Maaf kemarin sibuk baru bisa GA sekarang
Giveaway Buku
Saya mau giveaway buku di bawah dan buku senilai 150rb untuk dua orang pemenang.
1. RT/Like tweet ini
2. Penulis favorit kamu
3. Pilih salah satu (tiga buku di bawah atau buku senilai 150rb)
Ditutup malam ini, Kamis 3 September 2026, 23.00 WIB.
#Bagibagibuku
Sedih betul rasanya menyusuri riwayat hidup Soetan Sjahrir dalam buku Rudolf Mrazek ini. Sudah tepatlah kiranya bunyi kalimat yang muncul di awal-awal buku bahwa ini merupakan biografi seorang anak manusia yang kalah.
"Ko, kok bisa elu bikin si Ibu itu setuju ya? Padahal dia udah bilang bener-bener ga bisa lho"
Ini cerita detail taktik saya dapet YES, padahal sudah berkali-kali diinfoin NO! dengan tegas.
Jadi gini...
Adik ku, Amel, diloloskan saat dia memilih jurus IPA. Nih anak sebenarnya udah pernah konsul ke gue soal jurusan, and I know, dia itu sebenarnya butuh 2x effort dibanding temen-temen lainnya utk mata pelajaran eksakta.
I suggested her to go for IPS.
Tapi ya namanya anak SMA, pengen masuk IPA. Konon lebih keren ketimbang IPS. Bahkan di SMA ku, IPS itu kayak warga kelas 2, ga dapet prioritas.
Fast forward, tahun ajaran baru dimulai, dia masuk IPA dan langsung menyesal di hari pertama. 🙃 IPA itu berat. Kimia dan Fisika terutama. Amel was not that kind of girl. Dia bisa, tapi effortnya harus gede untuk paham untuk bisa.
Bu Maria udah warning jauh sebelum beberapa anak "berulah". Dia udah tau penyesalan ini akan terjadi. Ini udah makanan tahunan Beliau lah.
"Ga ada yang boleh pindah lagi. Pokoknya ga bole", ultimatumnya.
Amel stress, sangat stress. Dia menyesal, sangat menyesal.
"Ko, bisa ke sekolah ga, bantu ngomong sama Bu Maria"
Gue males sebenarnya. Konsekuensi itu harusnya dia tanggung aja. Tapi... kalo dia kerepotan di sekolah, ya di rumah gue yang repot juga musti bantuin kimia dan fisikanya dia. 🙃
Ini kaya cerita membiarkan ular yang masuk ke peternakan dan ingin memangsa tikus. Tikus minta bantuan, tapi ga ada yang peduli. Akhirnya semua hewan mati karna peternak dipatok ular. Tikus malah baik-baik saja. Silakan googling cerita itu, bagus banget.
Akhirnya gue temui Bu Maria di sekolah. Amel menunggu persis di luar ruangan bareng beberapa temennya. Saat itu jam istirahat.
"Saya udah bilang ke anak-anak, ga bole pindah jurusan lagi Pak, mohon dimengerti. Ga gampang lho Pak kami ini set kelasnya"
Setelah saya sampaikan maksud saya, selanjutnya saya fokus mendengar Bu Maria aja, tanpa perlawanan.
"Iya Bu, saya juga sudah cape bilang sama Amel, kalo sudah diputuskan jangan berubah-ubah"
Gue berada di pihak yang sama dengan Bu Maria. Amel itu musuh kami berdua.
"Kami harus menjaga agar nilai anak-anak ini tetap bagus Pak. Jadi peringkat keseluruhan sekolah kita gak jelek"
Ini kata kunci, gue simpen dulu.
"Ya, Bu, saya tau kemampuan Amel, makanya dari awal saya itu minta dia pilih IPS saja, dia itu ngeyel mau ikut teman-temannya. Susah dibilangin".
Lagi-lagi Amel gue jadiin musuh kami berdua.
Ok, setelah we both are standing on the same side, it's time to do the job.
"Saya kebayang repotnya pindah-pindahin anak-anak ini Bu. Ga gampang ya kerjanya Bu"
"Iya Pak"
"Amel juga sudah kasi tau kalo Bu Maria sudah jauh-jauh hari mengingatkan dan antisipasi hal ini sebelum terjadi"
"Iya Pak"
"Saya setuju Bu, itu bagus agar anak-anak kita ini bisa memutuskan dengan lebih baik kan ya"
"Iya Pak"
"Apalagi kan sekolah mau nilai anak-anak bagus dan bikin peringkat sekolah tetap baik, ya Bu"
"Iya Pak"
Sudah dapet beberapa "Iya Pak", saatnya closing statement.
"Amel ini Bu, saya mau dia jadi juara 1 di IPS, bukan paling bontot di IPA. Saya stress Bu tiap ngajarin dia IPA. Bisa saya marahin, ga jarang dia nangis. Ga kebayang kalo dia tetap di IPA, bisa-bisa malah bikin peringkat sekolah jadi buruk. Ibu juga ga mau kan kalo itu terjadi"
"Iya sih Pak"
"Jadi saya minta tolong, agar kita gak sama-sama stress gara-gara Amel ini Bu, bantu dia sekali ini aja untuk pindah ke IPS. Setelah itu saya ga mau lagi datang ke sini untuk membujuk Ibu balikin dia ke IPA. Dia harus tetap pada keputusannya. Boleh Bu?".
Bu Maria setuju.
Amel tersenyum lebar.
"Ko, temen-temen ku kagum karna elu bisa bikin Bu Maria yang killer itu berubah pikiran", dia ngasi tau saat pulang sekolah.
I actually tried a tiny communication trick I learned from "How to talk to anyone" by Leil Lowndes. If you haven't read that book, go get one.
Tapi gue juga percaya, butuh luck di proses itu. Momennya pas aja. The universe conspired to my favor.
Make sense ya.
Cara bikin orang berhenti bertanya, untuk pertanyaan yang kita ga mau jawab, itu simple.
"Cukup ulangi jawaban yang sama terus menerus"
Konteksnya ini sesuatu yang bikin kamu ga nyaman dan bener-bener ga mau jawab ya. Tapi tuh orang maksa.
Contoh:
Ada yang nanya ke elo, "Emang lo dapet gaji berapa di sana?"
"Ya cukup buat hidup aku"
"Iya, berapa nominalnya?"
"Ya cukup buat hidup aku"
"Aku tuh pengen tau, besaran gajinya, jadi bisa ngebandingin, dapet gambaran gitu lho"
"Ya cukup buat hidup aku"
"Pelit amat sih mau tau doang, kasi range deh kasi range"
"Ya cukup buat hidup aku"
"Iya deh"
They will eventually stop.
Learned this from "How to talk to anyone" by Leil Lowndes.
Make sense ga sih?
Pernah kubilang beberapa tahun lalu:
jika masih muda jangan langsung mencari sorot lanpu di tengah2 panggung. Mulailah dr tepian2nya yg gelap. Jika langsung ke tengah2 panggung, kamu akan silau. Retinamu akan terbakar & kamu tepeleset.
Kakimu lecet
@budimandjatmiko Om Bud, semua kanal informasi sudah melirik mimpi om, kapan om akan membuat mimpi itu dilirik publik oleh sang perintis mimpi bukit algoritma itu sendiri? Yuk buat tulisan di kompas om.