.
Karena ada anggota CU yang butuh uang untuk berobat yang tidak bisa dia biarkan meninggal di rumah sakit sementara dana CU tidak bisa diakses.
Dia yang tidak punya harta pribadi meminjam uang untuk membayar tagihan rumah sakit umatnya.
"Saya tidak bisa biarkan umat meninggal di rumah sakit, Pak."
BNI adalah bank BUMN.
Bank milik negara.
Diawasi oleh OJK.
Dijamin kepercayaannya oleh nama negara Indonesia.
Dan di bawah namanya selama tujuh tahun seorang kepala kas menjalankan skema penipuan yang menyedot uang 1.900 jiwa umat gereja yang menabung perak demi perak untuk masa depan anak-anak mereka.
BNI tidak bisa menyebut ini hanya masalah oknum lalu cuci tangan dengan transfer Rp7 miliar yang tidak transparan prosesnya.
Karena korban bukan menyimpan uang kepada Andi Hakim.
Korban menyimpan uang kepada BNI.
Dan BNI harus mengembalikannya penuh tanpa pengecualian.
Kalau tidak ini bukan hanya kasus kriminal biasa.
Ini adalah konfirmasi bahwa di negeri ini orang miskin yang menabung untuk masa depan anaknya bisa kehilangan segalanya karena sistem yang seharusnya melindungi mereka justru membiarkan hal ini terjadi selama tujuh tahun.
@xtextrun@nornavern salah satu caranya adalah saat bayi selesai nyusu dan bobo, kita langsung bersihkan mulut bayi pakai kassa digulung ke jari dan celupin ke air hangat lalu bersihkn ke gusi bayii.
insyallah bebas karies gigi sampe dewasa hehe
Di reply aku bilang manspreading itu isu global krna sebelum nya aku udah coba searching dulu dan hasilnya ini:
Manspreading (kebiasaan pria duduk dengan kaki terentang lebar di transportasi umum hingga memakan tempat orang lain) diakui sebagai isu global yang memicu debat tentang etika, ruang publik, dan kesetaraan gender di berbagai belahan dunia.