“Dunia ini cukup untuk kita semua”
Aku tiba-tiba ingat kata Psikologku (iya, Psikolog juga ke Psikolog), begini katanya:
“Nell, kita semua itu punya peran masing-masing. Tidak semua orang harus ‘bersinar’ dengan intensitas yang sama.
Ada Psikolog yang terkenal, kayak xx tapi ada juga yang nggak, kayak saya.
Tapi kalau orang yang biasa-biasa aja kayak saya gak ada terus yang ngelayanin kamu konsul siapa?
Dunia ini cukup untuk kita semua.”
Pas dengar itu, aku merasa…lega. Separuh rasa cemasku mereda di tengah-tengah perkuliahan yang bikin aku merasa gak percaya diri dengan kemampuanku.
Aku membandingkan diriku dengan teman-teman lain yang menurutku hebat-hebat sekali. Ditambah standarku memang tinggi. Aku takut tidak jadi “apa-apa”, tidak dapat tempat.
Pelan-pelan aku mulai menata diriku lagi. Semuanya tidak harus sempurna. Aku hanya perlu tetap jalan.
Toh, secara objektif “biasa-biasa”nya aku sebenarnya buat orang lain itu bagus, tidak ada masalah.
Sampai sekarang, aku masih perlu mengingatkan diriku secara berkala,
“Setiap orang punya sinar yang berbeda, seperti bintang. Ada yang terlihat terang dan besar, ada juga yang kecil. Namun, keduanya sama-sama cantik dan penting.”
Hari ini pun aku mengingat kembali, aku mungkin tidak jadi musisi andal seperti Mozart tapi musikku cukup untuk anak-anak. Mungkin juga untuk sobat twitterku.
Dunia ini cukup untuk kita semua. Aku harap, kita yang lagi merasa tergesa-gesa bisa mengingat ini 💛
ISLAM MEMULIAKAN WANITA
Jika engkau terlambat menikah,
maka ingatlah kisah Khadijah binti Khuwailid.
Beliau bersabar dalam penantian, menjaga kehormatan, dan tetap menjadi wanita mulia hingga Allah menghadiahkannya suami terbaik di muka bumi pada usia yang tidak lagi muda. Dari beliau kita belajar, bahwa kemuliaan seorang wanita tidak diukur dari cepat atau lambatnya menikah, tetapi dari kualitas iman dan akhlaknya.
yep. makanya Nabi Musa waktu mau menghadap fir’aun untuk berdakwah, yg ia doakan pertama adalah “robbisyrohlii sodrii wa yassirlii amrii..”
(yaAllah lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah urusanku…)
Nabi Musa minta dilapangkan dulu hatinya. minta tenang. karena dengan tenang, kita bisa berpikir jernih dan tau apa yg akan kita lakukan selanjutnya.
ketenangan diri itu nikmat/rezeki. banyak org yg duitnya berlimpah ruah, tapi hidupnya ga tenang. bawaannya was was. bawaannya takut. dunia seolah neraka.
Setuju gak sih?
Di kondisi ekonomi sekarang,
punya orang tua yang mandiri secara finansial
itu bukan hal biasa.
Itu BLESSING level tinggi.
Itu privilege.
Karena anak gak harus jadi penopang dua arah.
Gak harus jadi sandwich generation.
Bahkan, saat anak lagi goyah,
masih ada yang bisa bilang,
“tenang nak, kamu butuh dibantu apa?”
Dan itu jujur aja…
kemewahan yang gak semua orang punya.
Dan jatuh cinta yang terbaik adalah, jatuh cinta kepada seseorang yang sama-sama ingin tumbuh, ingin slalu bersama, dan bukan semata-mata hanya ingin diterima baik buruknya. Tapi juga diperbaiki apa yang menjadi kurangnya. Tidak hanya itu, keduanya harus “saling” mengerti.
I'm touched by this beautiful quote :
"Bahkan sebelum dikabulkan, kebaikan dari doa-doa telah turun sedikit demi sedikit dalam bentuk: kesehatan, bahu yang kuat, duka yang berangsur lega, juga rasa sabar untuk terus melanjutkan hidup."