Ketika membaca penggalan ayat yang artinya "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya", aku selalu bertanya pada diri sendiri:
"Apakah aku sekuat itu, makanya ujiannya juga seberat itu?"
Tahukah kalian, Matt Freese adalah pemain pertama di Piala Dunia (laki-laki) yang memiliki latar belakang sebagai alumni Harvard.
Pemain dari New York City FC ini awalnya merupakan pemain akademi Philadelphia Union. Kemudian dia berkuliah di Harvard sambil bermain di tim kampus, Crimson. Dia baru lulus dari Harvard dengan spesialisasi ekonomi pada 2022 karena tertahan oleh karir sepakbola dan pandemi COVID-19.
Freese sendiri lahir dengan darah akademisi yang mengalir deras di keluarganya. Ayahnya, Andrew, adalah ahli bedah saraf lulusan Harvard dan meraih gelar Ph.D di Massachusetts Institute of Technology (MIT). Kakeknya, Ernst, adalah ahli biologi molekuler terkenal yang menemukan bagaimana mutasi gen bekerja serta bagaimana bahan kimia bisa menjadi faktor dari terjadinya kanker. Bibinya, Katherine, adalah ahli astrofisika di University of Texas.
Di laki-laki, dia alumni Harvard pertama yang tembus ke Piala Dunia. Secara keseluruhan, dia adalah yang kedua setelah Josefine Hasbo melakukannya di Piala Dunia Perempuan 2023 bersama Denmark.
Tidak banyak alumni Harvard yang memiliki jejak di dunia olahraga. Beberapa nama terkenal seperti Jeremy Lin, Ryan Fitzpatrick, dan Gabby Williams.
๐๐๐
@arieparikesit Cavendish ini varian pengganti dari jenis Gros Michel yang punah akibat virus Panama disease. Ironisnya, ada prediksi dalam beberapa kurun waktu mendatang Cavendish bisa mengalami hal yang sama.
Anyway, ketimbang Cavendish, saya lebih suka pisang muli yang kecil-kecil
At least kalau pertama kali nonton gak pernah loncat-loncat atau pakai kecepatan di atas normal. Kalau sudah yang kedua dan seterusnya, baru tuh pakai mode kecepatan atau loncat-loncat.
Bukti kalo waktu fokus orang semakin pendek, semua gara-gara kebiasaan nonton video pendek durasi 30 detik sampe 1 menit 2 menit di medsos. Bukan pertanda baik.
Dapet kerjaan itu ternyata lebih penting dari sekedar mendapat penghasilan.
Sejak di kerjaan yang sekarang, gue jadi semakin belajar untuk tidak iri dan silau sama hal-hal duniawi yang didapat orang lain.
Saya yang lahir dari keluarga pas-pasan dengan luck rate 50%, sependapat. Sekali gagal ya remuk, padahal kudu usaha lebih. Akhirnya, terbawa ke mana pun.
Makanya kuping ini alergi dengan kalimat "Dih, kayak gitu aja gabisa?" atau sejenisnya.